BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta

​Sudah satu minggu sejak terakhir kali dirinya tidak sengaja menabrak Rangga, Senja tidak lagi melihat sosok pria berompi oranye itu di parkiran kantor.

Setiap kali memarkirkan mobil, matanya refleks mencari ke arah tikungan tempat mereka pertama kali bertemu. Berharap akan melihat Rangga lagi. Tapi, yang ada hanyalah Pak Bejo, tukang parkir senior yang wajahnya selalu terlihat lelah.

​Karena rasa penasaran yang tidak bisa dibendung, Senja akhirnya memberanikan diri menghampiri Pak Bejo sore itu, sambil membawa sebotol air mineral dingin.

​"Pak, Mas Rangga sudah tidak kerja di sini lagi?" tanya Senja setelah berbasa-basi sebentar.

​Pak Bejo menerima botol itu dengan senang hati. "Oalah, Mbak Senja. Rangga sudah balik ke habitat aslinya, Mbak. Kemarin dia cuma bantu saya sebentar karena saya sakit."

​"Habitat asli? Memangnya Mas Rangga kerja di mana, Pak?"

​"Dia itu penyanyi, Mbak. Suaranya bagus sekali. Kalau malam Minggu begini, biasanya dia manggung di Kafe Semesta daerah Legian. Mbak cari saja di sana kalau mau ketemu," jawab Pak Bejo sambil tersenyum lebar.

​Senja tertegun. Penyanyi? Pikirannya langsung melayang membayangkan pria yang ia tabrak itu memegang mikrofon, bukan lagi mengatur barisan motor.

...----------------...

Malam Minggu di Bali selalu penuh dengan hingar bingar. Senja yang biasanya lebih suka menghabiskan waktu dengan menggambar sketsa bangunan di kamarnya, kini justru terjebak dalam kemacetan menuju Legian. Ada dorongan aneh di hatinya untuk melihat Rangga dengan identitas barunya itu.

​Begitu sampai di Kafe Semesta, telinganya langsung disambut petikan gitar akustik yang lembut. Kafe itu tidak terlalu besar, tapi sangat hangat dengan lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram. Senja memilih meja paling pojok, berusaha agar kehadirannya tidak terlalu mencolok.

​Di atas panggung kecil, ia melihat sosok itu.

​Rangga tampak sangat berbeda. Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas di tubuhnya, rambutnya tertata sedikit acak tapi terlihat keren di bawah sorotan lampu panggung.

Saat jemarinya mulai memetik senar gitar, suasana kafe mendadak hening.

​Rangga mulai bernyanyi. Suaranya berat, sedikit serak, tapi terasa sangat tulus saat membawakan lagu tentang kerinduan. Senja terpaku. Ia tidak menyangka tukang parkir yang tempo hari meringis kesakitan itu bisa terlihat begitu berkarisma saat sedang bermusik.

​Saat lagu berakhir, Rangga menyeka keringat di dahinya. Matanya menyapu ruangan, dan tiba-tiba pandangannya terkunci pada sosok Senja. Rangga sempat terlihat terkejut selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah senyum lebar terukir di wajahnya.

​"Terima kasih semuanya," ucap Rangga ke mikrofon, matanya masih menatap Senja. "Sesi pertama selesai, kita lanjut lima belas menit lagi."

​Rangga segera meletakkan gitarnya dan berjalan menghampiri meja Senja.

​"Mbak Arsitek? Benar-benar kejutan. Saya pikir Mbak salah alamat," sapa Rangga sambil tertawa kecil.

​Senja tersenyum canggung. "Pak Bejo yang bilang Mas Rangga di sini. Saya cuma mau memastikan kalau lutut Mas sudah benar-benar sembuh."​

Rangga menarik kursi di depan Senja tanpa ragu.

"Sudah sembuh total, Mbak. Apalagi sekarang yang nanya langsung orang yang menabrak saya."

​"Mas sudah lama jadi penyanyi?" tanya Senja, mencoba mengalihkan pembicaraan karena merasa wajahnya mulai memanas.

​"Lama juga, Mbak. Tapi ya begini saja, dari kafe ke kafe. Mimpi saya sih ingin punya studio sendiri, ingin jadi DJ atau produser, biar tidak cuma menyanyikan lagu orang lain terus," Rangga bercerita dengan binar mata yang penuh ambisi.

