AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata

Suasana ruang tunggu keberangkatan Bandara Ahmad Yani, Semarang, terasa begitu menyesakkan bagi Senja.

Bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan karena beratnya beban di pundak yang harus ia bawa ke tanah perantauan. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan kebaya kutubaru sederhana terus menggenggam tangan Senja, seolah jika dilepas sebentar saja, anak tunggalnya itu akan hilang ditelan bumi.

​"Nduk, kalau sudah sampai di Bali nanti, langsung telepon Ibu ya? Jangan tunggu sampai malam," suara Ibu Senja bergetar, tapi matanya tetap berusaha menatap Senja dengan tegar.

​Senja mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kaku. Sejak Ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung saat Senja masih berusia sepuluh tahun, dunianya hanya berputar pada Ibunya.

Mereka berjuang bersama; Ibu dengan toko kelontongnya, dan Senja dengan ambisi sekolahnya. Kini, setelah ia berhasil meraih gelar Arsitek dan sempat bekerja beberapa tahun di Semarang, sebuah tawaran emas datang dari firma arsitektur ternama di Bali untuk menangani proyek luxury resort di Uluwatu.

​"Ibu jangan khawatir. Senja sudah siapin stok obat darah tinggi Ibu untuk tiga bulan ke depan. Senja juga sudah titip pesan ke Mbak Lastri tetangga depan buat bantu Ibu kalau mau belanja ke pasar," bisik Senja sambil mengusap punggung tangan Ibunya yang mulai keriput.

​"Ibu bukan anak kecil, Senja. Kamu yang harus hati-hati di sana. Bali itu jauh, budayanya beda, orang-orangnya datang dari seluruh dunia. Ingat pesan Ibu, jangan gampang percaya sama orang yang bermulut manis. Di dunia ini, banyak orang yang terlihat baik hanya karena ada maunya."

"Tapi jangan juga menutup diri, Nduk."

​Pengumuman boarding menggema, membelah keheningan antara ibu dan anak itu. Senja memeluk Ibunya sangat erat, menghirup dalam-dalam aroma bedak dingin yang selalu menjadi penenang jiwanya.

Saat kaki Senja melangkah melewati gerbang keberangkatan, ia tidak berani menoleh. Ia tahu, jika ia melihat satu saja tetes air mata jatuh di pipi Ibunya, ia akan melepaskan tiket pesawat itu dan memilih kembali ke rumah lama mereka di sudut Semarang.

...----------------...

​Pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai saat matahari Bali sedang berada tepat di atas kepala. Begitu keluar dari pintu kedatangan, Senja langsung disambut udara lembap yang kental dengan aroma dupa dan garam laut. Baginya, Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan medan tempur baru untuk kariernya sebagai desainer interior dan arsitek.

​Seminggu pertama di Bali terasa seperti ujian mental. Senja menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor firma arsitek di daerah Denpasar, berkutat dengan maket, sketsa ruangan, dan tumpukan material contoh.

Ia adalah seorang perfeksionis. Baginya, setiap sudut ruangan harus punya jiwa, dan setiap fondasi harus kokoh tanpa kompromi. Sifat itulah yang membuatnya sukses, tapi sekaligus membuatnya menjadi pribadi yang sedikit tertutup dan kaku.

​"Bali ternyata sangat bising kalau kita tidak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita," gumam Senja, sambil menatap pantulan dirinya di cermin kosan.

​Pagi itu, Senja sedikit terburu-buru. Ia harus mempresentasikan konsep interior untuk sebuah villa mewah di hadapan direktur firma.

Dengan mobil putih yang ia sewa, Senja membelah jalanan Denpasar yang mulai padat dengan motor para pekerja. Pikirannya melayang pada detail plafon dan pemilihan marmer yang akan ia presentasikan. Ia begitu fokus pada jam di dasbor yang sudah menunjukkan pukul 07.45.

