BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam

Bip! Bip! Bip!

Suara nyaring dari alat monitor bayi di samping tempat tidur Amara memecah kesunyian malam. Amara tersentak, matanya yang masih berat karena kantuk langsung terbuka lebar. Detak jantungnya seketika berpacu saat mendengar suara jeritan Kenzo yang melengking melalui pengeras suara kecil itu.

Meskipun tubuhnya sangat lelah setelah perjalanan jauh dari desa, instingnya sebagai pengasuh—dan dorongan dari dadanya yang kembali terasa sesak—membuatnya bergerak cepat. Ia menyambar kain selendang dan berlari kecil keluar kamar, menaiki tangga marmer menuju lantai dua dengan langkah yang sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.

"Tuan Kenzo... Mbak datang, Sayang," bisiknya saat membuka pintu kamar bayi.

Ia menarik napas lega saat mendapati kamar itu hanya dihuni oleh sang bayi. Tidak ada Tuan Arlan. Sepertinya pria itu sudah terlelap di kamarnya yang berada di sayap lain mansion ini.

Amara segera menghampiri boks bayi. Kenzo sudah bergerak gelisah dengan wajah yang memerah padam karena menangis. "Ssttt... cup, cup. Jangan menangis lagi ya, nanti Papa bangun," ucap Amara sambil mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

Kenzo tidak langsung diam. Ia justru semakin kencang menangis, kepalanya bergerak-gerak liar di atas pundak Amara, mencari aroma yang sangat ia kenali. Amara merasa dadanya berdenyut hebat. Air susu itu sudah mendesak ingin keluar, namun teringat peringatan Mbak Lasmi tentang kamera, Amara menjadi waspada.

Ia mulai celingak-celinguk, memperhatikan setiap sudut plafon yang tinggi. Di pojok ruangan, dekat lampu hias, ia melihat sebuah benda kecil hitam dengan lampu merah yang berkedip sangat tipis.

Itu dia, batinnya.

Amara segera berbalik, mencari titik buta. Ia melihat sebuah kursi goyang besar dengan sandaran tinggi yang menghadap ke arah jendela besar yang tertutup gorden tebal. Posisi itu membelakangi kamera sama sekali. Dengan terburu-buru, ia duduk di sana, memosisikan tubuhnya sedemikian rupa agar punggungnya menjadi tameng bagi pandangan CCTV.

"Kita di sini saja ya, Tuan Kenzo. Supaya tidak ada yang melihat," bisik Amara gemetar.

Dengan tangan yang sedikit kikuk, ia membuka kancing seragamnya. Begitu kulit Kenzo bersentuhan dengan dadanya, bayi itu langsung terdiam seketika. Suara tangisnya berganti menjadi suara isapan yang rakus dan teratur.

Amara mengembuskan napas panjang, kepalanya bersandar pada sandaran kursi. Kelegaan yang luar biasa mengalir di tubuhnya. Ia menunduk, menatap wajah Kenzo yang kini terlihat sangat tenang dalam pelukannya. Mata bayi itu yang tadinya basah karena air mata, kini terbuka sedikit, menatap lurus ke arah wajah Amara dengan tatapan yang dalam dan polos.

"Kenapa menatap Mbak seperti itu, Sayang?" bisik Amara lembut sambil mengusap pipi bayi itu dengan ujung jarinya. "Kamu haus sekali ya? Maafkan Mbak ya, tadi Mbak terlambat bangun."

Kenzo melepaskan isapannya sejenak, mengeluarkan suara gumaman kecil seolah sedang menjawab ucapan Amara, lalu kembali menyusu dengan tenang.

"Kamu anak yang pintar, Kenzo. Kamu harus tumbuh jadi anak yang kuat, ya? Jangan sedih meskipun Mama tidak ada. Sekarang ada Mbak Amara di sini. Mbak akan jaga kamu, Mbak akan kasih apa yang kamu butuh," lanjut Amara, air matanya hampir menetes melihat betapa malangnya bayi seindah ini harus kehilangan kasih sayang ibu di usia sedini itu.

"Nanti kalau sudah besar, Kenzo jangan jadi orang yang dingin seperti Papa, ya? Kenzo harus jadi orang yang hangat, yang suka senyum. Supaya Papa juga ikut tersenyum," Amara terkekeh kecil di sela bisikannya, tidak menyadari betapa intimnya momen itu.

Amara terus mengajak bayi itu bicara, menceritakan tentang indahnya sawah di desanya, tentang kedua adiknya yang nakal namun lucu, hingga tentang harapan-harapannya. Ia merasa Kenzo adalah satu-satunya teman bicaranya yang paling tulus di rumah besar yang dingin ini.

Namun, yang tidak diketahui Amara adalah, di balik layar ponsel yang menyala di kegelapan kamar utama, Arlan Aditama sedang duduk bersandar di tempat tidurnya. Ia memang tidak bisa melihat apa yang ada di depan dada Amara karena terhalang punggung kursi, namun ia bisa melihat gerakan kepala putranya yang menempel erat di sana.

