Tiga puluh menit berlalu dengan ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh Ichika dan Tsukishima, sementara sang Ibu tampak begitu lahap menghabiskan bubur rumah sakitnya karena semangat baru. Begitu mereka berdua akhirnya melangkah keluar dan pintu kayu kamar 402 tertutup rapat, suasana hangat dan penuh tawa palsu tadi langsung menguap seperti alkohol.
Tsukishima menyentak lengannya dengan kasar hingga pegangan Ichika terlepas seketika. Ia berbalik, menjulang tinggi di depan Ichika dengan aura yang sangat mengintimidasi, membuat koridor rumah sakit yang sepi itu terasa makin mencekam.
"Gue. Nggak. Jinak," desis Tsukishima dengan nada rendah yang sangat tajam. Matanya menatap menusuk dari balik kacamata yang tadi sempat diperdebatkan di dalam. "Dan siapa itu Kenji si Mata Tajam? Lo bahkan nggak bisa konsisten sama kebohongan lo sendiri, ya? Benar-benar amatir dan merepotkan."
Ichika yang tadi sempat merasa bersalah, kini justru terpancing emosinya. Ia berdiri tegak, mendongak menantang tanpa rasa takut sedikit pun. "Dengar ya, itu namanya improvisasi darurat! Kalau aku nggak bilang kamu itu 'Kenji', Mama bakal curiga dan bisa-bisa kondisinya drop lagi karena ngerasa aku bohongin!"
"Gue nggak peduli sama alasan lo," balas Tsukishima ketus. Ia menengadahkan tangan kanannya tepat di depan wajah Ichika, seolah sedang menagih hutang besar. "Balikin dompet gue. Sekarang. Dan jangan pernah berani-berani panggil gue pake nama konyol itu lagi. Kenji? Yang benar aja."
Ichika merogoh saku roknya, menarik dompet putih bergambar dinosaurus itu keluar. Namun, ia tidak langsung menyerahkannya. Ia menatap Tsukishima dengan raut wajah yang mendadak serius dan tegas.
"Aku beneran butuh bantuan kamu. Kamu liat sendiri kondisi Mamaku tadi, kan? Beliau cuma mau makan kalau aku bawa 'pacar' ke depannya. Jadi... aku mau minta kamu lanjutin sandiwara ini. Selama sebulan ini, itu pertama kalinya dia mau makan sampai habis," suara Ichika sedikit merendah, namun tetap kuat.
Tsukishima terdiam sejenak, lalu tawa sinis keluar dari mulutnya. "Lo... lo minta gue jadi pacar sewaan? Lo pikir gue cowok murahan yang bisa lo beli cuma gara-gara sandiwara nggak jelas ini?"
"Aku bakal bayar!" potong Ichika cepat. "Aku bakal kasih kamu 300 yen per jam tiap kali kamu dateng. Dan aku bakal beliin kamu Strawberry Shortcake dari toko tadi setiap hari Jumat! Gimana? Logis, kan? Kamu dapet untung, dompet kamu balik, dan Mamaku selamat!"
Tsukishima diam sejenak, netranya menatap Ichika dari balik kacamatanya dengan pandangan yang benar-benar meremehkan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nggak," jawab Tsukishima pendek dan telak.
"Apa? Tapi kenapa?!" Ichika melotot. "Bukannya itu penawaran bagus!"
"Satu, gue nggak butuh uang receh lo. Dua, gue benci drama yang bikin waktu gue terbuang sia-sia. Dan tiga," Tsukishima melangkah maju, membuat Ichika terpojok ke dinding koridor. "Gue paling jijik sama orang yang bangun kebahagiaan di atas kebohongan. Nyokap lo bakal makin hancur kalau tahu lo cuma nyewa orang buat nipu dia."
"Tapi kalau aku nggak jujur soal itu, Mama bakal menyerah sama kondisinya!" Ichika menyahut tajam, suaranya bukan lagi memelas, melainkan penuh tekanan yang tertahan.
Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha keras meredam emosi yang bergejolak di dadanya agar tidak pecah di koridor rumah sakit ini. Matanya menatap Tsukishima dengan sorot yang pedih sekaligus marah. "Aku nggak punya kemewahan buat bersikap idealis kayak kamu. Saat ini, kebohongan itu satu-satunya hal yang bikin Mama mau bertahan hidup."
