bab 4

Telepon di tangan Yuda masih menempel di telinganya ketika suara perempuan itu terdengar lagi, dingin, tinggi, penuh perintah.

"Heh, kamu tukang ojek yang kemarin nglamar, ke rumah sekarang," kata Dewi tanpa basa-basi.

Yuda menghela napas pelan. Dadanya masih sesak oleh temuan Bastian barusan. "Saya lagi antar penumpang, Mbak."

"Ya sudah. Habis itu langsung ke sini. Jangan lama-lama," potong Dewi. "Ini penting."

Nada sombong itu membuat rahang Yuda mengeras. Ia nyaris menutup telepon. "Kalau malam, saya capek. Besok saja..."

"Datang sekarang," tekan Dewi. "Kamu kan tukang ojek. enggak usah banyak gaya bilang capek segala. Duit juga enggak seberapa pun didapat, omongnya tinggi banget kayak CEO aja!"

Klik.

Telepon diputus sepihak.

Yuda menatap layar gelap itu lama. Ada amarah yang naik, tapi lebih banyak kegelisahan.

"Siapa?" tanya Bastian.

"Cewek rese dan songong itu."

"Nah, cocok tuh kalian!" celetuknya.

"Hehh!"

Bastian tertawa kecil lagi. Yuda kembali melihat ke layar laptop. Nama Ning kembali berputar di kepalanya, bercampur dengan kata kecelakaan dan dua tahun lalu.

"Kaki itu... Kenapa sudah dua tahun tapi masih tak sembuh? Apa separah itu bergeser?" gumamnya.

Sementara itu, Ridho mengemudi tanpa tujuan jelas. Jalanan malam membentang seperti lorong panjang tak berujung. Lampu-lampu kendaraan tampak kabur. Wajah Ning terus muncul, mata yang menunduk, anggukan kecil yang mematahkan harapannya.

"Bohong… kamu bohong," gumamnya, tapi suaranya sendiri tak yakin.

"Kamu enggak mungkin menikah, Ning. Itu hanya akalan Dewi saja, kan?"

Tangannya mencengkeram setir. Dadanya sesak. Pandangannya mengabur oleh air mata yang tak ia sadari jatuh. Sebuah klakson panjang terdengar, lampu sorot menyilaukan mata...

BRAKK!

Benturan keras memecah malam.

Mobil Ridho berputar, menghantam pembatas jalan. Dunia seakan berhenti dalam satu detik sunyi, lalu gelap.

Di rumah Pak Hasto, malam merayap lambat. Tak ada yang tahu apa-apa tentang Ridho.

Dewi mondar-mandir di ruang tamu, ponsel di tangan. "Kurang ajar! Sudah disuruh datang, malah ngilang!" gerutunya.

Ning baru selesai membereskan bekas tamu. Ia muncul dengan gamis lusuh setengah basah dan tangan yang menyangga kruknya. Bahunya sedikit gemetar.

"Heh! Ning!" bentak Dewi. "Itu tukang ojek kamu ke mana, hah?!"

"Aku… aku enggak tahu, Mbak," jawab Ning pelan.

"Alasan!" Dewi mendekat, matanya menyala. "Kamu sengaja, kan? Supaya enggak jadi nikah sama si Yuda itu?! Kamu emang ngincer Mas Ridho kan?!"

Pak Hasto bangkit. "Dewi, cukup. Jangan melampiaskan marahmu ke Ning."

"Selalu dia!" Dewi tertawa tajam. "Ayah selalu bela dia!"

Ia meraih kruk di tangan Ning dengan kasar. "Ini juga bikin aku muak!"

“"Mb...!" Ning terkejut.

Kruk itu dilempar ke lantai dengan keras. Bunyi patahan kecil terdengar. Ning tersentak, hampir jatuh, tubuhnya terhuyung sebelum Pak Hasto cepat menopangnya.

"Dewi!" bentak Pak Hasto. "Kamu keterlaluan!"

"Terus saja bela dia!" Dewi menuding. 'Aku muak hidup di rumah ini! Ayah enggak pernah belain aku!"

Ia berbalik, mengambil tas, dan menghantam pintu saat pergi.

