The Salt And The Sweet [Tsukishima Kei]
"Ada orang yang lahir dengan sendok gula di mulutnya, membawa tawa yang merekah di setiap langkah. Ada pula yang tumbuh dengan butiran garam di jemarinya, meninggalkan jejak rasa tajam di setiap kata. Pertemuan kita bukanlah sebuah simfoni yang indah; ia lebih mirip tabrakan antara manisnya stroberi yang ranum dengan kristal garam yang melukai lidah. Kita adalah dua kutub yang saling menolak, namun dipaksa bersentuhan oleh sebuah rahasia, sekotak kue, dan dompet putih bergambar dinosaurus yang tertinggal. Inilah kisahnya... dimulai dari sebuah etalase kaca, aroma mentega, dan si tiang listrik paling menyebalkan yang pernah kukenal."
...----------------...
Aroma mentega dan stroberi segar menyambut gadis bernama Ichika Hanada saat ia mendorong pintu kaca toko kue sweet slice. Bel berbunyi pelan, menandakan kehadirannya. Gadis berambut kuning keemasan itu menghela napas panjang, mencoba melawan rasa penat yang menggelayuti bahunya setelah seharian mengurus perpindahan sekolah dan bolak-balik ke apotek.
Hanya ada satu hal yang ia inginkan sekarang: sepotong strawberry shortcake. Kue itu bukan untuknya, melainkan untuk ibunya yang sedang terbaring di bangsal rumah sakit, satu-satunya hal yang mungkin bisa membuat ibunya mau makan.
Ia langsung melesat ke depan etalase. Matanya berbinar saat melihat satu potong terakhir kue dengan stroberi besar di puncaknya.
Namun, tepat saat ia hendak membuka mulut, seorang cowok jangkung dengan rambut pirang pucat dan kacamata berbingkai hitam berdiri di sampingnya.
"Mbak, saya mau Strawberry Shortcake-nya satu," ucap mereka.
Tepat.
Barengan.
Di detik yang sama.
Ichika menoleh dengan cepat, lehernya sampai berbunyi krek karena harus mendongak melihat cowok yang tingginya nggak ngotak. Gede banget... Dia makan apaan sampai bisa setinggi itu? Serasa jadi bocil sd lagi, batinnya.
"Maaf, aku duluan," kata Ichika, berusaha tegas meskipun dia merasa ciut liat aura dingin cowok itu.
Cowok itu nengok pelan. Matanya yang berwarna coklat madu menatap Ichika dari balik kacamata dengan pandangan yang... jujur aja, ngeselin banget. Meremehkan.
"Nggak, gue duluan," balas cowok itu pendek. Suaranya berat, dingin, dan kedengeran... Songong banget.
"Hah? Mana bisa! Aku udah liatin kue ini dari tadi ya!" balas Ichika tidak mau kalah. "Jadi, aku duluan yang lihat."
Cowok itu cuma naikin sebelah alisnya. "Emangnya liatin doang bisa bikin kuenya jadi punya lo? Gue udah ngomong satu detik lebih cepet ke mbaknya. Jadi, ini punya gue."
"Dey! Aku juga butuh banget kue ini buat mama aku yang lagi sakit di RS, tau!" Ichika sudah mulai narik gas. "Please, ngalah dikit bisa kan?!"
"Sayangnya, gue nggak peduli. Semua orang juga bakal bilang gitu kalo mau rebutan. Nggak kreatif."
"Kamu tuh ya! Cowok kok pelit banget!"
"Bukan pelit, cuma logis," bales cowok itu santai. Dia langsung nyodorin uang pas ke kasir sebelum Ichika sempet protes lagi.
Ichika hanya bisa menatap kesal kotak kue itu dibawa pergi oleh si tiang listrik sombong. Sumpah, Ichika pengen banget jambak rambutnya. Namun, dalam ketergesaannya untuk menghindari 'si gadis berisik', cowo itu melakukan satu kecerobohan: ia tak sengaja meninggalkan dompet putih bergambar dinosaurus di atas meja kasir setelah menerima kembalian.
Ichika langsung nyambar dompet itu. Hati nuraninya sebagai anak pertama yang dididik jujur lagi berantem sama rasa keselnya. Aku balikin nggak ya? Aku balikin nggal ya? Biarin aja biar dia panik! Tapi ujung-ujungnya, Ichika tetep lari keluar. "Woi! Mata empat! Dompetmu ketinggalan!"
Ichika lari keluar toko sekuat tenaga. Dia bisa melihat punggung cowok itu yang udah lumayan jauh di depan. Tapi, saat dia sedang fokus ngejar sambil teriak-teriak, tiba-tiba...
BRUK!
"Aduh!" Ichika tersungkur. Dia nggak sengaja nabrak seorang anak kecil yang lagi lari-larian bawa es krim.
Anak kecil itu ikut terjatuh dan mulai nangis, parah nya lagi es krimnya tumpah semua di baju Ichika. "Eh, ya ampun! Maaf ya, Dek! Duh, jangan nangis...." Ichika panik setengah mati. Ia refleks berhenti mengejar untuk membantu anak itu berdiri dan meminta maaf ke orang tua si anak.
