Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)

Setahun lebih sudah berlalu. Telunjuk lentik itu menggeser-geser letak softlens dengan warna natural bola matanya yang bersemu coklat kayu basah miliknya itu. Mengerjap demi menyesuaikan penglihatan. Lalu bergegas merapikan seragam yang----oke, cukup mencetak lekuk tubuh ranumnya, wangi...dan pipi bersemu merah muda.

"Dea, Inggrid udah nyampe!" itu mama yang berteriak sepagi ini.

Ia segera meraih tas merah miliknya, tidak sebesar tas-tas seorang backpacker atau anak sekolah pada umumnya, justru terbilang sedikit kecil, lalu bagaimana ia membawa buku lembar kerja siswa miliknya?

Dea

Cupu, lks gue sama Inggrid udah dipasangin sampul kan? Bawa ke sekolah.

Ada Gibran yang baru saja keluar dari rumahnya dengan rambut yang masih lembab dan mengunyah roti lapis. Sementara Willy dan Inggrid memang sudah sepagi itu menjemput Dea dan Gibran dimana mereka bertetangga di satu komplek yang sama.

Inggrid masih ikut menikmati bolu kukus buatan mama, Ratna Sarah, adalah mama Dea yang terkenal cukup pintar memasak di kalangan ibu-ibu komplek ini.

"Enak banget tante, ini dipakein choco chip ya."

Mama tersenyum, pahatan senyum manisnya itu turun pada Dea, "ya sok atuh, dibekel mau?" namun Inggrid menggeleng.

Willy telah bertemu dengan Gibran di depan selagi Dea mengecup punggung tangan mama, "Dea pergi dulu."

"Itu nanti, ada temen baru. Katanya pindahan dari Jakarta, namanya Nara....di blok G nomor 14, katanya sekolah di sekolah kamu juga, kenalan." Ujar mama membuat Dea dan Inggrid notice.

"Oke."

Dea masuk ke bangku belakang bersama Inggrid, dimana ia telah bersiap mengeluarkan liptin dan eyeliner, Yap! Kebiasaan Inggrid yang begitu centil untuk tiap menit menebalkan glowing di wajahnya.

Jangan tanya, kenapa Willy bisa membawa mobil disaat anak-anak lain banteran bawa motor atau sepeda, sebab....seribu alasan dan segepok uang masuk kas sekolah serta saku kesiswaan.

Ditambah, sang ibu adalah ketua ikatan komite orangtua yang seharusnya merupakan jembatan dan mewakili kondisi para wali murid.

Pertanyaannya, kenapa Dea bisa sedrastis ini? Ia belajar dari pengalaman. Jika kasta tertinggi adalah orang dengan uang segunung, lalu ada orang dengan sejuta pesona yang usil dan pembuat onar, dan dimana letak orang pintar tanpa memiliki kedua kemampuan di atas? Jadi keset alias di bawah.

Oke, katakanlah kini Dea sedang mati-matian menunjukan pesonanya dan sedikit usil, lalu ia ternotice Willy dan Gibran yang kebetulan bertetangga, hingga akhirnya lebih usil lagi saat bersatu dengan Inggrid. Usil, untuk sekedar membuat orang lain kesusahan, iya...sepertinya dulu.

Awalnya hanya untuk membuat perubahan kecil, dan membalas rasa penasarannya, namun perlahan....euforia melakukan perundungan itu membuatnya sedikit, candu.

.

.

Dea turun dari mobil bersama Inggrid yang cekikikan karena jokes receh Gibran.

"Lks aman De?"

Dea mengangguk, "aman." Lantas lirikannya jatuh ke arah beberapa siswa yang juga baru saja datang pagi ini, cukup heboh dengan tawa lebih renyah.

Orang-orang yang enggan---untuk circle Willy sentuh, atau lebih tepatnya memang mereka hindari. Tidak satu dunia, mungkin menurutnya. Beda frekuensi dan level obrolan.

