Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"

Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Kamu tadi kemari naik itu, kan?"

Yuda terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah halaman rumah. Di sana, motornya terparkir miring, catnya kusam, joknya sudah retak di beberapa sisi. Motor tua itulah yang tadi mengantarnya ke rumah wanita idaman.

"Iya," jawab Yuda akhirnya, suaranya tenang. "Tapi..."

"Hah!" Dewi tertawa kecil, penuh ejekan. "Enggak tau malu banget ya? Apa kerjaan kamu?"

Yuda membuka mulutnya hendak menjawab, tapi Dewi sudah memotong lagi.

"Ojek?" Tatapan mata Dewi makin merendah. "Kamu dengan modal kek gini mau nglamar aku?"

Pak Hasto yang sejak tadi duduk di kursi kayu di sudut ruang tamu menghela napas panjang. Wajahnya menegang. "Dewi, jaga ucapanmu."

"Loh, salah aku apa, Yah?" Dewi mendengus. "Aku cuma realistis. Masa aku dinikahi tukang ojek? Hidupku mau dibawa ke mana?"

Yuda menggenggam lututnya, berusaha tetap duduk tegak.

"Kamu... Siapa tadi namamu, anak muda?" tanya Pak Hasto.

"Yuda, Pak. Yuda Prayitna."

Pak Hasto mengangguk paham. "Jadi, kamu berniat untuk melamar anakku?"

Yuda mengangguk.

Pak Hasto memperhatikan pemuda yang baru pertama dia temui ini. Dari kasat mata, dia terlihat tampan, muda, bersih, wajahnya tegas.

"Di mana kamu kenal anakku Dewi? Kenapa ingin melamar anakku?"

Yuda membuka mulut lagi, hendak menjawab, tapi udah keduluan suara lain.

"Ya jelaslah di jalan. Pasti dia biasa mangkal di depan kantor tempat Dewi kerja." Suara Bu Sumi, istri Pak Hasto, ibu dari Dewi. "Pasti dulu dia pernah anter Dewi. Lihat aja jaket ojol ijo itu."

"Benar, Buk. Aku emang agak familar sama wajahnya, tapi..." Dewi memotong cepat. "Aku yakin dia salah satu ojol yang mangkal di depan kantor. Aku enggak mau. Malu sama teman-teman kalau sampai mereka tau aku dilamar sama tukang ojek online."

Pak Hasto memukul ringan sandaran kursinya. "Cukup, Dewi!"

Dewi mendecak, namun tetap bersuara, "Pokoknya aku menolak, Yah. Jelas-jelas menolak. Aku enggak mau hidup susah sama tukang ojek online yang kebelet kawin."

Suasana hening sejenak. Di saat itulah pintu dapur terbuka perlahan.

"Permisi… Minumnya, Yah."

Seorang gadis keluar membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa gorengan. Langkahnya sedikit tertatih, kaki kirinya terlihat kaku. Ia menunduk sopan, hendak meletakkan hidangan di meja.

"Ning," panggil Pak Hasto lembut. "Taruh saja di sini."

Ningsih, atau biasa dipanggil Ning, mengangguk pelan. Gadis itu memakai jilbab sederhana yang warnanya hampir pudar, wajahnya bersih tanpa riasan. Tatapannya kalem, teduh, seperti danau di pagi hari. Yuda tak sengaja memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya.

"Ah, pas banget nih!" Dewi tersenyum miring. "Daripada aku, mending kamu nikah sama dia aja."

Ning terhenyak. Tangannya gemetar kecil.

"Apa maksudmu, Wi?" tanya Pak Hasto tegas.

"Ya maksudku jelas, Yah." Dewi melirik Ning sambil tertawa kecil. "Ning kan anak ayah juga. Walau kita beda ibu, tapi kan tetep anak ayah juga, kan?" Ia mengangkat bahu. "Dan aku rasa tuh, mereka cocok. Dari segi manapun. Lihat deh, satu tukang ojek, satu gadis pincang, hahaha. Sama-sama enggak punya masa depan. Cocok banget!"

"Dewi!" suara Pak Hasto meninggi. "Kamu keterlaluan! Ning itu adikmu!"

Yuda menoleh ke arah Ning. Gadis itu menunduk, matanya terarah ke lantai. Wajahnya tetap tenang, tapi ada luka yang tak kasatmata di sana. Yuda merasakannya.