​Senja mendengarkan dengan saksama. Baginya, ambisi Rangga terasa sangat murni. "Mas punya bakat. Kalau didukung dengan alat yang benar, Mas pasti bisa lebih sukses dari ini."

​"Alat musik itu mahal, Mbak. Buat makan sehari-hari saja saya harus pintar-pintar bagi waktu. Tapi nggak apa-apa, jalani saja dulu," sahut Rangga pelan, suaranya terdengar pasrah tapi tetap tenang.

​Entah karena suasana kafe yang romantis atau karena hatinya yang memang mudah tersentuh, Senja tiba-tiba merasa ingin menjadi bagian dari mimpi pria itu. "Mas... kalau Mas mau, aku bisa bantu. Aku punya sedikit tabungan. Mungkin kita bisa mulai beli alat-alatnya pelan-pelan."

​Rangga terdiam. Menatap Senja lama sekali, seolah sedang mencari kejujuran di mata wanita itu. "Kenapa kamu baik sekali, Mbak? Kita bahkan baru kenal."

​"Karena aku percaya sama Mas. Dan aku ingin lihat Mas sukses di atas panggung yang lebih besar," jawab Senja tulus.

​Malam itu, percakapan mereka mengalir begitu saja. Rangga tidak lagi memanggilnya "Mbak", dan Senja merasa sekat-sekat di hatinya perlahan runtuh.

​Tiga minggu berlalu dengan sangat cepat. Hubungan mereka berkembang jauh lebih intens dari yang dibayangkan Senja. Hampir setiap sore Senja menemani Rangga latihan, bahkan ia benar-benar membelikan perlengkapan musik yang Rangga butuhkan. Bagi Senja, uang itu tidak ada artinya dibanding senyum bahagia yang terpancar dari wajah calon suaminya.

​Puncaknya terjadi di pinggir pantai Jimbaran. Rangga mengajak Senja makan malam sederhana dengan jagung bakar dan es kelapa muda di atas pasir.

​"Senja," panggil Rangga. Suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.

​"Iya, Mas?"

​Rangga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya ada sebuah cincin perak yang sangat sederhana.

​"Aku tahu aku belum punya apa-apa sekarang. Aku cuma laki-laki yang hidupnya masih menumpang di kebaikan kamu. Tapi kalau kamu mau sabar, aku ingin kita jalani masa depan bareng-bareng. Kamu mau menikah denganku?"

​Senja merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Air mata haru mulai menggenang di sudut matanya. Ia tidak peduli Rangga punya apa atau tidak. Ia hanya merasa Rangga adalah satu-satunya orang yang membutuhkannya dengan tulus di pulau ini.

​"Iya, Mas. Aku mau," jawab Senja mantap.

​Rangga langsung memeluk Senja erat, mencium keningnya berkali-kali. "Terima kasih, Sayang. Aku janji, aku akan kerja keras. Aku akan ratukan kamu di rumah kita nanti."

​Senja tersenyum dalam pelukan itu. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena bisa membantu pria yang ia cintai dari titik nol. Ia membayangkan betapa indahnya nanti saat mereka pindah ke rumah pribadinya di Semarang dan memulai hidup baru.

​Senja benar-benar tidak menyadari bahwa janjinya untuk "sabar" menemani dari nol akan dibalas dengan pengkhianatan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan dalam mimpi buruknya sekalipun.

Senja tidak tau, biasanya kesuksesan akan merubah watak seseorang, ia begitu mempercayai Rangga dengan segenap hatinya, entah dirinya buta karena cinta, atau memang Senja adalah pribadi yang mudah tersentuh.

Bersama Rangga ia merasa kekosongan karena kehilangan ayahnya kini terisi.

