Bab 5🩷 Denial

Dan benar saja, apa yang terjadi pada Mita memantik kemarahan MIPA 3, meski saat ini yang maju hanya para siswi lebih pada----

"Inggrid! Dea!"

Vina dengan segala kesewotan dan emosinya bersama Muti dan Tasya berlari menyerang Dea dan Inggrid dengan menyiramkan air teh manis ke arah keduanya sebelumnya, saat mereka hendak masuk ke mobil Willy, membuat pertengkaran tak terelakan.

Aaaaaa! "Si Alan!!" Baik Dea ataupun Inggrid terjengkat kaget dan menjerit. Dea langsung menjauh dan mengibas-ngibaskan seragam di bagian punggung yang terlanjur basah.

"Woyyy! Apa-apaan nih!" sarkasnya melotot.

Dea masih menjambak Muti dimana rambut keduanya sama-sama tergerai, "Lo jangan mentang-mentang cheers terus ngerasa paling cantik, nih rasain muka sama rambut Lo gue acak-acak!" jerit Muti pada Dea yang menjerit tak kalah kencang, "si alan Lo ya, boncel dasar! Iri bilang! Gue emang cantik, cheers pula!" jawab Dea.

Bahkan Rifal, ia tertawa renyah melihat cara bertengkar mereka, terlebih lucu saja melihat Dea dan Muti yang saling berteriak begitu sementara Tasya dan Vina mengeroyok Inggrid.

"Weyy udah, woyyy elahhh!" Gibran dan Willy turut bingung sebenarnya sembari bersiap melerai.

"Kurang ajar!"

Nara sudah gemas ingin melerai, namun alih-alih melerai para lelaki MIPA 3 ini justru tertawa menonton, "cewek begitu ya, berantemnya. Pasti jambak."

Rama memperhatikannya, "pisahin Bay, Bay...itu si Vina..." tunjuknya hanya begitu, dengan nada tenangnya melihat orang-orang sudah heboh melihat mereka bertengkar.

"Woyy! Udah! Lo bertiga ngga fair, lagian apa-apaan ini main nyerang aja!" bentam Willy membantu bersama Gibran, namun MIPA 3 tidak tinggal diam, "wehey, ngga malu lawan cewek?!" ujar Bayu.

Hingga akhirnya ramai dan ribut ini memancing atensi penghuni sekolah lain termasuk guru, berujung mereka masuk ke ruang BK.

"Mereka duluan!"

"Mereka yang bully Mita duluan, Bu!"

"Lah Lo bilang yang dibully Mita, terus urusan lo bertiga apa? Toh Mita juga diem diem aja...fitnah mereka Bu!" tusuk Inggrid lagi berusaha membela diri.

Dan masih begitu, di ruang BK pun baik Vina atau Inggrid masih berseteru, Mutiara dan Tasya ikut beradu mulut, Mita turut dipanggil sebagai akar permasalahan.

Sementara Dea...ia justru mendadak diam, hanya sibuk merapikan rambut basah nan lengketnya itu bergantian rambut Inggrid, entahlah...ia hanya merasa tak perlu banyak bicara. Toh tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena biasanya semua akan teratasi hanya oleh Tante Anya, mama dari Willy, biasanya pun akan seperti itu, atau bahkan tidak akan terjadi apa-apa. Hanya saja....begini jika urusan dengan MIPA 3, sedikit bikin ribet.

Akhirnya semua berakhir, di meja ruang BK. meski Vina tetap kekeh ingin orangtua Dea dan Inggrid dipanggil, dan keduanya diberikan hukuman, termasuk dirinya yang berani ambil resiko hukuman juga demi membela Mita, agar adil.

Sejenak Dea terdiam membeku, wajahnya kosong tanpa ekspresi menatap kesewotan Vina, Muti dan Tasya sejak tadi yang mati-matian membela Mita.

Mita, ia memang dirundung....namun ia memiliki teman yang solid, yang berani membelanya sampai sebegininya, lantas sorot mata Dea berubah getir dan nanar,

Dulu, gue ngga ada yang bela. Dulu gue sendirian, bahkan saat meminta tolong pun semua orang justru mundur....rasanya Tuhan tak adil.

Dulu gue berjuang sendirian, gue hadapin dan makan bullyan sendirian.

"De, kita balik." suara Inggrid dan Gibran mematikan lamunannya, ia ikut beranjak dengan perjanjian hukuman, pada masing-masing perusuh hari ini, "iya."

Vina masih emosi sebab, ia merasa hukuman yang ditimpakan begitu ringan dan tak membuat Dea---Inggrid jera.

"Hukum tuh emang tumpul ke atas!" sewotnya berdesis keluar dari ruangan.

Inggrid menyeringai, "dah tau kan sampai mana power kita, ngga usah macem-macem!" ucapnya lirih ketika mereka mulai keluar dari ruang BK melewati anak-anak MIPA 3 bersama ketiga lainnya termasuk Dea.

