bab 4🩷 Memantik api (prolog)

Dea melihat sesosok siswa dengan celana abu dan jaket jeansnya tengah menunggu di sebrang sekolah, dengan masih mengenakan helm tinta hitam ia seperti tengah mencari-cari sosoknya.

"Udah ada De?" tanya Inggrid, hari itu...Dea sengaja seperti Inggrid, membekali diri dengan liptin dan bedak. Jadi sebelum benar-benar pulang, ia touch up.

"Di depan."

Namun dengan sengaja, Dea meminta Jovanka masuk ke dalam sekolahnya, tentu saja agar semua teman-teman melihatnya.

"Di depan ada Jovanka dari SMA Angkasa. Mau ngapain?" beberapa teman di circle anak-anak famous rupanya memang notice kedatangan Jovanka, sudah jelas .....mereka yang biasa-biasa saja hanya akan menjadi penonton saja, dengan pernyataan---wew, Jovanka...

Dan gerakan pamungkas Dea selanjutnya adalah, "Jovanka!"

Membuat pemuda yang tengah disapa oleh beberapa anak basket, dan OSIS turut menoleh, "oh jemput Deanada."

Bahkan Inggrid ikut gemas dan in frame, "Jovanka! Hay! Mau jalan bareng ya?!"

Pemuda ganteng itu mengangguk, "loh motor kamu diparkir dimana?" tanya Dea lantas Jovan menunjuk ke arah samping, "warung samping, tadi liat ada siapa yang ikut main basket kemaren, Ramadhan?"

Dea cukup terkejut saat Jovanka menitipkan motornya disana, malas sekali.

"Oh, ya udah jalan sekarang nanti telat." Terpaksa Dea mengangguk sementara Inggrid, ia bersama Gibran dan Willy yang baru keluar dari kelas sebab tertinggal.

"Bye Ing!"

Dan grep, Dea mendaratkan tangannya di tangan Jovan. Ia tersenyum-senyum sendiri setelah itu, tak akan peduli jika nanti akan bertemu dengan Rama cs.

"Van, jemput...oh pantes." Rasa penasaran Gilang langsung terjawab saat melihat Dea.

Benar, Dea sebal sekali melihat mereka, saat Jovan mengambil motornya disana apalagi saat Gilang menyapa Jovan. Sementara, di gawang pintu antara warung dan rumah, seseorang tengah berdiri sambil bersidekap tangan menatapnya malas seakan tak peduli, "ian, buru lah...gue kasih ceban."

"Apaan, pulsa?" tanya Vian memastikan.

"Kon dom an jing." jawabnya santai sekali sembari melempar tatapan pada Dea.

"Ihhh, om Falll!" kini ada Tasya yang menyeru heboh bersama beberapa teman perempuan sekelasnya, Rama tertawa begitupun yang lain ikut riuh.

Dea, ia langsung membuang wajahnya ke lain arah, merasa jika saat ini Rifal justru tengah mencemoohnya. Bahkan Dea refleks merapatkan kaki-kaki diantara rok di atas lututnya dan kaos kaki sebatas bawah lutut, tangannya bersidekap tak nyaman. Segila itu aura pemuda ini, tak bisa dibayangkan bagaimana jika Dea satu kelas dengannya.

"Enak kayanya nyemil cewek girl band." Tambahnya lagi semakin membuat Dea tak nyaman, bisanya main keroyokan, nyatanya ia bukan apa-apa saat Inggrid, Willy dan Gibran tak ada, untung saja Jovanka segera menariknya, "yuk, De."

"Iya." Ia tersenyum naik ke atas boncengan Jovanka, tak mau lagi sekedar memandang.

Vian menggeplak perut Rifal, "wayauuuu! Dipandangi terus, Lo bukan pemuda idaman, mas...buru mana duitnya?!"

Rifal merogoh sakunya dan menemukan selembar uang biru dari dalamnya, "yang sekali pake, 25 giga."

"Anjirr, horang kaya beli kartu sekali pake." cibir Rio.

Lantas Tian bersuara, "ehhh, lumayan buat mabar."

