BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan

Arlan Aditama berdiri di luar pintu kayu jati itu dengan perasaan campur aduk. Jam dinding di koridor terus berdetak, namun suara tangisan Kenzo yang biasanya memekakkan telinga tiba-tiba menghilang sepenuhnya. Sunyi. Kesunyian itu justru terasa lebih mengintimidasi bagi Arlan daripada jeritan putranya.

Dua menit yang ia janjikan telah berlalu. Tangannya yang besar mencengkeram gagang pintu, ragu apakah ia harus merangsek masuk atau menunggu lebih lama. Pikirannya melayang pada sosok Amara—gadis desa yang tampak begitu rapuh, namun memiliki keberanian untuk mengusirnya dari kamar bayinya sendiri.

"Apa yang dia lakukan?" gumam Arlan rendah. Amarahnya yang tadi meluap kini berganti dengan rasa ingin tahu yang membara. Arlan tidak terbiasa tidak memegang kendali. Di perusahaannya, ia adalah raja. Di rumah ini, ia adalah penguasa. Namun, gadis kecil ini baru saja menciptakan wilayah kekuasaan sendiri di dalam kamarnya.

Tanpa suara, Arlan memasukkan kunci cadangan ke dalam lubang pintu. Ia memutarnya perlahan, sangat pelan hingga tidak menimbulkan bunyi klik sedikit pun. Ia mendorong pintu itu hanya beberapa inci, menciptakan celah kecil untuk mengintip ke dalam.

Di dalam sana, lampu utama telah dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan. Arlan menyipitkan mata. Ia melihat Amara sedang membungkuk di depan ranjang bayi (boks) Kenzo. Gadis itu sedang merapikan selimut bayi dengan gerakan yang sangat lembut.

Kenzo tertidur lelap. Benar-benar lelap. Napas bayi itu teratur, tangannya yang mungil terbuka di samping kepala, menunjukkan kedamaian yang tidak pernah Arlan lihat selama berminggu-minggu ini. Tak ada lagi wajah merah karena menangis, tak ada lagi rontaan frustrasi.

Amara dengan terburu-buru mengancingkan bagian atas seragamnya. Gerakannya tampak kikuk dan penuh kepanikan. Ia beberapa kali mengusap bagian depan bajunya dengan telapak tangan, seolah-olah ada sesuatu yang tumpah di sana.

Arlan mendorong pintu sepenuhnya dan melangkah masuk. Suara sepatunya yang menghantam lantai marmer membuat Amara terjengit kaget. Gadis itu segera berbalik, membelakangi ranjang Kenzo dengan wajah pucat pasi.

"Bagaimana kau melakukannya?" suara Arlan terdengar seperti bisikan yang tajam di tengah kesunyian malam.

"Tuan... k-kapan Tuan masuk?" suara Amara bergetar. Ia menunduk dalam, tangannya saling meremas di depan perut, mencoba menutupi bagian dadanya yang tampak sedikit lebih lembap daripada sebelumnya.

Arlan tidak menjawab. Ia melangkah mendekati ranjang dan menatap putranya. Kenzo benar-benar tenang. Namun, saat Arlan mendekat, ia menghirup aroma yang sangat kuat di udara. Itu bukan aroma susu formula kalengan yang berbau tajam. Itu adalah aroma manis, hangat, dan sangat segar. Aroma yang seolah-olah menarik sisi primitif di dalam diri Arlan.

"Kenapa dia bisa tidur secepat ini? Kau memberinya apa?" Arlan berbalik dan menatap Amara dengan mata elangnya. Ia melangkah maju, memaksa Amara mundur hingga punggung gadis itu membentur dinding dingin.

"Saya... saya hanya menimangnya, Tuan. Mungkin Tuan Kenzo hanya butuh sentuhan kulit ke kulit agar merasa aman," jawab Amara terbata-bata. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Arlan bisa mendengarnya.

Arlan menyipitkan mata, menatap kerah baju Amara yang sedikit miring. "Hanya menimang? Lalu kenapa kau terlihat begitu ketakutan? Dan kenapa kau berkeringat dingin?"

