bab 2

"Songong banget jadi orang."

"Lu kenapa, sih?"

"Pake nanya lagi." Yuda duduk setelah menarik kursi. Kini ia duduk di sebuah kafe yang sedang viral dan punya privat room. "Lu tau enggak? Tadi gua ke rumah cewek itu. Dia tuh..."

Yuda tak melanjutkan ucapannya karena terlalu menahan geramnya. "Lu kalau nyari orang yang benerlah. Masa gua harus nikahin cewek model begitu!?"

Bastian, teman sekaligus partner kerja yang paling dia percaya. "Lu juga kalau kasih clue yang bener dong!" katanya tak terima malah disalahkan. "Gua juga cuma ikutin petunjuk dari lu!"

Yuda berdecak kesal. "Gua berharap ada cewek lain... Bukan dia... Songong, sok kecakepan, baru kerja kantoran aja udah banyak kali gayanya."

Bastian menatap bos sekaligus sahabatnya itu lama, "Lu juga songong!" tunjuknya, "Cocoklah kalian!"

Yuda langsung mendelik, "Hehh!"

Bastian terkekeh pelan.

Hening sejenak.

Yuda menatap lurus ke depan. "Ada janji yang harus gua pertanggungjawabkan. Lu tau, kan?"

"Tapi... Itu bukan kewajiban lu, Yud."

Yuda mengusap wajahnya, seperti ada banyak beban di pundaknya. Dalam keheningan, bayangan wajah lain muncul di benak Yuda, wajah kalem, tatapan teduh, langkah tertatih yang nyaris tak bersuara.

"Ning..."

Alis Bastian terangkat. "Ning?"

"Iya, dia…Adiknya Dewi," gumam Yuda tanpa sadar.

"Hah?"

"Ningsih," Yuda menyebut nama itu lebih jelas. "Ada di keluarga itu. Cari tahu lebih banyak tentang dia."

Bastian mendelik. "Lho, kok belok ke sana?"

"Ada yang janggal," jawab Yuda singkat. "Dia pincang. Dan Dewi sempat bilang… kecelakaan. Mungkin saja orang itu Ning."

Bastian mendecak. "Kerjaan nambah lagi."

"Jadi lu mau gua menikahi cewek songong itu? Dia bilang gua enggak punya masa depan!"

Bastian tertawa pelan. Namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Oke. Gua cari."

***

Di rumah Pak Hasto, suasana jauh lebih panas.

"Ini semua salah kamu, Ning! Kamu ngapain godain Ridho?!"

Suara Dewi melengking, membuat Ning yang duduk di dekat pintu ruang tamu terperanjat. Tangannya mencengkeram gamis sisi tubuhnya, matanya menunduk.

"Mbak, aku enggak..."

"Diam!" Dewi menunjuknya. "Kamu itu tahu diri! Kamu pincang! Kamu enggak pantas sama Ridho!"

"Dewi!" sentak Pak Hasto mendengar ucapan tajam anaknya.

"Pasti begitu, Yah! Dia pasti godain Mas Ridho! Makanya Mas Ridho malah ngelamar dia!" ucap Dewi keras. "Harusnya dia tau kalau Dewi suka sama Mas Ridho! Tapi dia malah godain calon suami Dewi."

"Ning tidak melakukan apa-apa," Pak Hasto membentak. "Ridho yang memilih Ning. Selama Ridho kemari juga bukannya kamu yang terus-terusan temui Ridho, Wi?!"

Bu Sumi berdiri cepat. "Mas, jangan belain dia terus! Mas enggak tau aja, Ning godain Ridho di luar. Di rumah aja kalau enggak ada Dewi pasti juga dia udah kegatelan, kayak Ibunya!"

"Sum!" balas Pak Hasto, wajahnya merah menahan emosi. "Jaga bicaramu! Ibunya Ning tak pernah menggoda Mas!"

"Halah! Bela aja terus dia! Gitu aja udah jelas kamu memang udah digoda sama dia dan ibunya!" Sumi tak kalah keras.

Ning menggigit bibir. Kata-kata itu bukan hal baru. Sejak kecil, bisikan serupa selalu mengikuti langkahnya.

Bu Sumi menyilangkan tangan. "Mas Hasto, dengar ya. Aku enggak mau Dewi dipermalukan. Ridho itu jodohnya Dewi. Ning harus menolak."

"Tidak bisa memaksa begitu!" Pak Hasto menatap istrinya tajam.

"Bisa!" Bu Sumi meninggi. "Kalau perlu, suruh dia nikah sama tukang ojek itu. Si Yuda! Cocok. Sama-sama enggak ada apa-apanya."

Ning menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi suaranya tak keluar.