Bu Sumi yang sejak tadi diam, berdiri dengan wajah merah. "Lihat? Anak kandungmu pergi karena kamu lebih pilih anak sial itu!"

"Bu...!" Pak Hasto mencoba bicara.

"Sudah!" Bu Sumi menyambar tasnya. "Aku ikut Dewi. Biar kamu puas hidup sama anak pembawa sial itu!"

Pintu kembali terbanting.

Sunyi.

Tubuh Ning terkulai lemas. Air matanya jatuh tanpa suara. "Maaf, Yah…" suaranya pecah. "Karena Ning… Ayah jadi begini. Keluarga jadi hancur."

Pak Hasto berlutut di depannya, memegang wajah Ning dengan lembut. "Jangan bilang begitu."

"Ning enggak seharusnya ada," isaknya. "Kalau Ning enggak ada, Mbak Dewi enggak akan marah. Ibu juga..."

Pak Hasto memeluk Ning erat. Bahunya bergetar. "Ayah yang minta maaf," ucapnya lirih. "Ayah janji sama ibumu… sama Siti… Ayah akan jaga kamu. Tapi Ayah gagal."

Nama itu membuat Ning terisak lebih keras. "Ibu…."

"Maafkan Ayah," bisik Pak Hasto. "Ayah yang lemah."

****

Pagi datang dengan ketukan keras di pintu.

Tok! Tok! Tok!

Pak Hasto terbangun dengan jantung berdebar. Ning yang sedang memasak di dapur pun ikut kaget.

"Hasto! Sumi! Keluar!"

Saat pintu dibuka, sepasang suami istri berdiri dengan wajah penuh amarah. Mata perempuan itu sembab, sementara pria di sampingnya mengepalkan tangan.

"Ada apa ini, Ibunya Ridho, Pak Pur?"

"Masih bisa tanya?!" bentak pria itu. "Ini semua gara-gara kalian!"

"Maksud… Bapak apa?" tanya Pak Hasto bingung. "Kenapa datang malah marah-marah?"

"Kamu tahu apa yang terjadi sama anak saya?!" teriak sang ibu sambil menangis. "Ridho kecelakaan! Habis pulang dari rumah kamu!"

"Apa?"

Dunia Ning seakan runtuh. "Kecelakaan…?" tubuhnya melemas.

"Sekarang dia enggak sadar!" lanjut wanita itu histeris. "Dokter bilang kondisinya kritis!"

Pak Hasto terhuyung. "Kami… kami enggak tahu apa-apa. Saat pulang dari sini Ridho baik-baik saja, pak, bu."

"Jangan pura-pura!" bentak ayah Ridho. "Kalian yang bikin anak saya hancur! Terutama dia!" tangannya menuding Ning.

Ning gemetar. "Sa… saya?"

"Iya, kamu!"

"Kalau bukan karena kamu, Ridho enggak akan pulang dalam keadaan kacau!" jerit sang ibu.

Air mata Ning jatuh deras. "Saya minta maaf…"

Pak Hasto berdiri di depan Ning. "Saya paham kalian marah karena Ridho celaka. Tapi, menyalahkan Ning sebagai penyebabnya jelas salah."

"Pokoknya kami tidak terima! Kalian harus bertanggungjawab kalau terjadi apa-apa sama Ridho kami!" ancam pria itu sebelum menarik istrinya pergi.

Ning jatuh terduduk. "Mas Ridho… karena Ning… Ayah, apa benar Ning hanya pembawa sial?" tangisnya tergugu.

"Enggak. Jangan menyalahkan dirimu, Ning. Ridho kecelakaan karena dia tidak hati-hati. Bukan karena kamu."

"Tapi, Yah..."

"Sudah! Jangan pikirkan itu lagi."

"Yah... Ning ingin ke rumah sakit."

"Jangan Ning. Buat apa?"

"Ning mau lihat keadaan Mas Ridho." Ning memohon. Pak Hasto tau jika Ning tetap pergi hanya akan semakin menyakiti hati Ning. Dan Pak Hasto tak mau.

"Pak...." pipi Ning sudah sangat basah, Pak Hasto melemah. Dia mengangguk meski tau akan dapat perlakuan seperti apa Ning nanti.