"Wooooo!" seru mereka menyoraki Dea dan kawan-kawan. Namun diantara mereka, mungkin hanya Nara yang melihat perbedaan dari diri Dea.

"Loser..." lirih Inggrid pada mereka.

"De, Lo sakit?" tanya Willy digelengi Dea, namun langkahnya tertahan oleh Gibran yang menarik tangan Dea untuk berjalan di belakang langkah Willy dan Inggrid, "De, asma lo kambuh, dari tadi ngelamun terus?" tanya nya khawatir digelengi Dea, "ngga usah ngomongin asma gue disini, Gib....lagian gue ngga apa-apa kok. Gue cuma-----laper aja." jawabnya, "yok pulang yok!"

3 hari, Dea dan Inggrid menjalani hukuman yang sebenarnya tidak benar-benar mereka kerjakan, sebab....Kembali, Inggrid menggunakan ancaman dan tekanannya pada beberapa siswi yang sering dirundung olehnya.

**Squad**

(**Inggrid**) *guys, weekend clubing yuk*!

(**Gibran**) *kuy*...

(***Willy***) *gue liat jadwal dulu, takutnya weekend papi balik*.

(***Inggrid***) *Sad* 🥺

Entahlah, rasanya lelah mulai mendera dirinya. Dea, tanpa membaca notifikasi grup sudah bisa melihat dari pop up, jika Inggrid mengajak mereka untuk masuk club malam lagi weekend ini. Sementara dirinya....belakangan ini asmanya sering kambuh. Ia khawatir jika nanti asmanya justru kambuh di club malam.

Dea masih duduk menekuk lututnya di pinggiran kolam ikan rumah, menaburkan pakan hingga ikan-ikan gemoy itu berkejaran demi melahap pakan menimbulkan riak air yang riuh.

Diam membuat suara hatinya semakin menjerit lirih, terdengar bersamaan dengan sepoi angin yang menerpa dedaunan dan gemericik air membuat suara alam ini semakin kencang memperdengarkan isi hati.

*Stop Dea, mau sampai kapan? Apa yang kamu cari*?

*Maafkanlah masa lalu*

Bukan tanpa sebab, tiap kali ia dan Inggrid usai melakukan perundungan itu, selalu ada ingatan yang membuatnya tak tenang duduk, berkeringat dan bermimpi buruk meski saat melakukan itu ia merasa yakin jika setiap perasaan dendamnya terbalaskan.

Ditambah, kemarin saat Tante Anya pulang dan mendapatkan telfon dari pihak sekolah, mama Willy itu memarahinya dan yang lain.

*Ck! BK lagi. Ini tahun ketiga loh, masa mau terus-terusan begini. Bikin masalah terus, mami ngga bisa bantuin terus-terusan. Udah malu muka mami, mau ditaro dimana*?!

Dea menunduk, kini otak dan hatinya itu berisik dan berdebat.

*Sudah cukup De...apa yang mau kamu buktikan*.

*Tapi sangat sulit untuknya tidak mengikuti alur yang biasa dilakukan, terutama dengan mereka yang tak bisa Dea tinggalkan*.

Benar, dia tak mungkin meninggalkan pertemanannya dengan Inggrid, Gibran dan Willy yang sudah terjalin lama, ditambah merekalah teman pertama yang Dea dapatkan sejak ia tak pernah memiliki teman selama ini.

Sayup-sayup suara seseorang dari luar yang masuk ke dalam rumah dan bercengkrama dengan mama tak lantas membuatnya berangsur menyambut, Dea tetap betah dengan keributan hati dan pikirannya disana.

"Hay De, ngapain?"

Dia Nara yang tumben-tumbenan sekali ke rumahnya, seolah tau arti pandangan Dea, Nara langsung menunjuk ke arah dalam, "abis ngembaliin Tupperware punya tante Sarah, kemaren ada kasih lapis ke rumah. Thanks ya, lapisnya enak."

"Ya." Dea kembali menaburkan pakan ikan pada ikan-ikan gemuk itu.

"De, are you oke?" tanya Nara.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

May Maya

May Maya

Neng Nara bgtu peka n perhatian sama Dea bukan hanya pada aa Rama n genk MIPA 3 saja. Dea lbh baik ceritalah pd org yg tepat yg punya positif vibes sperti Nara siapa tau beban n trauma yg kau alami selama ini bisa sedikit berkurang setidaknya GK d pendam sendiri akhirnya bs merugikan diri sendiri n bikin sedih mama mu. KLO perlu minta anterin Nara k psikolog agar kau bs lepas dari trauma itu

2026-01-08

5

Attaya Zahro

Attaya Zahro

Dendam tak kan pernah bisa membuat hidup kita tenang De..apalagi dendam yang tak tepat,yang ada hanya akan menambah musuh.Cobalah pelan² untuk sharing ma orang yang tepat yang bisa ngasih solusi yang terbaik