Ichika memalingkan wajah sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum kembali menatap cowok jangkung itu dengan tatapan dingin.
"Terserah kalau kamu pikir ini drama nggak penting. Tapi buatku, ini soal nyawa," ucapnya pelan namun setiap katanya terasa berat.
Ia merogoh saku roknya, menarik dompet putih bergambar dinosaurus itu, lalu menyentakkannya ke telapak tangan Tsukishima dengan kasar.
"Nih! Ambil!" seru Ichika. "Ternyata bener, kacamata kamu itu cuma pajangan doang supaya kelihatan pinter, soalnya kamu tetep buta nggak bisa liat kalau ada orang yang lagi bener-bener butuh pertolongan. Pergi aja sana, tiang listrik sombong!"
Ichika langsung berbalik badan, berjalan menuju kursi tunggu dengan langkah mantap. Ia tidak sudi memperlihatkan kelemahannya lebih lama lagi di depan cowok yang menurutnya sama sekali tidak punya empati itu.
Tsukishima berdiri mematung di tengah koridor yang sepi, menatap telapak tangannya yang baru saja dihantam dompet oleh Ichika. Ia tidak langsung pergi, melainkan hanya berdiri di sana dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah sedang memproses ledakan emosi gadis di depannya.
Setelah beberapa detik, ia mendengus. Sebuah tawa sinis yang pendek dan dingin keluar dari bibirnya, seolah ia baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan yang sangat tidak masuk akal. Dengan gerakan santai yang terkesan sangat acuh, ia memasukkan dompet putih bergambar dinosaurus itu ke dalam saku celananya.
"Cewek aneh," gumamnya rendah sambil berbalik pergi. "Niat hati mau chek-up malah ada drama merepotkan."
Tanpa menoleh lagi ke arah Ichika, Tsukishima melangkah menjauh dengan tenang, membiarkan sosok jangkungnya menghilang di balik lift tanpa rasa bersalah sedikit pun.
The salt... 🙈
Lima hari setelahnya...
Ichika melangkah melewati gerbang sekolah dengan bahu merosot dan wajah yang bener-bener letih. Kelopak matanya berasa berat banget, sisa dari selama beberapa hari ini yang dia habisin cuma buat muter otak nyari sosok "Kenji" berikutnya.
Hari ini adalah hari pertama dia di sekolah barunya, SMA Karasuno. Sebelumnya Ichika sekolah di Tokyo, tapi ya gitu, dia terpaksa pindah gara-gara kondisi ibunya yang makin turun dan ada beberapa masalah pribadi yang bikin dia capek harus pindah-pindah terus. Jadi "anak baru" emang udah makanan sehari-hari, tapi kali ini rasanya jauh lebih berat karena kepalanya penuh sama skenario bohong buat kunjungan rumah sakit nanti.
"Aduh... Kenji mana lagi yang harus aku cari? Masa aku harus sewa orang di internet sih..." gumam Ichika pelan sambil nunduk, ngelihatin ujung sepatunya yang lesu.
Langkah Ichika terhenti pas dia ngelihat cowok rambut oranye terang lagi heboh sendiri di deket pagar tanaman. Cowok itu kelihatan panik, berusaha narik tasnya yang nyangkut di dahan pohon yang lumayan tinggi.
"Sialan... kok malah makin nyangkut sih?! Duh, dikit lagi!" seru cowok itu sambil loncat-loncat kecil.
Melihat pemandangan itu, Ichika refleks nyamperin. "Eh... perlu bantuan nggak?"
Laki-laki berambut oranye itu menoleh, wajahnya tampak kaget namun ia segera menunjukkan ekspresi seolah bisa menanganinya sendiri. "Ah! Nggak usah, nggak usah! Aku bisa kok! Ini mah kecil, bentar lagi juga lepas!" Ia menarik-narik tasnya kembali, namun tas tersebut justru semakin tersangkut di dahan pohon.
Ichika memperhatikan tinggi badan mereka berdua secara bergantian. Ia memandangi dahan pohon yang tinggi itu, lalu melirik laki-laki berambut oranye di sampingnya yang bertubuh sama dengan dirinya. 'Ini kalau kita loncat-loncat sampe kaki lecet pun, tas itu nggak akan bisa diambil. Nasib punya tinggi cilik,' batinnya.