Terpopuler

Comments

Yayang Lop3♡ Risa

Yayang Lop3♡ Risa

Senja kamu ngga melihat Rangga satu minggu membuat kamu mencari informasi ke pak Bejo tentang Rangga

2026-01-15

1

@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍

@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍

Senja sebelum mencintai Rangga kamu pikir ulang lagi takut cuma di manfaatkan Rangga doang

2026-01-15

1

Risa Yayang Cinta Sejati

Risa Yayang Cinta Sejati

Senja memberikan sebotol air mineral dingin ke pak Bejo sekalian menanyakan tentang Rangga

2026-01-15

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata
2 BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta
3 BAB 3: Pesan-Pesan yang Diabaikan
4 BAB 4: Restu Ibu dan Janji Suci
5 BAB 5: Awal Pengorbanan
6 BAB 6: Gemerlap Dunia DJ
7 BAB 7: Sandiwara di Meja Makan
8 BAB 8: Aroma Kebohongan
9 BAB 9: Tagihan yang Tertunda
10 BAB 10: Reruntuhan yang Bersih
11 BAB 11: Serangan Balik Sang Bintang
12 BAB 12: Tamu dari Masa Lalu
13 BAB 13: Sandiwara Putus Asa
14 BAB 14: Sidang Pertama yang Panas
15 BAB 15: Umpan untuk Sang Pahlawan
16 BAB 16: Retakan Pertama di Rumah Sinta
17 BAB 17: Tamparan Realita Pertama
18 BAB 18: Jebakan Hutang
19 BAB 19: Pertemuan di Atas Awan
20 ​BAB 20: Puncak Kepalsuan
21 BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Jakarta
22 BAB 22: Hidup di Bawah Reruntuhan
23 BAB 23: Cakrawala Baru
24 BAB 24: Sketsa yang Berbeda
25 BAB 25: Pilar yang Goyah
26 BAB 26: Benalu yang Kembali Tumbuh
27 BAB 27: Konstruksi Balas Lapis
28 BAB 28: Sisa-Sisa Harga Diri
29 BAB 29: Runtuhnya Tabir Reputasi
30 BAB 30: Fondasi yang Tak Tergoyahkan
31 BAB 31: Air Mata Buaya di Ibu Kota
32 BAB 32: Pilar Kesendirian
33 BAB 33: Pertaruhan di Atas Meja
34 BAB 34: Sabotase dan Siasat
35 BAB 35:Cahaya di Ujung Badai
36 BAB 36: Pelabuhan di Tengah Badai
37 BAB 37: Bayangan di Kota Lama
38 BAB 38: Runtuhnya Tahta Sang Tiran
39 BAB 39: Puncak dan Jurang
40 BAB 40: Sapu Tangan dan Rahasia
41 BAB 41: Benalu yang Tak Mati
42 BAB 42: Transformasi Sang Pelindung
43 BAB 43: Perisai yang Tak Tergoyahkan
44 BAB 44: Pelajaran Tentang Harga Diri
45 BAB 45: Balutan Sutra dan Rahasia Keluarga
46 BAB 46: Dansa di Atas Bara
47 BAB 47: Benteng yang Tak Terlihat
48 BAB 48: Racun dalam Secangkir Teh
49 BAB 49: Janji di Balik Kesederhanaan
50 BAB 50: Retakan dalam Keheningan
51 BAB 51: Amarah Sang Pelindung
52 Bab 52
53 BAB 53: Rahasia di Balik Koper Tua
54 BAB 54: Di Antara Hidup dan Pengkhianatan
55 BAB 55: Detik yang Menentukan
56 BAB 56: Labirin Asap dan Darah
57 BAB 57: Pertaruhan di Langit Jakarta
58 BAB 58: Jebakan di Negeri Kanguru
59 BAB 59: Sisa Napas di Kedalaman
60 BAB 60: Warisan yang Berdarah
61 BAB 61: Malaikat Maut di Balik Lensa
62 BAB 62: Labirin Api dan Pertaruhan Nyawa
63 BAB 63: Rahasia di Balik Kelontong Tua
64 BAB 64: Di Balik Jeruji Kesetiaan
65 BAB 65: Ambisi yang Terusik
66 BAB 66: Tamu yang Tak Diundang
67 Jaring Sutra Sang Arsitek
68 Detik-Detik yang Menentukan
69 Bayangan Dari Masa Lalu
70 Retak dalam Darah
71 Jebakan Sang Arsitek
72 Pelabuhan Air Mata
73 Gema di Ruang Hampa
74 Di Tepi Jurang Keputusasaan
75 Pilihan yang Menghancurkan
76 Puing-Puing Harapan
77 Labirin di Hutan Utara
78 Fondasi yang Retak
79 Amnesia
80 Insting yang Tertinggal
81 Fondasi Abadi
Episodes

