Bab 2: Diagnosa Malam Pertama

​​"Baguslah. Jadi aku bisa tidur nyenyak tanpa perlu melayanimu."

​Jawaban Ziva meluncur begitu saja, santai dan tanpa beban. Tidak ada raut kecewa atau ketakutan di wajah cantiknya. Dia justru terlihat... lega?

​Elzian Drystan terdiam sejenak. Alis tebalnya bertaut tajam. Reaksi ini bukan yang dia harapkan. Biasanya, wanita yang dikirim ke kamarnya akan menangis histeris, memohon belas kasihan, atau lari terbirit-birit melihat kondisi kakinya. Tapi wanita ini justru melepas veil pengantinnya dengan gerakan kasar, melemparnya ke sembarang kursi, lalu menghempaskan tubuh ke sofa beludru di seberang Elzian.

​"Kau tidak dengar? Aku bilang keluar," geram Elzian. Suaranya rendah, seperti gemuruh petir yang tertahan.

​Ziva melepas sepatu hak tingginya satu per satu, mendesah nikmat saat kakinya menyentuh karpet empuk. "Keluar ke mana? Ini kamar pengantin kita. Lagipula, aku sudah dapat sertifikat rumahku. Kesepakatannya adalah aku menjadi istrimu, tinggal di sini, dan kau menjamin keamanan asetku. Tidak ada klausul yang bilang aku harus keluar kamar hanya karena suamiku moody."

​"Kau punya nyali juga," cemooh Elzian. Tangannya mencengkeram pegangan kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau pikir karena kau seorang dokter, kau bisa bersikap sombong di sini? Di rumah ini, gelarmu tidak ada harganya. Kau cuma barang jaminan hutang."

​Ziva menoleh, tatapannya berubah tajam. Dia bangkit dari sofa, berjalan perlahan mendekati kursi roda Elzian. Langkahnya tenang, terukur, persis seperti predator yang sedang mengamati mangsa.

​"Jangan mendekat," desis Elzian.

​Ziva mengabaikan peringatan itu. Dia berhenti tepat di depan lutut Elzian. Aroma parfum maskulin pria itu menguar kuat, bercampur dengan aura bahaya yang pekat. Namun bagi Ziva, bahaya adalah teman sehari-hari di meja operasi.

​"Kau tahu, Elzian," ucap Ziva pelan, matanya menyapu kaki Elzian yang tertutup celana bahan hitam. "Sebagai ahli bedah saraf, aku sudah melihat ratusan kasus kelumpuhan. Paraplegia, tetraplegia... aku hafal semuanya."

​Tanpa peringatan, Ziva berlutut. Tangannya terulur cepat menyentuh betis Elzian.

​"Lepaskan!" Elzian menyentak kakinya—sebuah gerakan refleks.

​Gerakan itu sangat kecil, nyaris tak terlihat mata awam. Tapi bagi Ziva, itu sudah cukup. Senyum miring terbit di bibir merahnya.

​"Wow," gumam Ziva, jarinya kini menekan otot betis Elzian dengan kuat, sengaja mencari titik saraf. "Refleks yang menarik untuk orang yang katanya 'lumpuh total' selama dua tahun."

​"Singkirkan tanganmu atau kupatahkan," ancam Elzian, tapi dia tidak segera menepis tangan Ziva. Dia membeku, waspada.

​Ziva mendongak, menatap lurus ke manik mata hitam pria itu. "Otot gastrocnemius-mu kencang. Padat. Tidak ada tanda-tanda atrofi atau penyusutan otot sama sekali. Kalau kau benar-benar lumpuh dan duduk di kursi roda ini selama dua tahun, kakimu harusnya sudah mengecil, layu seperti ranting kering. Tapi ini?"

​Ziva menepuk pelan lutut Elzian, nada suaranya penuh ejekan. "Ini kaki pelari, bukan kaki orang cacat."

​Rahang Elzian mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang mulai meledak.

​Ziva berdiri perlahan, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Dia menatap mata Elzian lekat-lekat, menganalisa setiap kedutan mikro di wajah suaminya itu.

​"Dan lihat matamu," lanjut Ziva, suaranya turun menjadi bisikan berbahaya. "Pupilmu melebar saat aku menyentuhmu tadi. Itu respon sistem saraf simpatik. Fight or flight. Tubuhmu bersiaga. Kau tegang. Kau tidak lumpuh, Suamiku. Kau cuma penipu ulung dengan akting yang buruk sekali."

​Hening.

​Suasana kamar itu berubah mencekam dalam hitungan detik. Udara terasa berat, seolah oksigen ditarik paksa dari ruangan.