​Saat memasuki pelataran parkir kantornya, Senja tidak menyadari ada seorang pria berompi oranye yang sedang sibuk menggeser beberapa motor untuk merapikan barisan. Karena pandangannya terhalang oleh pilar beton dan pikirannya yang sedang semrawut, Senja mengambil tikungan terlalu tajam.

​BRAKK!

​Suara benturan itu tidak terlalu nyaring, tapi guncangannya cukup untuk membuat jantung Senja hampir melompat keluar. Dari kaca spion, ia melihat seorang pria tersungkur di aspal, sementara sebuah motor matic roboh menimpanya.

​"Ya Tuhan! Apa yang aku lakukan?" Senja segera mematikan mesin dan berlari keluar dengan wajah pucat pasi.

​Ia menghampiri pria itu yang sedang berusaha duduk sambil memegangi lututnya yang berdarah. Rompi oranye yang ia kenakan tampak sedikit robek di bagian bahu. Senja merasa dunianya runtuh; menabrak orang di tanah rantau adalah mimpi buruk bagi siapa pun.

​"Mas! Mas nggak apa-apa? Maaf, maaf banget! Saya benar-benar nggak lihat tadi," Senja berjongkok di samping pria itu, tangannya gemetar hebat. Ia sudah bersiap untuk dimarahi habis-habisan, atau bahkan diteriaki oleh satpam kantor.

​Tapi, pria itu justru mendongak pelan. Alih-alih wajah penuh amarah, Senja justru menemukan sepasang mata yang terlihat tenang, meskipun dahinya mengernyit menahan perih.

​"Aduh, Mbak... lain kali kalau bawa mobil jangan sambil mikirin utang ya? Kasihan aspalnya, jadi kena darah saya," ucap pria itu sambil terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah, dengan logat yang sangat familiar di telinga Senja—logat Jawa Timur yang kental.

​Senja tertegun sejenak. "Mas malah bercanda. Itu lututnya luka parah, Mas. Ayo saya antar ke klinik, atau saya ganti rugi ya? Berapa Mas?"

​Pria itu—Rangga—berdiri perlahan dengan bantuan Senja. Ia mengangkat motor yang tadi terjatuh dengan satu tangan seolah itu adalah benda ringan.

"Nggak usah, Mbak. Cuma lecet dikit, biasa ini buat tukang parkir serabutan kayak saya. Mbak mending buru-buru masuk deh, itu bapak-bapak di dalam sudah pada ngintip dari kaca, kayaknya Mbak sudah ditungguin rapat."

​"Tapi Mas..."

​"Sudah, sana. Nama saya Rangga. Kalau Mbak merasa bersalah banget, nanti sore pas pulang jangan tabrak saya lagi ya? Cukup kasih senyum saja, biar panasnya Bali jadi agak adem," Rangga mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum tulus, memperlihatkan deretan gigi yang rapi.

​Senja terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Sebagai arsitek, ia selalu menilai segala sesuatu dari strukturnya. Dan pria di depannya ini punya "struktur" yang aneh. Di tengah kesulitan dan rasa sakit, ia justru memilih untuk menghibur orang lain. Ada kehangatan yang mendadak merayap di hati Senja, sebuah perasaan aman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak Ayahnya tiada.

​Sepanjang rapat, presentasi Senja berjalan lancar, tapi fokusnya terbagi. Ia terus saja melirik ke arah jendela, membayangkan pria berompi oranye itu masih berdiri di bawah terik matahari dengan lutut yang terluka.

​Begitu jam kantor selesai, Senja tidak langsung memacu mobilnya pulang. Ia sengaja mampir ke apotek terdekat untuk membeli plester, cairan pembersih luka, dan beberapa bungkus makanan serta es teh manis. Senja memarkirkan mobilnya agak jauh dan berjalan kaki menghampiri Rangga yang sedang duduk di trotoar, sedang mengipasi lehernya dengan topi kain yang sudah lusuh.