Updated 81 Episodes

1
BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata
2
BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta
3
BAB 3: Pesan-Pesan yang Diabaikan
4
BAB 4: Restu Ibu dan Janji Suci
5
BAB 5: Awal Pengorbanan
6
BAB 6: Gemerlap Dunia DJ
7
BAB 7: Sandiwara di Meja Makan
8
BAB 8: Aroma Kebohongan
9
BAB 9: Tagihan yang Tertunda
10
BAB 10: Reruntuhan yang Bersih
11
BAB 11: Serangan Balik Sang Bintang
12
BAB 12: Tamu dari Masa Lalu
13
BAB 13: Sandiwara Putus Asa
14
BAB 14: Sidang Pertama yang Panas
15
BAB 15: Umpan untuk Sang Pahlawan
16
BAB 16: Retakan Pertama di Rumah Sinta
17
BAB 17: Tamparan Realita Pertama
18
BAB 18: Jebakan Hutang
19
BAB 19: Pertemuan di Atas Awan
20
​BAB 20: Puncak Kepalsuan
21
BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Jakarta
22
BAB 22: Hidup di Bawah Reruntuhan
23
BAB 23: Cakrawala Baru
24
BAB 24: Sketsa yang Berbeda
25
BAB 25: Pilar yang Goyah
26
BAB 26: Benalu yang Kembali Tumbuh
27
BAB 27: Konstruksi Balas Lapis
28
BAB 28: Sisa-Sisa Harga Diri
29
BAB 29: Runtuhnya Tabir Reputasi
30
BAB 30: Fondasi yang Tak Tergoyahkan
31
BAB 31: Air Mata Buaya di Ibu Kota
32
BAB 32: Pilar Kesendirian
33
BAB 33: Pertaruhan di Atas Meja
34
BAB 34: Sabotase dan Siasat
35
BAB 35:Cahaya di Ujung Badai
36
BAB 36: Pelabuhan di Tengah Badai
37
BAB 37: Bayangan di Kota Lama
38
BAB 38: Runtuhnya Tahta Sang Tiran
39
BAB 39: Puncak dan Jurang
40
BAB 40: Sapu Tangan dan Rahasia
41
BAB 41: Benalu yang Tak Mati
42
BAB 42: Transformasi Sang Pelindung
43
BAB 43: Perisai yang Tak Tergoyahkan
44
BAB 44: Pelajaran Tentang Harga Diri
45
BAB 45: Balutan Sutra dan Rahasia Keluarga
46
BAB 46: Dansa di Atas Bara
47
BAB 47: Benteng yang Tak Terlihat
48
BAB 48: Racun dalam Secangkir Teh
49
BAB 49: Janji di Balik Kesederhanaan
50
BAB 50: Retakan dalam Keheningan
51
BAB 51: Amarah Sang Pelindung
52
Bab 52
53
BAB 53: Rahasia di Balik Koper Tua
54
BAB 54: Di Antara Hidup dan Pengkhianatan
55
BAB 55: Detik yang Menentukan
56
BAB 56: Labirin Asap dan Darah
57
BAB 57: Pertaruhan di Langit Jakarta
58
BAB 58: Jebakan di Negeri Kanguru
59
BAB 59: Sisa Napas di Kedalaman
60
BAB 60: Warisan yang Berdarah
61
BAB 61: Malaikat Maut di Balik Lensa
62
BAB 62: Labirin Api dan Pertaruhan Nyawa
63
BAB 63: Rahasia di Balik Kelontong Tua
64
BAB 64: Di Balik Jeruji Kesetiaan
65
BAB 65: Ambisi yang Terusik
66
BAB 66: Tamu yang Tak Diundang
67
Jaring Sutra Sang Arsitek
68
Detik-Detik yang Menentukan
69
Bayangan Dari Masa Lalu
70
Retak dalam Darah
71
Jebakan Sang Arsitek
72
Pelabuhan Air Mata
73
Gema di Ruang Hampa
74
Di Tepi Jurang Keputusasaan
75
Pilihan yang Menghancurkan
76
Puing-Puing Harapan
77
Labirin di Hutan Utara
78
Fondasi yang Retak
79
Amnesia
80
Insting yang Tertinggal
81
Fondasi Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!