​Elzian menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan. Kilatan di matanya bukan lagi sekadar dingin, tapi mematikan. Rahasianya—kartu As yang dia jaga mati-matian dari musuh-musuh bisnisnya, bahkan dari keluarganya sendiri—baru saja ditelanjangi oleh wanita yang baru dikenalnya kurang dari enam jam.

​"Kau merasa pintar, Dokter Ziva?" tanya Elzian pelan. Terlalu pelan.

​"Aku tidak merasa pintar. Aku memang pintar," balas Ziva angkuh. "Jadi, berhentilah bersandiwara di depanku. Itu menjijik—"

​BRAK!

​Kalimat Ziva terputus paksa.

​Kursi roda itu terdorong ke belakang dengan kasar. Dalam sekejap mata, bayangan tinggi besar menjulang di hadapannya. Elzian Drystan berdiri. Tegak, kokoh, dan menjulang tinggi, jauh lebih tinggi dari Ziva.

​Sebelum Ziva sempat mundur, sebuah tangan besar dan kuat sudah mencengkeram lehernya, mendorongnya mundur hingga punggung Ziva menghantam dinding kamar dengan keras.

​"Ugh!" Ziva terbatuk, tangannya refleks mencakar lengan kemeja Elzian yang kini mengunci saluran pernapasannya.

​Wajah Elzian kini tepat di depan wajahnya. Tidak ada lagi pria lemah di kursi roda. Yang ada di hadapannya adalah monster yang sebenarnya. Otot-otot lengan pria itu menegang sempurna, membuktikan diagnosa Ziva seratus persen akurat. Tenaganya luar biasa besar.

​Mata Elzian berkilat buas, menatap Ziva seperti singa yang siap merobek leher mangsanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kejam yang membuat bulu kuduk meremang.

​"Selamat, Istriku," bisik Elzian tepat di telinga Ziva, suaranya serak dan mengerikan. Cengkeramannya di leher Ziva mengerat, membatasi pasokan udara, tapi tidak cukup untuk membunuh—hanya untuk memberi peringatan mutlak. "Analisa medis yang brilian."

​Ziva megap-megap mencari udara, tapi matanya tetap menatap nyalang, menolak untuk tunduk.

​"Tapi kau lupa satu hal," lanjut Elzian dingin. Dia mendekatkan wajahnya, menatap manik mata Ziva yang mulai berair karena kurang oksigen. "Orang yang tahu terlalu banyak, biasanya umurnya pendek."