​"Mas Rangga," panggil Senja pelan.

​Rangga mendongak, matanya membelalak kaget. "Lho, Mbak Arsitek? Belum pulang? Mau nabrak saya lagi ya?"

​Senja tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair. "Enggak, Mas. Ini... saya bawa obat buat lutut Mas, sama ada nasi kotak buat makan sore. Maaf ya, tadi pagi saya benar-benar nggak fokus."

​Rangga menatap plastik di tangan Senja, lalu menatap wajah Senja dengan pandangan yang dalam. "Mbak, saya ini cuma tukang parkir. Harusnya saya yang minta maaf kalau posisi motornya tadi agak ke tengah. Mbak nggak perlu repot-repot begini."

​"Saya juga perantau di sini, Mas. Saya tahu rasanya luka tapi nggak ada yang ngobatin," sahut Senja sambil ikut duduk di trotoar di samping Rangga, mengabaikan rok kerjanya yang mahal. "Kita makan bareng ya? Saya juga belum makan dari siang."

​Rangga terdiam, kemudian tersenyum sangat manis. "Ya sudah kalau Mbak maksa. Tapi makannya jangan di sini, malu saya dilihatin orang kantor Mbak. Kita duduk di balik tembok sana saja, lebih adem."

​Sore itu, di balik tembok beton area parkir, Senja menemukan sisi lain dari Bali yang tidak pernah ia lihat di buku desain. Rangga bercerita kalau dia sudah dua tahun merantau, mengerjakan apa saja mulai dari tukang parkir sampai buruh angkut, asalkan halal. Ia punya mimpi besar untuk menjadi pemusik, tapi hidup di jalanan membuatnya harus realistis.

Senja mendengarkan dengan saksama. Baginya, Rangga seperti sebuah ruangan kosong yang luas namun belum ditata—punya potensi besar untuk menjadi sesuatu yang indah jika diberikan sentuhan yang benar. Di antara debu jalanan dan aroma knalpot, Senja merasakan sebuah koneksi yang tidak pernah ia temukan pada pria-pria mapan yang pernah mendekatinya.

​Ia tidak tahu, bahwa keraguannya pada pesan Ibunya pagi itu di bandara adalah awal dari sebuah desain hidup yang salah. Ia sedang mulai membangun sebuah "rumah" di atas tanah yang labil, menggunakan bahan-bahan perasaan yang ia kira kokoh, tanpa menyadari bahwa pondasi yang ia bangun hanya akan menjadi tempat bagi benalu untuk tumbuh subur.

Terpopuler

Comments

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏ💘ѕ⍣⃝✰

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏ💘ѕ⍣⃝✰

merantau jauh itu ga segampang yang diliat dari jauh, tapi asal kita mau usaha insa allah dimudahkan, semangat senja 🤗

2026-01-24

2

Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪

Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪

Senja kamu anak yang berbakti menyuruh mbak Lastri untuk membantu ibunya belanja ke pasar saat kamu akan merantau

2026-01-15

2

@Yayang Risa Couple Happy

@Yayang Risa Couple Happy

Senja kenapa kamu mau merantau padahal kerja di desa juga bisa supaya bisa menemani ibu kamu