Saat Ichika mendongak lagi untuk mencari sosok pirang jangkung tadi, jalanan sudah makin ramai dengan orang-orang yang baru pulang kerja. Sosok cowo mata empat itu udah bener-bener hilang ditelan kerumunan.
"Sial...," gumam Ichika sambil megang kuat-kuat dompet bergambar dinosaurus di tangannya. "Udah mah aku gagal beli kue, sekarang malah ketiban PR jagain dompet si Kacamata ini!"
🍰The sweet.
Satu setengah jam setelahnya...
Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, Ichika terpaksa merogoh uang sakunya yang pas-pasan untuk membeli kaos cadangan di toko serba ada rumah sakit. Meski hatinya perih melihat sisa uang di dompetnya menipis, ia tidak punya pilihan lain.
Kini, Ichika berdiri di depan wastafel toilet perempuan rumah sakit. Ia mengucek kaos hitam oblongnya yang terkena noda es krim dengan kasar.
"Sialan banget sih tuh cowok! Udah mah kuenya diambil, sekarang aku malah kena apes begini!" gerutu Ichika kesal sendiri. Suara gesekan kain kaosnya terdengar emosional. "Awas aja kalau ketemu lagi. Aku bejek-bejek mukanya yang sok ganteng itu!"
Setelah merasa noda di kaosnya sedikit memudar, Ichika memeras dan memasukkan baju basah itu ke dalam kantong plastik. Ia keluar dari toilet dan melangkah pelan menyusuri koridor rumah sakit. Wangi karbol yang tajam menusuk penciuman, namun pikirannya justru tertinggal pada dompet putih yang kini ia genggam erat di tangan kanan.
Ia membolak-balikkan dompet itu, meraba tekstur bahan dompetnua yang halus. Perasaannya berkecamuk. "Buka nggak ya? Isinya apa sih?" gumamnya lirih, nyaris tertelan suara gesekan sandal para pengunjung rumah sakit yang lalu lalang.
Ichika berhenti sejenak di dekat sebuah pilar besar. Matanya melirik ke sudut plafon, mencari keberadaan kamera pengawas. "Tapi kalau aku buka, nanti nggak sopan. Kalau ada CCTV terus aku dikira mau maling gimana?" batinnya gelisah. Tangannya sempat ingin menarik ritsleting dompet itu karena rasa penasaran yang membuncah—ingin tahu siapa sebenarnya sosok 'si songong' itu selain dari kartu pelajar yang sempat ia intip tadi. Namun, ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk itu.
Netranya kembali tertuju pada detail fisik dompet di tangannya. Perlahan, gurat kecemasan di wajah Ichika memudar, digantikan oleh kernyitan heran yang berujung pada tawa kecil yang tertahan.
"Pfftt... kocak banget," Ichika menutup mulutnya dengan punggung tangan, berusaha agar tawanya tidak meledak di tengah koridor yang cukup ramai. Gimana bisa cowok se-galak dia punya selera se-imut ini? Apa dia aslinya baik? Ah, nggak mungkin. Tadi aja dia pelit banget soal kue, pikir Ichika.
Ia mengamati setiap gambar dinosaurus yang tersebar di permukaan dompet itu. Ada rasa geli sekaligus ironis yang menghinggapinya. Cowok yang tadi menghina alasannya membeli kue stroberi ternyata memiliki sisi "imut" yang sangat kontras dengan mulut pedasnya.
"Dinosaurus... Sama banget kayak selera aku lagi," bisiknya pelan. Jempolnya mengusap gambar Brontosaurus kecil di tengah-tengah dompet itu. Untuk sesaat, Ichika merasa ada sedikit kesamaan antara dirinya dan cowok asing itu, meskipun rasa kesalnya belum hilang sepenuhnya.
Namun, momen geli itu tidak bertahan lama. Ichika teringat tujuannya kembali ke bangsal. Ia menyimpan kembali dompet itu di saku jaket barunya, lalu melanjutkan langkah menuju kamar 402. Semakin dekat ia dengan pintu kamar sang ibu, langkahnya semakin berat. Perasaan bersalah karena belum bisa memenuhi janji untuk membawa "pacar" mulai menghimpit dadanya kembali.
Tepat saat ia berbelok di persimpangan koridor menuju ruang sakura, ia melihat Suster Sato yang biasa menjaga ibunya baru saja keluar dari kamar dengan membawa nampan berisi makanan yang masih tampak utuh. Raut wajah Suster itu terlihat sangat prihatin, dan seketika itu juga, perut Ichika terasa melilit karena cemas.
'Mama... ' batinnya cemas.
......................
Hai, hai, thank you ya, yang udah mau baca. Kalau suka, jangan lupa dukung author terus, ya. Like, komen, and favorite! 🔔💐
TAHAP REVISI! JADI, MOHON MAAF BILA ADA ADEGAN DAN DIALOG YANG KURANG NYAMBUNG, KALIMAT, ATAU BAHKAN ALURNYA. KARENA SEMUA INI MASIH TAHAP REVISI. mohon maklumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Indira Mr
lanjut👍
2026-01-12
1