Bab 4: Pagi yang Canggung

​"Leherku rasanya mau patah. Kau benar-benar tega membiarkan istrimu tidur menekuk seperti udang kering di sofa itu."

​Ziva meregangkan tubuhnya yang kaku. Bunyi krek pelan terdengar dari tulang punggungnya. Dia melirik sinis ke arah pria yang duduk diam di kursi roda dekat jendela. Elzian sudah rapi dengan kemeja putih yang digulung hingga siku, terlihat segar dan dominan, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

​Elzian tidak menoleh. Dia tetap fokus pada tablet di pangkuannya. "Kau masih hidup. Itu artinya sofanya cukup nyaman."

​"Nyaman matamu," gumam Ziva pelan, menyambar handuk dan berjalan menuju kamar mandi.

​Setengah jam kemudian, Ziva turun ke ruang makan. Aroma kopi segar dan roti panggang memenuhi udara, membuat perutnya berbunyi. Dia duduk di seberang Elzian yang sedang menikmati kopi hitamnya dengan tenang.

​Seorang wanita paruh baya dengan seragam kepala pelayan mendekat. Namanya Bu Marta. Ziva tahu dari tatapan merendahkan wanita itu bahwa dia adalah 'orang lama' yang setia pada ibu tiri Elzian.

​"Silakan, Nona," ucap Bu Marta sambil meletakkan piring di depan Ziva dengan sedikit dihentakkan. Bunyi denting piring beradu dengan meja marmer terdengar nyaring.

​Ziva menatap isi piringnya. Dua lembar roti tawar yang pinggirannya agak keras dan selai kacang yang terlihat berminyak. Sementara di piring Elzian, terhidang croissant hangat, telur benedict, dan buah-buahan segar.

​"Hanya ini?" tanya Ziva, mengangkat alis.

​Bu Marta tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mata. "Maaf, Nona. Koki kami belum sempat belanja bahan premium. Lagipula, saya pikir Nona Ziva sudah terbiasa makan seadanya di rumah paman Nona yang sempit itu. Jadi saya tidak menyiapkan menu khusus. Lidah orang biasa mungkin kaget kalau langsung diberi makanan mahal."

​Suasana hening seketika. Para pelayan lain menunduk, takut melihat reaksi istri baru bos mereka yang dihina terang-terangan.

​Elzian tidak berkomentar. Dia menyesap kopinya, matanya melirik dari balik cangkir, menunggu reaksi Ziva. Apakah wanita ini akan menangis? Atau mengadu padanya?

​Ziva justru terkekeh pelan. "Perhatian sekali kau, Bu Marta."

​Ziva mengambil pisau perak di samping piringnya. Bukan untuk memotong roti, tapi dia mengangkat roti itu, lalu mengikis permukaan piringnya dengan ujung pisau. Dia mengambil serbet putih bersih, lalu mengusap bekas kikisan itu.

​Serbet putih itu kini bernoda kekuningan. Minyak dan debu halus.

​"Panggil Koki ke sini. Sekarang," perintah Ziva. Suaranya datar, tapi auranya membuat bulu kuduk berdiri.

​Bu Marta mendengus, tapi tetap memanggil koki. Seorang pria gemuk dengan topi putih tergopoh-gopoh datang. "Y-ya, Nyonya?"

​"Lihat ini," Ziva melempar serbet kotor itu ke hadapan si Koki. "Piring ini lembap. Ada lapisan minyak yang tidak tuntas dicuci. Kau tahu apa yang terjadi kalau sisa lemak hewan bertemu dengan kelembapan suhu ruangan selama lebih dari enam jam?"

​Koki itu gagap. "I-itu..."

​"Bakteri Salmonella dan E. coli sedang berpesta pora di piring ini," potong Ziva dingin. Dia menatap roti di piringnya dengan tatapan jijik seolah melihat bangkai tikus. "Kau tahu gejalanya kalau bakteri ini masuk ke usus? Awalnya perutmu akan melilit hebat. Lalu kau akan muntah cairan hijau pahit."

​Ziva berdiri, berjalan perlahan mengelilingi Bu Marta yang mulai gelisah.

​"Setelah itu, diare berdarah akan mulai keluar. Bukan cuma sekali, tapi terus-menerus sampai cairan tubuhmu habis. Matamu akan cekung, ginjalmu gagal berfungsi karena dehidrasi akut, dan kau akan mati perlahan sambil memohon air," bisik Ziva tepat di telinga Bu Marta. Deskripsinya begitu hidup dan mengerikan.