Kenapa tidak tersentuh? Sebab....

Brennnggg! Breng---brengg.....

Suara memekakkan itu cukup membuat telinga sakit.

"Assalamualaikum ya ahli kubur!"

"Parammm! Kaget, bang ke banget!" Gadis yang paling mungil diantara mereka dengan suara toa-nya itu berteriak-teriak melempar salah satu pemuda dengan buku.

Pertanyaan itu terjawab dengan datangnya segerombol pemuda membawa keributan.

"See, kampungan." Dengus Inggrid merotasi bola matanya, menggusur langkah Dea lebih cepat menuju kelas.

Masih menatap menoleh, Dea meneliti satu persatu orang-orang itu, cukup tau dan paham mereka namun...entahlah. Ada sosok yang tak bisa ia jabarkan dengan akalnya, dia....

Hoammm!

Dea menggeleng risih, dan geli melihat tampilannya. Sepagi ini kerjanya mengantuk dengan mata yang terkadang didapati memerah, rambut masih basah macam tikus kecemplung got. Namun, siapapun tau jika ia adalah salah satu anggota genk motor yang---dimana isue ini tengah santer diperbincangkan di dunia kriminal tahun ini di kalangan pelajar.

Bukan--bukan, bukan hanya ia saja namun ada Rama, Gilang, Ridwan, Bayu dan Vian juga. Namun dia, terlihat lebih kelam, tidak banyak bicara dan...

"Bandung teh udah terang om Fal!"

Pemuda itu membuka helmnya, dan menggosok hidung, "tau gue. Makanya pake sweater, takut kulit kena sinar matahari." gidiknya seperti sedang menunjukan gestur---gue nih, pake sweater.

Yusuf, pemuda itu lantas membuat gerakan mulut dengan gigi yang ia tunjukan, "da rah mana da rah!" lalu ia mengejar teman-teman perempuan satu kelasnya itu. Rama bahkan sudah melakukan gestur seperti zombie dengan berpura pura menarik sesuatu dari sakunya seolah itu senjata tajam lalu berjalan layaknya mayat hidup itu, "brainnn..."

Tawa terdengar lebih renyah, "Ga warasss!"

"Cupid si Alan!" Tok! Muti menggetok kepalanya dengan buku yang sama.

Sebagian dari mereka tertawa kencang. Hingga tatapnya dan pemuda itu sempat bertemu, dengan sorot mata yang sama-sama melemparkan ketidaksukaan.

Dialah, Rifaldi Elvan Januar....si pemilik mata kelam nan tajam.

"De, ngapain sih...ayok masuk!" tarik Inggrid.

"Minggir lahhh please! Pegel kaki gue," usir Inggrid secara halus pada kumpulan siswi yang duduk di pinggir lapang demi tempat lebih jelas.

"Kikiii!" lambai tangan Inggrid sambil berteriak ke arah lapang, dimana Kiki sedang bermain basket.

Dea ikut duduk, tidak membawa menu jajannya namun----

"De, ini lumpia basah, pedesnya level 2 kan? Telurnya double plus baso sosis?" seorang siswi menyerahkan jajanan milik Dea itu, ia terlihat kepayahan membawa jajanan milik Dea, Inggrid, Gibran dan Willy.

"Yang ini, punyanya Inggrid, pedes level 3...telornya---"

"Kok tiga? Bukannya punya Ing, pedesnya sama juga ya?" tanya Dea mengernyit menatap Naila.

"Eh, iya...punya gue pedesnya level 2 sama kaya Dea."

"Punya gue level 3 tapi ngga pake telor." Jawab Gibran, "salah tuh pesennya."

