bab 3

Tok. Tok.

"Assalamu’alaikum."

Pak Hasto membuka pintu lebih lebar. Seorang pria berdiri di ambang, kemeja biru muda, celana kain rapi, wajahnya tegang namun sopan.

"Ridho?" Pak Hasto terkejut. "Masuk."

Ridho melangkah masuk. Tatapannya langsung tertuju ke arah ruang tamu, ke Dewi yang duduk dengan wajah berbinar.

"Mas Ridho!?"

Bu Sumi yang langsung berdiri, "Oh, nak Ridho. Ada apa? Masuk dulu."

Pandangan Ridho lalu bergeser… ke arah pintu kamar Ning yang tertutup.

"Ada apa malam-malam begini, Dho?" tanya Pak Hasto.

Ridho menelan ludah. "Ning ada, Pak?"

"Ning!? Ngapain kamu masih nyari-nyari Ning?" suara Bu Sumi langsung tinggi. "Sudah ibu bilang, dia itu mewarisi darah pelakor ibunya! Lihat! Sekarang malah mau merebut calon kakaknya! Terlalu memang!"

"Buk! Jangan begitu!" tegur Pak Hasto. "Dari pada marah-marah, lebih baik ibu buatkan minum untuk tamu kita."

"Aku?" Mata bu Sumi mendelik, bibirnya manyun. Lalu berteriak keras, "Ning! Keluar kamu! Buatkan minum buat tamu kita! Jangan mau enak nya aja kamu numpang di sini!"

Ning muncul dari kamar dengan bantuan Kruk di bawah ketiaknya.

"Iya, buk?"

"Buatkan minum! Jangan jadi benalu di sini!"

Ning menunduk, lalu berlalu ke dalam. Ridho ingin menahan, tapi hanya sampai di ujung lidah.

"Biar aku awasi, Buk. Takutnya dia kasih pelet biar Mas Ridho terjerat sama dia," ujar Dewi beranjak dan masuk ke dalam, menyusul.

Ridho hanya menggeleng.

"Dewi!" tegur Pak Hasto. "Ning tidak begitu."

"Terus saja bela anak perempuan sundal itu!"

Pak Hasto memejamkan mata, tangannya mengepal di bawah meja. ia memang sekuatnya menahan amarah. Ia membuka mata, lalu menanyakan maksud Ridho datang.

"Ada apa kamu kemari, Nak?"

"Saya mau bicara. Soal lamaran saya."

Udara mendadak berat.

Bu Sumi langsung menoleh, tatapannya jadi lebih tajam.

Ridho menarik napas panjang. "Saya mau dengar langsung dari Ning, Pak. Apa dia mau menerima lamaran saya."

Bu Sumi terkekeh sinis. "Dengar? Buat apa dengar lagi. Sudah jelas Ning itu cuma bikin masalah."

"Ning bukan masalah, Bu," Ridho menahan emosi. "Saya datang baik-baik."

"Baik-baik?" Dewi muncul dengan membawa baki dan air minum. "Mas Ridho sadar enggak sih? Selama ini yang temenan sama Mas di kantor itu aku. Yang sering Mas temui di rumah juga aku. Tapi sekarang Mas malah datang buat dia?" tanyanya sambil meletakkan baki itu di atas meja.

Ridho menatap Dewi. "Perasaan itu enggak bisa dipaksa, Wi."

"Jadi kamu nuduh aku maksa?" suara Dewi meninggi. "Atau… dia yang rayu kamu, Mas?!"

Ning keluar dengan langkah pincang pelan, membawa beberapa toples makanan, matanya menunduk.

Ridho langsung berdiri. "Ning…"

"Ning ngapain keluar?" Dewi menyentak. "Tadi kan udah kubilang jangan keluar! Kamu tempatnya di dapur!"

"Wi!" pak Hasto menegur lagi.

"Apa Yah? Mau bela Ning lagi!?" sambar Dewi yang sudah terlalu tersulut emosi. Ia menatap Ning penuh amarah. "Dengerin ya! Jangan sok lemah di depan Mas Ridho!"

Pak Hasto membentak, "Dewi, cukup!"

"Sikap kasar mu ini yang aku enggak suka, Wi!" ujar Ridho tajam. Ia melangkah mendekat ke Ning. "Ning, Mas mau dengar dari kamu. Apa kamu mau jadi istri Mas?"