​Wajah Koki pucat pasi. Bu Marta menutup mulutnya, terlihat mual membayangkan penjelasan grafis Ziva.

​Di ujung meja, sudut bibir Elzian terangkat membentuk seringai tipis. Dia menikmati pertunjukan ini. Istrinya bukan kelinci percobaan, tapi ular berbisa.

​Ziva kembali duduk, lalu mendorong piring kotor berisi roti itu ke hadapan Bu Marta.

​"Makan," perintah Ziva singkat.

​Mata Bu Marta membelalak. "A-apa? Nona gila? Ini sisa—maksud saya, ini..."

​"Kau bilang ini makanan yang layak untuk lidah orang biasa sepertiku, kan?" sela Ziva tajam. Tatapannya menusuk, tidak ada ampun. "Kalau piring ini bersih dan makanannya layak, kau tidak akan ragu memakannya. Makan sekarang. Kalau dalam dua jam kau tidak muntah atau diare, baru aku akui rumah ini bersih dan kau boleh tetap bekerja di sini."

​Tangan Bu Marta gemetar hebat saat menyentuh piring itu. Keringat dingin mengucur di dahinya. Dia tahu betul piring itu bekas pakai kemarin yang hanya dibilas air, dan rotinya memang sisa.

​"S-saya tidak bisa..." cicit Bu Marta.

​"Makan atau keluar dari rumah ini!" bentak Ziva, menggebrak meja.

​Bu Marta tersentak kaget. Tanpa pamit, wanita itu langsung berbalik dan lari menuju dapur sambil terisak, diikuti tatapan ngeri para pelayan lain. Si Koki buru-buru mengambil piring kotor itu dan kabur, takut dia yang disuruh memakannya.

​Ruang makan kembali sunyi. Ziva menghela napas panjang, mengambil apel dari keranjang buah di tengah meja—satu-satunya makanan yang belum disentuh tangan kotor pelayan—dan menggigitnya dengan bunyi krak yang renyah.

​Elzian meletakkan cangkirnya perlahan. Tepuk tangan pelan terdengar dari arahnya.

​"Mengesankan," kata Elzian, nada suaranya terdengar geli bercampur sarkasme. "Kau baru saja memecat pelayan senior yang sudah bekerja sepuluh tahun di keluarga Drystan. Dia orang kepercayaan ibu tiriku. Siapa yang akan mengurus rumah sebesar ini sekarang?"

​Ziva mengunyah apelnya dengan santai, lalu menatap Elzian tanpa rasa bersalah.

​"Aku tidak butuh pelayan yang setia pada musuhmu," jawab Ziva enteng sambil menyeka sudut bibirnya. "Dan yang paling penting, aku butuh lingkungan steril, bukan sarang kuman."

Terpopuler

Comments

Nisfu Romadhon

Nisfu Romadhon

lope lope sekebon mawar 🌹 k Othor,,, apakah tokoh utama wanita selalu berinisial Z? oowch khusus k Othor aja ya,,,sip 👍🫢

2026-06-26

1

Deera__

Deera__

hahahahahaha asssemm... nyaman matamu gundul Wie /Curse//Curse//Sob//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2026-03-02

