bab 5

"Enggak bisa dipercaya, gimana bisa malah Ridho yang celaka? Kenapa enggak Ning saja?"

"Iya, Buk." Dewi menyetujui.

Koridor rumah sakit siang itu penuh bau antiseptik dan langkah kaki tergesa. Bu Sumi datang dengan wajah tegang, tas coklat biru disampirkan di bahu. Dewi berjalan di sampingnya, rambut rapi, wajah dibuat pucat, seolah ikut berduka.

"Wi, ingat ya," gumam Bu Sumi sambil mempercepat langkah. "Kali ini kamu harus bisa ambil hati ibunya Ridho."

"Pasti, Bu," sahut Dewi pelan. Nada suaranya dibuat bergetar. "Aku juga khawatir sama keadaan Mas Ridho. Moga aja enggak ada hal serius."

"Gimana enggak ada hal serius gimana?" sambar Bu Sumi, "Dia sampai masuk rumah sakit loh, enggak sadarkan diri lagi."

Begitu mereka tiba di depan ruang ICU, suasana langsung berubah. Ibunya Ridho duduk di bangku besi, wajahnya sembab, mata merah karena menangis semalaman. Ayah Ridho berdiri di dekat pintu, tangan bersedekap, sorot matanya tajam.

"Kalian mau apa kemari?" tanya sang ayah dingin. "Puas kalian bikin anak kami begini?"

"Kami tidak ada maksud buruk, Pak," jawab Bu Sumi cepat. "Kami kemari, karena kami perduli sama Ridho. Gimana pun, Dewi pernah dekat sama Ridho."

Belum selesai kalimat itu, ibunya Ridho berdiri dengan napas memburu. "Tidak usah banyak bicara, kalian kan sama saja!"

Nada suaranya membuat Dewi menelan ludah. "Bukan begitu, Bu. Kami dengar Mas Ridho kecelakaan. Kami sangat prihatin," katanya lembut, nyaris berbisik. "Kami tau kalian pasti menyalahkan Ning. Kami turut minta maaf atas semua yang terjadi."

"Minta maaf?" Ibunya Ridho tertawa getir. "Anak saya enggak sadar! Dan kalian datang cuma bawa kata maaf?"

Bu Sumi langsung tersinggung. "Kami juga kaget, Bu. Jangan bicara sembarangan!"

Dewi cepat menahan lengan ibunya. "Bu, tolong… jangan emosi. Kami datang dengan niat baik."

Ia lalu menoleh ke ibunya Ridho, matanya berkaca-kaca. "Saya… saya merasa sangat bersalah. Kalau saja malam itu tidak terjadi keributan di rumah kami..."

"Apa maksudmu?" potong ayah Ridho curiga.

Dewi menghela napas panjang, seolah menimbang berat cerita. "Waktu Mas Ridho datang, dia ingin bicara baik-baik. Tapi… adik tiri saya, Ning, menolak dengan keras. Dia memang sudah menerima lamaran dari Seseorang,..." Dewi terisak kecil, "Dewi rasa, itulah yang membuat Mas Ridho kecewa dan berpikir macam-macam... Lalu terjadilah kecelakaan itu..."

Ibunya Ridho membelalak. "Apa?"

"Iya, Bu," Dewi mengangguk cepat. "Mas Ridho pulang dalam keadaan sangat terpukul. Saya lihat sendiri wajahnya pucat, tangannya gemetar. Saya takut… takut kalau itu yang bikin dia kehilangan fokus di jalan."

Bu Sumi ikut menyahut, nadanya menyulut. "Anak itu memang pembawa masalah! Dari dulu selalu bikin susah keluarga!"

"Ibu benar, Ibunya Ning meninggal saat Ning lahir, Dewi rasa itu adalah karma buat dia karena masuk ke keluarga kami."

Wajah ibunya Ridho memerah. "Jadi benar!" teriaknya. "Anak itu yang bikin Ridho hancur!"