Arlan mengangkat tangannya, jemarinya hampir menyentuh bahu Amara. Ia bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh gadis itu. Ada sesuatu yang tidak beres, ia tahu itu. Gadis ini menyembunyikan sesuatu yang sangat besar di balik sikap lugunya.

"Aku tidak suka dibohongi, Amara," bisik Arlan tepat di telinganya, membuat bulu kuduk Amara meremang. "Jika aku tahu kau memberikan sesuatu yang berbahaya pada anakku agar dia diam, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara."

Amara hanya bisa menggeleng, air matanya mulai menggenang. "Saya tidak akan pernah menyakiti Tuan Kenzo, Tuan. Demi Tuhan... saya hanya ingin dia tenang."

Arlan terdiam sejenak, menatap bibir Amara yang bergetar. Rasa curiga itu masih ada, namun aroma manis yang menguar dari tubuh Amara justru mulai memabukkan logikanya. Arlan menarik tangannya kembali, mencoba menahan gairah aneh yang tiba-tiba muncul di tengah amarahnya.

"Pergilah ke kamarmu. Lasmi akan menunjukkan tempatnya. Besok pagi, kita akan bicara lagi. Dan ingat satu hal... jangan pernah mengunci pintu kamar ini lagi jika kau sedang bersama Kenzo."

Amara mengangguk cepat dan hampir berlari keluar dari kamar itu. Sementara itu, Arlan tetap berdiri di sana, menatap putranya yang terlelap sambil menghirup sisa-sisa aroma manis yang ditinggalkan Amara. Arlan tahu, gadis ini bukan pengasuh biasa. Dan ia bertekad untuk mengungkap apa sebenarnya yang disembunyikan Amara di balik seragamnya itu.

***

Amara setengah berlari menyusuri koridor lantai dua yang luas dan sunyi. Langkah kakinya yang hanya beralaskan kaos kaki tipis tidak menimbulkan suara di atas karpet bulu yang mahal, namun gema detak jantungnya sendiri terasa seperti tabuhan genderang di telinganya.

Setiap kali ia teringat tatapan tajam Arlan dan bagaimana pria itu menyudutkannya ke dinding tadi, lututnya terasa lemas. Ia merasa seperti seekor kancil yang baru saja lolos dari terkaman harimau, namun ia tahu harimau itu belum menyerah; ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam kembali.

"Mbak... Mbak Lasmi," bisik Amara saat melihat bayangan seseorang di ujung lorong dekat dapur bersih.

Mbak Lasmi yang sedang merapikan beberapa botol susu di pantry menoleh dengan wajah cemas. "Amara? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali, seperti melihat setan."

Amara segera menghampiri Mbak Lasmi dan mencengkeram lengan wanita itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Mbak... kamar saya di mana? Saya mau istirahat. Saya... saya takut salah langkah."

Mbak Lasmi meletakkan botol yang dipegangnya, lalu menuntun Amara menuju area belakang mansion yang dikhususkan untuk para pekerja, namun tetap jauh lebih mewah daripada rumah Amara di desa. "Tuan Arlan membentakmu? Atau Tuan Kenzo tidak mau diam?"

"Tuan Kenzo sudah tidur, Mbak. Tadi Tuan Arlan masuk dan... dia curiga. Dia menanyakan banyak hal," jawab Amara sambil mencoba mengatur napasnya. Ia masih merasakan sisa kehangatan dari mulut kecil Kenzo di dadanya, dan rasa lembap di seragamnya membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

"Sstt, pelankan suaramu," Mbak Lasmi membuka sebuah pintu kamar yang rapi dengan tempat tidur tunggal yang empuk. "Ini kamarmu. Di dalam ada kamar mandi kecil. Kamu bisa bersih-bersih di sana."

Mbak Lasmi menutup pintu kamar dan menatap Amara dengan selidik. "Mara, jujur sama Mbak. Apa yang kamu lakukan sampai bayi itu bisa diam sesunyi itu? Biasanya, biarpun digendong tiga orang sekalipun, Tuan Kenzo tidak akan berhenti menjerit sampai suaranya habis."

Amara terdiam, ia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap mata Mbak Lasmi yang penuh pengalaman. "Saya hanya... memberikan apa yang dia butuhkan, Mbak. Kasih sayang."

