Bab 4: About the Karasuno

Setelah seluruh labirin administrasi di ruang guru yang menyesakkan itu usai, Ichika akhirnya melangkah menyusuri koridor lantai dua menuju kelas 1-3. Setiap derit lantai kayu tua di bawah kakinya seolah menjadi detak jantung yang berpacu sumbang, menggema di antara dinding-dinding bisu sekolah yang asing. Ia meremas tali tasnya kuat-kuat, mencoba meredam badai yang bergemuruh di dadanya sebelum akhirnya mendorong pintu geser kelas yang terasa seberat bongkahan batu di tangannya.

"Ah, ini dia murid pindahan kita," suara Pak Takagi, guru Sejarah yang sedang mengajar, membelah kesunyian kelas. Beliau memberi isyarat agar Ichika maju ke depan.

Ichika berdiri di samping meja guru, menatap lantai yang seolah-olah jauh lebih menarik daripada puluhan pasang mata yang kini menancap padanya. "Hanada Ichika. Saya pindahan dari Tokyo. Mohon bantuannya," ucapnya singkat dengan suara yang sedikit bergetar, lalu membungkuk dalam.

Seketika, bisik-bisik halus mulai menjalar di antara barisan meja seperti api yang merambat di rumput kering.

"Tokyo? Serius? Jauh banget..." "Lihat rambutnya, warnanya cantik banget ya, apa itu asli?" "Auranya beda banget sama kita, kelihatan kayak anak orang kaya..."

Pak Takagi mengetuk papan tulis dengan penggaris kayu, membungkam gumaman yang mulai memenuhi ruangan. Matanya menyapu deretan bangku, lalu menunjuk ke arah sebuah meja kosong di barisan tengah.

"Hanada-san, kamu bisa duduk di sebelah meja Hoshino-san yang kosong itu," ujar Pak Takagi sambil kembali membenarkan posisi kacamatanya. "Orangnya sedang ada urusan rapat klub, jadi sepertinya tidak akan kembali sampai jam istirahat. Kamu duduk saja dulu di sana."

Ichika mengangguk pelan, merasa sedikit lega karena setidaknya ia tidak harus duduk di samping orang yang langsung mengajaknya bicara. Ia berjalan menunduk, melewati barisan bisikan yang masih samar terdengar, lalu menenggelamkan dirinya di bangku tersebut.

Dua jam pelajaran pertama berlalu seperti fragmen mimpi yang kabur. Ichika hanya bisa duduk diam mematung, membiarkan tubuhnya hadir namun jiwanya entah terbang ke mana. Ia berusaha keras memfokuskan pandangannya pada papan tulis yang penuh dengan goresan kapur putih, namun jemarinya yang dingin hanya sanggup meremas pinggiran buku catatannya yang masih putih bersih.

Di tengah kesunyian pelajaran, perhatian Ichika tanpa sengaja jatuh pada meja di sebelah kanannya. Meja itu kosong melompong, bersih tanpa satu pun goresan pulpen atau tumpukan buku, seolah-olah pemiliknya baru saja menguap ditelan udara. Namun, di sana, sebuah tas sekolah berwarna cokelat tergantung lesu di sisi meja, bergoyang pelan mengikuti irama angin yang menyelinap dari celah jendela yang terbuka sedikit.

Ichika menatap tas itu dengan tatapan kosong. 'Hoshino... ya?' batinnya dalam hati. 'Urusan apa yang lebih penting daripada pelajaran sepagi ini?'

Sepanjang dua jam penuh, pemilik bangku itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Meja kosong di sampingnya itu mendadak terasa seperti cermin bagi dirinya sendiri—sebuah kehadiran yang tak lengkap di tengah keriuhan dunia luar yang belum ia kenal.

Teng... Teng... Teng...

Bel istirahat bergemuruh nyaring, membelah keheningan pelajaran Sejarah yang melelahkan seperti pedang yang memutus benang takdir. Bagi para siswa lain, suara itu adalah melodi kebebasan, namun bagi Ichika, itu terdengar seperti sirine peringatan bahaya yang mengancam ketenangan semunya.

Belum sempat Ichika menghela napas atau sekadar merapikan alat tulisnya yang masih kaku di atas meja, dunianya mendadak menjadi sempit. Keheningan kelas seketika pecah menjadi kegaduhan yang liar; suara kursi yang bergeser kasar dan derap langkah kaki yang terburu-buru mulai mengepungnya dari segala penjuru.

