Bab 2: Ngaku-ngaku pacar!

"Sato-san!"

Suster itu menoleh, melihat Ichika menghampirinya dengan raut wajah cemas. "Mama... Gimana? Mama mau makan, kan?" tanyanya dengan wajah penuh harap.

Suster itu menghela napas panjang, sorot matanya yang hangat kini menyiratkan rasa prihatin. "Belum mau, Chika-chan. Mama kamu bilang... dia cuma mau makan kalau kamu bawa pasangan yang sering kamu ceritakan itu. Beliau pengin banget lihat kamu nggak sendirian sebelum kondisinya semakin menurun."

Suster itu menatap Ichika dengan khawatir. "Jika beliau terus begini, kami khawatir fisiknya nggak akan kuat. Kamu... beneran punya pacar, kan?"

Puk!

Ichika refleks menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan, mengundang kernyitan bingung dari Sato-san. Rasanya ia ingin menghilang saat itu juga.

"Chika-chan? Kamu bener-bener punya pacar, kan? Kamu nggak lagi bohong buat menenangkan ibumu, kan?" tanya Sato-san dengan nada mendesak yang menusuk ulu hati Ichika.

"Nggak kok! Santai, aku punya. Pacarku cuma lagi... Sibuk akhir-akhir ini!" jawab Ichika cepat, suaranya naik satu oktav karena panik.

Ichika mencoba tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Sato-san hanya mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang seolah berkata bahwa ia sangat berharap Ichika tidak sedang bersandiwara.

"Ya sudah, kalau begitu. Ibumu sangat menantimu di dalam. Segera ajak pacarmu masuk kalau dia datang, ya?" ucap Sato-san sambil menepuk pelan bahu Ichika sebelum akhirnya melangkah pergi menyusuri koridor.

Begitu punggung Sato-san menghilang di tikungan koridor, pertahanan Ichika langsung runtuh. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin, napasnya memburu.

"Mati aku... mati aku beneran kali ini," gumamnya frustrasi.

Ia menjambak rambutnya sendiri pelan. Pikirannya berputar kacau. Ia teringat kembali kebohongannya sebulan lalu; bagaimana ia dengan percaya diri mengarang sosok pacar sempurna hanya agar ibunya yang saat itu sedang kritis memiliki semangat untuk bertahan hidup. Sejak saat itu, ia terjebak dalam lubang yang ia gali sendiri.

Berhari-hari ia mencari jalan keluar. Ia bahkan nekat mengunduh aplikasi kencan dan menghabiskan malam-malamnya untuk swipe kanan dan kiri. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada laki-laki yang sesuai kriteria "cowok baik-baik" yang bisa ia kenalkan pada ibunya. Kebanyakan hanya ingin main-main, atau bahasanya yang membuat Ichika merasa tidak aman.

"Gimana ini? Kalau Mama tahu aku bohong, kondisinya pasti bakal makin drop," bisiknya lirih.

Ichika melirik ke layar HP-nya yang masih menampilkan aplikasi kencan yang gagal itu dengan perasaan ingin menangis. Ia benar-benar buntu. Di tengah kepanikannya yang memuncak, matanya tanpa sengaja menangkap sosok jangkung di ujung lorong.

Itu dia. Si pemilik dompet dinosaurus.

Cowok kacamata itu tampak berjalan terburu-buru dengan wajah yang terlihat sangat panik. Dia celingukan ke sana kemari, tangannya terus meraba saku celana depan dan belakang dengan gerakan gelisah. Wajahnya yang tadi terlihat sombong kini berubah pucat.

Ichika meremas dompet putih ditangannya. Sebuah ide gila—ide yang sangat tidak logis namun terasa seperti satu-satunya jalan keluar—muncul di kepalanya.

Tinggi? Cek. Masih sekolah? Cek. Kelihatan pintar (meski songong)? Cek. Oke, ini dia! Batinnya penuh tekad.

Tanpa membuang waktu Ichika langsung menghadang jalan cowok itu.

"Nyari ini, nggak?" tanya Ichika sambil mengangkat dompet putih itu tepat di depan wajah cowok itu.