Dea berdecih, menahan Inggrid yang ingin murka, ia sudah berdiri duluan, "kuping Lo perlu gue korek pake linggis ya? Punya otak dipake, mata udah empat tetep ngga bisa baca? Mesti dikasih mata berapa?" tanya Dea sementara Naila menunduk, "sorry biar gue ganti, ngga apa-apa...ini buat gue aja." Angguknya lantas pergi setelah memberikan pesanan yang lain terlebih dahulu.

Inggrid menyeringai, ia mengurungkan tangannya yang telah terkepal, yang tadinya bersiap menjambak atau paling tidak memberikan serangan fisik, "hah! Cepetan ngga pake lama, gue udah laper!" jerit Inggrid.

Vian memasukan jarinya ke hidung dan mengorek-ngorek kotoran, "tuh liat tuh...penjajah mulai berulah lagi, abis semua jadi Jo ngos temen-temen MIPA 2," tuduhnya saat melintas dengan Rifal yang baru saja mengumpulkan nyawanya karena merasa haus.

Rifal menggeleng, ia berucap dengan suara dalamnya, "yang penting bukan MIPA 3. Biar aja, selama ngga ngusik kita." Ia berlalu tak peduli menuju kantin.

"Warung babeh aja Fal, Rama sama yang lain lagi maen PS." ajak Vian. Sementara Rifal menggaruk kepalanya dimana rambutnya sudah cukup gondrong, sepertinya besok lusa jika sekolah mengadakan razia maka rambutnya akan habis digunting oleh kesiswaan dan OSIS.

"Kuy." ajak Rifal membalikan arah ayunan langkah menuju belakang sekolah. Dimana pagar besi terdapat lubang bekas jebolan, yang digunakan sebagai akses anak-anak tertentu untuk keluar dari gedung sekolah. Dan warung babeh ini adalah warung kopi yang berada menempel di dinding sekolah.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

kamu lahir di bulan Januari ya rival..
🎉🎉🎉🎉aku ucapkan happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday,happy birthday to you...
katanya sih ya , si Capri ini agak keras kepala , pekerja keras, gak gampang menyerah dan pejuang tangguh... minus nya kaku , kurang pinter ngerayu😅😅 betul nggak teh sifat Rivaldi begini wkwkwkwk

2026-01-07

0

🦋⃞⃟𝓬🧸Nadhiraafifa_Riri

🦋⃞⃟𝓬🧸Nadhiraafifa_Riri

jadi maksud nya Dea yg yg dirundung eh skrg malah ikut merundung . bentarr aku belum konek otakku masih ngelag ini😀

2026-01-07

11

Daisy❤️HilVi

Daisy❤️HilVi

hais naila, sama namanya kek tmn anak keduaku. nah klo naila tmn anakku ini emaknye tukang bully, julid n jihit. gongnya anaknya yg kena bully. ketimbang nangis gegara tasnya diumpetin di toilet aja mencak2 trs pindah sklh🤦🏻‍♀️amnesia kali ya, pas kejadian anak pertamaku di bully di SMA yg kebetulan anak dia jg di sklh disana & jd kk kelas anakku. aq mintain tlg eh mlh anaknya ikut memprovokasi, gegara pelaku pembully anakku adalah tetangga dia. catet bu, karma di bls instan, mana di depan mataku pula. dia curhat klo naila di bully. astaghfirullah. kasihan sih tp gmn ya