Ayah Ridho menggebrak dinding. "Saya sudah bilang dari awal, hubungan ini tidak sehat!"

Dewi menunduk, pura-pura menangis. "Saya benar-benar minta maaf, Bu. Kalau boleh jujur, saya pun menyesal tidak menghentikan Ning lebih keras. Andai saja dia tidak berkata kejam begitu… mungkin Ridho tidak seperti ini," sambungnya terus menghasut.

Namun, ibunya Ridho menatap Dewi dengan dingin. "Kamu jangan berpikir aku bodoh. Mau Ning atau kamu, kalian tetap satu keluarga. Anak saya celaka setelah dari rumah kalian."

Dewi terdiam. Senyum tipis yang tadi nyaris muncul cepat ia tekan.

"Kalian pergilah," lanjut sang ibu tajam. "Saya tidak ingin melihat wajah keluarga itu di sini."

Bu Sumi membuka mulut, tapi Dewi cepat menariknya. "Sudah, Bu. Kita pulang saja," bisiknya.

Siang berlalu dan berganti sore ketika Ning dan Pak Hasto tiba di rumah sakit. Ning berjalan perlahan dengan kruk yang diganti sementara, wajahnya pucat, mata sembab.

Begitu mereka mendekat ke ruang ICU, ibunya Ridho langsung berdiri. "Kamu lagi?" bentaknya. "Ngapain kamu ke sini!?"

Pak Hasto menghela napas. "Kami hanya ingin melihat Ridho sebentar. Kami sangat khawatir."

"Khawatir?" Ayah Ridho maju selangkah. "Setelah kamu menghancurkan perasaan anak saya? Membuat anak saya celaka?!"

Ning tersentak. "Saya… saya tidak..."

"Diam!" Ibunya Ridho menunjuk Ning. "Aku benci lihat wajah penuh kepura-puraan mu itu! Pergi dari sini!"

Air mata Ning tumpah. "Buk... Ning mohon, biarkan Ning melihat Mas Ridho sebentar saja ..."

Plak!

"Pergi!" bentak ayah Ridho.

"Apa-apaan ini!? Kenapa malah memukul anak saya!?" Pak Hasto balik membentak.

Ning jatuh berlutut perlahan, kruknya berdentang begitu saja di lantai. "Tolong… izinkan saya melihat Mas Ridho sebentar saja. Saya mohon."

"Ning!" Pak Hasto menegur, sedih sekali hatinya Ning sampai seperti itu.

Ibunya Ridho mundur selangkah, wajahnya dingin. "Tidak. Kamu dilarang menemui Ridho lagi. Jangan pernah datang ke hidup anak saya."

Pak Hasto menahan napas. "Ning, ayo kita pergi. Tak ada gunanya kita di sini."

"Bagus! Bawa dia pergi!" teriak sang ibu.

Ning terduduk, bahunya bergetar hebat. Dalam diam, hatinya menjerit. Ia memang menyukai Ridho, diam-diam, tulus, tapi perasaan itu selalu ia tekan, demi Dewi, demi rumah ini, demi tidak menambah masalah.

Pak Hasto mengangkat Ning perlahan. "Sudah, Ning. Kita pulang."

Ning menoleh ke pintu ICU terakhir kali, air matanya jatuh tanpa suara.

****

"Uuhhh...."

Di ruang rawat yang sunyi, Ridho akhirnya membuka mata. Cahaya putih menyilaukan. Kepalanya terasa kosong, seperti halaman buku yang terhapus.

"Mmmm…?" suaranya serak.

Ibunya Ridho langsung mendekat dan memeluk tangannya. "Alhamdulillah… kamu sadar, Dho."

Ridho menatap wajah-wajah di sekitarnya, bingung. "Siapa…?" tanyanya pelan.

"Ini ibuk, Dho."

"Kenapa aku di sini?"

"Kamu kecelakaan, Dho."

"Aaakkkhhh! Kepalaku..." keluh Ridho.

