Suara air menetes memenuhi kamar Queen Liliane, memecah kesunyian pagi yang masih menggantung di antara tirai-tirai tipis. Lily berlutut di sisi tempat tidur, meremas kain bersih di dalam mangkuk air hangat, memerasnya perlahan hingga tak lagi menetes, lalu menyelipkannya dengan hati-hati ke ketiak dan kening Pangeran Adric.
Ia mengulanginya berkali-kali, mulai dari mengganti kain, meraba kening, mencari tanda sekecil apa pun apakah panas itu naik atau mulai surut. Kulit anak itu masih panas, napasnya belum stabil, tapi tidak lagi secepat tadi.
Alaric menggeliat di sisi lain tempat tidur. Matanya membuka perlahan, namun begitu kesadarannya penuh, tubuh kecil itu langsung menegang. Ia duduk dengan cepat, menatap Adric yang terbaring lemah dengan kain kompres di keningnya. Pandangannya berpindah pada Lily.
“Apa yang terjadi pada kakakku?” suaranya lirih, nyaris bergetar.
“Dia demam,” jawab Lily singkat.
Mata Alaric langsung berair. Tangannya yang kecil menggenggam jemari kakaknya dengan erat. Adric adalah satu-satunya pelindungnya di istana ini, dan satu-satunya tempatnya untuk bergantung.
“Jangan menangis!” kata Lily cepat, bahkan sebelum air mata itu jatuh. Nada suaranya tegas, namun tidak keras. Ia terlalu lelah untuk menghadapi kepanikan tambahan. Mengurus satu anak sakit saja sudah cukup menguras tenaganya.
“Dia baik-baik saja,” lanjut Lily lebih pelan, nyaris seperti bisikan. Kata-kata itu diucapkan bukan untuk meyakinkannya, melainkan untuk menenangkan Alaric.
Alaric mengangguk kecil, menelan isaknya, patuh pada wanita yang pelan-pelan terlihat tidak begitu menakutkan lagi baginya.
Ketukan terdengar di balik pintu. Laory muncul dengan langkah hati-hati. Begitu melihat pemandangan di dalam kamar, matanya membulat, jelas terkejut. Dua pangeran yang tempo hari melempar kodok hijau pada sang ratu, kini bermalam di kamarnya.
“Selamat pagi, Your Majesty.” katanya cepat, lalu menunduk hormat. “Semoga hari ini Anda diberkahi dengan keberuntungan.”
Pandangan Laory beralih pada Alaric. “Selamat pagi, Pangeran Alaric.”
Lalu ia melihat Adric, terbaring dengan wajah pucat dan mata terpejam.
“Selamat pagi.” jawab Lily, lalu berdiri.
“Tolong jaga mereka untukku, Laory. Ganti kompresnya terus-menerus sampai panasnya turun.” Ia menatap pelayannya lurus. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Laory langsung menunduk lebih dalam. “Dilaksanakan, Your Majesty.”
Lily menoleh sekilas pada Alaric. Anak itu menatapnya dengan mata bening yang diisi kecemasan tentang kakaknya, juga hukuman semalam yang belum sepenuhnya selesai.
Tatapan itu membuat dada Lily terasa aneh. Ia teringat pertemuan pertama mereka. Kodok hijau, tatapan penuh kebencian, dan julukan nenek sihir. Namun anak di hadapannya sekarang hanyalah seorang boca…
Sang Putri Hutan, Ratu Pilihan Kingdom Conqueror
Luluh
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 136 Episodes
Comments
beybi T.Halim
ayo lili ubah lah hati 2 pangeran .,tidak perlu validasi yg penting cinta tumbuh dari hati👍
2026-01-22
0
Erni Fitriana
ya bongkahan itu akan cair..dan akan hidup dl. semarak oleh sentuhan kasih
2026-02-09
0
mery harwati
Pelan tapi pasti Putri Liliane merebut hati penghuni istana & rakyat Christoper
💪💪
2026-01-21
0