2026-01-15

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata
2 BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta
3 BAB 3: Pesan-Pesan yang Diabaikan
4 BAB 4: Restu Ibu dan Janji Suci
5 BAB 5: Awal Pengorbanan
6 BAB 6: Gemerlap Dunia DJ
7 BAB 7: Sandiwara di Meja Makan
8 BAB 8: Aroma Kebohongan
9 BAB 9: Tagihan yang Tertunda
10 BAB 10: Reruntuhan yang Bersih
11 BAB 11: Serangan Balik Sang Bintang
12 BAB 12: Tamu dari Masa Lalu
13 BAB 13: Sandiwara Putus Asa
14 BAB 14: Sidang Pertama yang Panas
15 BAB 15: Umpan untuk Sang Pahlawan
16 BAB 16: Retakan Pertama di Rumah Sinta
17 BAB 17: Tamparan Realita Pertama
18 BAB 18: Jebakan Hutang
19 BAB 19: Pertemuan di Atas Awan
20 ​BAB 20: Puncak Kepalsuan
21 BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Jakarta
22 BAB 22: Hidup di Bawah Reruntuhan
23 BAB 23: Cakrawala Baru
24 BAB 24: Sketsa yang Berbeda
25 BAB 25: Pilar yang Goyah
26 BAB 26: Benalu yang Kembali Tumbuh
27 BAB 27: Konstruksi Balas Lapis
28 BAB 28: Sisa-Sisa Harga Diri
29 BAB 29: Runtuhnya Tabir Reputasi
30 BAB 30: Fondasi yang Tak Tergoyahkan
31 BAB 31: Air Mata Buaya di Ibu Kota
32 BAB 32: Pilar Kesendirian
33 BAB 33: Pertaruhan di Atas Meja
34 BAB 34: Sabotase dan Siasat
35 BAB 35:Cahaya di Ujung Badai
36 BAB 36: Pelabuhan di Tengah Badai
37 BAB 37: Bayangan di Kota Lama
38 BAB 38: Runtuhnya Tahta Sang Tiran
39 BAB 39: Puncak dan Jurang
40 BAB 40: Sapu Tangan dan Rahasia
41 BAB 41: Benalu yang Tak Mati
42 BAB 42: Transformasi Sang Pelindung
43 BAB 43: Perisai yang Tak Tergoyahkan
44 BAB 44: Pelajaran Tentang Harga Diri
45 BAB 45: Balutan Sutra dan Rahasia Keluarga
46 BAB 46: Dansa di Atas Bara
47 BAB 47: Benteng yang Tak Terlihat
48 BAB 48: Racun dalam Secangkir Teh
49 BAB 49: Janji di Balik Kesederhanaan
50 BAB 50: Retakan dalam Keheningan
51 BAB 51: Amarah Sang Pelindung
52 Bab 52
53 BAB 53: Rahasia di Balik Koper Tua
54 BAB 54: Di Antara Hidup dan Pengkhianatan
55 BAB 55: Detik yang Menentukan
56 BAB 56: Labirin Asap dan Darah
57 BAB 57: Pertaruhan di Langit Jakarta
58 BAB 58: Jebakan di Negeri Kanguru
59 BAB 59: Sisa Napas di Kedalaman
60 BAB 60: Warisan yang Berdarah
61 BAB 61: Malaikat Maut di Balik Lensa
62 BAB 62: Labirin Api dan Pertaruhan Nyawa
63 BAB 63: Rahasia di Balik Kelontong Tua
64 BAB 64: Di Balik Jeruji Kesetiaan
65 BAB 65: Ambisi yang Terusik
66 BAB 66: Tamu yang Tak Diundang
67 Jaring Sutra Sang Arsitek
68 Detik-Detik yang Menentukan
69 Bayangan Dari Masa Lalu
70 Retak dalam Darah
71 Jebakan Sang Arsitek
72 Pelabuhan Air Mata
73 Gema di Ruang Hampa
74 Di Tepi Jurang Keputusasaan
75 Pilihan yang Menghancurkan
76 Puing-Puing Harapan
77 Labirin di Hutan Utara
78 Fondasi yang Retak
79 Amnesia
80 Insting yang Tertinggal
81 Fondasi Abadi
Episodes