"Ayah panggilkan dokter, Buk," ujar bapaknya Ridho bergegas keluar. Tak lama dokter masuk.

Dokter melakukan serangkaian test dan pengecekkan.

"Sepertinya... Pasien mengalami amnesia. Dia kehilangan sebagian ingatannya..."

"Apa?"

Terpopuler

Comments

Ummi Adzkia

Ummi Adzkia

ridho amnesia. baguslah... biar bisa melupakan semua nya.

dimulai dari nol ya pak....

2026-08-01

1

Dewa Nara

Dewa Nara

kacian ridho

2026-07-17

0

🌹🪴eiv🪴🌹

🌹🪴eiv🪴🌹

ridho amnesia wi,masuk wi di persilahkan
Ning sama Yudha yg pak ceeeoo aja 🥳

2026-05-20

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2 bab 2
3 bab 3
4 bab 4
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8
9 bab 9
10 bab 10
11 bab 11
12 bab 12
13 bab 13
14 bab 14
15 bab 15
16 bab 16
17 bab 17
18 bab 18
19 bab 19
20 bab 20 pelayan khusus
21 bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22 bab 22
23 bab 23
24 bab 24
25 bab 25
26 bab 26
27 bab 27
28 bab 28
29 bab 29
30 bab 30
31 bab 31
32 bab 32
33 bab 33
34 bab 34
35 bab 35
36 bab 36
37 bab 37
38 bab 38
39 bab 39
40 bab 40
41 bab 41
42 bab 42
43 bab 43
44 pengumuman Visual Tokoh
45 bab 44
46 bab 45
47 bab 46
48 bab 47
49 bab 48
50 bab 49
51 bab 51
52 bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 bab 65
66 bab 66
67 bab 67
68 bab 68
69 bab 69
70 bab 70
71 bab 71
72 bab 72
73 bab 73
74 bab 74
75 bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 87
87 bab 88
88 bab 89
89 bab 90
90 bab 91
91 bab 92
92 bab 93
93 bab 94
94 bab 95
95 bab 96
96 bab 97
97 bab 98
98 bab 99
99 bab 100
100 bab 101
101 bab 102
102 bab 103
103 bab 104
104 bab 105
105 bab 106
106 bab 107
107 bab 108
108 bab 109
109 bab 110 • apa ini udah panas?
110 bab 111
111 bab 112
112 bab 113
113 bab 114
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2
bab 2
3
bab 3
4
bab 4
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8
9
bab 9
10
bab 10
11
bab 11
12
bab 12
13
bab 13
14
bab 14
15
bab 15
16
bab 16
17
bab 17
18
bab 18
19
bab 19
20
bab 20 pelayan khusus
21
bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22
bab 22
23
bab 23
24
bab 24
25
bab 25
26
bab 26
27
bab 27
28
bab 28
29
bab 29
30
bab 30
31
bab 31
32
bab 32
33
bab 33
34
bab 34
35
bab 35
36
bab 36
37
bab 37
38
bab 38
39
bab 39
40
bab 40
41
bab 41
42
bab 42
43
bab 43
44
pengumuman Visual Tokoh
45
bab 44
46
bab 45
47
bab 46
48
bab 47
49
bab 48
50
bab 49
51
bab 51
52
bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
bab 65
66
bab 66
67
bab 67
68
bab 68
69
bab 69
70
bab 70
71
bab 71
72
bab 72
73
bab 73
74
bab 74
75
bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 87
87
bab 88
88
bab 89
89
bab 90
90
bab 91
91
bab 92
92
bab 93
93
bab 94
94
bab 95
95
bab 96
96
bab 97
97
bab 98
98
bab 99
99
bab 100
100
bab 101
101
bab 102
102
bab 103
103
bab 104
104
bab 105
105
bab 106
106
bab 107
107
bab 108
108
bab 109
109
bab 110 • apa ini udah panas?
110
bab 111
111
bab 112
112
bab 113
113
bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!