Cowok itu tersentak, matanya yang tajam langsung membelalak kaget. Dia refleks mau menyambar dompet itu. "Oi! Balikin—"

hup!

"Eits! Tunggu dulu!" Ichika menarik dompet itu menjauh dengan gesit ke belakang punggungnya. "Aku bakal balikin dompet ini sekarang juga, tapi kamu harus turutin satu permintaan aku. Detik ini juga!"

Cowok itu mengernyitkan alis, wajahnya yang panik berubah jadi sangat tidak bersahabat. "Hah? Balikin nggak? Itu punya gue!"

"Iya, aku tahu ini punya kamu! Tapi turutin permintaan aku dulu atau dompet dinosaurus kesayangan Kamu ini aku lempar ke tempat sampah medis!" ancam Ichika setengah berbisik tapi penuh penekanan.

Tanpa memberikan ruang bagi cowok itu untuk berdebat, Ichika langsung menyambar lengan jaket si mata empat dengan kekuatan penuh, lalu menariknya paksa menuju pintu kamar ibunya.

Sreg!!

"MAMAAA! LIHAT SIAPA YANG DATANG!" teriak Ichika dengan nada suara yang sengaja dibuat ceria sampai melengking, berusaha menutupi detak jantungnya yang sudah seperti bedug mau copot.

Suara cempreng Ichika sukses membuat seisi ruangan berjengit kaget. Ibu Ichika yang sedang bersandar lemah di ranjang perlahan menoleh, sementara si cowok jangkung di samping Ichika hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya yang semula panik karena dompet, kini berubah menjadi shock total saat diseret masuk ke ruangan asing.

"Ichika?" suara Ibu terdengar parau namun ada binar harapan di matanya. "Itu... itu siapa, Nak?"

Ichika langsung mengeratkan pelukannya di lengan cowok itu, seolah-olah mereka adalah pasangan paling lengket sedunia. Ia bahkan bergelayut manja di lengan bidang itu, membuat si cowok kacamata hampir menubruk nakas rumah sakit.

"Ma, kenalin! Ini... Pacar Ichika yang pernah aku ceritain itu, loh!" seru Ichika sambil memberikan cengiran paling lebar (dan paling palsu) sepanjang sejarah hidupnya.

Cowok itu yang baru saja sadar dari rasa kagetnya langsung membuka mulutnya. Alisnya menukik tajam, siap untuk melontarkan protes pedas atau mungkin meneriakkan kata "Gila!" tepat di depan wajah Ichika yang tampak tidak tahu malu itu.

Namun, sebelum satu suku kata pun berhasil lolos dari bibirnya, Ichika dengan gerakan secepat kilat telah menghentakkan sepatu ketsnya tepat di atas punggung kaki cowo itu.

"Aw–" Cowok itu meringis tertahan, matanya membelalak kaget.

Gadis itu tidak hanya menginjaknya, tapi sengaja menekan berat tubuhnya di sana, memastikan cowok jangkung itu terkunci di tempatnya.

Sambil tetap memasang senyum paling manis dan hangat ke arah ibunya, Ichika melirik horor ke arah cowok disebelahnya itu. Matanya berkilat, memancarkan pesan ancaman yang sangat jelas: Diem! Nurut atau dompet T-Rex ini aku buang ke tempat sampah!

"Dia... dia memang agak pemalu, Ma. Makanya tadi mau protes karena aku menariknya terlalu semangat, hehe," lanjut Ichika dengan nada suara yang dibuat-buat semanja mungkin, sementara kakinya masih belum beranjak dari atas kaki cowok itu.

Cowok itu hanya bisa mematung kaku dengan rahang yang mengeras. Ia sedikit menunduk, menatap Ichika dengan tatapan yang seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup. 'Cewek sinting!' jerit batinnya dengan muak. Di matanya, tindakan Ichika bukan hanya nekat, tapi benar-benar tidak logis dan sangat... Sangat... Menjengkelkan. Namun, saat pandangannya beralih dan bertemu dengan wajah Ibu Ichika yang tampak begitu rapuh—seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja—Cowok itu terpaksa menelan kembali semua kalimat sarkastik yang sudah tertata rapi di ujung lidahnya.