Updated 81 Episodes

1
BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata
2
BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta
3
BAB 3: Pesan-Pesan yang Diabaikan
4
BAB 4: Restu Ibu dan Janji Suci
5
BAB 5: Awal Pengorbanan
6
BAB 6: Gemerlap Dunia DJ
7
BAB 7: Sandiwara di Meja Makan
8
BAB 8: Aroma Kebohongan
9
BAB 9: Tagihan yang Tertunda
10
BAB 10: Reruntuhan yang Bersih
11
BAB 11: Serangan Balik Sang Bintang
12
BAB 12: Tamu dari Masa Lalu
13
BAB 13: Sandiwara Putus Asa
14
BAB 14: Sidang Pertama yang Panas
15
BAB 15: Umpan untuk Sang Pahlawan
16
BAB 16: Retakan Pertama di Rumah Sinta
17
BAB 17: Tamparan Realita Pertama
18
BAB 18: Jebakan Hutang
19
BAB 19: Pertemuan di Atas Awan
20
​BAB 20: Puncak Kepalsuan
21
BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Jakarta
22
BAB 22: Hidup di Bawah Reruntuhan
23
BAB 23: Cakrawala Baru
24
BAB 24: Sketsa yang Berbeda
25
BAB 25: Pilar yang Goyah
26
BAB 26: Benalu yang Kembali Tumbuh
27
BAB 27: Konstruksi Balas Lapis
28
BAB 28: Sisa-Sisa Harga Diri
29
BAB 29: Runtuhnya Tabir Reputasi
30
BAB 30: Fondasi yang Tak Tergoyahkan
31
BAB 31: Air Mata Buaya di Ibu Kota
32
BAB 32: Pilar Kesendirian
33
BAB 33: Pertaruhan di Atas Meja
34
BAB 34: Sabotase dan Siasat
35
BAB 35:Cahaya di Ujung Badai
36
BAB 36: Pelabuhan di Tengah Badai
37
BAB 37: Bayangan di Kota Lama
38
BAB 38: Runtuhnya Tahta Sang Tiran
39
BAB 39: Puncak dan Jurang
40
BAB 40: Sapu Tangan dan Rahasia
41
BAB 41: Benalu yang Tak Mati
42
BAB 42: Transformasi Sang Pelindung
43
BAB 43: Perisai yang Tak Tergoyahkan
44
BAB 44: Pelajaran Tentang Harga Diri
45
BAB 45: Balutan Sutra dan Rahasia Keluarga
46
BAB 46: Dansa di Atas Bara
47
BAB 47: Benteng yang Tak Terlihat
48
BAB 48: Racun dalam Secangkir Teh
49
BAB 49: Janji di Balik Kesederhanaan
50
BAB 50: Retakan dalam Keheningan
51
BAB 51: Amarah Sang Pelindung
52
Bab 52
53
BAB 53: Rahasia di Balik Koper Tua
54
BAB 54: Di Antara Hidup dan Pengkhianatan
55
BAB 55: Detik yang Menentukan
56
BAB 56: Labirin Asap dan Darah
57
BAB 57: Pertaruhan di Langit Jakarta
58
BAB 58: Jebakan di Negeri Kanguru
59
BAB 59: Sisa Napas di Kedalaman
60
BAB 60: Warisan yang Berdarah
61
BAB 61: Malaikat Maut di Balik Lensa
62
BAB 62: Labirin Api dan Pertaruhan Nyawa
63
BAB 63: Rahasia di Balik Kelontong Tua
64
BAB 64: Di Balik Jeruji Kesetiaan
65
BAB 65: Ambisi yang Terusik
66
BAB 66: Tamu yang Tak Diundang
67
Jaring Sutra Sang Arsitek
68
Detik-Detik yang Menentukan
69
Bayangan Dari Masa Lalu
70
Retak dalam Darah
71
Jebakan Sang Arsitek
72
Pelabuhan Air Mata
73
Gema di Ruang Hampa
74
Di Tepi Jurang Keputusasaan
75
Pilihan yang Menghancurkan
76
Puing-Puing Harapan
77
Labirin di Hutan Utara
78
Fondasi yang Retak
79
Amnesia
80
Insting yang Tertinggal
81
Fondasi Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!