BAB 1: Tiket Menuju Harapan

Udara fajar di Desa Sukamaju masih terasa menusuk tulang, namun Amara sudah sibuk di dapur kecil mereka yang berdinding bambu. Sambil menahan rasa sesak yang mulai menyerang dadanya—sensasi kencang yang kini rutin menyapanya setiap pagi—ia membungkus nasi jagung dan sambal teri ke dalam daun pisang.

"Nduk, benar kamu mau pergi sekarang?"

Amara menoleh. Ibunya, Ibu Sumiyati, berdiri di ambang pintu dapur dengan mata yang sembap. Di belakangnya, dua adik Amara, Sekar yang berusia tujuh tahun dan Bimo yang masih lima tahun, mengucek mata karena baru bangun tidur.

Amara memaksakan senyum, meski hatinya terasa seperti diremas. "Ibu, kalau Amara tidak pergi ke Jakarta, bagaimana dengan biaya sekolah Sekar dan Bimo? Utang kita pada rentenir itu juga harus segera dilunasi, Bu."

"Tapi Jakarta itu jauh, Mara. Kamu baru lulus sekolah. Ibu merasa gagal sebagai orang tua kalau harus melepasmu jadi babu di sana," isak Sumiyati sambil mengelus bahu putrinya yang nampak tegap namun sebenarnya rapuh.

"Mbak Mara mau pergi?" Bimo berlari kecil dan memeluk kaki Amara. "Mbak jangan pergi... nanti siapa yang menemani Bimo mencari belalang?"

Amara berlutut, menyetarakan tingginya dengan sang adik. Ia mengelus pipi Bimo yang bulat. "Bimo anak pintar, kan? Mbak pergi sebentar untuk cari uang supaya Bimo bisa beli tas baru dan susu yang enak. Nanti kalau Mbak pulang, Mbak bawakan mainan yang besar."

"Benar ya, Mbak?" tanya Bimo dengan mata berbinar. Amara mengangguk mantap, meski tenggorokannya terasa tersumbat.

Sekar, yang lebih dewasa dari usianya, hanya diam mematung. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu. "Mbak... bajunya basah lagi?"

Amara tersentak. Ia segera menarik kain selendang untuk menutupi bagian dadanya. Rembesan itu muncul lagi. "Ssttt... tidak apa-apa, Sekar. Mbak hanya... sedikit berkeringat."

"Bukan keringat, Mbak. Baunya manis," bisik Sekar polos.

Amara segera memeluk kedua adiknya erat-erat, menyembunyikan wajahnya agar mereka tidak melihat air matanya jatuh. Hanya ia yang tahu rahasia medis aneh yang ia alami. Ia sempat membaca di buku kesehatan perpustakaan sekolah—sesuatu tentang kelebihan hormon—namun ia terlalu takut untuk bercerita pada ibunya yang sudah banyak beban.

"Amara janji, Bu," ujar Amara sambil berdiri dan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Setiap bulan Amara akan kirim uang. Jaga kesehatan Ibu, jaga Sekar dan Bimo. Amara akan baik-baik saja di rumah Tuan Aditama itu. Katanya mereka orang baik."

Sumiyati menyerahkan sebuah bungkusan kain berisi bekal. "Ini untuk di jalan. Hati-hati, Nduk. Jaga kehormatanmu. Di kota besar, banyak serigala berbulu domba."

Amara mengangguk, namun dalam hatinya ia membatin, 'Biarlah serigala itu datang, asal keluargaku bisa makan.'

Dengan tas ransel usang dan hati yang berdegup kencang, Amara melangkah keluar dari rumah mungilnya. Ia tidak menoleh lagi saat bus ekonomi antar-provinsi itu mulai menjauh, karena ia tahu, jika ia menoleh, ia tidak akan pernah sanggup untuk pergi.

Ia tidak tahu, bahwa di Jakarta nanti, ia bukan sekadar pengasuh bayi, melainkan oase bagi seorang pria yang hatinya telah lama gersang.

***

Amara menarik napas panjang saat pintu bus ekonomi itu terbuka di Terminal Kalideres. Aroma polusi, asap knalpot, dan hiruk-pikuk manusia menyambutnya dengan kasar. Namun, semua kelelahan itu seolah menguap saat ia menatap cakrawala.

Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, menembus awan tipis Jakarta. Bagi Amara, bangunan itu tampak seperti raksasa kaca yang memantulkan cahaya matahari sore.

"Luar biasa... tinggi sekali," gumam Amara pelan sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Matanya tak berkedip menatap kemegahan yang tak pernah ia temui di balik bukit desanya.

"Jangan melamun, nanti dicopet," sebuah suara perempuan yang renyah mengejutkannya.

Amara menoleh dan mendapati seorang wanita berusia sekitar 40 tahun dengan pakaian rapi namun sederhana. Dialah Mbak Lasmi, kerabat jauh yang menjanjikan pekerjaan untuknya.

"Mbak Lasmi!" Amara tersenyum lega, merasa punya pelindung di hutan beton ini.

"Ayo, Mara. Kita naik taksi saja. Tuan Arlan sudah menunggu. Bayinya rewel terus dari tadi pagi," ajak Mbak Lasmi sambil menarik tangan Amara menuju deretan mobil yang mengantre.

Di dalam kendaraan menuju kawasan elit Menteng, Amara tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca jendela. Ia terpukau melihat deretan mobil mewah dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Namun, suasana berubah serius saat Mbak Lasmi mulai memberikan instruksi dengan nada rendah dan tegas.

"Dengar baik-baik, Mara. Bekerja di kediaman Aditama itu tidak sama dengan di desa. Gajimu besar, sangat cukup untuk biaya sekolah Sekar dan Bimo tiap bulan, tapi tanggung jawabmu juga berat."

Amara mengangguk cepat, wajahnya menunjukkan keseriusan. "Apa saja yang harus Amara lakukan, Mbak? Amara akan belajar cepat."

"Tugas utamamu hanya satu: menjaga Baby Kenzo. Dia baru tiga bulan, malang sekali nasibnya ditinggal ibunya begitu saja. Tapi ingat satu hal," Mbak Lasmi menatap mata Amara dengan tajam, "Jangan pernah bertanya soal istrinya Tuan Arlan. Di rumah itu, nama wanita itu dilarang untuk diucapkan. Jangan memancing kemarahan Tuan."

"Baik, Mbak. Amara janji tidak akan lancang."

"Lalu tentang Tuan Arlan..." Mbak Lasmi menghela napas panjang. "Dia orang yang sangat dingin. Sangat kaku. Kalau dia lewat, cukup menunduk dan jangan berani menatap matanya terlalu lama kecuali dia yang bicara duluan. Dia tidak suka kebisingan, tidak suka kecerobohan, dan yang paling penting... jangan sekali-kali menyentuh barang-barang di ruang kerjanya."

Amara menelan ludah, rasa gugup mulai menjalar hingga ke ujung jemarinya. "Tuan Arlan... apa dia orang yang temperamental, Mbak?"

"Dia hanya pria yang sedang terluka, Mara. Hatinya membatu sejak dikhianati istrinya. Oh ya, satu lagi," Mbak Lasmi memperhatikan Amara dari atas ke bawah. "Tuan Arlan sangat gila kebersihan. Kamu harus selalu rapi dan wangi. Dan... apakah kamu sudah siap? Kamu harus siap siaga 24 jam karena Baby Kenzo menolak semua jenis susu formula. Dia sangat sulit ditenangkan."

Amara meraba dadanya yang terasa berdenyut nyeri. Rembesan hangat itu muncul lagi, membasahi kain pakaian dalamnya hingga terasa lembap. "Amara akan berusaha sekuat tenaga, Mbak. Amara benar-benar butuh pekerjaan ini demi Ibu di desa."

Taksi kemudian berhenti di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang otomatis itu bergeser pelan, sebuah mansion megah bergaya Eropa modern berdiri dengan angkuh di balik taman yang tertata rapi.

"Ingat pesan Mbak tadi, Mara," bisik Mbak Lasmi saat mereka turun dari mobil. "Jangan bicara kalau tidak perlu, dan anggap Baby Kenzo seperti duniamu sendiri. Mengerti?"

"Mengerti, Mbak," jawab Amara pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.

Saat mereka melangkah masuk ke teras luas yang terbuat dari marmer mengkilap, sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi yang menyayat hati dari lantai atas, diiringi suara bentakan rendah seorang pria yang terdengar sangat frustrasi.