"A-ah... selamat sore, Bibi. Saya Tsukishima Kei," ucap Tsukishima akhirnya.

Suaranya terdengar sangat datar dan kaku, seolah setiap kata yang keluar harus melewati saringan harga dirinya yang tinggi. Ichika sendiri sempat terpaku sejenak; ia baru tahu nama lengkap cowok ini sekarang. Tsukishima Kei. Nama yang terdengar elegan, meski kepribadiannya lebih mirip es kutub yang sangat sulit dicairkan.

"Eh? Tunggu sebentar...." Si Ibu menatap Ichika dan Tsukishima bergantian dengan raut wajah yang mendadak sangsi. Senyumnya sedikit memudar, digantikan lipatan di dahi yang membuat jantung Ichika serasa mau copot.

"Ichika, bukannya sebulan lalu kamu bilang pacarmu itu namanya Kenji? Terus kamu bilang dia itu punya mata yang tajam dan nggak pakai kacamata karena dia benci ada benda nempel di wajahnya? Kok ini sekarang namanya Tsukishima? Terus... kenapa pakai kacamata begini?" tanya Ibu pelan namun penuh selidik.

Suasana kamar mendadak hening seketika. Ichika mematung dengan mulut setengah terbuka, otaknya mendadak blank. Ia lupa! Saking banyaknya karangan cerita yang ia buat bulan lalu saat kondisi ibunya kritis, ia sampai lupa nama "pacar khayalan" yang pernah ia sebutkan lewat telepon.

"A-ah! Itu! Anu, Ma!" Ichika tertawa kaku, suaranya naik beberapa oktav karena panik. "Maksud Ibu... Kenji? Oh! Itu... itu sebenarnya panggilan sayang dari aku buat dia, Ma! Iya! Singkatan dari... Kei yang Nyebelin tapi Jinak! Hahaha!"

Tsukishima yang berdiri di sampingnya nyaris tersedak ludahnya sendiri. Alisnya menukik tajam hingga hampir menyatu. Jinak? Lo pikir gue hewan peliharaan apa? batinnya geram, ingin sekali ia melempar gadis ini keluar jendela sekarang juga.

"Terus soal kacamata..." Ichika buru-buru menyambung sebelum ibunya bertanya lagi. Ia menyenggol rusuk Tsukishima dengan siku, memberi kode maut agar cowok itu tidak membantah. "Dia... dia sekarang pakai kacamata karena belakangan ini rajin banget belajar buat masuk universitas top, Ma! Matanya jadi minus gara-gara kebanyakan baca buku rumus! Kan aku pernah bilang dia itu pinter banget, saking pinternya mata aslinya sampai kalah!"

Tsukishima menghela napas panjang, sangat panjang, seolah sedang membuang seluruh sisa harga dirinya ke lantai rumah sakit. Ia melirik Ichika dengan tatapan yang sangat tajam, tapi saat mendapat cubitan keras dari Ichika, Tsukishima terpaksa mengikuti drama kecil-kecilan gadis ini.

"Iya... Bibi. Mata saya... mendadak lelah karena terlalu banyak membaca," jawab Tsukishima dengan nada yang sangat datar dan kaku.

"Bener, Ma! 100% bener!" Ichika merangkul cepat lengan Tsukishima dengan akrab—sebuah akting yang membuat Tsukishima menegang kaku seperti manekin. "Ya kan, Sayang? Kamu suka kan dipanggil Kenji sama aku?"

Tsukishima tidak menjawab, ia hanya memberikan senyum tipis yang lebih mirip seringai terpaksa yang menyeramkan. Dalam hati, ia sudah menyusun berbagai kalimat dan rencana untuk menagih penjelasan sangat detail setelah ini.

...----------------...

Telima kasi udah mau baca!! Dukung author terus ya! Dengan tekan like, komen, and favorite!! 📢😻

Bisa kasih saran dan kritik, ya... Soalnya penulis ini masih pemula.

Terpopuler

Comments

Indira Mr

Indira Mr

tsukisima suka ichika ya

2026-01-22

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!