BAB 4: Restu Ibu dan Janji Suci

Semarang di sore hari selalu punya aroma yang khas; perpaduan antara bau aspal yang menguap setelah diguyur hujan dan aroma melati dari halaman rumah warga.

Tapi bagi Senja, kepulangannya kali ini membawa debar jantung yang berbeda. Di sampingnya, dalam taksi yang melaju membelah kemacetan Jalan Pandanaran, Rangga duduk dengan gelisah. Pria itu terus-menerus merapikan kemeja batiknya—sebuah kemeja sutra halus yang baru saja dibelikan Senja di gerai bandara dengan harga yang hampir setara dengan cicilan motor sebulan.

​"Mas, jangan ditarik terus kemejanya, nanti kusut," bisik Senja lembut, mencoba menenangkan.

​"Aku cuma takut, Sayang. Aku takut Ibu kamu kecewa lihat calon menantunya cuma pengamen kafe kayak aku," sahut Rangga dengan nada rendah diri yang selalu berhasil memicu rasa iba di hati Senja.

​Senja menggenggam tangan Rangga erat. "Ibu bukan orang yang melihat harta, Mas. Ibu cuma ingin aku bahagia. Dan aku bahagianya sama kamu."

​Begitu taksi berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang terawat dengan cat putih bersih, Senja menarik napas panjang. Ini adalah rumah masa kecilnya, tempat ia dibesarkan dengan kasih sayang seorang ibu tunggal yang keras kepala. Ibu sudah berdiri di teras, mengenakan kebaya harian dan kacamata yang bertengger di ujung hidung. Tatapannya tajam, langsung menguliti sosok pria yang turun dari taksi bersama anaknya.

...----------------...

Malam itu, meja makan kayu jati milik Ibu Senja dipenuhi hidangan istimewa. Ada gudeg komplet, empal gentong, dan sambal goreng krecek yang aromanya memenuhi ruangan.

Tapi, suasana terasa begitu kaku. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung waktu penghakiman.

​"Jadi, Rangga... apa yang membuat kamu merasa sanggup menjaga anak tunggal Ibu?" tanya Ibu Senja tiba-tiba, memecah kesunyian.

​Rangga meletakkan sendoknya dengan sopan. Ia menatap Ibu Senja dengan mata yang dibuat setulus mungkin. "Bu, saya sadar saya bukan laki-laki mapan. Saya merintis dari jalanan. Tapi saya punya cinta yang besar untuk Senja. Saya janji, saya akan bekerja keras sampai Senja tidak perlu lagi merasa kekurangan."

​Ibu Senja tidak langsung menjawab. Ia beralih menatap Senja. "Senja bilang, kalian mau pindah ke rumah Senja yang di daerah perumahan atas itu? Dan kamu juga sudah mengajukan resign dari firma arsitek di Bali?"

​Senja mengangguk mantap. "Iya, Bu. Senja ingin fokus mengurus rumah tangga. Senja juga ingin bantu Mas Rangga bangun studionya di sana. Daripada rumah itu kosong, lebih baik kami tempati sendiri."

​"Lalu soal biaya pernikahan..." Ibu Senja menggantung kalimatnya, memberikan tatapan yang sangat dalam kepada Rangga.

​"Senja yang mau menanggung semuanya, Bu," potong Senja cepat, tidak ingin Rangga merasa terpojok. "Mas Rangga uangnya masih diputar untuk beli perlengkapan musik. Bagiku itu tidak masalah, Bu. Uang bisa dicari, tapi laki-laki yang tulus seperti Mas Rangga itu jarang."

​Ibu Senja menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti kepasrahan seorang ibu yang tahu anaknya sedang dibutakan oleh rasa iba yang ia kira cinta.

"Kalau itu sudah jadi keputusanmu, Senja, Ibu hanya bisa mendoakan. Tapi ingat pesan Ibu, jangan pernah memberikan seluruh kuncimu kepada orang lain, sampai kamu benar-benar yakin dia tidak akan mengunci kamu dari luar."

...----------------...

​Satu bulan kemudian, hari yang dinantikan itu tiba. Senja tidak ingin pesta di hotel mewah. Ia memilih merayakan hari bahagianya di halaman rumah pribadinya—rumah yang ia bangun dari hasil lembur berbulan-bulan mendesain interior villa.

​Pagi itu, udara Semarang terasa sejuk. Senja tampak sangat anggun mengenakan kebaya putih off-white dengan payet mutiara yang berkilau lembut. Di cermin, ia menatap dirinya sendiri, merasa bangga. Ia merasa telah mencapai puncak kebahagiaan: memiliki rumah sendiri dan kini, memiliki suami yang ia cintai.