2026-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2 Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3 Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4 bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5 Bab 5🩷 Denial
6 Bab 6 🩷 First kiss
7 Bab 7 🩷 Revenge porn
8 Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9 Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10 Bab 10🩷 Menghindar
11 Bab 11🩷 Ventolin
12 Bab 12🩷 Penasaran
13 Bab 13🩷 Ditodong
14 Bab 14🩷 Shock therapy
15 Bab 15🩷 Kriminalitas
16 Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17 Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18 Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19 Bab 19🩷 Informan
20 Bab 20🩷 Peran Rifal
21 Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22 Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23 Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24 Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25 Bab 25🩷 Arti sahabat
26 Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27 Bab 27🩷 serangan jantung
28 Bab 28🩷 Podcast horor
29 Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30 Bab 30🩷 Keterbukaan
31 Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32 Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33 Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34 Bab 34🩷 Thunderbolt
35 Bab 35🩷 Hati yang patah
36 Bab 36🩷 Saling menyakiti
37 Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38 Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39 Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40 Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41 Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42 Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43 Bab 43🩷 Keluarga idaman
44 Bab 44🩷 Solid
45 Bab 45🩷 Mesin waktu
46 Bab 46🩷 Anak Bima
47 Bab 47🩷Sejarah papa
48 Bab 48🩷 Buah jatuh?
49 Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50 Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51 Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52 Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53 Bab 53🩷 Bicara dari hati
54 Bab 54🩷 Sejoli
55 Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56 Bab 56🩷 Sakit
57 Bab 57🩷 Saling memaafkan
58 Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59 Bab 59🩷 Recovery
60 Bab 60🩷 Ujian
61 Bab 61🩷 Day by day
62 Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63 Bab 63🩷 Sambut masa depan
64 Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65 Bab 65🩷 Menemani
66 Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67 Bab 67🩷 Godaan
68 Bab 68🩷 Miss you like crazy
69 Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70 Bab 70🩷 Terharu
71 Bab 71🩷 Tumpah ruah
72 Bab 72🩷 Sepupu Dea
73 Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74 Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75 Bab 75🩷 Kutitip rindu
76 Bab 76🩷 Restu Elok
77 Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78 Bab 78🩷 KM 389
79 Bab 79🩷 Bahaya
80 Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81 Bab 81🩷 Every piece of happiness
82 Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83 Epilog 🩷
84 Epilog 🩷
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2
Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3
Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4
bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5
Bab 5🩷 Denial
6
Bab 6 🩷 First kiss
7
Bab 7 🩷 Revenge porn
8
Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9
Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10
Bab 10🩷 Menghindar
11
Bab 11🩷 Ventolin
12
Bab 12🩷 Penasaran
13
Bab 13🩷 Ditodong
14
Bab 14🩷 Shock therapy
15
Bab 15🩷 Kriminalitas
16
Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17
Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18
Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19
Bab 19🩷 Informan
20
Bab 20🩷 Peran Rifal
21
Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22
Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23
Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24
Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25
Bab 25🩷 Arti sahabat
26
Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27
Bab 27🩷 serangan jantung
28
Bab 28🩷 Podcast horor
29
Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30
Bab 30🩷 Keterbukaan
31
Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32
Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33
Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34
Bab 34🩷 Thunderbolt
35
Bab 35🩷 Hati yang patah
36
Bab 36🩷 Saling menyakiti
37
Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38
Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39
Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40
Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41
Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42
Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43
Bab 43🩷 Keluarga idaman
44
Bab 44🩷 Solid
45
Bab 45🩷 Mesin waktu
46
Bab 46🩷 Anak Bima
47
Bab 47🩷Sejarah papa
48
Bab 48🩷 Buah jatuh?
49
Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50
Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51
Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52
Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53
Bab 53🩷 Bicara dari hati
54
Bab 54🩷 Sejoli
55
Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56
Bab 56🩷 Sakit
57
Bab 57🩷 Saling memaafkan
58
Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59
Bab 59🩷 Recovery
60
Bab 60🩷 Ujian
61
Bab 61🩷 Day by day
62
Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63
Bab 63🩷 Sambut masa depan
64
Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65
Bab 65🩷 Menemani
66
Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67
Bab 67🩷 Godaan
68
Bab 68🩷 Miss you like crazy
69
Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70
Bab 70🩷 Terharu
71
Bab 71🩷 Tumpah ruah
72
Bab 72🩷 Sepupu Dea
73
Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74
Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75
Bab 75🩷 Kutitip rindu
76
Bab 76🩷 Restu Elok
77
Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78
Bab 78🩷 KM 389
79
Bab 79🩷 Bahaya
80
Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81
Bab 81🩷 Every piece of happiness
82
Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83
Epilog 🩷
84
Epilog 🩷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!