BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis

Langkah kaki Amara terasa berat saat menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet tebal itu. Semakin dekat ia ke lantai atas, semakin jelas suara tangisan bayi yang melengking, bercampur dengan suara barang yang digeser kasar. Mbak Lasmi yang berjalan di depannya tampak tegang, berkali-kali merapikan seragamnya sendiri seolah sedang bersiap masuk ke medan perang.

"Tunggu di sini sebentar," bisik Mbak Lasmi saat mereka sampai di depan sebuah pintu kayu jati besar yang tertutup rapat.

Mbak Lasmi mengetuk pintu itu perlahan. "Tuan... pengasuh barunya sudah sampai."

"Masuk!" Suara itu tidak hanya berat, tapi juga mengandung getaran amarah yang tertahan.

Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar itu membuat Amara terpana. Kamar bayi itu sangat luas, mungkin seukuran seluruh rumahnya di desa, namun suasananya terasa begitu menyesakkan. Di tengah ruangan, seorang pria dengan kemeja hitam yang sudah berantakan tampak mondar-mandir sambil menggendong seorang bayi yang terus meronta.

"Dia tetap tidak mau menyentuh botolnya, Lasmi! Sudah tiga jenis susu formula diganti hari ini!" seru Arlan tanpa menoleh. Wajahnya terlihat lelah dengan gurat frustrasi yang nyata di keningnya.

Mbak Lasmi segera memberi kode pada Amara untuk mendekat. Amara melangkah maju, kepalanya tertunduk sesuai instruksi, namun matanya sempat menangkap sosok Arlan dari dekat. Pria itu jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan, dengan rahang tegas dan aroma parfum kayu yang sangat maskulin—bercampur dengan aroma susu bayi yang masam.

"Ini Amara, Tuan. Gadis yang saya ceritakan dari desa," ujar Mbak Lasmi pelan.

Arlan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Amara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya begitu tajam, seolah sedang membedah setiap rahasia yang dibawa Amara.

"Dia? Dia masih anak-anak," desis Arlan dingin. "Apa dia tahu cara mengurus bayi? Kenzo sedang sangat rewel, aku tidak butuh amatiran di sini."

Amara memberanikan diri sedikit mengangkat wajahnya, meski ia segera menunduk lagi saat matanya bertemu dengan mata gelap Arlan yang mengintimidasi. "Saya... saya terbiasa menjaga kedua adik saya sejak kecil, Tuan. Saya mohon beri saya kesempatan."

"Argh!" Arlan mengerang saat Kenzo, bayi di pelukannya, kembali menangis lebih kencang hingga wajahnya memerah. Arlan tampak kehilangan kesabaran. Tanpa banyak kata, ia menyodorkan bayi mungil itu ke arah Amara. "Ambil. Buktikan padaku kalau kau berguna, atau kau akan dipulangkan malam ini juga."

Amara dengan sigap menerima tubuh mungil Kenzo. Begitu kulit bayi itu bersentuhan dengan lengannya, sebuah gelombang hangat yang luar biasa tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh Amara. Dadanya berdenyut kencang, rasa nyeri akibat tumpukan cairan di dalam sana seolah menemukan "pemicunya".

Anehnya, begitu berada di pelukan Amara, Kenzo perlahan mulai tenang. Isakannya mengecil menjadi rengekan halus. Bayi itu menyandarkan kepalanya di dada Amara, tepat di titik yang paling nyeri, dan mulai mengendus-endus seolah mencium aroma yang ia kenali.

Arlan tertegun. Ia menyipitkan mata, memperhatikan bagaimana bayi yang tadinya tidak bisa ditenangkan oleh siapa pun, tiba-tiba menjadi jinak di tangan gadis desa ini.

"Kenapa dia bisa langsung tenang?" tanya Arlan, suaranya kini merendah, namun tetap terasa mengancam.

"Mungkin... Tuan Kenzo hanya butuh pelukan yang nyaman, Tuan," jawab Amara gugup. Jantungnya berdebar bukan karena takut saja, tapi karena rembesan di dadanya semakin tak terkendali. Ia bisa merasakan pakaian dalamnya mulai basah kuyup.

"Lasmi, tinggalkan kami. Biarkan dia mencoba memberi susu sekali lagi di depanku," perintah Arlan mutlak.

Mbak Lasmi memberikan tatapan khawatir pada Amara sebelum keluar dan menutup pintu. Kini, di ruangan luas itu, hanya ada Amara, sang bayi yang mulai gelisah mencari-cari sesuatu di dadanya, dan Arlan yang berdiri hanya beberapa langkah darinya, mengawasi dengan tangan bersedekap.

Amara menelan ludah. Ia tahu Kenzo bukan mencari botol susu plastik yang tergeletak di meja. Kenzo mencari sumber kehidupan yang saat ini sedang menyiksa tubuh Amara.

