"Hah?! Manajer baru?!" seru si rambut oranye—Hinata Shoyo—sambil mendekat cepat ke depan wajah Ichika dengan mata berbinar. "Wah! Kamu yang tadi pagi, kan? Pahlawan Tas!"
"Pahlawan tas?" tanya Kageyama yang berjalan mendekat sambil membawa bola voli di tangannya.
"Iya! Dia yang nyelamatin tasku tadi pagi!" Balas Hinata sambil menunjuk-nunjuk Ichika dengan bersemangat.
Situasi seketika berubah menjadi kacau. Mendengar kata "Manajer Baru", dua orang pemain kelas tiga yang terkenal paling berisik langsung meluncur dari sudut lapangan.
"APA?! MANAJER BARU?!" teriak Tanaka dengan ekspresi wajah yang menyeramkan namun sebenarnya ia sedang sangat bersemangat. Ia berlari mendekat sambil menatap lekat wajah Ichika. "Nishinoya! Lihat! Gadis cantik lainnya datang ke markas kita!"
"OOHHHH!! BENERAN?!!" Nishinoya ikut berteriak sambil melakukan gerakan rolling thunder tanpa alasan yang jelas hanya untuk pamer. Ia mendarat dengan pose keren di depan Ichika. "Selamat datang di wilayah kekuasaan kami, Nona! Aku! Nishinoya Yu, sang dewa pelindung Karasuno!"
"Oi, oi! Jangan menakut-nakuti dia, dia kelihatan takut💧" sela Yamaguchi mencoba menenangkan si duo berisik itu, meski suaranya tenggelam dalam kebisingan.
Namun, mereka tidak mendengarkan. Dengan gaya keren ala-ala artis Tanak membusungkan dada di depan Ichika. "Kenalkan, namaku Tanaka Ryuunosuke! Anda tenang aja, selama ada pahlawan gagah perkasa ini, nggak ada yang bakal gangguin!"
Ichika mematung. Kepalanya mendadak pening melihat pemandangan di depannya: Hinata yang melompat-lompat kecil, Tanaka yang berpose garang, dan Nishinoya yang terus berteriak heboh. Suara teriakan mereka bergema di seluruh langit-langit gedung olahraga, menciptakan kebisingan yang luar biasa.
"E-eh... i-itu...," Ichika terbata, wajahnya pucat karena bingung harus merespons siapa duluan. Ia merasa seperti sedang dikepung oleh segerombolan anak ayam yang sangat hiperaktif.
Di tengah kerusuhan itu, Yachi yang berada di samping Ichika juga ikut panik, tangan kecilnya melambai-lambai di udara. "T-tunggu! Semuanya tenang dulu! Jangan bikin dia pingsan karena berisik!"
Ennoshita si kapten tim voli tersebut yang sedari tadi mencoba bersabar sambil memijat pangkal hidungnya akhirnya mencapai batas kesabaran. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu...
"DIAM DAN KEMBALI LATIHAN, KALIAN BODOH!!"
Teriakan tegas nan menggelegar itu seketika membungkam seisi ruangan. Tanaka, Nishinoya, Kageyama, dan Hinata langsung mematung di tempat dengan tubuh kaku. Atmosfer gedung olahraga mendadak sunyi senyap, menyisakan suara bola yang memantul pelan di kejauhan.
Ennoshita melangkah maju dengan aura yang dingin, menatap tajam keempat "Anak Ayam" hiperaktif itu. "Kalian membuat murid baru ketakutan.Tanaka, Nishinoya, kembali ke posisi. Hinata dan Kageyama berhenti bertindak heboh atau aku tambah porsi lari kalian."
"Si-siap, Kapten!" jawab mereka serempak dengan nada ciut, lalu segera bubar jalan menuju lapangan seolah tidak terjadi apa-apa.
Ennoshita kemudian menatap Ichika, ekspresinya langsung melembut penuh penyesalan. "Maaf ya... mereka emang sedikit—maksudnya, berisik banget. Aku Ennoshita Chikara, salah anggota tim ini sekaligus kapten tim voli ini," ujarnya sambil tersenyum ramah.
Tetapi, kepala Ichika terasa seperti mengeluarkan asap; pening yang luar biasa akibat serangan suara beroktan tinggi tadi membuatnya sedikit limbung. Ia memegangi keningnya, mencoba menstabilkan diri setelah badai teriakan itu reda berkat gertakan tegas Ennoshita.
"I-iya, nggak apa-apa... santai saja. Ha... haha..." Ichika tertawa hambar dengan nada yang masih sedikit linglung, mencoba menunjukkan bahwa ia baik-baik saja meski nyawanya rasanya hampir terbang tadi.
Ennoshita menghela napas lega, namun matanya tetap tertuju pada kertas di tangan Ichika. "Maaf sekali lagi ya. Jadi... kamu beneran mau daftar jadi menejer di sini? Yachi-san bilang kamu udah bawa formulirnya."
Mendengar kata "manajer", kesadaran Ichika langsung pulih sepenuhnya. Matanya membulat dan ia refleks melambaikan kedua tangannya di depan dada dengan gerakan panik.
"Eh?! Buk-bukan! Anu... ini salah paham!" seru Ichika cepat, membuat Yachi yang berdiri di sampingnya mengerjap bingung.
"Salah paham?" tanya Yachi kecil.
"Iya! Sebenarnya aku mubar di sini, cuma mau keliling lihat-lihat klub karena diwajibkan mendaftar. Terus pas sampai di depan gedung olahraga, aku... cuma mau ngintip bentar," Ichika menjelaskan dengan suara yang mengecil di bagian akhir karena malu. "Lalu dia... lihat formulir di tanganku dan langsung mengajakku masuk. Aku belum sempat bilang kalau aku cuma mau survei dulu...."