Hening.

"Ning, lihat Mas... Mas pernah janji bakal bawa kamu pergi dari keluarga ini. Ning... Biarkan Mas tunaikan janji Mas Ning."

"Apa? Jadi emang kalian diam-diam ketemu di belakangku!?" sela Dewi. Dia makin kalap menatap menyalang pada adiknya. "Kamu! Ningsih! Dasar iblis!"

Tangan Dewi sudah terulur ke depan. Namun, Pak Hasto sudah menahannya dengan cepat.

"Dewi! Kendalikan dirimu!"

"Aaarrrhhhh!"

Ning menggenggam ujung gamisnya erat. Dadanya berdebar. Ia menyukai Ridho, diam-diam, dalam doa, dalam harapan yang tak pernah ia ucapkan. Tapi ia juga tahu, siapa dirinya. Pincang. Selalu jadi bayangan. Selalu yang harus mengalah.

Sebelum Ning sempat membuka mulut, Dewi menyela cepat, "Dia enggak mau."

Semua menoleh.

Ning terkejut. "Mbak..."

"Dia mau nikah!" Dewi menatap Ridho tajam. "Ning sudah mau menikah sama orang lain."

Ucapan itu seperti tamparan.

"Apa?" Ridho terpaku. "Ning?"

Ning menatap Dewi. Pandangan kakaknya itu tajam, mengancam, bibirnya terkatup rapat seperti memberi peringatan tanpa suara.

"Ning…" suara Ridho bergetar. "Saya mau dengar dari kamu."

Ning menelan ludah. Kepalanya pening. Tangannya gemetar. Perlahan… ia mengangguk.

"Iya, Mas," suaranya nyaris tak terdengar. "Ning… mau menikah."

Ridho terhuyung satu langkah. "Sama siapa?"

Ning diam.

"Jawab!" Dewi mendesis.

Ning menunduk lebih dalam. "Sama… orang lain."

Ridho tertawa kecil, pahit. "Mas tau kamu cuma… bohong, kan?"

"Enggak!" sambar Bu Sumi. Ridho menoleh padanya. "Dia memang mau menikah sama tukang ojek online. Dia sudah datang melamar sebelum kamu."

Ning menunduk, air matanya jatuh.

"Ning, katakan kalau ini bohong, Ning?" suara Ridho pecah.

Dewi maju satu langkah. "Dia emang mau nikah sama orang yang selevel sama dia. Tukang ojek, memang pantasnya sama cewek pincang ini!"

Pak Hasto membentak, "Cukup!"

Ridho menatap Ning lama. Ada harapan di matanya. "Katakan Ning," pintanya.

Ning mengangguk. "Iya, Mas," lirihnya.

keyakinan yang runtuh di mata Ridho. Ada kehancuran yang dalam di dadanya. Ia menggeleng, menolak. Lalu Ridho pergi. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, tapi rasanya seperti dentuman besar di dada Ning.

Begitu pintu tertutup, Dewi meledak.

"Lihat tuh!" Dewi menuding Ning. "Ini semua gara-gara kamu, Ning! Ngapain kamu ada di rumah ini!?"

Bu Sumi ikut berdiri. "Dasar anak pembawa sial!"

"Ning enggak salah!" Pak Hasto membela.

"Salah!" Dewi berteriak. "Dia yang hancurin kebahagiaan Dewi! Ayah terus saja bela dia! Memang ayah enggak pernah sayang Dewi!"

"Dewi! Bagaimana bisa kamu punya pikiran seperti itu!?" Pak Hasto terkejut.

"Nikah!" Dewi menatap Ning penuh amarah. "Nikah sama si tukang ojek itu!!"

Ning terkejut. "Mbak…"

"Kamu enggak boleh ambil apa pun dari aku!" Dewi mendesis. "Mana nomor dia?! Yang dulu aku lempar ke kamu!"

Ning terdiam. Kepalanya tertunduk.

"Jawab!" Dewi mendorong bahu Ning.

Dewi makin geram, lalu berbalik cepat menuju kamar Ning. "Kalau gitu biar aku yang cari!"

"Dewi!" Pak Hasto mengejar, tapi Dewi sudah menutup membuka kamar Ning keras-keras.

Di dalam kamar, Dewi mengobrak-abrik. Laci dibuka, bantal dilempar, buku-buku jatuh. Hingga sebuah kertas kecil terlipat jatuh ke lantai.