2026-01-07

0

Trituwani

Trituwani

bully udah ad dr zaman ke zaman aplagi yg dibully banyak kekuranganya pasti dibeda bedain jg klo berteman.. mereka yg serba kurang mesti diam aj dipojokan apalagi orang g punya hmmmhh😔😔tersingkirkan

2026-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2 Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3 Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4 bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5 Bab 5🩷 Denial
6 Bab 6 🩷 First kiss
7 Bab 7 🩷 Revenge porn
8 Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9 Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10 Bab 10🩷 Menghindar
11 Bab 11🩷 Ventolin
12 Bab 12🩷 Penasaran
13 Bab 13🩷 Ditodong
14 Bab 14🩷 Shock therapy
15 Bab 15🩷 Kriminalitas
16 Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17 Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18 Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19 Bab 19🩷 Informan
20 Bab 20🩷 Peran Rifal
21 Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22 Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23 Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24 Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25 Bab 25🩷 Arti sahabat
26 Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27 Bab 27🩷 serangan jantung
28 Bab 28🩷 Podcast horor
29 Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30 Bab 30🩷 Keterbukaan
31 Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32 Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33 Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34 Bab 34🩷 Thunderbolt
35 Bab 35🩷 Hati yang patah
36 Bab 36🩷 Saling menyakiti
37 Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38 Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39 Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40 Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41 Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42 Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43 Bab 43🩷 Keluarga idaman
44 Bab 44🩷 Solid
45 Bab 45🩷 Mesin waktu
46 Bab 46🩷 Anak Bima
47 Bab 47🩷Sejarah papa
48 Bab 48🩷 Buah jatuh?
49 Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50 Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51 Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52 Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53 Bab 53🩷 Bicara dari hati
54 Bab 54🩷 Sejoli
55 Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56 Bab 56🩷 Sakit
57 Bab 57🩷 Saling memaafkan
58 Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59 Bab 59🩷 Recovery
60 Bab 60🩷 Ujian
61 Bab 61🩷 Day by day
62 Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63 Bab 63🩷 Sambut masa depan
64 Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65 Bab 65🩷 Menemani
66 Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67 Bab 67🩷 Godaan
68 Bab 68🩷 Miss you like crazy
69 Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70 Bab 70🩷 Terharu
71 Bab 71🩷 Tumpah ruah
72 Bab 72🩷 Sepupu Dea
73 Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74 Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75 Bab 75🩷 Kutitip rindu
76 Bab 76🩷 Restu Elok
77 Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78 Bab 78🩷 KM 389
79 Bab 79🩷 Bahaya
80 Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81 Bab 81🩷 Every piece of happiness
82 Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83 Epilog 🩷
84 Epilog 🩷
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2
Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3
Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4
bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5
Bab 5🩷 Denial
6
Bab 6 🩷 First kiss
7
Bab 7 🩷 Revenge porn
8
Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9
Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10
Bab 10🩷 Menghindar
11
Bab 11🩷 Ventolin
12
Bab 12🩷 Penasaran
13
Bab 13🩷 Ditodong
14
Bab 14🩷 Shock therapy
15
Bab 15🩷 Kriminalitas
16
Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17
Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18
Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19
Bab 19🩷 Informan
20
Bab 20🩷 Peran Rifal
21
Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22
Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23
Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24
Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25
Bab 25🩷 Arti sahabat
26
Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27
Bab 27🩷 serangan jantung
28
Bab 28🩷 Podcast horor
29
Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30
Bab 30🩷 Keterbukaan
31
Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32
Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33
Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34
Bab 34🩷 Thunderbolt
35
Bab 35🩷 Hati yang patah
36
Bab 36🩷 Saling menyakiti
37
Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38
Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39
Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40
Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41
Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42
Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43
Bab 43🩷 Keluarga idaman
44
Bab 44🩷 Solid
45
Bab 45🩷 Mesin waktu
46
Bab 46🩷 Anak Bima
47
Bab 47🩷Sejarah papa
48
Bab 48🩷 Buah jatuh?
49
Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50
Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51
Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52
Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53
Bab 53🩷 Bicara dari hati
54
Bab 54🩷 Sejoli
55
Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56
Bab 56🩷 Sakit
57
Bab 57🩷 Saling memaafkan
58
Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59
Bab 59🩷 Recovery
60
Bab 60🩷 Ujian
61
Bab 61🩷 Day by day
62
Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63
Bab 63🩷 Sambut masa depan
64
Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65
Bab 65🩷 Menemani
66
Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67
Bab 67🩷 Godaan
68
Bab 68🩷 Miss you like crazy
69
Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70
Bab 70🩷 Terharu
71
Bab 71🩷 Tumpah ruah
72
Bab 72🩷 Sepupu Dea
73
Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74
Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75
Bab 75🩷 Kutitip rindu
76
Bab 76🩷 Restu Elok
77
Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78
Bab 78🩷 KM 389
79
Bab 79🩷 Bahaya
80
Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81
Bab 81🩷 Every piece of happiness
82
Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83
Epilog 🩷
84
Epilog 🩷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!