***

Amara merasa keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Kenzo di pelukannya mulai bertingkah lebih agresif; tangan mungil bayi itu mencengkeram kemeja Amara tepat di bagian dadanya yang kencang, sementara kepalanya terus bergerak liar, mengendus-endus mencari sumber aroma manis yang memabukkan indra penciumannya.

Rasa nyeri di dada Amara sudah tidak tertahankan lagi. Ia tahu, jika ia tidak segera mengeluarkan asinya, bukan hanya Kenzo yang akan meledak dalam tangis, tapi bajunya juga akan basah kuyup karena rembesan yang mulai tak terbendung.

"Tuan... maaf," suara Amara bergetar, ia melangkah mundur satu pijakan. "Bolehkah... bolehkah saya meminta Tuan keluar sebentar saja? Saya ingin mencoba menenangkan Tuan Kenzo sendirian. Mungkin dia butuh suasana yang lebih tenang tanpa ada orang lain."

Alis Arlan bertaut seketika. Matanya yang tajam menyipit, menatap Amara dengan tatapan yang seolah bisa menembus jantung gadis itu.

"Kau mengusirku dari kamar anakku sendiri?" tanya Arlan dengan nada rendah yang sangat mengintimidasi.

"Bukan begitu, Tuan... saya hanya berpikir mungkin Tuan Kenzo merasa tegang karena suasana di sini terlalu... kaku," Amara mencoba mencari alasan, tangannya semakin erat mendekap Kenzo yang mulai merengek frustrasi.

Arlan melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Amara bisa mencium aroma maskulin Arlan yang kuat, yang entah mengapa membuat hormon di tubuhnya semakin bereaksi gila-gilaan.

"Dengar, Gadis Desa," ucap Arlan, suaranya kini tepat di depan wajah Amara. "Aku baru saja mengenalmu sepuluh menit yang lalu. Kau orang asing. Kau pikir aku akan membiarkanmu berduaan dengan putraku tanpa pengawasanku? Jangan harap."

"Tapi Tuan, Tuan Kenzo benar-benar butuh ketenangan. Saya janji tidak akan berbuat macam-macam," pinta Amara nyaris memohon. Bayi itu kini mulai menarik-narik kerah baju Amara dengan mulut yang terbuka, mencari-cari.

"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan sampai aku tidak boleh melihatnya?" tanya Arlan curiga. Matanya turun, memperhatikan tangan Amara yang terus-menerus menekan dadanya sendiri seolah menahan rasa sakit. "Kenapa tanganmu di situ? Kau menyembunyikan sesuatu?"

Wajah Amara memerah padam. "Tidak, Tuan. Saya... saya hanya..."

"Jangan berbohong padaku!" bentak Arlan pelan namun menusuk. "Ambil botol susunya dan berikan padanya sekarang. Di depanku. Aku ingin melihat bagaimana cara kau bekerja."

"Dia tidak mau botolnya, Tuan! Lihatlah, dia menolaknya!" Amara berseru putus asa saat Kenzo mulai menjerit lagi karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tangisan Kenzo kali ini jauh lebih memilukan. Bayi itu menendang-nendang, dan secara tidak sengaja sikutnya menekan dada Amara yang sedang bengkak. Amara merintih pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena perpaduan rasa sakit fisik dan tekanan mental.

"Kenapa kau menangis? Hanya karena aku memarahimu?" Arlan tampak terkejut melihat air mata gadis itu, namun egonya tetap tinggi.

"Tolong, Tuan... saya mohon," bisik Amara di sela isakannya. "Biarkan saya mencoba cara saya. Saya menjamin Tuan Kenzo akan diam dalam lima menit. Kalau tidak, Tuan boleh mengusir saya saat ini juga. Tapi tolong... berikan kami privasi sebentar saja."

Arlan terdiam. Ia melihat putranya yang menderita dan melihat gadis di depannya yang tampak begitu tersiksa oleh sesuatu yang tidak ia pahami. Ada dorongan di dalam hati Arlan untuk membentak lagi, namun melihat kerapuhan Amara, sesuatu yang asing berdesir di hatinya.

"Dua menit," desis Arlan akhirnya sambil berbalik arah menuju pintu. "Aku akan berdiri tepat di balik pintu ini. Jika aku mendengar suara yang mencurigakan, aku akan masuk dan kau akan menyesal karena telah menginjakkan kaki di rumah ini."

BRAK!

Pintu jati itu tertutup dengan keras.

Amara mengembuskan napas lega yang gemetar. Ia segera mengunci pintu dari dalam, meskipun ia tahu Arlan mungkin sedang mengawasinya lewat CCTV atau berdiri tepat di balik kayu itu.

