Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)

Begini saja, hanya perlu berkumpul dengan anak-anak yang memiliki panggungnya, berpenampilan menarik setelah nilai plus wajah dan badannya yang bagus, berhaha-hihi, turut andil dengan menunjukan jika ia adalah sosok yang dominan, menguasai cukup memberikan tempat untuk Dea diantara mereka.

"Aturan tadi Inggrid jangan ditahan buat jambak, De." Gibran terkekeh saat berjalan berdua ke arah tata usaha demi mengisi tinta spidol. Dea mendengus tertawa, "masih punya hati gue. Lagian di depan banyak orang, ada Bu Eva...ntar Tante Anya dipanggil lagi ke sekolah, kasian. Toh sama aja kan, kata-kata gue langsung bikin perih."

Gibran membuka tutup belakang spidol lalu Dea yang menuangkan tinta itu ke dalamnya dari pipet. Tak sabar, Gibran langsung menuangkan dari bibir botol, sehingga tintanya itu mengucur kemana-mana termasuk ke atas sepatunya, "an jing. Sin ting, kena spokat dong."

Dea tertawa, bergegas mengambil tissue yang ada disana untuk mengelap sepatu Gibran, namun pemuda itu menahannya, "Lo ngapain an jir De, mental Lo sekarang mental Jo ngos?"

Acara membungkuknya tertahan di udara, "hooh lah, ngapain juga gila!" keduanya tertawa bersama. Kebetulan sekali, Naila yang baru saja dari kamar mandi bersama Samanta ia temukan, "hey, Lo!! Sini!"

Awalnya Naila mencoba menulikan diri bersama Samanta, namun kemudian.

"Lo pura-pura budeg, gue pastiin baliknya ntar magrib."

Naila mau tak mau menghampiri, "kenapa De?"

"Tolongin gue dong, bersihin sepatu gue kena tinta. Tangan gue sama Dea sibuk." pinta Gibran sudah menendang-nendang tissue ke arah Naila.

Mereka kembali bersama berempat, tentu saja guru di kelas cukup jengah, "loh...loh, kok pas banget ya kompak berempat begini? Habis janjian ya?"

"Saya sama Dea kan abis ngisi spidol, Bu?" tunjuk Gibran.

"Lah, ini Naila sama Samanta..."

"Tadi..." Jelas Naila menatap Dean dan Gibran dengan wajah keruh siap menerkamnya. Hingga akhirnya Naila urung melapor.

Inggrid berbisik saat Dea sudah masuk ke bangku, "ngapain sih, tangan si Nai banyak tintanya begitu?"

"Gue suruh bersihin sepatu gue kena tinta, njirr." jawab Gibran dari belakang.

...****************...

Dea sampai di rumahnya selalu tepat waktu belakangan ini, kecuali di hari kamis sebab harus mengikuti ekskul pemandu sorak, melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Menanggalkan tas saat mencium aroma masakan yang menggugah selera, "emhhh wangi!"

Mama baru saja keluar dari kamar, "ganti baju dulu, abis itu solat. Baru makan."

Dea mengangguk sempat mencomot terlebih dahulu bakwan jagung mama seiring dengan mama yang mencubit pipinya.

/

Hufftt! Ada helaan nafas berat dari Dea. Setiap hari, kenapa pembalasan pun tak pernah meninggalkan kesan damai di hatinya, seolah....ia sedang mengorek dendam lama. Ia mencuci tangan lalu...

Lembaran tipis nan rapuh softlens ia geser dari matanya hingga itu terlepas kemudian ia taruh di wadahnya. Mengerjap merasakan lelah, dirinya seolah baru saja melepas topeng.

Alih-alih melakukan apa yang mama suruh, ia justru menjatuhkan badannya terlebih dahulu ke atas kasur. Menjadi sosok berbeda itu menguras tenaga rupanya, tapi menjadi sosok di masa lalu lebih membuatnya menderita.

Efek perundungan memang sedahsyat ini, bukankah orang jahat itu terlahir dari orang baik yang disakiti terus menerus? Dan sekarang ini, ia menjadi sosok itu sekarang.