Tanpa banyak bicara, Ichika segera berjongkok di depan laki-laki itu. Ia menengadahkan kedua telapak tangannya di dekat lutut, membentuk sebuah tumpuan yang kokoh, dan memberikan isyarat agar laki-laki itu naik ke tangannya.
"Sini, naik ke tangan aku. Biar kamu bisa nyampe," ucap Ichika menawarkan bantuan.
Hinata terbelalak, wajahnya mendadak memerah karena merasa sungkan. "Eh?! Seriusan? Nggak usah lah, masa aku nginjek tangan cewek! Nggak enak banget!"
"Udah, buruan. Nggak usah banyak gaya, keburu bel masuk!" potong Ichika dengan tegas.
Akhirnya, cowok itu menyerah. "O-oke... Sorry ya! Aku naik!"
Cowok itu pun naik ke tumpuan tangan Ichika. Ichika berusaha sekuat tenaga menahan beban tubuhnya saat ia mulai berdiri tegak di atas tangannya.
"Nyampe... dikit lagi... ayo, dapet!" seru cowok rambut oranye itu semangat. Namun, saat tangannya hampir berhasil meraih tas tersebut, keseimbangannya goyah.
"Eh, eh! Woy!"
Bruk!
Bukannya berhasil mengambil tas, mereka berdua justru terjatuh bersamaan ke atas rumput. Ichika meringis kesakitan, sementara laki-laki itu panik meminta maaf. Tas tersebut masih tetap tersangkut di atas, bahkan posisinya semakin tinggi karena guncangan tadi.
"Yah... Malah makin tinggi," gumam Ichika dengan helaan napas pasrah, ia menatap dahan pohon itu dengan kosong.
Sementara cowok rambut oranye itu berkali-kali meminta maaf pada Ichika. "Aku beneran minta maaf! Sumpah, aku nggak ada niat bikin kamu jatuh!"
"Santai aja kali," potong Ichika sambil mengibaskan debu dan rumput yang menempel di roknya. Ia berdiri perlahan, merasakan sedikit denyut di pinggangnya akibat mendarat di tanah tadi. "Bukan salah kamu juga, emang keseimbangan kita aja yang nggak kompak."
Cowok itu tampak masih sangat gelisah. Ia memandangi tasnya yang kini berada di posisi yang jauh lebih mustahil untuk dijangkau. "Gimana cara ngambilnya?" gumamnya sambil celingukan ke arah koridor sekolah yang mulai ramai.
"Hm... Klo kayak begini, malah tambah susah. Lagian, kenapa bisa deh tuh tas nyangkut di pohon? Terbang tasnya?"
"Eh?! Bukan kok!... Itu... I–itu...."
Ichika menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan kalimat cowok berambut oranye yang wajahnya sudah semerah tomat matang itu.
"Itu... tadi aku lihat ada capung raksasa lewat, terus aku pikir itu drone mata-mata dari sekolah lawan buat ngintip latihan voli sore nanti!" Shoyo menjelaskan dengan gerakan tangan yang heboh, matanya melotot serius. "Jadi refleks aku lempar tas lari aku buat jatuhin 'drone' itu, eh... ternyata itu beneran capung biasa, dan tas aku justru nyangkut dengan estetik di dahan itu!"
Ichika terdiam. Matanya berkedip lambat, memproses informasi yang baru saja masuk ke otaknya. Drone mata-mata? Capung? Dan solusinya adalah melempar tas?
Puk.
Ichika menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan, lalu membiarkan tangannya tertahan di sana selama beberapa detik sambil menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah.
"Kamu... kebanyakan nonton film detektif atau emang otaknya lagi lowbat?" gumam Ichika tak habis pikir. "Capung segede apa yang bisa dikira drone, hah? Lagian kalaupun itu drone, yang ada tas kamu rusak, bukan dronenya yang jatuh."
Shoyo langsung melonjak panik, tangannya melambai-lambai di depan dada. "Jangan salah paham, oke! Aku emang suka ceroboh gitu! Tadi itu murni reaksi spontan buat jagain rahasia tim! Jangan anggap aku aneh, ya!"