Terpopuler

Comments

Ipan

Ipan

Nabila Putri per mata sari ❤️ HARI

2026-03-15

1

Oppung Caroline Pasaribu

Oppung Caroline Pasaribu

horor si suami .lupa namanya .ternyata sandiwara utk mengelabui orang

2026-03-06

0

Sri Astuti

Sri Astuti

selamat sore thor.. ikut nenikmati karyamu.. sukses selalu ya😍

2026-04-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2 Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3 Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4 Bab 4: Pagi yang Canggung
5 Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6 Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7 Bab 7: Serangan Racun Pertama
8 Bab 8: Pembersihan Staff
9 Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10 Bab 10: Halo, Dokter Z.
11 Bab 11: Tamu Tak Diundang
12 Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13 Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14 Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15 Bab 15: Jebakan Tangga
16 Bab 16: Pengusiran
17 Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18 Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19 Bab 19: Situasi Darurat
20 Bab 20: Operasi dengan Pena
21 Bab 21: Klaim Kepemilikan
22 Bab 22: Kembali ke Realita
23 Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24 Bab 24: Konfrontasi
25 Bab 25: Perang Dingin
26 Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27 Bab 27: Krisis Perusahaan
28 Bab 28: Investigasi Ziva
29 Bab 29: Jebakan Tikus
30 Bab 30: Tangkap Basah
31 Bab 31: Hadiah Kemenangan
32 Bab 32: Pulang dengan Pincang
33 Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34 Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35 Bab 35: Ziva Mengamuk
36 Bab 36: Demam & Manja
37 Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38 ​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39 Bab 39: Bluffing Medis
40 Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41 Bab 41: Serangan Hipertensi
42 Bab 42: Hadiah Kencan
43 ​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44 Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45 Bab 44: Duo Maut
46 Bab 45: Luka Gores
47 Bab 46: Infeksi & Demam
48 Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49 Bab 48: Pagi yang Canggung
50 Bab 49: Ciuman Pembungkam
51 Bab 50: Status Baru?
52 Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53 ​Bab 52: Surat Panggilan
54 ​Bab 54: Serangan Ekonomi
55 Bab 55: Eksekusi Aset
56 ​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57 ​Bab 57: Karma Sepupu
58 ​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59 Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60 Bab 60: Ancaman Baru
61 Bab 61: Kandang Singa
62 ​Bab 62: Serangan Balik
63 Bab 63: Sang Raja Bangkit
64 Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65 Bab 65: Bangun di Neraka Es
66 Bab 66: Logika vs Hipotermia
67 ​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68 Bab 68: Batas Manusia
69 Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70 Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71 Bab 71: Pelukan Hangat
72 Bab 72: Air Mata CEO
73 ​Bab 73: Permintaan Konyol
74 Bab 74: Eksekusi Musuh
75 ​Bab 75: Sumpah Elzian
76 Bab 76: Penjara Emas
77 Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78 Bab 78: Misi Kabur
79 Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80 Bab 80: Luluh
81 Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82 Bab 82: Akuarium Istri
83 Bab 83: Dokter Satria
84 Bab 84: Bahasa Planet
85 Bab 85: Diagnosa Gaagle
86 Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87 ​Bab 87: Sabotase Listrik
88 Bab 88: Perang Dingin
89 Bab 89: Pengakuan Dosa
90 ​Bab 90: Penyerahan Diri
91 Bab 91: First Night (The Real One)
92 Bab 92: Pagi yang Manja
93 Bab 93: Tanda Kepemilikan
94 Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95 ​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96 Bab 96: Elzian Murka
97 Bab 96: Debat Terbuka
98 Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99 ​Bab 99: Kelelahan
100 Bab 100: Live Instagram
101 ​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2
Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3
Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4
Bab 4: Pagi yang Canggung
5
Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6
Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7
Bab 7: Serangan Racun Pertama
8
Bab 8: Pembersihan Staff
9
Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10
Bab 10: Halo, Dokter Z.
11
Bab 11: Tamu Tak Diundang
12
Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13
Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14
Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15
Bab 15: Jebakan Tangga
16
Bab 16: Pengusiran
17
Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18
Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19
Bab 19: Situasi Darurat
20
Bab 20: Operasi dengan Pena
21
Bab 21: Klaim Kepemilikan
22
Bab 22: Kembali ke Realita
23
Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24
Bab 24: Konfrontasi
25
Bab 25: Perang Dingin
26
Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27
Bab 27: Krisis Perusahaan
28
Bab 28: Investigasi Ziva
29
Bab 29: Jebakan Tikus
30
Bab 30: Tangkap Basah
31
Bab 31: Hadiah Kemenangan
32
Bab 32: Pulang dengan Pincang
33
Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34
Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35
Bab 35: Ziva Mengamuk
36
Bab 36: Demam & Manja
37
Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38
​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39
Bab 39: Bluffing Medis
40
Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41
Bab 41: Serangan Hipertensi
42
Bab 42: Hadiah Kencan
43
​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44
Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45
Bab 44: Duo Maut
46
Bab 45: Luka Gores
47
Bab 46: Infeksi & Demam
48
Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49
Bab 48: Pagi yang Canggung
50
Bab 49: Ciuman Pembungkam
51
Bab 50: Status Baru?
52
Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53
​Bab 52: Surat Panggilan
54
​Bab 54: Serangan Ekonomi
55
Bab 55: Eksekusi Aset
56
​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57
​Bab 57: Karma Sepupu
58
​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59
Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60
Bab 60: Ancaman Baru
61
Bab 61: Kandang Singa
62
​Bab 62: Serangan Balik
63
Bab 63: Sang Raja Bangkit
64
Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65
Bab 65: Bangun di Neraka Es
66
Bab 66: Logika vs Hipotermia
67
​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68
Bab 68: Batas Manusia
69
Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70
Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71
Bab 71: Pelukan Hangat
72
Bab 72: Air Mata CEO
73
​Bab 73: Permintaan Konyol
74
Bab 74: Eksekusi Musuh
75
​Bab 75: Sumpah Elzian
76
Bab 76: Penjara Emas
77
Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78
Bab 78: Misi Kabur
79
Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80
Bab 80: Luluh
81
Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82
Bab 82: Akuarium Istri
83
Bab 83: Dokter Satria
84
Bab 84: Bahasa Planet
85
Bab 85: Diagnosa Gaagle
86
Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87
​Bab 87: Sabotase Listrik
88
Bab 88: Perang Dingin
89
Bab 89: Pengakuan Dosa
90
​Bab 90: Penyerahan Diri
91
Bab 91: First Night (The Real One)
92
Bab 92: Pagi yang Manja
93
Bab 93: Tanda Kepemilikan
94
Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95
​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96
Bab 96: Elzian Murka
97
Bab 96: Debat Terbuka
98
Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99
​Bab 99: Kelelahan
100
Bab 100: Live Instagram
101
​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!