Semua biaya, mulai dari dekorasi bunga lili yang mahal, katering premium, hingga mahar berupa perhiasan emas yang Rangga berikan—yang uangnya juga berasal dari rekening Senja—adalah hasil kerja keras Senja. Baginya, ini bukan beban. Ini adalah bentuk baktinya sebagai seorang istri yang ingin mengangkat derajat suaminya.

​Saat prosesi ijab kabul dimulai, jantung Senja berdegup kencang. Rangga tampak gagah dengan jas hitam, meski Senja tahu pria itu sempat gugup karena tidak terbiasa dengan suasana formal.

​"Saya terima nikahnya dan kawinnya Senja Amara binti (Alm) Pramono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

​"Sah!"

​Suara saksi dan tamu undangan menggema, diikuti doa yang dipimpin oleh penghulu. Senja memejamkan mata, merasakan air mata hangat menetes di pipinya. Ia merasa sangat suci, sangat dicintai. Saat ia mencium tangan Rangga untuk pertama kalinya sebagai istri, ia berjanji dalam hati akan menjadi pendukung terbaik bagi pria ini.

​Tapi, di balik kegembiraan itu, teman-teman Senja yang datang dari Bali dan Semarang berbisik-bisik di sudut tenda.

​"Kasian ya Senja. Arsitek hebat tapi suaminya cuma modelan begini. Katanya semua biayanya Senja yang tanggung," bisik salah satu teman kantornya.

​"Sstt, jangan keras-keras. Yang penting Senja bahagia. Tapi ya gitu, sayang banget kariernya dilepas cuma buat jadi ibu rumah tangga."

​Senja mendengar sayup-sayup bisikan itu, tapi ia hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu betapa manisnya Rangga saat mereka hanya berdua.

Mereka tidak tahu kalau Rangga adalah pria yang menangis haru saat Senja membelikannya keyboard baru. Bagi Senja, mereka hanya orang asing yang tidak mengerti arti pengorbanan.

​Malam harinya, setelah tamu terakhir pulang, rumah baru mereka terasa sangat tenang. Rangga sedang duduk di sofa ruang tamu yang masih tercium bau cat baru, menatap sekeliling dengan pandangan kagum.

​"Rumah ini bagus sekali, Sayang," gumam Rangga.

​Senja datang membawa dua gelas teh hangat, lalu duduk di samping suaminya. "Ini rumah kita, Mas. Aku bangun ini supaya kita nggak perlu pusing memikirkan kontrakan. Kamu bisa pakai ruangan depan untuk studio DJ kamu. Aku sudah pesan peredam suaranya, besok akan dipasang."

​Rangga menarik Senja ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar sudah memberikan segalanya buat aku. Pesta yang bagus, mahar yang indah, bahkan rumah ini. Aku merasa sangat kecil di depanmu."

​"Mas jangan ngomong begitu lagi," Senja menatap mata suaminya. "Kita ini satu. Apa yang aku punya, itu punyamu juga."

​"Aku janji, Ja. Aku akan sukses di sini. Aku akan bikin kamu bangga sudah memilih aku. Aku akan jadi DJ nomor satu di kota ini, dan kamu tidak perlu lagi capek-capek kerja. Kamu cukup duduk manis di rumah, jadi ratu yang aku layani."

​Senja tersenyum lebar, merasa masa depannya akan sangat indah. Ia membayangkan hari-hari di mana ia akan menyiapkan sarapan, merawat rumah, dan mendukung Rangga di setiap penampilannya. Ia sudah memutuskan untuk tidak mengambil proyek arsitektur lagi. Ia ingin fokus menjadi "pelayan" bagi kebahagiaan suaminya.

​Ia tidak sadar, bahwa dengan membiayai segala hal dari nol, ia secara tidak sengaja telah mengajarkan Rangga bahwa segalanya bisa didapatkan dengan mudah melalui kata-kata manis.

Senja telah membangun sebuah istana megah, tapi ia lupa bahwa istana yang dibangun di atas pasir pengorbanan satu pihak saja, sangat mudah roboh saat diterjang badai.

​Malam itu, di bawah rembulan Semarang, Senja tidur dengan senyum di wajahnya. Ia merasa telah memenangkan hidup. Ia tidak tahu bahwa pria yang tidur di sampingnya itu, yang baru saja ia "sah"-kan dengan uangnya sendiri, adalah awal dari sebuah tragedi yang akan membuat judul "Arsitek" di belakang namanya terasa sangat ironis.