Dewi yang tadi tertawa, kini diam merapatkan bibit. Tatapan mata Pak Hasto terasa sangat menghunus tajam.

"Tapi, apa yang Dewi bilang ada benarnya. Mending sama Ning saja," ucap Bu Sumi terdengar bijak. "Jadi enggak timpang. Kalau Dewi, dia lebih pantas sama yang selevel sama dia. Bukan tukang ojek online."

Pak Hasto memejamkan mata sejenak. Lalu menatap Yuda lagi.

"Kenapa kamu mau melamar Dewi, Nak Yuda?" tanya Pak Hasto, berusaha mengalihkan suasana.

Yuda membuka mulut, tapi belum sempat menjawab...

"Ya jelas karena aku cantiklah, Yah," Dewi menyela sambil menyeringai. "Kerja kantoran, masa depan cerah. Wajar dong kalau tukang ojek kayak dia ngincer aku."

Yuda mengepalkan tangannya, lalu mengendurkannya kembali. Ia menatap Dewi lurus-lurus. "Sebenarnya... Saya punya alasan lain..."

"Lah, emang kenyataannya begitu," Dewi tertawa lagi. "Aku bukan level kamu. Nikah sama Ning aja. Dia pincang, kamu miskin. Cocok."

Brak!

Pak Hasto menepuk meja. Tangannya gemetar menahan amarah. "Dewi! Jaga mulutmu! Ning pincang juga karenamu!"

Dewi terdiam, tapi senyum sinisnya belum hilang. Ning hanya diam menunduk.

Yuda berdiri perlahan. Dia memang sedari tadi menahan diri walau terus direndahkan. "Terima kasih, Pak, sudah menerima saya bertamu di sini." Ia menoleh pada Dewi. "Maaf kalau kedatangan saya membuatmu tidak nyaman, lain kali saya akan lebih memperhatikan dengan apa datang."

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas. "Ini nomor saya. Kalau suatu hari Dewi berubah pikiran."

"Huh," Dewi menyeringai, lalu mengambil kertas itu dan, tanpa ragu, melemparkannya ke arah Ning. "Tuh. Simpan aja. Kali aja cocok."

Kertas itu jatuh di dekat kaki Ning. Ning memungutnya, lalu kembali menunduk. "Jangan begitu, Mbak. Mas ini datang dengan niat baik."

"Iya, makanya kamu aja yang nikah sama dia! Embak enggak mau!" tukas Dewi dengan sombongnya.

Yuda melirik Ning sekilas, tak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah pergi. Suara motor bututnya terdengar menjauh dari halaman rumah.

"Hhiiisshh! Miskin aja berani lamar aku," gerutu Dewi.

Bu Sumi melirik Suaminya, "Mas! Aku enggak rela kalau kamu terima lamaran pemuda tak tau diri itu. Dia sama sekali tak pantas buat Dewi. Kalau emang mau, lebih baik buat Ning saja. Biar dia cepat keluar dari sini. Dasar benalu!" katanya sambil melirik sinis pada Ning.

Gadis berjilbab itu hanya menunduk, meremas sisi tubuhnya dalam diam. Hatinya yang terasa perih.

Beberapa menit setelah itu, suara beberapa mobil berhenti di depan rumah.

"Assalamu’alaikum!"

Dewi langsung bangkit. "Itu pasti Ridho!"

Ia berlari kecil ke depan, wajahnya berbinar. Bu Sumi ikut menyambut dengan senyum lebar. Pak Hasto berdiri, menyambut rombongan keluarga yang datang dengan rapi.

"Wa'alaikum salam."

"Masuk! Masuk, nak Ridho."

"Terima kasih, Bu," ucap Ridho tersenyum, matanya melirik kecil pada gadis berjilbab yang menunduk kala pandangan bertemu.

"Ning! Sana ke dapur! Kamu enggak pantas di sini," bisik Dewi. Ning menurut, ia beresi bekas tamu sebelumnya. Lalu berjalan tertatih menyeret kakinya.

Rombongan masuk dengan senyum sopan. "Maksud kedatangan kami… kami ingin melamar."

Dewi hampir melompat kegirangan. Bu Sumi menepuk tangannya sendiri. "Alhamdulillah! Kami tau kedekatan anak kita memang sudah sepantasnya ke jenjang yang lebih serius."