Ia bisa mendengar suara bisikan Amara melalui mic sensitif yang ada di kamera itu. Suara Amara yang lembut, tulus, dan penuh kasih sayang masuk ke telinga Arlan, menggetarkan sesuatu yang sudah lama membeku di dalam dadanya.

"Kau terlalu berani, Amara..." gumam Arlan dengan suara serak. Matanya tidak lepas dari layar, memperhatikan gerakan ritmis tubuh Amara. Rasa penasaran itu kini telah berubah menjadi obsesi yang membakar.

***

Fajar baru saja menyingsing, namun Amara sudah terjaga sepenuhnya. Seperti ritual yang kini menjadi rahasia antara dirinya dan Kenzo, ia kembali menyusui bayi itu di sudut kursi goyang yang aman dari jangkauan CCTV sebelum matahari benar-benar naik. Setelah Kenzo tenang dan merasa kenyang, Amara dengan cekatan mulai memandikannya.

Air hangat suam-suam kuku ia siapkan. Dengan penuh kelembutan, Amara mengusap tubuh mungil Kenzo, memastikan setiap lipatan kulit bayi itu bersih. Aroma sabun bayi yang lembut bercampur dengan bedak bayi memenuhi ruangan saat Amara mendandani Kenzo dengan setelan baju tidur katun bermotif beruang yang menggemaskan.

"Nah, anak ganteng sudah wangi. Sekarang kita tunggu Papa, ya?" bisik Amara sambil mengecup kening Kenzo yang kini nampak segar dan ceria.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Amara tersentak dan segera berdiri tegak, kepalanya refleks tertunduk dalam. Arlan Aditama melangkah masuk dengan wibawa yang luar biasa. Pria itu sudah rapi dengan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, menyebarkan aroma parfum maskulin yang seketika mendominasi ruangan.

Kenzo, yang sedang berbaring di atas changing table, tiba-tiba mulai menggerak-gerakkan tangan dan kaki mungilnya dengan sangat lincah. Bayi itu mengeluarkan suara-suara kecil seolah sedang menyapa pria di depannya.

Arlan yang biasanya berwajah dingin, tak mampu menahan senyum tipis saat melihat reaksi putranya. Ada binar kegemasan di matanya yang tajam. "Astaga... kamu mau Papa gendong, hm?" ucap Arlan dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.

Arlan membungkuk, mengangkat Kenzo ke dalam dekapannya dengan hati-hati. "Hmm... anak Papa sudah wangi sekali pagi ini," gumamnya sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kenzo. Namun, saat ia mendekatkan wajahnya ke leher sang bayi, ia kembali mencium aroma manis yang sama seperti semalam—aroma yang menurutnya tidak berasal dari sabun manapun.

Tatapan Arlan beralih dari Kenzo ke arah Amara. Pria itu menatap Amara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu berdiri mematung, kepalanya masih menunduk seolah-olah lantai marmer di bawahnya jauh lebih menarik untuk dipandang.

"Apa Kenzo sudah diberi susu?" tanya Arlan dengan nada datar namun penuh selidik.

"Sudah, Tuan," jawab Amara singkat, suaranya nyaris berbisik.

Arlan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya tertuju pada sebuah botol susu di atas nakas yang berisi sedikit sisa susu formula yang sengaja Amara buat dan buang sebagian agar terlihat sudah digunakan. Arlan mengangguk puas melihat bukti fisik itu, meski hatinya masih menyimpan keraguan yang besar.

Arlan melangkah maju satu tindak, membuat jarak di antara mereka semakin menipis. Amara bisa merasakan kehadiran Arlan yang sangat dekat, bahkan hembusan napas pria itu terasa di puncak kepalanya.

"Angkat kepalamu, Amara," perintah Arlan dengan nada dingin.

Amara tetap bergeming, jari-jemarinya saling meremas satu sama lain. Ia merasa sangat terintimidasi.

"Amara, aku tidak suka bicara dengan orang yang tidak menatap lawannya. Di rumah ini, kau harus punya sopan santun sekaligus keberanian," Arlan menekankan setiap kata. "Angkat kepalamu saat aku bicara padamu. Apa itu terlalu sulit untukmu?"

Amara perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Matanya yang jernih dan polos bertemu langsung dengan mata gelap Arlan yang tajam dan mengintimidasi. Ada getaran aneh yang menjalar di tubuh Amara saat melihat pantulan dirinya di mata pria itu.

"Maaf, Tuan. Saya... saya hanya tidak ingin tidak sopan," lirih Amara.

Arlan terdiam sejenak, mengamati setiap jengkal wajah Amara yang masih terlihat sangat segar meski nampak ada gurat kelelahan. Matanya sempat turun sesaat ke arah dada Amara yang terbungkus seragam pengasuh, lalu kembali ke mata gadis itu.