"Kenapa dia tidak mau diam?! Apa tidak ada satu pun dari kalian yang becus mengurus bayi?!"

Amara gemetar. Suara itu begitu berat dan penuh otoritas. Langkah kakinya terasa berat, namun ia tahu, di balik pintu besar itu, nasib keluarganya ditentukan.

Terpopuler

Comments

Isna Ni

Isna Ni

amara gadis yg baik, semoga ditempat kerja yg baru diperlakukan dg baik oleh tuannya

2026-05-11

1

Rahma Ita

Rahma Ita

smoga ceritanya semkin menarik... seneng banget baca novel, smoga sdh sampe tamat.....

2026-05-18

1

heny tanasale

heny tanasale

ceritanya bagus kemaren sempat liat sekilas di tiktok terus cari di noveltoon ehh ketemu senang bangatyyy🤭😍

2026-03-23

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3 BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4 BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5 BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6 BAB 5: Ketahuan
7 Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8 BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9 BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10 BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11 BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12 BAB 11
13 BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14 BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15 BAB 14
16 BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17 BAB 16
18 BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19 BAB 18
20 BAB 19: Urusan yang Tertunda
21 BAB 20
22 BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23 BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24 BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25 BAB 24
26 BAB 25
27 BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28 BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29 BAB 28
30 BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31 BAB 30: Salju Pertama di London
32 BAB 31
33 BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34 BAB 33
35 BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36 BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37 BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38 BAB 37: Pembelaan Arlan
39 BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40 BAB 39: Menikah?
41 BAB 40: Cek Kosong
42 BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43 BAB 42: Amarah Sang Tuan
44 BAB 43:
45 BAB 44: Panggil Aku Mas
46 BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47 BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48 BAB 47: Racun???
49 BAB 48: Merasa Tak Pantas
50 BAB 49: Senyum Palsu
51 BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52 BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53 BAB 52: Keluar dari Mansion
54 BAB 53: Pindah ke Apartemen
55 BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56 BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57 BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58 BAB 57: Makan Siang???
59 BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60 BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61 BAB 60
62 BAB 61: Kebenaran Terungkap
63 BAB 62: Oh Tidak Amara???
64 BAB 63: Flashback
65 BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66 BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67 BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68 BAB 67: Pemulihan
69 BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70 BAB 69: Terbongkar
71 BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72 BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73 BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74 BAB 73
75 BAB 74 : Hamil
76 BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77 BAB 76: Protektif
78 BAB 77: Langkah Pertama
79 BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80 BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81 BAB 80: Happy Ending
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Prolog
2
BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3
BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4
BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5
BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6
BAB 5: Ketahuan
7
Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8
BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9
BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10
BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11
BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12
BAB 11
13
BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14
BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15
BAB 14
16
BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17
BAB 16
18
BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19
BAB 18
20
BAB 19: Urusan yang Tertunda
21
BAB 20
22
BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23
BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24
BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25
BAB 24
26
BAB 25
27
BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28
BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29
BAB 28
30
BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31
BAB 30: Salju Pertama di London
32
BAB 31
33
BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34
BAB 33
35
BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36
BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37
BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38
BAB 37: Pembelaan Arlan
39
BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40
BAB 39: Menikah?
41
BAB 40: Cek Kosong
42
BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43
BAB 42: Amarah Sang Tuan
44
BAB 43:
45
BAB 44: Panggil Aku Mas
46
BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47
BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48
BAB 47: Racun???
49
BAB 48: Merasa Tak Pantas
50
BAB 49: Senyum Palsu
51
BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52
BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53
BAB 52: Keluar dari Mansion
54
BAB 53: Pindah ke Apartemen
55
BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56
BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57
BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58
BAB 57: Makan Siang???
59
BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60
BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61
BAB 60
62
BAB 61: Kebenaran Terungkap
63
BAB 62: Oh Tidak Amara???
64
BAB 63: Flashback
65
BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66
BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67
BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68
BAB 67: Pemulihan
69
BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70
BAB 69: Terbongkar
71
BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72
BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73
BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74
BAB 73
75
BAB 74 : Hamil
76
BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77
BAB 76: Protektif
78
BAB 77: Langkah Pertama
79
BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80
BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81
BAB 80: Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!