"Kartu kriminal yang kaya begitu teh..." tawa Ridwan.

*Rifal*

Sebenarnya malas sekali ia pulang, namun mau bagaimana lagi....

Rumah, seharusnya menjadi tempatnya untuk pulang sebab kehangatan yang akan ia dapatkan. Pengobat rasa lelah dan tempatnya mendapatkan pelukan serta rasa nyaman.

Rifal menghentikan laju motornya, ketika menunggu jeda waktu security membuka pagar, "a.." sapanya.

Rifal hanya mengangguk sekali, pernah ia menjadi sosok paling ramah di dunia, namun dunia terlalu kejam sampai membuatnya menjadi sosok yang paling berpaling.

Baginya suram, secerah apapun penerangan bangunan ini....jika di dalamnya hanya ada----

Tanpa sambutan, perempuan itu hanya bertelfon ria dengan teman-temannya membicarakan keluaran terbaru tas dan baju. Atau sekedar tempat hangout seru lalu ia akan pergi seharian. Namun jelas itu lebih baik dibanding saat papanya sudah ada di rumah.

Hal menjijikan sering ia temui, bahkan keadaan kekerasan yang dilakukan papanya terhadap ibu tirinya itu. Bukan, Rifal tak mau menyebut wanita itu seorang ibu, baginya wanita jahat itu adalah pembu nuh.

Pembu nuh semua impian indahnya. Rifal langsung menyerbu kamar, setelah sempat mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas, tanpa mau melirik apalagi melihat apa yang dilakukan wanita itu, padahal sejak tadi wanita si alan itu sudah menegurnya, "tumben pulangnya siangan."

Ia lurus saja, masuk dan *bamm*! Menutup pintu. Langsung menjatuhkan badannya di kasur setelah sempat membuka sepatu dan sweater. Ia mengantuk, karena baginya yang telah kehilangan cahaya, siang jadi malam, dan malam jadi siang.

Dua buah foto berframe kecil berdiri di atas meja samping kasur.

Lantas, lembaran foto tanpa terpasang frame, namun setiap ia sandarkan di depan buku-buku yang berantakan di meja belajar adalah foto kelas MIPA 3.

Dari sekian banyaknya manusia di bumi, hanya almarhumah mama, almarhumah Hana, Thunderbolt, MIPA 3 dan Bu Wilda saja yang menganggapnya manusia. Sisanya melihat ia sebagai sampah, sesuatu yang harus dibuang, dijauhkan dan menakutkan serta menjijikan.

Getaran ponsel teredam bedcover dan jaketnya, dimana getaran menggelepar dan menyala-nyala adalah notifikasi di grup MIPA 3. Namun si empunya justru sudah masuk ke dunia mimpi.

Dea

Lagi-lagi, sekolahnya kedatangan murid baru, seorang murid lelaki bernama Kenzie, cukup ganteng sekaligus anak seorang pejabat. Tentu saja ia langsung ternotice satu sekolah terutama para gadis, tidak terkecuali Inggrid yang acap kali meminta Dea untuk mengantarnya ke kelas Kenzie.

Sekedar memberinya minuman atau makanan saat istirahat. Seperti sekarang, Inggrid sudah melakukan usaha pendekatannya pada Kenzie, ia sebenarnya cukup lelah mengikuti mau Inggrid namun.

"Ayo dong De, Kenzie tuh suka pentol level 2. Beli yuk, sekalian jajan..." ajaknya.

Dea berdecak sekilas, "suruh Naila atau Samanta aja gimana? Kok gue males ya Ing...ntar kalo gue yang beli, Kenzie malah suka gue, gimana?"

Inggrid cemberut dan sewot, "lah, kan udah ada Jovanka. Kalaupun Lo mau, kita bersaing secara sehat."

"Jovanka kelamaan nembak. Kayanya gue kejebak friendzone deh. Deal deh buat dapetin Kenzie..." jawab Dea membuat tawa Inggrid tergelak, "ya udah ayok." ajaknya.

Berjalan sambil bercanda, Inggrid sempat bertubrukan dengan Mita, gadis kelas MIPA 3 yang cukup pendiam.