Ichika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Insting atlet katamu? Itu mah insting menghancurkan diri sendiri."
Baru saja Ichika mau menyarankan untuk mencari galah atau sapu di gudang terdekat, sebuah bayangan panjang tiba-tiba menutupi mereka berdua. Suasana yang tadinya berisik oleh ocehan Shoyo mendadak sunyi karena aura dingin yang sangat familiar mulai menusuk tengkuk Ichika. Tanpa aba-aba, sebuah tangan panjang dengan jari-jari lentik meraih tali tas itu dengan sangat mudah. Pemilik tangan itu bahkan tidak perlu berjinjit, apalagi melompat. Gerakannya begitu santai, seolah-olah dahan tinggi itu hanyalah rak buku rendah di matanya.
Ichika dan Cowok rambut oranye itu serentak mendongak dengan mulut setengah terbuka. Di sana, berdiri seorang laki-laki berkacamata dengan postur tubuh yang luar biasa tinggi. Ia menatap mereka berdua dengan pandangan meremehkan dari balik lensa kacamatanya.
"Eh? Tsukishima!" seru si Cowok rambut oranye, antara kaget dan lega.
'Tsukishima?!' Batin Ichika ikut kaget.
Laki-laki bersurai krem itu yang dipanggil Tsukishima tidak langsung memberikan tasnya. Ia justru memutar-mutar tas Hinata di jarinya seolah itu adalah mainan anak kecil, lalu mendengus sinis.
"Punya lompatan tinggi gunanya buat apa kalo ngambil tas aja nggak bisa," sindir Tsukishima dengan nada datar namun sangat menusuk.
Hinata langsung mematung, wajahnya memerah padam antara malu dan kesal. "Aku sama sekali nggak kepikiran! Dan kembaliin tasku, Tsukishima sialan!"
"Tch, otak voli," balas Tsukishima remeh, lalu akhirnya melepaskan tas itu ke si Cowok rambut oranye yang buru-buru menangkapnya agar tidak jatuh. "Makanya, tumbuh itu ke atas, bukan ke samping," sindirnya lagi kemudian berbalik pergi dengan langkah santai yang membuat Si cowok rambut oranye semakin kesal.
Namun, saat Tsukishima melintas di depan Ichika. Untuk sepersekian detik, tatapan mata mereka bertemu. Tsukishima menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin yang seolah berkata bahwa ia tidak pernah melihat Ichika sebelumnya, seolah-olah kejadian "penculikan" dan drama di rumah sakit kemarin tidak pernah terjadi. Tatapan itu benar-benar kosong dari pengenalan, membuat Ichika merasa seperti orang asing yang tidak sengaja menghalangi jalannya. Tanpa satu patah kata pun, Tsukishima kembali memalingkan wajahnya dan lanjut berjalan.
Si cowok rambut oranye yang semula sibuk ngedumel tentang Tsukishima segera menoleh ke arah Ichika. Wajahnya kesalnya tadi mendadak berubah menjadi ceria lagi.
"Eh, Aku beneran minta maaf ya soal yang tadi! Thanks udah mau bantuin!" seru cowok itu sambil membungkuk sopan. "Duluan ya! Sampai ketemu lagi!"
Setelah berpamitan, Hinata langsung berlari kencang mengejar langkah panjang Tsukishima yang sudah mulai menjauh menuju gedung sekolah. Ichika hanya bisa berdiri mematung di tengah lapangan, menatap punggung kedua laki-laki yang sangat kontras itu dengan perasaan campur aduk.
"Ngelihat dari tatapannya... Kayaknya dia emang nggak mau lagi berurusan sama aku...," gumam Ichika lirih. "Agh!! Stressnya! Kenapa harus ketemu dia lagi, sih!" teriak Ichika dalam hati seraya menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila. Ia masih tidak percaya dengan kehadiran cowok kacamata itu yang ternyata satu sekolah dengan dirinya. Hari pertamanya di sekolah ini benar-benar kacau.
...----------------...
Jangan lupa like, komen, and favorit! 😋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
annura pengen produktif
semangat kaka!!,seru bgt plss🤍
2026-02-19
1