"Cup... cup, Sayang. Maafkan Mbak ya," bisik Amara pada Kenzo.

Dengan tangan gemetar, Amara duduk di kursi goyang di sudut kamar. Ia membuka kancing seragamnya satu per satu. Begitu kain itu terbuka, Kenzo langsung terdiam, matanya yang basah menatap lekat ke arah Amara. Saat Amara mendekatkan bayi itu ke dadanya, Kenzo langsung menyambar dengan rakus, seolah telah menemukan harta karun yang hilang.

Slruup...

Amara memejamkan mata, kepalanya tersandar ke belakang. Rasa sakit yang menyiksa itu perlahan berganti dengan kelegaan yang luar biasa. Namun di balik pintu, Arlan berdiri mematung. Keheningan yang tiba-tiba di dalam kamar itu justru membuatnya semakin penasaran dan... berdebar.

Terpopuler

Comments

reza indrayana

reza indrayana

walau belum tahu rasanya menyusui bayi tapi ko' aku ikutan meringis dengan apa yang di alami amara... 🥰🥰💙💛💙😘😘😘

2026-08-18

0

Visitor5675

Visitor5675

sakit nya seketika hilang setelah di netralisir oleh baby kenzo

2026-06-04

0

A.H. Sucipto

A.H. Sucipto

semoga dengan diamnya Kenzo Arlan menerima dengan senang hati

2026-05-26

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3 BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4 BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5 BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6 BAB 5: Ketahuan
7 Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8 BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9 BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10 BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11 BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12 BAB 11
13 BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14 BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15 BAB 14
16 BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17 BAB 16
18 BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19 BAB 18
20 BAB 19: Urusan yang Tertunda
21 BAB 20
22 BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23 BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24 BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25 BAB 24
26 BAB 25
27 BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28 BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29 BAB 28
30 BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31 BAB 30: Salju Pertama di London
32 BAB 31
33 BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34 BAB 33
35 BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36 BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37 BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38 BAB 37: Pembelaan Arlan
39 BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40 BAB 39: Menikah?
41 BAB 40: Cek Kosong
42 BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43 BAB 42: Amarah Sang Tuan
44 BAB 43:
45 BAB 44: Panggil Aku Mas
46 BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47 BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48 BAB 47: Racun???
49 BAB 48: Merasa Tak Pantas
50 BAB 49: Senyum Palsu
51 BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52 BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53 BAB 52: Keluar dari Mansion
54 BAB 53: Pindah ke Apartemen
55 BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56 BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57 BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58 BAB 57: Makan Siang???
59 BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60 BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61 BAB 60
62 BAB 61: Kebenaran Terungkap
63 BAB 62: Oh Tidak Amara???
64 BAB 63: Flashback
65 BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66 BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67 BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68 BAB 67: Pemulihan
69 BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70 BAB 69: Terbongkar
71 BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72 BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73 BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74 BAB 73
75 BAB 74 : Hamil
76 BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77 BAB 76: Protektif
78 BAB 77: Langkah Pertama
79 BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80 BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81 BAB 80: Happy Ending
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Prolog
2
BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3
BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4
BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5
BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6
BAB 5: Ketahuan
7
Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8
BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9
BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10
BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11
BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12
BAB 11
13
BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14
BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15
BAB 14
16
BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17
BAB 16
18
BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19
BAB 18
20
BAB 19: Urusan yang Tertunda
21
BAB 20
22
BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23
BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24
BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25
BAB 24
26
BAB 25
27
BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28
BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29
BAB 28
30
BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31
BAB 30: Salju Pertama di London
32
BAB 31
33
BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34
BAB 33
35
BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36
BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37
BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38
BAB 37: Pembelaan Arlan
39
BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40
BAB 39: Menikah?
41
BAB 40: Cek Kosong
42
BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43
BAB 42: Amarah Sang Tuan
44
BAB 43:
45
BAB 44: Panggil Aku Mas
46
BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47
BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48
BAB 47: Racun???
49
BAB 48: Merasa Tak Pantas
50
BAB 49: Senyum Palsu
51
BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52
BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53
BAB 52: Keluar dari Mansion
54
BAB 53: Pindah ke Apartemen
55
BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56
BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57
BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58
BAB 57: Makan Siang???
59
BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60
BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61
BAB 60
62
BAB 61: Kebenaran Terungkap
63
BAB 62: Oh Tidak Amara???
64
BAB 63: Flashback
65
BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66
BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67
BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68
BAB 67: Pemulihan
69
BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70
BAB 69: Terbongkar
71
BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72
BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73
BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74
BAB 73
75
BAB 74 : Hamil
76
BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77
BAB 76: Protektif
78
BAB 77: Langkah Pertama
79
BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80
BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81
BAB 80: Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!