Orang tua Ridho pun tampak senang karena niat baik bersambut. "Alhamdulillah kalau begitu, Bu Sumi dan Pak Hasto."

Ridho menarik napas.

"Saya ingin melamar Ningsih," ucap Ridho mantap.

Sunyi.

Dewi membeku. Bu Sumi terperanjat. Pak Hasto menatap Ridho dengan mata membesar.

"Ning…?" suara Dewi nyaris berteriak.

Terpopuler

Comments

Wirly Pena

Wirly Pena

karya yang bagus thor, semangat 👍

halo temen2 , jangan lupa mampir di " aku istrimu bukan babumu "

terimakasih 🙏

2026-08-22

0

bibuk Hannan & Afnan

bibuk Hannan & Afnan

nah kan nyungseb kamu wi, makanya jangan ketinggian kalo ngehalu jatuhnya gak kira² jd sakit kan😅😅😅😅

2026-03-15

0

Babe Babe

Babe Babe

kecewa Dewi udah sombong harga diri melambung jatuh sehancur hancurnya 😄

2026-05-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2 bab 2
3 bab 3
4 bab 4
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8
9 bab 9
10 bab 10
11 bab 11
12 bab 12
13 bab 13
14 bab 14
15 bab 15
16 bab 16
17 bab 17
18 bab 18
19 bab 19
20 bab 20 pelayan khusus
21 bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22 bab 22
23 bab 23
24 bab 24
25 bab 25
26 bab 26
27 bab 27
28 bab 28
29 bab 29
30 bab 30
31 bab 31
32 bab 32
33 bab 33
34 bab 34
35 bab 35
36 bab 36
37 bab 37
38 bab 38
39 bab 39
40 bab 40
41 bab 41
42 bab 42
43 bab 43
44 pengumuman Visual Tokoh
45 bab 44
46 bab 45
47 bab 46
48 bab 47
49 bab 48
50 bab 49
51 bab 51
52 bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 bab 65
66 bab 66
67 bab 67
68 bab 68
69 bab 69
70 bab 70
71 bab 71
72 bab 72
73 bab 73
74 bab 74
75 bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 87
87 bab 88
88 bab 89
89 bab 90
90 bab 91
91 bab 92
92 bab 93
93 bab 94
94 bab 95
95 bab 96
96 bab 97
97 bab 98
98 bab 99
99 bab 100
100 bab 101
101 bab 102
102 bab 103
103 bab 104
104 bab 105
105 bab 106
106 bab 107
107 bab 108
108 bab 109
109 bab 110 • apa ini udah panas?
110 bab 111
111 bab 112
112 bab 113
113 bab 114
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2
bab 2
3
bab 3
4
bab 4
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8
9
bab 9
10
bab 10
11
bab 11
12
bab 12
13
bab 13
14
bab 14
15
bab 15
16
bab 16
17
bab 17
18
bab 18
19
bab 19
20
bab 20 pelayan khusus
21
bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22
bab 22
23
bab 23
24
bab 24
25
bab 25
26
bab 26
27
bab 27
28
bab 28
29
bab 29
30
bab 30
31
bab 31
32
bab 32
33
bab 33
34
bab 34
35
bab 35
36
bab 36
37
bab 37
38
bab 38
39
bab 39
40
bab 40
41
bab 41
42
bab 42
43
bab 43
44
pengumuman Visual Tokoh
45
bab 44
46
bab 45
47
bab 46
48
bab 47
49
bab 48
50
bab 49
51
bab 51
52
bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
bab 65
66
bab 66
67
bab 67
68
bab 68
69
bab 69
70
bab 70
71
bab 71
72
bab 72
73
bab 73
74
bab 74
75
bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 87
87
bab 88
88
bab 89
89
bab 90
90
bab 91
91
bab 92
92
bab 93
93
bab 94
94
bab 95
95
bab 96
96
bab 97
97
bab 98
98
bab 99
99
bab 100
100
bab 101
101
bab 102
102
bab 103
103
bab 104
104
bab 105
105
bab 106
106
bab 107
107
bab 108
108
bab 109
109
bab 110 • apa ini udah panas?
110
bab 111
111
bab 112
112
bab 113
113
bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!