"Pastikan Kenzo terus tenang seperti ini sepanjang hari. Aku akan pergi ke kantor, dan aku akan mengecek kamera secara berkala. Jangan sampai aku melihat sesuatu yang mencurigakan," ucap Arlan dengan nada yang terasa seperti peringatan tersembunyi.

Arlan kemudian menyerahkan kembali Kenzo ke pelukan Amara. Saat tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja, sebuah sengatan listrik seolah menyambar keduanya. Amara segera menarik tangannya setelah Kenzo berpindah ke pelukannya, sementara Arlan tetap berdiri diam sesaat, merasakan sisa kehangatan kulit Amara di tangannya.

"Saya mengerti, Tuan," jawab Amara pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Arlan berbalik dan melangkah pergi keluar kamar. Amara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan, sementara Kenzo hanya menatap kepergian ayahnya dengan jari-jari yang dimasukkan ke dalam mulut, kembali mencari kenyamanan pada Amara.

Terpopuler

Comments

Celsi Eci

Celsi Eci

kok bisa gadis belum prn nikah,kok bisa punya air susu, ah Tamba seru nich ceritanya

2026-05-04

0

afsar ganteng

afsar ganteng

asi baux memang amis krn dipengaruhi asupan yg dimakan seorang ibu

2026-04-06

0

yantriwina Nina

yantriwina Nina

betul.kok bisa ya gadis perawan sdh mengeluarkan asi dari tubuhnya.

2026-03-18

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3 BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4 BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5 BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6 BAB 5: Ketahuan
7 Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8 BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9 BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10 BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11 BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12 BAB 11
13 BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14 BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15 BAB 14
16 BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17 BAB 16
18 BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19 BAB 18
20 BAB 19: Urusan yang Tertunda
21 BAB 20
22 BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23 BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24 BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25 BAB 24
26 BAB 25
27 BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28 BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29 BAB 28
30 BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31 BAB 30: Salju Pertama di London
32 BAB 31
33 BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34 BAB 33
35 BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36 BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37 BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38 BAB 37: Pembelaan Arlan
39 BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40 BAB 39: Menikah?
41 BAB 40: Cek Kosong
42 BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43 BAB 42: Amarah Sang Tuan
44 BAB 43:
45 BAB 44: Panggil Aku Mas
46 BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47 BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48 BAB 47: Racun???
49 BAB 48: Merasa Tak Pantas
50 BAB 49: Senyum Palsu
51 BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52 BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53 BAB 52: Keluar dari Mansion
54 BAB 53: Pindah ke Apartemen
55 BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56 BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57 BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58 BAB 57: Makan Siang???
59 BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60 BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61 BAB 60
62 BAB 61: Kebenaran Terungkap
63 BAB 62: Oh Tidak Amara???
64 BAB 63: Flashback
65 BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66 BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67 BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68 BAB 67: Pemulihan
69 BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70 BAB 69: Terbongkar
71 BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72 BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73 BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74 BAB 73
75 BAB 74 : Hamil
76 BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77 BAB 76: Protektif
78 BAB 77: Langkah Pertama
79 BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80 BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81 BAB 80: Happy Ending
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Prolog
2
BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3
BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4
BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5
BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6
BAB 5: Ketahuan
7
Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8
BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9
BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10
BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11
BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12
BAB 11
13
BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14
BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15
BAB 14
16
BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17
BAB 16
18
BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19
BAB 18
20
BAB 19: Urusan yang Tertunda
21
BAB 20
22
BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23
BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24
BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25
BAB 24
26
BAB 25
27
BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28
BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29
BAB 28
30
BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31
BAB 30: Salju Pertama di London
32
BAB 31
33
BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34
BAB 33
35
BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36
BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37
BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38
BAB 37: Pembelaan Arlan
39
BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40
BAB 39: Menikah?
41
BAB 40: Cek Kosong
42
BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43
BAB 42: Amarah Sang Tuan
44
BAB 43:
45
BAB 44: Panggil Aku Mas
46
BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47
BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48
BAB 47: Racun???
49
BAB 48: Merasa Tak Pantas
50
BAB 49: Senyum Palsu
51
BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52
BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53
BAB 52: Keluar dari Mansion
54
BAB 53: Pindah ke Apartemen
55
BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56
BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57
BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58
BAB 57: Makan Siang???
59
BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60
BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61
BAB 60
62
BAB 61: Kebenaran Terungkap
63
BAB 62: Oh Tidak Amara???
64
BAB 63: Flashback
65
BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66
BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67
BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68
BAB 67: Pemulihan
69
BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70
BAB 69: Terbongkar
71
BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72
BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73
BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74
BAB 73
75
BAB 74 : Hamil
76
BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77
BAB 76: Protektif
78
BAB 77: Langkah Pertama
79
BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80
BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81
BAB 80: Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!