Dalam sekejap, kursinya sudah dikerubungi oleh segerombolan siswa dan siswi yang matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang tak terbendung. Mereka membentuk lingkaran rapat yang menyesakkan, seolah-olah Ichika adalah sebuah artefak langka yang baru saja ditemukan di tengah reruntuhan, membuat ruang geraknya terkunci di antara tembok manusia yang mengimpit.

"Wah, beneran pindahan dari Tokyo?! Keren banget!" seru seorang siswi dengan nada tinggi yang melengking, tangannya hampir saja menyentuh ujung rambut Ichika yang berwarna kuning emas alami. "Tokyo itu gimana sih? Apa bener di sana gedung-gedungnya setinggi awan dan orang-orangnya kalau sekolah dandanannya modis banget kayak di majalah fashion? Lihat deh, auranya beda banget sama kita!"

"Ichika-chan, lo pasti sering banget kan main ke Shibuya atau Harajuku? Bener nggak sih kalau di sana setiap sudut jalan ada layar raksasa dan kalau mau makan di kafe estetik itu antreannya bisa sampai ke blok sebelah?" timpal yang lain, suaranya makin tumpang tindih dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dari belakang kerumunan. Mereka seolah tidak memberikan celah bagi Ichika bahkan untuk sekadar menarik napas.

Ichika merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis, terserap habis oleh belasan pasang mata yang menatapnya tanpa kedip dengan raut wajah menuntut jawaban. Ia mencengkeram pulpennya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, mencoba memberikan senyum kaku yang terlihat lebih mirip ringisan tertahan di balik rasa cemas yang mulai merayap naik ke tenggorokannya.

"Ah, itu... sebenarnya Tokyo biasa saja kok, gedung-gedungnya memang tinggi, tapi tidak semuanya seperti itu..." jawabnya terbata-bata, berusaha menjaga jarak agar wajah teman-teman barunya tidak terlalu dekat dengan wajahnya yang mulai memanas karena merasa terpojok.

"Masa sih biasa saja?! Jangan pelit dong, ceritain sedikit!" Seorang siswa berkacamata ikut mendesak, membuat tubuh mungil Ichika makin terperosok ke arah meja kosong di sampingnya.

"He eh, bener! Tadi pas kamu maju di depan kelas, auranya tuh beda banget. Mewah gimana gitu," sahut seorang siswi berambut ikal dengan mata berbinar kagum, memotong perkataan temannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Ichika lekat-lekat. "Lihat deh, tas sekolahmu aja kelihatannya mahal banget mereknya. Terus sepatu pantofelmu mengkilap banget, beda sama punya kita yang udah butut. Kulitmu juga putih bersih banget kayak porselen, pasti perawatan mahal ya di Tokyo?"

"Eh? Ah, nggak... ini..." Ichika semakin gugup, tangannya refleks meremas ujung rok seragamnya. Pertanyaan-pertanyaan ini mulai terasa terlalu personal dan menyudutkannya.

"Iya kan? Ngaku aja deh! Kamu pasti anak orang kaya yang pindah ke sini karena bosan sama kemewahan kota besar, terus mau nyobain hidup sederhana di desa kayak di film-film?" cecar siswi berambut ikal itu lagi, suaranya makin meninggi karena antusias, memancing gumaman setuju dari beberapa siswa di sekelilingnya. Mereka menatap Ichika dengan tatapan menuntut, seolah-olah jawaban "ya" adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal bagi mereka.

Ichika hanya bisa menunduk, menatap ujung sepatunya yang mengkilap sambil berharap ada lubang di lantai kelas yang bisa menelannya saat itu juga. Ia benar-benar tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, apalagi dengan label "anak orang kaya" yang disematkan padanya hanya karena penampilan luar. Tensi di sekelilingnya terasa makin mencekik, seolah-olah mereka sedang berusaha membedah setiap inci identitasnya untuk mencari tahu rahasia apa yang dibawa gadis dari kota besar ini.

Tepat saat ia merasa kepalanya mulai berdenyut karena kewalahan menghadapi serbuan introgasi massal yang tak kunjung usai itu, pintu kelas digeser terbuka dengan dentuman yang cukup keras—sebuah suara yang sanggup mengalihkan perhatian beberapa orang yang berada di barisan belakang.