"Apa kamu dengar dirimu sendiri?" Pak Hasto bergetar. "Pikirkan perasaan Ning!"

Bu Sumi terkekeh dingin. "Perasaan? Dia numpang hidup di rumah ini! Aku yang rawat dia sejak kecil. Dia harus tahu diri!"

Hening memukul ruang tamu.

Ning melangkah pelan, lalu berlutut di hadapan Pak Hasto. "Ayah… enggak apa-apa. Ning nurut."

"Bangun," Pak Hasto berkata parau. "Ayah enggak izinkan."

Namun Ning hanya tersenyum tipis. Senyum pasrah yang membuat hati siapa pun perih.

****

"Sialan! Malah macet lagi."

"Udahlah, emang biasanya juga macet kok."

Yuda dan Bastian berada di dalam mobil yang berderet. Yuda duduk di kursi penumpang, mengenakan jas rapi. Pandangannya tiba-tiba terpaku ke trotoar.

"Ning?"

Bastian melirik bosnya.

"Berhenti," kata Yuda singkat, saat kendaraan itu mulai bergerak.

Bastian mengerem. "Kenapa?"

Di sana, Ningsih berdiri di depan gerobak batagor. Tangannya menunjuk tumpukan batagor, bibirnya bergerak pelan dan sedikit diselingi senyum.

Deg!

Yuda melepas jas mahalnya, menyampirkannya ke kursi, menyisakan kemeja dan celana panjang. Ia membuka pintu, melangkah mendekat.

"Hei! Mau ke mana?" seru Bastian, lalu mengikuti ke arah Yuda berjalan sambil melipat lengan kemejanya.

"Ning?"

Ningsih terkejut. "Mas Yuda?"

"Kamu sendiri?"

"Iya, Mas."

"Ini jauh dari rumah loh, kamu naik apa?"

"Jalan, Mas."

Yuda tertegun, "Jalan?" katanya sambil melirik kaki Ning yang menopang dengan kruk di lengannya.

"Udah biasa jalan kok, Mas," ucap Ning tersenyum kecil. "Lebih enak jalan. Mas Yuda mau beli batagor juga?"

Ada sesuatu yang diam-diam menyusup di dada Yuda. Tapi, ia sendiri tak tau apa.

"Iya."

Ning tersenyum lagi. Lalu menoleh pada penjual batagor yang memasukan dua bungkus batagor ke plastik.

"Semuanya 10 ribu, Neng," kata Mang penjual batagor.

"Ini, Mang." Ning menyerahkan uang dua puluh ribu.

"Kok beli dua?"

"Oh, iya. Buat Mbak Dewi sama Ibuk. Tadi minta Ning belikan."

Yuda menatap lekat gadis berjilbab berwajah kalem itu. "Kamu?"

Ning menggeleng. "Ning duluan, ya, Mas," pamitnya setelah menerima kembalian.

"Kamu mau batagor? Mas belikan."

Ning diam sebentar, seperti menimbang. Yuda langsung ke penjual. "Pak, dua. Makan sini."

Ning menggeleng cepat. "Eh, enggak Mas. Ning harus cepat pulang."

"Temani Mas makan dulu, enggak enak makan sendiri. Lagian ada yang mau Mas tanyain," kata pemuda itu enteng sambil menarik kursi. "Ayo duduk."

Ning ragu. "Tapi... Mbak Dewi sama Ibuk nungguin di rumah," ucapnya lirih.

"Bilang aja antrian panjang," Yuda beralasan santai. "Duduk sini! Temanin Mas makan."

Ning ragu. Wajahnya bimbang, lalu menunduk. "Makasih, Mas."

Mereka duduk di bangku plastik. Kruk penyangga Ning disandarkan di tembok dekat gerobak. Ning memegang piringnya kikuk, seperti takut menikmati.

"Kakimu kenapa?" tanya Yuda pelan.

Ning terdiam sesaat. "Jatuh."

"Kapan?"

"Tahun lalu, Mas."

"Di mana?"

"Di jalan." Jawabannya singkat, tertutup.

Yuda tak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu menyodorkan minuman.

Ning menggigit kecil. Matanya berbinar sebentar, lalu cepat disembunyikan.

"Terima kasih, Mas," ucapnya tulus. "Ning jarang jajan kek gini."

"kalau gitu, sering-seringlah jalan sama Mas. Biar Mas jajanin."

Ning tersenyum, senyum yang menggetarkan hati seseorang.

"Ning pulang dulu, Mas."

Yuda sigap berdiri, lalu mengambil kruk Ning dan memberikannya.

"Makasih, Mas."

Yuda mengangguk.

"Mas orang baik."

Ada yang berdesir, namun cepat ditepis. "Kamu ini, sekali ditraktir aja udah bilang baik."