Nomor telepon.

Dewi tersenyum dingin. "Ketemu."

Ia langsung menelepon.

****

Di tempat lain, Bastian menatap layar laptop dengan kening berkerut.

"Yud," katanya serius. "Gua dapet data rumah sakit."

Yuda yang sedang berdiri di depan jendela menoleh. "Kenapa?"

"Dua tahun lalu, kecelakaan di lokasi itu… yang dirawat resmi cuma Dewi."

"Terus?"

"Tapi saksi bilang… yang ketabrak itu gadis lain. Dan nama yang muncul di laporan internal, Ningsih."

Yuda membeku.

"Dewi cuma luka ringan," lanjut Bastian. "Yang luka parah… Ning."

Telepon Yuda berdering.

Nomor asing.

Yuda mengangkat perlahan. "Halo?"

Terpopuler

Comments

Emily

Emily

pak Hasto gak ada wibawa kah

2026-07-15

2

Risma Surullah

Risma Surullah

paling benci sy liat laki2 seperti pak hasto ayah tolol

2026-04-23

0

Wandi Fajar Ekoprasetyo

Wandi Fajar Ekoprasetyo

nih cewek mulut nya ga punya saringan ya

2026-05-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2 bab 2
3 bab 3
4 bab 4
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8
9 bab 9
10 bab 10
11 bab 11
12 bab 12
13 bab 13
14 bab 14
15 bab 15
16 bab 16
17 bab 17
18 bab 18
19 bab 19
20 bab 20 pelayan khusus
21 bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22 bab 22
23 bab 23
24 bab 24
25 bab 25
26 bab 26
27 bab 27
28 bab 28
29 bab 29
30 bab 30
31 bab 31
32 bab 32
33 bab 33
34 bab 34
35 bab 35
36 bab 36
37 bab 37
38 bab 38
39 bab 39
40 bab 40
41 bab 41
42 bab 42
43 bab 43
44 pengumuman Visual Tokoh
45 bab 44
46 bab 45
47 bab 46
48 bab 47
49 bab 48
50 bab 49
51 bab 51
52 bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 bab 65
66 bab 66
67 bab 67
68 bab 68
69 bab 69
70 bab 70
71 bab 71
72 bab 72
73 bab 73
74 bab 74
75 bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 87
87 bab 88
88 bab 89
89 bab 90
90 bab 91
91 bab 92
92 bab 93
93 bab 94
94 bab 95
95 bab 96
96 bab 97
97 bab 98
98 bab 99
99 bab 100
100 bab 101
101 bab 102
102 bab 103
103 bab 104
104 bab 105
105 bab 106
106 bab 107
107 bab 108
108 bab 109
109 bab 110 • apa ini udah panas?
110 bab 111
111 bab 112
112 bab 113
113 bab 114
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2
bab 2
3
bab 3
4
bab 4
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8
9
bab 9
10
bab 10
11
bab 11
12
bab 12
13
bab 13
14
bab 14
15
bab 15
16
bab 16
17
bab 17
18
bab 18
19
bab 19
20
bab 20 pelayan khusus
21
bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22
bab 22
23
bab 23
24
bab 24
25
bab 25
26
bab 26
27
bab 27
28
bab 28
29
bab 29
30
bab 30
31
bab 31
32
bab 32
33
bab 33
34
bab 34
35
bab 35
36
bab 36
37
bab 37
38
bab 38
39
bab 39
40
bab 40
41
bab 41
42
bab 42
43
bab 43
44
pengumuman Visual Tokoh
45
bab 44
46
bab 45
47
bab 46
48
bab 47
49
bab 48
50
bab 49
51
bab 51
52
bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
bab 65
66
bab 66
67
bab 67
68
bab 68
69
bab 69
70
bab 70
71
bab 71
72
bab 72
73
bab 73
74
bab 74
75
bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 87
87
bab 88
88
bab 89
89
bab 90
90
bab 91
91
bab 92
92
bab 93
93
bab 94
94
bab 95
95
bab 96
96
bab 97
97
bab 98
98
bab 99
99
bab 100
100
bab 101
101
bab 102
102
bab 103
103
bab 104
104
bab 105
105
bab 106
106
bab 107
107
bab 108
108
bab 109
109
bab 110 • apa ini udah panas?
110
bab 111
111
bab 112
112
bab 113
113
bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!