Mbak Lasmi menghela napas, menganggap itu hanyalah jawaban diplomatis dari seorang gadis polos. "Ya sudah, kamu istirahatlah. Tapi ingat, Mara, Tuan Arlan itu orangnya sangat teliti. Dia punya kamera di hampir setiap sudut rumah ini, kecuali di kamar mandi dan kamar pribadimu. Jadi, jangan pernah melakukan hal yang aneh-aneh."

Jantung Amara mencelos. Kamera? Berarti Arlan bisa melihat semuanya?

"K-kamera, Mbak? Di kamar bayi juga ada?" tanya Amara dengan suara yang hampir hilang.

"Ada, tapi Tuan jarang mengeceknya kalau dia sedang sibuk di kantor. Tapi sejak istrinya pergi, dia jadi lebih sering memantau dari ponselnya. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting Kenzo sudah tenang. Itu sudah nilai besar untukmu," ujar Mbak Lasmi sambil menepuk bahu Amara sebelum keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup dan terkunci, Amara menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia melosor jatuh ke lantai, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Air matanya jatuh tanpa permisi. Ia meratapi nasibnya yang harus terjebak dalam kebohongan besar ini demi ekonomi keluarga.

Ia perlahan membuka kancing bajunya, melihat bercak basah yang membentuk lingkaran di kain seragamnya. Harum asinya sendiri memenuhi indra penciumannya—aroma yang kini menjadi sumber keselamatannya sekaligus sumber petakanya.

"Ibu... Amara takut," bisiknya lirih.

Di sisi lain mansion, di dalam ruang kerjanya yang gelap, Arlan Aditama duduk di kursi kebesarannya. Ia tidak sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Matanya tertuju pada layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV kamar bayi beberapa menit yang lalu.

Ia memutar ulang bagian saat Amara meminta izin untuk berduaan dengan Kenzo. Arlan memperhatikan setiap gerak-gerik Amara di layar yang hitam putih itu. Meskipun sudut kamera tidak memperlihatkan secara jelas apa yang dilakukan Amara di kursi goyang karena terhalang sandaran kursi yang tinggi, Arlan bisa melihat bagaimana punggung Amara bergerak ritmis, dan bagaimana Kenzo yang tadinya meronta tiba-tiba menjadi tenang dalam sekejap.

Arlan menyentuh bibirnya sendiri, teringat aroma manis yang ia hirup di kamar tadi. "Gadis kecil... apa sebenarnya yang kau berikan pada anakku?" gumamnya dengan suara yang serak dan penuh gairah yang terpendam.

Terpopuler

Comments

Ragil Saputri

Ragil Saputri

kan kan Arlan jdi penasaran kaaan...hayo ngintipin mara yg lgi nyu su in anakmu yeeeee🤭🤭🤭

2026-03-31

0

Ratnawati Hadiwiroyo

Ratnawati Hadiwiroyo

keajaiban Tuhan bila ada gadis yg berlebih hormonnya sehingga bisa mengeluarkan asi