Dughh!

"Ish!" Inggrid langsung bereaksi menyengit sementara Mita pun tak kalah sewot melihat keduanya.

Entahlah, Dea tak ingin berurusan sebenarnya namun saat melihatnya ia seolah melihat wajah6 mencemooh anak MIPA 3 padanya dan teman-temannya.

Bukan dirinya melainkan Inggrid yang bereaksi, "ngga punya mata ya? Pantes..." Inggrid bahkan mendorong bahu Mita yang turut bereaksi.

"Eh biasa aja dong. Gue dorong Lo ngga?" tanya Mita terlihat berusaha memberanikan diri melawan.

Inggrid dan Dea cukup dibuat melongo saat ia melawan.

"Weheyyy....nyolot." Merasa tertantang, Inggrid menyambar minuman seorang siswa yang ada disana dan menyiramkannya ke seragam, Dea hanya terdiam melihatnya namun segera menyadarkan dirinya, "Ing...Ing udah, kalo dia lapor MIPA 3 yang lainnya, repot juga."

Namun seolah tak menggubris peringatannya, Inggrid justru tersenyum menyungging dan bersidekap dada, "Lo mau lapor Rama? Rifal? Lapor sana..." Inggrid mencondongkan wajahnya, "kalo masih mikir-mikir harusnya dari tadi sebelum nyolot. Think smart." sengaknya menekan-nekan pelipis Mita yang langsung ditepis Mita.

Wajah Mita saat ini, membuat Dea mengingat kejadian lalu...bahkan saat Inggrid mencoba menyentuh dan menunjuk-nunjuk kepalanya lalu Mita melawan yang semakin membuat Inggrid gencar menekannya, dan kejadian itu disaksikan oleh banyak siswa juga...tak sekalipun Dea bereaksi...

Hatinya ribut, begitu yang terjadi....saat Inggrid sedang merundung teman-temannya, ia memilih diam menyaksikan namun turut mengeksekusi saat si korban ingin berlari kabur, seperti pada Naila.

Saat Inggrid gencar memojokannya dan mengacak-acak isian tasnya, Dea hanya diam menyaksikan sambil tersenyum kecil seperti ada kepuasan saat melihatnya. Tanpa ingin ikut-ikutan, namun saat Naila berusaha kabur dan pergi, maka yang Dea lakukan adalah menahannya untuk tetap jadi bahan bullyan Inggrid. Maka seringnya Inggrid berkata.

"Tahan De, jangan sampe dia kabur."

Apakah itu sebuah penyakit psikis? Dea menggeleng mengenyahkannya. Mencoba menarik nafas dan membuangnya.

/

Mita kembali ke kelas dengan kondisi baju seragam yang basah dan wajah memerah, praktis satu kelas MIPA 3 yang awalnya tengah bersantai ria sambil ribut tak karuan mendadak senyap.

"Mita, kenapa?"

Merry berlari bersama Dian, "Mita kenapa Lo ngga teriak atau minta tolong sih, waktu Inggrid sama Dea bully Lo?" wajah Dian bahkan sudah memerah.

"Hah? Dibully, seriusan?" tanya Bayu, memancing yang lain ikut bereaksi.

"Inggrid, Dea?" tanya Nara memastikan.

"Gue ngga apa-apa, asli deh." jawab Mita tersenyum.

"Ngga nyerang fisik?" tanya Rama digelengi Mita.

"Engga gimana, basah begini aja berarti udah ke fisik papa." Dengus Tasya yang kemudian dicibir Tian, "berisik Lo bongsor!"

"Wah anjirrr udah berani main-main sama MIPA 3 ini mah, Ram....mau digimanain?" tanya Andy serius ikut khawatir.

"Cewek euyyy masalahnya, ngga gentle atuh ngadepin cewek." keluh Rio.

"Ya udah gue aja," jawab Vina memang seberani itu.