****

"Kamu ngapain ke sini?"

Di rumah sakit, ibunya Ridho sudah sangat masam. Sangat tidak ramah saat seseorang datang menjenguk anaknya.

"Enggak usah kemari! Bikin Ridho tambah sakit saja! Ini semua gara-gara kalian!"

Terpopuler

Comments

jung jaehyun

jung jaehyun

boleh pinjam palunya Thor kah.. mau aq palu tuh bpknya g tegas sm si dewi mulutnya dipaluin aja olus emaknya🤣🤣

2026-08-03

0

Suyatno Galih

Suyatno Galih

itu pak Hasto cuma bs Dewa Dewi sm cukak cukup sekali 2 kasi paham itu Dewi pake tangan apa kaki🤭

2026-05-10

0

Danny Muliawati

Danny Muliawati

truz ridho nya cacad dewi yg ambisi kecewa d gila

2026-05-31

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2 bab 2
3 bab 3
4 bab 4
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8
9 bab 9
10 bab 10
11 bab 11
12 bab 12
13 bab 13
14 bab 14
15 bab 15
16 bab 16
17 bab 17
18 bab 18
19 bab 19
20 bab 20 pelayan khusus
21 bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22 bab 22
23 bab 23
24 bab 24
25 bab 25
26 bab 26
27 bab 27
28 bab 28
29 bab 29
30 bab 30
31 bab 31
32 bab 32
33 bab 33
34 bab 34
35 bab 35
36 bab 36
37 bab 37
38 bab 38
39 bab 39
40 bab 40
41 bab 41
42 bab 42
43 bab 43
44 pengumuman Visual Tokoh
45 bab 44
46 bab 45
47 bab 46
48 bab 47
49 bab 48
50 bab 49
51 bab 51
52 bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 bab 65
66 bab 66
67 bab 67
68 bab 68
69 bab 69
70 bab 70
71 bab 71
72 bab 72
73 bab 73
74 bab 74
75 bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 87
87 bab 88
88 bab 89
89 bab 90
90 bab 91
91 bab 92
92 bab 93
93 bab 94
94 bab 95
95 bab 96
96 bab 97
97 bab 98
98 bab 99
99 bab 100
100 bab 101
101 bab 102
102 bab 103
103 bab 104
104 bab 105
105 bab 106
106 bab 107
107 bab 108
108 bab 109
109 bab 110 • apa ini udah panas?
110 bab 111
111 bab 112
112 bab 113
113 bab 114
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
2
bab 2
3
bab 3
4
bab 4
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8
9
bab 9
10
bab 10
11
bab 11
12
bab 12
13
bab 13
14
bab 14
15
bab 15
16
bab 16
17
bab 17
18
bab 18
19
bab 19
20
bab 20 pelayan khusus
21
bab 21 masakan Yuda? pernikahan Ridho
22
bab 22
23
bab 23
24
bab 24
25
bab 25
26
bab 26
27
bab 27
28
bab 28
29
bab 29
30
bab 30
31
bab 31
32
bab 32
33
bab 33
34
bab 34
35
bab 35
36
bab 36
37
bab 37
38
bab 38
39
bab 39
40
bab 40
41
bab 41
42
bab 42
43
bab 43
44
pengumuman Visual Tokoh
45
bab 44
46
bab 45
47
bab 46
48
bab 47
49
bab 48
50
bab 49
51
bab 51
52
bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
bab 65
66
bab 66
67
bab 67
68
bab 68
69
bab 69
70
bab 70
71
bab 71
72
bab 72
73
bab 73
74
bab 74
75
bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 87
87
bab 88
88
bab 89
89
bab 90
90
bab 91
91
bab 92
92
bab 93
93
bab 94
94
bab 95
95
bab 96
96
bab 97
97
bab 98
98
bab 99
99
bab 100
100
bab 101
101
bab 102
102
bab 103
103
bab 104
104
bab 105
105
bab 106
106
bab 107
107
bab 108
108
bab 109
109
bab 110 • apa ini udah panas?
110
bab 111
111
bab 112
112
bab 113
113
bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!