Karena ia bisa membangun gedung setinggi langit, tapi ia gagal melihat retakan besar di dalam hati suaminya sendiri.

Terpopuler

Comments

Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪

Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪

Astaga Senja kamu belikan baju batik buat Rangga dengan harga mahal setara dengan cicilan motor sebulan

2026-01-15

1

@Me and You Married

@Me and You Married

Rangga pria ngga modal bahkan kemeja yang di pakai untuk menemui ibunya Senja juga di belikan Senja

2026-01-15

1

Yayang Lop3♡ Risa

Yayang Lop3♡ Risa

Senja kamu mau saja menikah sama Rangga padahal baju batik yang di pakai Rangga kamu yang beli

2026-01-15

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata
2 BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta
3 BAB 3: Pesan-Pesan yang Diabaikan
4 BAB 4: Restu Ibu dan Janji Suci
5 BAB 5: Awal Pengorbanan
6 BAB 6: Gemerlap Dunia DJ
7 BAB 7: Sandiwara di Meja Makan
8 BAB 8: Aroma Kebohongan
9 BAB 9: Tagihan yang Tertunda
10 BAB 10: Reruntuhan yang Bersih
11 BAB 11: Serangan Balik Sang Bintang
12 BAB 12: Tamu dari Masa Lalu
13 BAB 13: Sandiwara Putus Asa
14 BAB 14: Sidang Pertama yang Panas
15 BAB 15: Umpan untuk Sang Pahlawan
16 BAB 16: Retakan Pertama di Rumah Sinta
17 BAB 17: Tamparan Realita Pertama
18 BAB 18: Jebakan Hutang
19 BAB 19: Pertemuan di Atas Awan
20 ​BAB 20: Puncak Kepalsuan
21 BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Jakarta
22 BAB 22: Hidup di Bawah Reruntuhan
23 BAB 23: Cakrawala Baru
24 BAB 24: Sketsa yang Berbeda
25 BAB 25: Pilar yang Goyah
26 BAB 26: Benalu yang Kembali Tumbuh
27 BAB 27: Konstruksi Balas Lapis
28 BAB 28: Sisa-Sisa Harga Diri
29 BAB 29: Runtuhnya Tabir Reputasi
30 BAB 30: Fondasi yang Tak Tergoyahkan
31 BAB 31: Air Mata Buaya di Ibu Kota
32 BAB 32: Pilar Kesendirian
33 BAB 33: Pertaruhan di Atas Meja
34 BAB 34: Sabotase dan Siasat
35 BAB 35:Cahaya di Ujung Badai
36 BAB 36: Pelabuhan di Tengah Badai
37 BAB 37: Bayangan di Kota Lama
38 BAB 38: Runtuhnya Tahta Sang Tiran
39 BAB 39: Puncak dan Jurang
40 BAB 40: Sapu Tangan dan Rahasia
41 BAB 41: Benalu yang Tak Mati
42 BAB 42: Transformasi Sang Pelindung
43 BAB 43: Perisai yang Tak Tergoyahkan
44 BAB 44: Pelajaran Tentang Harga Diri
45 BAB 45: Balutan Sutra dan Rahasia Keluarga
46 BAB 46: Dansa di Atas Bara
47 BAB 47: Benteng yang Tak Terlihat
48 BAB 48: Racun dalam Secangkir Teh
49 BAB 49: Janji di Balik Kesederhanaan
50 BAB 50: Retakan dalam Keheningan
51 BAB 51: Amarah Sang Pelindung
52 Bab 52
53 BAB 53: Rahasia di Balik Koper Tua
54 BAB 54: Di Antara Hidup dan Pengkhianatan
55 BAB 55: Detik yang Menentukan
56 BAB 56: Labirin Asap dan Darah
57 BAB 57: Pertaruhan di Langit Jakarta
58 BAB 58: Jebakan di Negeri Kanguru
59 BAB 59: Sisa Napas di Kedalaman
60 BAB 60: Warisan yang Berdarah
61 BAB 61: Malaikat Maut di Balik Lensa
62 BAB 62: Labirin Api dan Pertaruhan Nyawa
63 BAB 63: Rahasia di Balik Kelontong Tua
64 BAB 64: Di Balik Jeruji Kesetiaan
65 BAB 65: Ambisi yang Terusik
66 BAB 66: Tamu yang Tak Diundang
67 Jaring Sutra Sang Arsitek
68 Detik-Detik yang Menentukan
69 Bayangan Dari Masa Lalu
70 Retak dalam Darah
71 Jebakan Sang Arsitek
72 Pelabuhan Air Mata
73 Gema di Ruang Hampa
74 Di Tepi Jurang Keputusasaan
75 Pilihan yang Menghancurkan
76 Puing-Puing Harapan
77 Labirin di Hutan Utara
78 Fondasi yang Retak
79 Amnesia
80 Insting yang Tertinggal
81 Fondasi Abadi
Episodes