Hampir 3 tahun belakangan ia menjalani kehidupan remaja yang menurut jalan pikirannya benar-benar, namun salah menurut hati. Memiliki teman toxic, Dea akui itu....tapi dengan Inggrid, Willy dan Gibran lah ia bisa menyebut teman. Mereka yang merangkulnya, mereka yang justru memberi Dea panggung, meski pada akhirnya hatinya yang ribut, dan ia hanya bisa menulikan pendengaran dari suara hatinya. Dea, menjadi sosok yang selalu ia gumamkan dalam keadaan emosi acap kali dirinya menjadi korban perundungan.

Matanya terpejam nyaman, bukan lagi sikap semena-menanya pada Naila dan kawan-kawan lagi yang ia mimpikan, melainkan....

Degup jantungnya berdetak seirama dengan nada musik yang---jedag-jedug, sementara Inggrid di lantai dansa sama sudah tertawa sambil berjoget-joget ria memanggil namanya, "De, buruan turun!"

Dea tersenyum, Gibran mendorongnya untuk ikut turun, "turun. Jangan disini, seenggaknya di lantai dansa ngga bau rokok. Ntar yang ada asma kamu kambuh."

Dan benar, Dea ikut hanyut dalam euforia lampu warna-warni dan musik ajojing.

Willy tertawa, ikut turun bersama Dea dan Inggrid. Namun mendadak diantara kesenangannya itu tiba-tiba mama datang dengan membawa sapu lidi panjang, "Deaaaa! Pulangg!"

Matanya terbuka refleks, tidur yang sebentar itu seolah terasa nyata karena memang----terjadi. Minggu kemarin, ia dan yang lain clubing di salah satu club malam ternama, meski tidak sampai di samperin mama. Namun mama cukup marah, saat tau ia pulang lewat dari pukul 10 malam.

"Astaghfirullah!" lirihnya tersentak membuka matanya. Dea meraih kacamatanya lantas bergegas mengganti pakaian dan ke kamar mandi.

Dea mendorong kacamata bulat itu diantara rambut yang telah dicepol asal juga.

Suara deru mesin motor masuk ke dalam carport rumah, saat Dea sedang menyendok makan siangnya, lalu...

"Assalamualaikum." sosok pemuda dengan tas yang sudah turun dari pundak seorang mahasiswa semester akhir menghampiri, usil....ia lantas meraih wajah Dea dan menahan jidatnya dengan telapak tangan besar, "nih, jidat lebar persis lapangan bola."

"Mass Elokkkk!" jeritnya membuat mama berdecak karena kelakuan anak-anaknya itu.

"Mas aku mau makannn, awas ih! Mamah, mas Elok sin ting!"

Dan semakin saja Elok mencubit kedua pipi adiknya itu, "ngomong apa barusan hemmm?!"

Berujung dengan Dea yang mengumpat kembali diantara rambut yang telah acak-acakan karena mas keduanya itu menguyel-uyelnya.

Sikap Dea benar-benar bertolak belakang antara di rumah dan di sekolah, sampai-sampai orang rumahnya tak tau bagaimana sosok Dea di sekolah dan diluaran.

Jovanka

De, jalan yuk pulang les.

Dea gemas tak terkira, sosok pemuda yang sedang dekat dengannya itu, meski berbeda sekolah cukup dikenali sebagai pemuda idaman. Mereka bertemu saat pertandingan basket antar SMA, dan kebetulan sekali...Dea adalah anggota pemandu sorak, dimana tim basket SMA nya dan SMA Jovanka yang ketika itu merupakan anggota tim basket bertanding di sekolah Dea.

Bukankah sempurna?

/

"Ntar baliknya gue dijemput Jovanka, Will...jadi pada duluan aja."Gibran menoleh ke belakang dengan tatapan mendelik tak percayanya, "ngapain?"

"Serius?! Aahhhh, sweet....semoga cepet-cepet jadian ihhh! Gemes deh." seru Inggrid merengek.

Willy mengangguk, "les bareng, De?"