"Woy, woy! Ada apa nih? Ada pembagian sembako gratis ya?"

Sebuah suara cempreng namun penuh otoritas membelah kerumunan itu seperti pisau panas yang memotong mentega. Langkah kaki yang terburu-buru mendekat, diiringi bunyi gedebuk tumpukan brosur yang dijatuhkan tanpa ampun ke atas meja kosong di sebelah Ichika—meja yang sedari tadi hanya dihuni oleh tas cokelat kesepian.

Seorang gadis dengan rambut merah oranye yang diikat satu pita muncul di tengah kepungan, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Ia berdiri berkacak pinggang, menatap teman-temannya dengan tatapan remeh yang jenaka.

"Bubar, bubar! Kasihan anak orang baru datang sudah kalian interogasi kayak tersangka kriminal!" teriaknya sambil memasang wajah galak. "Kalian ini beneran norak ya? Dia itu manusia pindahan, bukan objek wisata yang bisa kalian pelototin sampai tembus kulit!"

Kerumunan itu perlahan mencair, diiringi gerutuan pelan dari beberapa siswa yang merasa kesenangan mereka diganggu oleh sang "pawang". Siswi berambut merah oranye tadi sempat mencebik sebelum akhirnya kembali ke bangkunya sendiri, meninggalkan Ichika yang masih mematung dengan napas yang perlahan mulai teratur kembali.

Gadis penyelamat itu kemudian menghempaskan tubuhnya ke kursi tepat di samping Ichika. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai, lalu menoleh ke arah Ichika dengan cengiran lebar yang memamerkan deretan giginya yang rapi.

"Sorry ya, baru muncul. Rapat klub tadi beneran bikin otak gue mau meledak," ucapnya tanpa beban, seolah-olah mereka sudah berteman sejak lama. Ia mengulurkan tangannya yang tampak lincah ke hadapan Ichika. "Gue Akari Hoshino. Pemilik meja yang tadi lo liat kosong melompong kayak kuburan."

Ichika menatap tangan itu ragu sejenak sebelum akhirnya menyambutnya. Telapak tangan Akari terasa hangat dan penuh energi, sangat kontras dengan tangan Ichika yang masih sedingin es. "Hanada Ichika... Makasih ya, Akari-chan. Aku beneran bingung mau jawab apa tadi."

"Halah, santai aja! Di sini emang gitu, denger kata 'Tokyo' aja langsung pada heboh kayak liat UFO jatuh," Akari terkekeh kecil, matanya menyipit ramah. "Soal 'anak orang kaya' atau 'perawatan porselen' tadi, nggak usah dimasukin ke hati. Mereka cuma kebanyakan nonton drama."

Akari kemudian mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada konspirasi yang lucu. "Tapi jujur sih, muka-mukamu emang kayak bukan orang dari sini. Tapi tenang, gue bukan tipe yang bakal nanya-nanya sampai lo risih."

Ichika tersenyum tipis, kali ini senyumannya terasa sedikit lebih tulus. Kehadiran Akari yang meledak-ledak namun hangat seolah menjadi tameng yang ia butuhkan di hari pertamanya yang kacau ini.

"Mumpung jam istirahat masih ada, mau nggak gue temenin keliling sekolah?" ajak Akari sambil bangkit berdiri, langsung menyampirkan lengannya di bahu Ichika tanpa permisi. "Biar lo nggak nyasar pas mau ke kantin atau perpus nanti. Oh, dan satu tips: kalau mau ke kantin sekarang, kita harus lari kayak ninja karena antreannya horor!"

Tanpa menunggu jawaban, Akari sudah menarik lengan Ichika, membawanya keluar dari kelas 1-3 menuju koridor yang mulai ramai. Ichika hanya bisa pasrah mengikuti langkah cepat teman barunya itu, merasakan beban di dadanya sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh tawa renyah Akari yang menggema di sepanjang lorong.

"Oke, perjalanan dimulai! Tadi maaf ya gara-gara gue lo sendirian," ucap Akari sambil tertawa santai. Ia menunjuk ke arah koridor kanan. "Di sana itu laboratorium, jangan ke sana kalau nggak ada jadwal, baunya nggak enak. Terus di depan itu kantin, tapi kalau mau dapet roti yakisoba favorit sekolah ini, lo harus bisa pinter rebutan."