"Hehehe, beneran kok, Mas. Ning tau, Mas orang baik. Makasih ya, Mas Yuda. Assalamualaikum."

Yuda menatapnya pergi. "Wa'alaikum salam..."

Ada keteduhan di punggung rapuh itu—dan luka yang tak terucap.

****

Di rumah, Dewi menyambut dengan wajah masam.

"Lama!" bentaknya. "Ngapain aja sih?"

"Antrinya panjang, Mbak."

"Halah, alasan aja! Kami udah lapar tau! Sengaja ya kamu mau bikin kami mati kelaparan."

"Enggak, Mbak."

Bu Sumi melirik sinis. "Sudah. Kamu enggak usah makan. Banyak kali alasan!"

Ning menunduk. Ia masuk kamar, menutup pintu pelan. Di dalam, ia duduk di tepi ranjang, memeluk perutnya yang masih hangat oleh batagor tadi.

Malam itu, Pak Hasto baru saja duduk di ruang tamu, bersama Dewi dan Bu sumi. Suara ketukan pintu terdengar.

Tok. Tok.

"Assalamu’alaikum."

Semua menoleh. Pak Hasto bangkit, membuka pintu.

"Kamu..."

Terpopuler

Comments

Emily

Emily

kok ada ya orang macam hantu belau...jawab nya banyak...songong Daan merasa hebat

2026-07-15

2

Babe Babe

Babe Babe

aduh yaaa yg datang tuuuh aku jadi deg deg degan🤭

2026-05-30

0

Rahmawati Amma

Rahmawati Amma

aslinya ceo anak sultan🤣

2026-04-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2 bab 2
3 bab 3
4 bab 4
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8
9 bab 9
10 bab 10
11 bab 11
12 bab 12
13 bab 13
14 bab 14
15 bab 15
16 bab 16
17 bab 17
18 bab 18
19 bab 19
20 bab 20 pelayan khusus
21 bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22 bab 22
23 bab 23
24 bab 24
25 bab 25
26 bab 26
27 bab 27
28 bab 28
29 bab 29
30 bab 30
31 bab 31
32 bab 32
33 bab 33
34 bab 34
35 bab 35
36 bab 36
37 bab 37
38 bab 38
39 bab 39
40 bab 40
41 bab 41
42 bab 42
43 bab 43
44 pengumuman Visual Tokoh
45 bab 44
46 bab 45
47 bab 46
48 bab 47
49 bab 48
50 bab 49
51 bab 51
52 bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 bab 65
66 bab 66
67 bab 67
68 bab 68
69 bab 69
70 bab 70
71 bab 71
72 bab 72
73 bab 73
74 bab 74
75 bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 87
87 bab 88
88 bab 89
89 bab 90
90 bab 91
91 bab 92
92 bab 93
93 bab 94
94 bab 95
95 bab 96
96 bab 97
97 bab 98
98 bab 99
99 bab 100
100 bab 101
101 bab 102
102 bab 103
103 bab 104
104 bab 105
105 bab 106
106 bab 107
107 bab 108
108 bab 109
109 bab 110 • apa ini udah panas?
110 bab 111
111 bab 112
112 bab 113
113 bab 114
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2
bab 2
3
bab 3
4
bab 4
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8
9
bab 9
10
bab 10
11
bab 11
12
bab 12
13
bab 13
14
bab 14
15
bab 15
16
bab 16
17
bab 17
18
bab 18
19
bab 19
20
bab 20 pelayan khusus
21
bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22
bab 22
23
bab 23
24
bab 24
25
bab 25
26
bab 26
27
bab 27
28
bab 28
29
bab 29
30
bab 30
31
bab 31
32
bab 32
33
bab 33
34
bab 34
35
bab 35
36
bab 36
37
bab 37
38
bab 38
39
bab 39
40
bab 40
41
bab 41
42
bab 42
43
bab 43
44
pengumuman Visual Tokoh
45
bab 44
46
bab 45
47
bab 46
48
bab 47
49
bab 48
50
bab 49
51
bab 51
52
bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
bab 65
66
bab 66
67
bab 67
68
bab 68
69
bab 69
70
bab 70
71
bab 71
72
bab 72
73
bab 73
74
bab 74
75
bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 87
87
bab 88
88
bab 89
89
bab 90
90
bab 91
91
bab 92
92
bab 93
93
bab 94
94
bab 95
95
bab 96
96
bab 97
97
bab 98
98
bab 99
99
bab 100
100
bab 101
101
bab 102
102
bab 103
103
bab 104
104
bab 105
105
bab 106
106
bab 107
107
bab 108
108
bab 109
109
bab 110 • apa ini udah panas?
110
bab 111
111
bab 112
112
bab 113
113
bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!