Dea mengangguk menatap ke arah luar kaca jendela, "iya. Abis itu jalan. Cuma makan sih..." jawab Dea ikut geli dan mesem-mesem sendiri, ia lantas melirik Gibran yang memasang tampang datar, "dia ngga lagi PHP kan, De?"

"Ah berburuk sangka deh, Lo Gib!" Inggrid mendorong punggung Gibran.

"Ya kali aja. Kaya yang udah-udah..." jawab Gibran.

Astaga!! Seru penghuni mobil.

Willy menginjak remnya tiba-tiba sampai membuat olesan liptin Inggrid keluar dari garis bibirnya, "ihhhh! Willyyy!"

"Woy an jing!" umpat Willy membuka jendela mobilnya ketika dari persimpangan itu beberapa motor menggunting jalannya.

Tatapan Dea lurus, melihat gerombolan MIPA 3 melintas dengan wajah tengil mereka, terakhir ada tatapan tajam nan menatap merendahkan dari sosok Rifal, brakk!

Ia bahkan menggebrak kap mobil Willy, "nyetir jangan sambil dandan plus rumpi." mereka terlihat tertawa mencibir, "haha, cowok cantik." Bahkan Yusuf terlihat membuat gerakan kedua tangan membentuk love ke arah mobil Willy.

"Bang sat." Umpat Gibran.

"Woyyy sin ting!!" teriak Inggrid, lihatlah ada Narasheila yang bahkan kemarin-kemarin justru dekat dan masuk ke dalam circle mereka, setelah gagal mereka raih.

Willy, adalah orang yang paling murka sebab, ia merasa dihina habis-habisan, bukan karena kelakuan pagi ini....namun, ia tau, hari ini mereka hanya ingin memvalidasi bahwa Nara tengah bersama mereka.

Yap! Willy mengakui menyukai Nara. Tetangga baru di komplek G. Gadis yang sempat berbaur dan menyatu sebentar dengan Inggrid, Dea, Willy, dan Gibran.

"Sabar Wil, gue tau Lo ngambek gara-gara kemaren Nara tolak Lo. Cewek masih banyak."

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

May Maya

May Maya

Dea sebenarnya gadis baik ,pinter tp jd jail n ngebuli org lain krn dulu nya Dea korban bully smpe tiap hari itungin hari d kalender kira2 berapa lama lg dia lulus SMP sangking dah tertekan bgt. mau itu korban bully, korban pelecehan, kekerasan pasti akan berdampak pd mental korban ada yg jd pendiam, ketakutan trs, ada jg yg jd pelaku krn ingin melampiaskan kesakitan itu alias balas dendam dgn sesuatu yg pernah ia rasakan

2026-01-07

6

Kᵝ⃟ᴸ _ᵉᵖʰᶦ

Kᵝ⃟ᴸ _ᵉᵖʰᶦ

Dea ya ampun bisa-bisanya kamu punya 2 kepribadian,dirumah anak yg manut patuh kepada orang tua lah di sekolah kog jadi gengnya wooow, meskipun ingin melindungi dirimu tapi tidak begitu Dea, circle mu salah pergaulan.

ini juga bisa buat perhatian orang tua yg masih memiliki putra-putrinya yg masih pelajar jgn sampai lengah mengawasi anaknya... terutama curhatan dari hati kehati meskipun awalnya sulit tapi kita tetap harus berusaha jgn sampai menyesal dikemudian hari🤗

2026-01-07

0

Defvi Vlog

Defvi Vlog

💪💪tutor kyanya aku pernah baca dech dea Inggrid Willi Gibran, judulnya apa ya aku lupa,