Ichika tertawa kecil, langkah kakinya berusaha menyamai ritme cepat Akari yang seakan tak punya lelah. Mereka bergerak melewati deretan loker kayu yang aromanya khas, sesekali mata Ichika menangkap warna-warni dari papan pengumuman klub yang penuh dengan selebaran kertas yang tumpang tindih. Sepanjang koridor itu, Akari terus berceloteh tanpa henti. Gadis itu menjelaskan dengan detail mana saja guru yang memiliki temperamen galak, hingga menunjukkan sudut-sudut tersembunyi di balik tangga atau di antara ruang klub yang sering dijadikan tempat persembunyian terbaik jika seseorang ingin mencuri waktu untuk membolos.

Namun, langkah mereka melambat saat memasuki koridor yang menuju ke arah bangunan lama. Akari mulai bercerita dengan nada yang sedikit lebih serius, mengungkapkan bahwa SMA Karasuno yang mereka pijak sekarang dulunya tidak setenar dan sehidup ini. Sekolah ini pernah melewati masa-masa kelam di mana reputasinya merosot tajam.

Dahulu, ternyata Karasuno hanyalah sebuah sekolah pinggiran yang suram dan mulai kehilangan daya tariknya. Prestasi akademiknya biasa saja, sementara klub-klub kegiatannya seolah kehilangan taring, membuat masyarakat sekitar melabeli sekolah ini sebagai tempat bagi mereka yang "putus asa" sekadar pelarian bagi siswa yang tidak diterima di sekolah-sekolah elite kota besar.

Julukan "Gagak yang tak bisa terbang" bukan lagi sekadar ejekan untuk tim voli yang prestasinya sedang anjlok, melainkan menjadi stigma yang menyelimuti seluruh sekolah. Karasuno dipandang sebagai "Raksasa yang Terjatuh", sebuah institusi yang pernah berjaya namun kemudian kehilangan jati diri dan semangatnya. Nama besar yang dulu ditakuti di lapangan voli Nasional perlahan memudar hingga nyaris sunyi, koridor yang terasa dingin, dan masa depan yang tak lagi jelas bagi siapa pun yang berdiri di bawah benderanya.

Ichika mendengarkan narasi itu dengan perasaan yang mendadak berat. Kisah tentang kejayaan yang perlahan terlupakan itu terasa begitu personal baginya. Ia seolah bercermin pada sejarah sekolah ini; tentang bagaimana sebuah martabat bisa runtuh dan dipandang sebelah mata hanya karena keadaan yang telah berubah.

Namun, binar di mata Akari kembali muncul saat menceritakan perubahan atmosfer Karasuno belakangan ini. Semangat baru berembus sejak tim voli putra kembali menemukan "sayap" mereka dan menembus tingkat Nasional. Keberhasilan itu menghapus label sekolah "buangan", menggantinya dengan citra tempat bagi mereka yang berani bangkit. Kini, setiap sudut sekolah terasa lebih berenergi, membuktikan bahwa gagak-gagak ini telah kembali belajar terbang tinggi.

Langkah Akari akhirnya terhenti tepat di depan pintu ganda besar yang terbuat dari besi berat.

"Nah, sampailah kita di jantungnya Karasuno!" seru Akari sambil merentangkan kedua tangannya dengan girang, seolah sedang memperkenalkan sebuah istana megah.

Ichika berdiri terpaku, menatap pintu besar itu dengan perasaan campur aduk. Aroma khas gedung olahraga—perpaduan antara kayu lama dan udara yang hangat—mulai menyapa indranya.

"Di dalam sana ada tim voli putra," lanjut Akari, suaranya naik satu oktav karena antusias. "Mereka itu bener-bener pahlawan sekolah sekarang! Lo harus lihat gimana mereka latihan. Isinya kakak kelas cogan semua! Ada Kak Ennoshita yang senyumnya bikin adem, Kak Nishinoya yang keren abis pas jagain bola, sampai Kak Kageyama yang meskipun galak tapi mukanya itu... uuh, berkarisma banget! Pokoknya cuci mata gratis, deh!"

Akari kemudian melirik jam tangannya dan menghela napas pendek. "Tapi yah, sayang banget... kalau mau lihat mereka latihan langsung dan lebih lama, harus nunggu pas jam pulang sekolah nanti. Karena sekarang bukan jadwal mereka buat latihan."