"Gue juga," angguk Rika disetujui yang lain, "iyalah, enak aja. Ngga bisa jadi!" sewot Tasya dan Muti, "dipikir paling cantik, paling hebat gitu. Cuma karena mereka anak pemandu sorak, deket sama anak-anak OSIS, basket, ekskul, emaknya komite, Abah juga juragan daging! Bakal tau rasa kalo pas munggah atau mau lebaran daging sepasar sengaja diumpetin jadi ngga bisa ngerendang." Kelakar Muti memancing tawa yang lain.

Namun bel masuk menyelamatkan pertikaian yang akan terjadi antara mereka. Rifal menggeliat lalu merebut sisa roti dari tangan Vian, "istirahat udahan?" tanya nya dengan polosnya.

Dan keriuhan itu tak bisa lebih berisik lagi menyoraki Rifal, "telat mas!"

"Eh, kenapa ngga ada yang bangunin gue?" sementara mulutnya masih mengunyah roti milik Vian yang hanya bisa kecut, "mas...mas itu roti gue Lo sikat ampe abis."

"Telat. Roti udah jadi ta i, mas..." jawab Rifal.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Salim S

Salim S

emang paling seneng kalau udah membahas anak-anak MIPA3...rame plus konyol 🤭🤭🤭🤭sebenarnya sikap dea itu salah walaupun dulu dia pernah menjadi korban perundingan seharusnya dea lebih empati pada anak korban perundungan karena dia lebih tahu rasanya di rundung dari siapapun...tapi mungkin demi tidak mau kena perundungan lagi dia menjadi pelaku perundungan

2026-01-07

0

lestari saja💕

lestari saja💕

lama2 ya jadi penyakit.
jadi psikopat kayak kenzie

2026-01-07

0

Kh2103💙

Kh2103💙

Lah...disaat lg tegang gitu msh aja ada yg ngelucu.... segala daging sepasar diumpetin🤣🤣🤣🤣
eeeh.... cowok kaku malah nanya istirahat udahan apa blm saking nyenyaknya tidur di kelas...😁😁😁 berasa dihotel bintang lima kali ya...sampe pules gitu...🤣🤣🤣