2026-01-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2 Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3 Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4 bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5 Bab 5🩷 Denial
6 Bab 6 🩷 First kiss
7 Bab 7 🩷 Revenge porn
8 Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9 Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10 Bab 10🩷 Menghindar
11 Bab 11🩷 Ventolin
12 Bab 12🩷 Penasaran
13 Bab 13🩷 Ditodong
14 Bab 14🩷 Shock therapy
15 Bab 15🩷 Kriminalitas
16 Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17 Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18 Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19 Bab 19🩷 Informan
20 Bab 20🩷 Peran Rifal
21 Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22 Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23 Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24 Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25 Bab 25🩷 Arti sahabat
26 Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27 Bab 27🩷 serangan jantung
28 Bab 28🩷 Podcast horor
29 Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30 Bab 30🩷 Keterbukaan
31 Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32 Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33 Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34 Bab 34🩷 Thunderbolt
35 Bab 35🩷 Hati yang patah
36 Bab 36🩷 Saling menyakiti
37 Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38 Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39 Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40 Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41 Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42 Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43 Bab 43🩷 Keluarga idaman
44 Bab 44🩷 Solid
45 Bab 45🩷 Mesin waktu
46 Bab 46🩷 Anak Bima
47 Bab 47🩷Sejarah papa
48 Bab 48🩷 Buah jatuh?
49 Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50 Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51 Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52 Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53 Bab 53🩷 Bicara dari hati
54 Bab 54🩷 Sejoli
55 Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56 Bab 56🩷 Sakit
57 Bab 57🩷 Saling memaafkan
58 Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59 Bab 59🩷 Recovery
60 Bab 60🩷 Ujian
61 Bab 61🩷 Day by day
62 Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63 Bab 63🩷 Sambut masa depan
64 Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65 Bab 65🩷 Menemani
66 Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67 Bab 67🩷 Godaan
68 Bab 68🩷 Miss you like crazy
69 Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70 Bab 70🩷 Terharu
71 Bab 71🩷 Tumpah ruah
72 Bab 72🩷 Sepupu Dea
73 Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74 Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75 Bab 75🩷 Kutitip rindu
76 Bab 76🩷 Restu Elok
77 Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78 Bab 78🩷 KM 389
79 Bab 79🩷 Bahaya
80 Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81 Bab 81🩷 Every piece of happiness
82 Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83 Epilog 🩷
84 Epilog 🩷
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2
Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3
Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4
bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5
Bab 5🩷 Denial
6
Bab 6 🩷 First kiss
7
Bab 7 🩷 Revenge porn
8
Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9
Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10
Bab 10🩷 Menghindar
11
Bab 11🩷 Ventolin
12
Bab 12🩷 Penasaran
13
Bab 13🩷 Ditodong
14
Bab 14🩷 Shock therapy
15
Bab 15🩷 Kriminalitas
16
Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17
Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18
Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19
Bab 19🩷 Informan
20
Bab 20🩷 Peran Rifal
21
Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22
Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23
Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24
Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25
Bab 25🩷 Arti sahabat
26
Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27
Bab 27🩷 serangan jantung
28
Bab 28🩷 Podcast horor
29
Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30
Bab 30🩷 Keterbukaan
31
Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32
Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33
Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34
Bab 34🩷 Thunderbolt
35
Bab 35🩷 Hati yang patah
36
Bab 36🩷 Saling menyakiti
37
Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38
Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39
Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40
Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41
Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42
Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43
Bab 43🩷 Keluarga idaman
44
Bab 44🩷 Solid
45
Bab 45🩷 Mesin waktu
46
Bab 46🩷 Anak Bima
47
Bab 47🩷Sejarah papa
48
Bab 48🩷 Buah jatuh?
49
Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50
Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51
Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52
Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53
Bab 53🩷 Bicara dari hati
54
Bab 54🩷 Sejoli
55
Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56
Bab 56🩷 Sakit
57
Bab 57🩷 Saling memaafkan
58
Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59
Bab 59🩷 Recovery
60
Bab 60🩷 Ujian
61
Bab 61🩷 Day by day
62
Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63
Bab 63🩷 Sambut masa depan
64
Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65
Bab 65🩷 Menemani
66
Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67
Bab 67🩷 Godaan
68
Bab 68🩷 Miss you like crazy
69
Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70
Bab 70🩷 Terharu
71
Bab 71🩷 Tumpah ruah
72
Bab 72🩷 Sepupu Dea
73
Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74
Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75
Bab 75🩷 Kutitip rindu
76
Bab 76🩷 Restu Elok
77
Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78
Bab 78🩷 KM 389
79
Bab 79🩷 Bahaya
80
Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81
Bab 81🩷 Every piece of happiness
82
Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83
Epilog 🩷
84
Epilog 🩷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!