Akari pun berbalik, mengajak Ichika untuk melanjutkan tur keliling sekolah mereka yang sempat tertunda. "Yuk, lanjut ke kantin! Gue laper banget nih."

Ichika mengangguk pelan, namun langkahnya tidak langsung mengikuti Akari. Ia berhenti sejenak, memutar tubuhnya untuk menatap gedung olahraga itu sekali lagi. Matanya terpaku pada bangunan besar itu. Ada keraguan sekaligus perasaan aneh yang membuncah di dadanya, sebelum akhirnya ia membuang napas panjang dan melangkah pergi menyusul Akari.

................

Skip jam istirahat selesai.

"Nih."

Ichika menerima secarik kertas dari gurunya. Sebuah formulir pendaftaran ekstrakurikuler.

"Peraturan sekolah tahun ini diperketat," jelas sang guru sambil merapikan tumpukan buku di mejanya. "Setiap siswa kelas satu dan dua wajib memiliki minimal satu klub yang diikuti. Tidak ada pengecualian."

Ichika menatap kertas putih bersih itu dengan ragu. "Wajib, Pak?"

"Benar. Tapi tenang saja, jangan terburu-buru memilih kalau memang belum ada yang cocok," tambah gurunya dengan nada yang lebih santai. "Sore ini setelah bel pulang, kamu boleh mampir dulu ke gedung olahraga atau ruang-ruang klub lainnya untuk lihat-lihat. Cari saja yang sekiranya menarik buatmu."

Ichika mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia merasa sedikit berat. Ia memasukkan formulir itu ke dalam saku roknya, sementara pikirannya kembali melayang ke gedung olahraga yang ia kunjungi bersama Akari tadi.

Akhirnya jam pulang pun berbunyi.

Seluruh siswa berhambur keluar kelas, sibuk memikirkan apa yang akan mereka lakukan sepulang sekolah. Namun, tidak dengan Ichika. Sedari jam pelajaran tadi ia tidak bisa fokus; pikirannya penuh dengan kebingungan memilih klub, sementara jadwal kerja part-time dan waktu untuk menemani ibunya sudah mengantre sepulang sekolah.

“Aku harus pilih apa, ya…,” batinnya bimbang.

"Ichika-chan!!" teriak Akari, membuyarkan lamunan Ichika.

"Gomen! Gue nggak bisa nemenin lo keliling klub sore ini karena ada urusan keluarga mendadak!" ujar Akari dengan kedua telapak tangan yang menangkup rapat di depan wajahnya.

Ichika tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang khas anak pertama yang sudah terbiasa mengalah dan memahami situasi. "Nggak apa-apa, Akari-chan. Urusan keluarga itu lebih penting, kan? Santai aja aku bisa keliling sendiri kok," ucap Ichika lembut.

"Duh, lo emang malaikat! Padahal gue pengen banget nemenin lo nyari klub biar nggak nyasar!" Akari spontan memeluk Ichika sejenak sebelum akhirnya buru buru menyampirkan tasnya di bahu. "Gue duluan ya! Kabari gue kalau lo dah dapet klubnya!" seru Akari sambil mulai berlari menjauh, melambaikan tangannya penuh semangat sampai sosoknya menghilang di tikungan koridor.

Kini Ichika benar-benar sendirian di tengah keheningan sekolah yang mulai ditinggalkan penghuninya. Ia merogoh saku roknya, merasakan tekstur kertas formulir yang masih tersimpan di sana. Dengan hela napas panjang, ia mulai melangkah keluar kelasnya.

"Ya udahlah, coba aja. Yang penting satu aja udah cukup, kan," gumamnya pada diri sendiri. Ia mulai berjalan menyusuri lorong kelas, mencari klub pertama yang akan dikunjungi.

Persinggahan pertamanya adalah Klub seni. Dari luar, ia bisa mencium aroma cat minyak dan melihat para anggotanya yang sedang asyik melukis dalam keheningan yang damai. 'Tenang banget di sini.Tapi apa aku bisa melukis? Punya bakat melukis aja kagak ada,' pikirnya ragu.

Ia kemudian bergeser ke Klub musik. Suara denting piano dan petikan gitar elektrik saling bersahutan dari balik pintu kedap suara. Ichika sempat melongok ke dalam, melihat anak-anak band yang tampak sangat keren dan penuh energi. Namun, membayangkan dirinya harus tampil di depan banyak orang saat festival sekolah nanti langsung membuat nyalinya ciut.