Suasana yang tadinya penuh semangat mendadak berubah menjadi canggung. Hinata yang sedang bersiap memukul bola ikut terdiam dengan mulut sedikit terbuka setelah mendengar pernyataan itu.
"Jadi... kamu nggak berniat masuk klub voli?" tanya Yamaguchi dengan nada sedikit kecewa namun tetap sopan.
Ichika menggigit bibirnya, merasa tidak enak hati melihat wajah-wajah penuh harap di depannya. "Bukannya nggak mau, cuma... jadwalku agak susah. Aku ada kerja part-time dan ada urusan pribadi juga... Gomennasai."
Suasana di dalam gedung olahraga itu mendadak hening, menciptakan kecanggungan yang terasa mencekik. Yachi—si gadis dengan rambut diikat satu menyamping itu yang menyadari bahwa antusiasmenya tadi hanyalah yang memicu kekacauan ini, langsung menunduk dalam-dalam hingga wajahnya memerah padam.
"A-ah! Maafin aku! Aku bener-bener nggak maksa kamu! Aku cuma... aku cuma terlalu senang ngelihat ada orang yang bawa formulir!" seru Yachi dengan nada penuh penyesalan, tangannya gemetar kecil karena merasa bersalah telah membuat Ichika terpojok.
Ichika yang melihat itu langsung merasa tidak enak hati. Ia buru-buru melambaikan tangannya, mencoba menenangkan gadis mungil di depannya.
"Nggak apa-apa kok! Etto...," Ichika menggantung kalimatnya, menyadari bahwa ia bahkan belum tahu nama gadis berambut kuning itu.
"Hitoka Yachi!" sahut Yachi cepat, seolah bisa membaca pikiran Ichika.
"Ah, maksudnya, Hitoka-chan! Sungguh, jangan minta maaf gitu, santai aja," ucap Ichika lembut. Ia mencoba mengulas senyum terbaiknya meski hatinya masih sedikit ragu.
Ichika kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan. Di sana, para pemain yang tadinya sangat heboh kini tampak lesu, menatapnya dengan binar harapan yang perlahan redup. Melihat pemandangan itu, Ichika menghela napas pendek. Ia merasa tidak tega jika harus memberi penolakan mentah-mentah saat ini juga.
"Mungkin... aku akan mempertimbangkannya lagi nanti," lanjut Ichika pelan, yang seketika membuat mata Yachi kembali berbinar. "Aku belum memutuskan mau masuk klub mana, jadi klub voli tetap ada di daftar pilihanku, kok."
Namun, Ichika tiba-tiba melirik jam di pergelangan tangannya. Matanya sontak membulat sempurna. "Gawat! Aku benar-benar harus pergi sekarang!" seru Ichika panik. Ia membungkuk singkat ke arah Ennoshita dan pemain lainnya. "Maaf semuanya, aku ada urusan pribadi yang mendesak dan udah sore banget! Permisi, semuanya! Maaf ya!"
Tanpa menunggu jawaban, Ichika langsung memutar tubuhnya. Ia berlari kencang menyusuri pinggir lapangan, tasnya bergoyang mengikuti irama langkah kakinya yang terburu-buru. Pikirannya sudah penuh dengan bayangan bus yang mungkin sebentar lagi lewat dan jadwal kerja part-time yang tidak bisa ditoleransi keterlambatannya.
Ichika berlari keluar melalui pintu samping gedung olahraga. Tepat di ambang pintu yang sedikit gelap, ia berpapasan dengan seseorang yang baru saja akan masuk. Karena fokusnya hanya pada jalanan di depan, Ichika tidak sempat mengerem atau melihat siapa itu. Ia hanya merasakan hembusan angin kencang dan aroma dingin yang khas saat tubuhnya nyaris bersenggolan dengan sosok jangkung tersebut.
"Maaf! Permisi!" seru Ichika tanpa menoleh, terus berlari menjauh menuju gerbang sekolah seolah sedang dikejar waktu.
Di sisi lain, Tsukishima Kei yang baru saja kembali dari toilet, berhenti sejenak. Ia sempat merasakan seorang gadis bersurai kuning keemasan berlari melewatinya dengan sangat tergesa-gesa hingga rambutnya tertiup angin. Namun, Tsukishima tetaplah Tsukishima; ia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar tanpa minat, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung dengan tangan di dalam saku celana olahraganya.
Begitu kaki Tsukishima menginjak lantai kayu lapangan, telinganya langsung disambut oleh lengkingan dramatis yang memecah kesunyian gedung.
"NOOOOO!!!!!" teriak Tanaka sambil berlutut di lantai, tangannya memegangi kepala seolah dunia baru saja kiamat. "KENAPA DIA PERGI BEGITU CEPAT?!"
"BIDADARI ITU... DIA TERBANG MENJAUH SEBELUM AKU SEMPAT NUNJUKKIN RECEIVE TERBAIKKU!!" Nishinoya ikut meratap, ia berdiri mematung sambil menatap pintu keluar dengan tatapan kosong nan melankolis.
Hinata pun berdiri mematung dengan bahu yang merosot lesu. "Yah... Pahlawan Tas-nya pulang..."
Tsukishima berhenti di tengah lapangan, menatap pemandangan konyol rekan-rekan timnya dengan dahi berkerut tajam. Ia menghela napas panjang, merasa tingkat kewarasannya menurun setiap kali melihat kelakuan kakak kelasnya itu.
"Kalian ini berisik sekali," sindir Tsukishima datar, suaranya dingin seperti biasa. "Memangnya siapa yang kalian tangisi?"
"Hahh... Mereka memang minta dipukul," gumam Ennoshita seraya menepuk jidatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
annura pengen produktif
semangat thor🫰
2026-02-20
1