2026-01-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2 Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3 Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4 bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5 Bab 5🩷 Denial
6 Bab 6 🩷 First kiss
7 Bab 7 🩷 Revenge porn
8 Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9 Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10 Bab 10🩷 Menghindar
11 Bab 11🩷 Ventolin
12 Bab 12🩷 Penasaran
13 Bab 13🩷 Ditodong
14 Bab 14🩷 Shock therapy
15 Bab 15🩷 Kriminalitas
16 Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17 Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18 Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19 Bab 19🩷 Informan
20 Bab 20🩷 Peran Rifal
21 Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22 Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23 Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24 Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25 Bab 25🩷 Arti sahabat
26 Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27 Bab 27🩷 serangan jantung
28 Bab 28🩷 Podcast horor
29 Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30 Bab 30🩷 Keterbukaan
31 Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32 Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33 Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34 Bab 34🩷 Thunderbolt
35 Bab 35🩷 Hati yang patah
36 Bab 36🩷 Saling menyakiti
37 Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38 Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39 Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40 Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41 Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42 Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43 Bab 43🩷 Keluarga idaman
44 Bab 44🩷 Solid
45 Bab 45🩷 Mesin waktu
46 Bab 46🩷 Anak Bima
47 Bab 47🩷Sejarah papa
48 Bab 48🩷 Buah jatuh?
49 Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50 Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51 Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52 Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53 Bab 53🩷 Bicara dari hati
54 Bab 54🩷 Sejoli
55 Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56 Bab 56🩷 Sakit
57 Bab 57🩷 Saling memaafkan
58 Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59 Bab 59🩷 Recovery
60 Bab 60🩷 Ujian
61 Bab 61🩷 Day by day
62 Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63 Bab 63🩷 Sambut masa depan
64 Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65 Bab 65🩷 Menemani
66 Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67 Bab 67🩷 Godaan
68 Bab 68🩷 Miss you like crazy
69 Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70 Bab 70🩷 Terharu
71 Bab 71🩷 Tumpah ruah
72 Bab 72🩷 Sepupu Dea
73 Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74 Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75 Bab 75🩷 Kutitip rindu
76 Bab 76🩷 Restu Elok
77 Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78 Bab 78🩷 KM 389
79 Bab 79🩷 Bahaya
80 Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81 Bab 81🩷 Every piece of happiness
82 Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83 Epilog 🩷
84 Epilog 🩷
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 🩷 Bullying (prolog)
2
Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)
3
Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
4
bab 4🩷 Memantik api (prolog)
5
Bab 5🩷 Denial
6
Bab 6 🩷 First kiss
7
Bab 7 🩷 Revenge porn
8
Bab 8🩷 Perselingkuhan membawa petaka
9
Bab 9 🩷 Baby, i hunt you down
10
Bab 10🩷 Menghindar
11
Bab 11🩷 Ventolin
12
Bab 12🩷 Penasaran
13
Bab 13🩷 Ditodong
14
Bab 14🩷 Shock therapy
15
Bab 15🩷 Kriminalitas
16
Bab 16🩷 Kekerasan dalam rumah tangga
17
Bab 17🩷 Semakin kesini semakin kesana
18
Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal
19
Bab 19🩷 Informan
20
Bab 20🩷 Peran Rifal
21
Bab 21🩷 Stalkerin kamu
22
Bab 22🩷 Berdamai dengan keadaan
23
Bab 23🩷 Semakin kencang gosipnya
24
Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa
25
Bab 25🩷 Arti sahabat
26
Bab 26🩷 Calon mamahnya anak-anak
27
Bab 27🩷 serangan jantung
28
Bab 28🩷 Podcast horor
29
Bab 29🩷 Ujian pertemanan
30
Bab 30🩷 Keterbukaan
31
Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
32
Bab 32🩷 Perdebatan pertama
33
Bab 33🩷 Tak pernah main-main
34
Bab 34🩷 Thunderbolt
35
Bab 35🩷 Hati yang patah
36
Bab 36🩷 Saling menyakiti
37
Bab 37🩷 Tentangnya yang tak orang mengerti
38
Bab 38🩷 Thunderbolt 2
39
Bab 39🩷 Rumah untuk pulang
40
Bab 40🩷 Gue percaya Dea
41
Bab 41🩷 Hay, aku Dea....
42
Bab 42🩷 Tabir MIPA 3
43
Bab 43🩷 Keluarga idaman
44
Bab 44🩷 Solid
45
Bab 45🩷 Mesin waktu
46
Bab 46🩷 Anak Bima
47
Bab 47🩷Sejarah papa
48
Bab 48🩷 Buah jatuh?
49
Bab 49🩷 Touch me, Rifal.
50
Bab 50🩷 Anak papa Wibi
51
Bab 51🩷 Papa butuh waktu
52
Bab 52🩷 Fase Lashing Out
53
Bab 53🩷 Bicara dari hati
54
Bab 54🩷 Sejoli
55
Bab 55🩷 Bima dan Wibi
56
Bab 56🩷 Sakit
57
Bab 57🩷 Saling memaafkan
58
Bab 58🩷 Model pacaran apa?
59
Bab 59🩷 Recovery
60
Bab 60🩷 Ujian
61
Bab 61🩷 Day by day
62
Bab 62🩷 Sampai jumpa di lain hari
63
Bab 63🩷 Sambut masa depan
64
Bab 64🩷 Konco Dolan 13
65
Bab 65🩷 Menemani
66
Bab 66🩷 Aku disini dan kau disana
67
Bab 67🩷 Godaan
68
Bab 68🩷 Miss you like crazy
69
Bab 69🩷 Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta
70
Bab 70🩷 Terharu
71
Bab 71🩷 Tumpah ruah
72
Bab 72🩷 Sepupu Dea
73
Bab 73🩷 Putus---putus--putus.
74
Bab 74🩷 Pacaran rasa kembang api
75
Bab 75🩷 Kutitip rindu
76
Bab 76🩷 Restu Elok
77
Bab 77🩷 Tak tahan lagi
78
Bab 78🩷 KM 389
79
Bab 79🩷 Bahaya
80
Bab 80🩷 Masa lalu yang datang menyapa
81
Bab 81🩷 Every piece of happiness
82
Bab 82🩷 Kamu tempatku untuk pulang
83
Epilog 🩷
84
Epilog 🩷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!