Ia juga sempat melewati Klub memasak. Aroma mentega dan gula yang baru matang seketika menyeruak, membuat langkahnya terhenti. Sebenarnya, Ichika sangat berbakat dalam memasak, terutama membuat aneka kue. Di rumah, jemarinya sangat lincah mengolah adonan hingga menjadi pastry yang cantik.

Namun, ia menghela napas panjang dan langsung menggelengkan kepalanya pelan. Ia tahu betul betapa banyaknya peralatan dapur yang harus dibersihkan setelah praktik. Dengan jadwal kerja sampingan dan kewajiban menemani ibunya, ia benar-benar tidak akan punya waktu luang untuk itu.

Langkah kakinya terus membawanya semakin menjauh dari gedung utama, hingga tanpa sadar ia kembali ke arah gedung olahraga yang pernah ditunjukkan Akari tadi siang. Suara dentuman bola dan teriakan semangat terdengar dari dalam gedung itu.

Ichika berhenti beberapa menter dari pintu masuk. Ia ragu antara masuk atau tidak karena rasa penasarannya yang sedari tadi membuncah di dadanya.

'Cuma ngintip dikit nggak apa-apa kali ya... Lagian kata Akari kan mereka jantungnya karasuno,' pikiranya berusaha mencari pembenaran.

Akhirnya, Ichika memutuskan untuk mengambil jalan memutar. Ia berjalan mengendap-endap menuju deretan jendela besar di samping gedung yang letaknya agak tinggi. Dengan sedikit berjinjit, ia menempelkan kedua tangannya di bingkai jendela dan mulai melongokkan kepalanya sedikit demi sedikit.

Dari balik kaca, ia bisa melihat pemandangan yang jauh lebih intens. Di sana, para pemain tidak lagi sekadar pemanasan. Ichika terpaku melihat cowok berambut gelap memberi umpan super cepat yang disambut lompatan tinggi pemain lain.

Bola menghantam lantai dengan keras. Saat pemain itu mendarat, Ichika terbelalak. 'Eh? Cowok rambut oranye itu... Yang tadi pagi tasnya nyangkut?!' batinnya kaget. Ia tak menyangka cowok ceroboh itu adalah pemain voli.

Saat ia sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba sebuah suara seseorang terdengar dari sampingnya.

"Kamu lagi ngapain?"

Ichika tersentak kaget dan langsung menoleh. Di sana berdiri seorang gadis mungil berambut kuning pucat dengan jepit rambut bintang yang manis. Gadis itu melemparkan senyum ramah yang membuat suasana canggung Ichika sedikit mencair.

Pandangan gadis itu kemudian beralih ke arah tangan Ichika. "Eh, itu formulir pendaftaran klub, kan?" tanyanya dengan mata berbinar. "Kamu mau daftar ke klub voli juga, ya?"

Ichika tergagap, "Ah, ini... aku cuma—"

"Wah, kebetulan banget! Kita juga lagi butuh manejer baru," potong gadis itu dengan semangat sambil menjulurkan tangannya. "Ayo masuk saja! Lihat dari dalam jauh lebih jelas daripada dari sini," ajak gadis itu tanpa ragu. Ia lalu menuntun Ichika masuk ke dalam gedung olahraga melalui pintu samping. Begitu sampai di pinggir lapangan, gadis berambut kuning itu langsung melambaikan tangannya ke arah para pemain.

"Semuanya! Ada yang mau jadi manejer baru, nih!" serunya dengan suara ceria.

Seketika, perhatian beberapa pemain yang tadinya fokus ke bola mulai beralih. Cowok berambut oranye yang tadi dilihat Ichika langsung menoleh dengan mata berbinar, sementara beberapa pemain lain mulai mendekat karena penasaran dengan sosok siswi baru yang dibawa oleh gadis berambut kuning tersebut.

Ichika hanya bisa berdiri kaku di samping gadis itu, meremas pelan formulir di tangannya sambil berharap ada pahlawan super yang mau menolongnya di kekacauan ini.

'Mati aku, aku kan cuma mau lihat-lihat!'

................

Sangkyuu telah membaca story ini!! Semangatin author terus yaw!

Terpopuler

Comments

annura pengen produktif

annura pengen produktif

semangat thor🥰🫰

2026-02-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!