2026-03-24

0

Visitor6490

Visitor6490

ceritanya aneh. tapi saya suka. lanjutkan

2026-05-11

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3 BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4 BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5 BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6 BAB 5: Ketahuan
7 Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8 BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9 BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10 BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11 BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12 BAB 11
13 BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14 BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15 BAB 14
16 BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17 BAB 16
18 BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19 BAB 18
20 BAB 19: Urusan yang Tertunda
21 BAB 20
22 BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23 BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24 BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25 BAB 24
26 BAB 25
27 BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28 BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29 BAB 28
30 BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31 BAB 30: Salju Pertama di London
32 BAB 31
33 BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34 BAB 33
35 BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36 BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37 BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38 BAB 37: Pembelaan Arlan
39 BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40 BAB 39: Menikah?
41 BAB 40: Cek Kosong
42 BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43 BAB 42: Amarah Sang Tuan
44 BAB 43:
45 BAB 44: Panggil Aku Mas
46 BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47 BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48 BAB 47: Racun???
49 BAB 48: Merasa Tak Pantas
50 BAB 49: Senyum Palsu
51 BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52 BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53 BAB 52: Keluar dari Mansion
54 BAB 53: Pindah ke Apartemen
55 BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56 BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57 BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58 BAB 57: Makan Siang???
59 BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60 BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61 BAB 60
62 BAB 61: Kebenaran Terungkap
63 BAB 62: Oh Tidak Amara???
64 BAB 63: Flashback
65 BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66 BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67 BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68 BAB 67: Pemulihan
69 BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70 BAB 69: Terbongkar
71 BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72 BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73 BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74 BAB 73
75 BAB 74 : Hamil
76 BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77 BAB 76: Protektif
78 BAB 77: Langkah Pertama
79 BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80 BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81 BAB 80: Happy Ending
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Prolog
2
BAB 1: Tiket Menuju Harapan
3
BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis
4
BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan
5
BAB 4: Rahasia di Balik Remang Malam
6
BAB 5: Ketahuan
7
Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
8
BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup
9
BAB 8: Kamar di Balik Pintu Rahasia
10
BAB 9: Dahaga Sang Tuan (Revisi)
11
BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan
12
BAB 11
13
BAB 12: Jejak yang Tertinggal
14
BAB 13: Prioritas Sang Tuan
15
BAB 14
16
BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)
17
BAB 16
18
BAB 17: Ritual di Balik Toilet
19
BAB 18
20
BAB 19: Urusan yang Tertunda
21
BAB 20
22
BAB 21: Penyatuan Sang Tuan (Revisi)
23
BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
24
BAB 23: Jejak yang Terbakar (Revisi)
25
BAB 24
26
BAB 25
27
BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
28
BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan
29
BAB 28
30
BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan (Revisi)
31
BAB 30: Salju Pertama di London
32
BAB 31
33
BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
34
BAB 33
35
BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
36
BAB 35: Pertemuan yang Tak Diinginkan
37
BAB 36: Kedatangan Sang Mantan
38
BAB 37: Pembelaan Arlan
39
BAB 38: Bertemu Orangtua Arlan
40
BAB 39: Menikah?
41
BAB 40: Cek Kosong
42
BAB 41: Jebakan dan Hilangnya Sang Pengasuh
43
BAB 42: Amarah Sang Tuan
44
BAB 43:
45
BAB 44: Panggil Aku Mas
46
BAB 45: Honeymoon (Revisi)
47
BAB 46: Ingin Selalu Seperti Ini
48
BAB 47: Racun???
49
BAB 48: Merasa Tak Pantas
50
BAB 49: Senyum Palsu
51
BAB 50: Pemujaan Sang Suami di Atas Ranjang (Revisi)
52
BAB 51: Ingin Pindah Rumah
53
BAB 52: Keluar dari Mansion
54
BAB 53: Pindah ke Apartemen
55
BAB 54: Hari Pertama di Apartemen
56
BAB 55: Sederhana yang Sempurna
57
BAB 56: Bekal Cinta untuk Sang Tuan
58
BAB 57: Makan Siang???
59
BAB 58: Bermain Cinta di Kantor (Revisi)
60
BAB 59: Sisa Gåïråh dan Gangguan Kecil
61
BAB 60
62
BAB 61: Kebenaran Terungkap
63
BAB 62: Oh Tidak Amara???
64
BAB 63: Flashback
65
BAB 64: Kehilangan yang Tak Terduga
66
BAB 65: Luka yang Tersembunyi
67
BAB 66: Penjara Tanpa Jeruji
68
BAB 67: Pemulihan
69
BAB 68: Sisa-Sisa Penyesalan
70
BAB 69: Terbongkar
71
BAB 70: Pusara Tanpa Nama dan Dendam yang Memudar
72
BAB 71: Perayaan Kecil dan Penantian yang Tabah
73
BAB 72: Tamu dari Masa Lalu
74
BAB 73
75
BAB 74 : Hamil
76
BAB 75: Gema Kegilaan dan Pembangunan Benteng Cinta
77
BAB 76: Protektif
78
BAB 77: Langkah Pertama
79
BAB 78: Pusat Komando di Kamar Utama
80
BAB 79: Menanti Sang Fajar di Aditama
81
BAB 80: Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!