Updated 81 Episodes

1
BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata
2
BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta
3
BAB 3: Pesan-Pesan yang Diabaikan
4
BAB 4: Restu Ibu dan Janji Suci
5
BAB 5: Awal Pengorbanan
6
BAB 6: Gemerlap Dunia DJ
7
BAB 7: Sandiwara di Meja Makan
8
BAB 8: Aroma Kebohongan
9
BAB 9: Tagihan yang Tertunda
10
BAB 10: Reruntuhan yang Bersih
11
BAB 11: Serangan Balik Sang Bintang
12
BAB 12: Tamu dari Masa Lalu
13
BAB 13: Sandiwara Putus Asa
14
BAB 14: Sidang Pertama yang Panas
15
BAB 15: Umpan untuk Sang Pahlawan
16
BAB 16: Retakan Pertama di Rumah Sinta
17
BAB 17: Tamparan Realita Pertama
18
BAB 18: Jebakan Hutang
19
BAB 19: Pertemuan di Atas Awan
20
​BAB 20: Puncak Kepalsuan
21
BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Jakarta
22
BAB 22: Hidup di Bawah Reruntuhan
23
BAB 23: Cakrawala Baru
24
BAB 24: Sketsa yang Berbeda
25
BAB 25: Pilar yang Goyah
26
BAB 26: Benalu yang Kembali Tumbuh
27
BAB 27: Konstruksi Balas Lapis
28
BAB 28: Sisa-Sisa Harga Diri
29
BAB 29: Runtuhnya Tabir Reputasi
30
BAB 30: Fondasi yang Tak Tergoyahkan
31
BAB 31: Air Mata Buaya di Ibu Kota
32
BAB 32: Pilar Kesendirian
33
BAB 33: Pertaruhan di Atas Meja
34
BAB 34: Sabotase dan Siasat
35
BAB 35:Cahaya di Ujung Badai
36
BAB 36: Pelabuhan di Tengah Badai
37
BAB 37: Bayangan di Kota Lama
38
BAB 38: Runtuhnya Tahta Sang Tiran
39
BAB 39: Puncak dan Jurang
40
BAB 40: Sapu Tangan dan Rahasia
41
BAB 41: Benalu yang Tak Mati
42
BAB 42: Transformasi Sang Pelindung
43
BAB 43: Perisai yang Tak Tergoyahkan
44
BAB 44: Pelajaran Tentang Harga Diri
45
BAB 45: Balutan Sutra dan Rahasia Keluarga
46
BAB 46: Dansa di Atas Bara
47
BAB 47: Benteng yang Tak Terlihat
48
BAB 48: Racun dalam Secangkir Teh
49
BAB 49: Janji di Balik Kesederhanaan
50
BAB 50: Retakan dalam Keheningan
51
BAB 51: Amarah Sang Pelindung
52
Bab 52
53
BAB 53: Rahasia di Balik Koper Tua
54
BAB 54: Di Antara Hidup dan Pengkhianatan
55
BAB 55: Detik yang Menentukan
56
BAB 56: Labirin Asap dan Darah
57
BAB 57: Pertaruhan di Langit Jakarta
58
BAB 58: Jebakan di Negeri Kanguru
59
BAB 59: Sisa Napas di Kedalaman
60
BAB 60: Warisan yang Berdarah
61
BAB 61: Malaikat Maut di Balik Lensa
62
BAB 62: Labirin Api dan Pertaruhan Nyawa
63
BAB 63: Rahasia di Balik Kelontong Tua
64
BAB 64: Di Balik Jeruji Kesetiaan
65
BAB 65: Ambisi yang Terusik
66
BAB 66: Tamu yang Tak Diundang
67
Jaring Sutra Sang Arsitek
68
Detik-Detik yang Menentukan
69
Bayangan Dari Masa Lalu
70
Retak dalam Darah
71
Jebakan Sang Arsitek
72
Pelabuhan Air Mata
73
Gema di Ruang Hampa
74
Di Tepi Jurang Keputusasaan
75
Pilihan yang Menghancurkan
76
Puing-Puing Harapan
77
Labirin di Hutan Utara
78
Fondasi yang Retak
79
Amnesia
80
Insting yang Tertinggal
81
Fondasi Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!