0

Hardinik Akbari

Hardinik Akbari

kereennn.....novel spt enak utk di baca. wanita tangguh, smart.....👍👍👍

2026-02-20

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2 Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3 Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4 Bab 4: Pagi yang Canggung
5 Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6 Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7 Bab 7: Serangan Racun Pertama
8 Bab 8: Pembersihan Staff
9 Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10 Bab 10: Halo, Dokter Z.
11 Bab 11: Tamu Tak Diundang
12 Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13 Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14 Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15 Bab 15: Jebakan Tangga
16 Bab 16: Pengusiran
17 Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18 Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19 Bab 19: Situasi Darurat
20 Bab 20: Operasi dengan Pena
21 Bab 21: Klaim Kepemilikan
22 Bab 22: Kembali ke Realita
23 Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24 Bab 24: Konfrontasi
25 Bab 25: Perang Dingin
26 Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27 Bab 27: Krisis Perusahaan
28 Bab 28: Investigasi Ziva
29 Bab 29: Jebakan Tikus
30 Bab 30: Tangkap Basah
31 Bab 31: Hadiah Kemenangan
32 Bab 32: Pulang dengan Pincang
33 Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34 Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35 Bab 35: Ziva Mengamuk
36 Bab 36: Demam & Manja
37 Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38 ​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39 Bab 39: Bluffing Medis
40 Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41 Bab 41: Serangan Hipertensi
42 Bab 42: Hadiah Kencan
43 ​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44 Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45 Bab 44: Duo Maut
46 Bab 45: Luka Gores
47 Bab 46: Infeksi & Demam
48 Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49 Bab 48: Pagi yang Canggung
50 Bab 49: Ciuman Pembungkam
51 Bab 50: Status Baru?
52 Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53 ​Bab 52: Surat Panggilan
54 ​Bab 54: Serangan Ekonomi
55 Bab 55: Eksekusi Aset
56 ​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57 ​Bab 57: Karma Sepupu
58 ​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59 Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60 Bab 60: Ancaman Baru
61 Bab 61: Kandang Singa
62 ​Bab 62: Serangan Balik
63 Bab 63: Sang Raja Bangkit
64 Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65 Bab 65: Bangun di Neraka Es
66 Bab 66: Logika vs Hipotermia
67 ​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68 Bab 68: Batas Manusia
69 Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70 Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71 Bab 71: Pelukan Hangat
72 Bab 72: Air Mata CEO
73 ​Bab 73: Permintaan Konyol
74 Bab 74: Eksekusi Musuh
75 ​Bab 75: Sumpah Elzian
76 Bab 76: Penjara Emas
77 Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78 Bab 78: Misi Kabur
79 Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80 Bab 80: Luluh
81 Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82 Bab 82: Akuarium Istri
83 Bab 83: Dokter Satria
84 Bab 84: Bahasa Planet
85 Bab 85: Diagnosa Gaagle
86 Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87 ​Bab 87: Sabotase Listrik
88 Bab 88: Perang Dingin
89 Bab 89: Pengakuan Dosa
90 ​Bab 90: Penyerahan Diri
91 Bab 91: First Night (The Real One)
92 Bab 92: Pagi yang Manja
93 Bab 93: Tanda Kepemilikan
94 Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95 ​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96 Bab 96: Elzian Murka
97 Bab 96: Debat Terbuka
98 Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99 ​Bab 99: Kelelahan
100 Bab 100: Live Instagram
101 ​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2
Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3
Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4
Bab 4: Pagi yang Canggung
5
Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6
Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7
Bab 7: Serangan Racun Pertama
8
Bab 8: Pembersihan Staff
9
Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10
Bab 10: Halo, Dokter Z.
11
Bab 11: Tamu Tak Diundang
12
Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13
Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14
Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15
Bab 15: Jebakan Tangga
16
Bab 16: Pengusiran
17
Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18
Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19
Bab 19: Situasi Darurat
20
Bab 20: Operasi dengan Pena
21
Bab 21: Klaim Kepemilikan
22
Bab 22: Kembali ke Realita
23
Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24
Bab 24: Konfrontasi
25
Bab 25: Perang Dingin
26
Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27
Bab 27: Krisis Perusahaan
28
Bab 28: Investigasi Ziva
29
Bab 29: Jebakan Tikus
30
Bab 30: Tangkap Basah
31
Bab 31: Hadiah Kemenangan
32
Bab 32: Pulang dengan Pincang
33
Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34
Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35
Bab 35: Ziva Mengamuk
36
Bab 36: Demam & Manja
37
Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38
​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39
Bab 39: Bluffing Medis
40
Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41
Bab 41: Serangan Hipertensi
42
Bab 42: Hadiah Kencan
43
​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44
Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45
Bab 44: Duo Maut
46
Bab 45: Luka Gores
47
Bab 46: Infeksi & Demam
48
Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49
Bab 48: Pagi yang Canggung
50
Bab 49: Ciuman Pembungkam
51
Bab 50: Status Baru?
52
Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53
​Bab 52: Surat Panggilan
54
​Bab 54: Serangan Ekonomi
55
Bab 55: Eksekusi Aset
56
​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57
​Bab 57: Karma Sepupu
58
​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59
Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60
Bab 60: Ancaman Baru
61
Bab 61: Kandang Singa
62
​Bab 62: Serangan Balik
63
Bab 63: Sang Raja Bangkit
64
Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65
Bab 65: Bangun di Neraka Es
66
Bab 66: Logika vs Hipotermia
67
​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68
Bab 68: Batas Manusia
69
Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70
Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71
Bab 71: Pelukan Hangat
72
Bab 72: Air Mata CEO
73
​Bab 73: Permintaan Konyol
74
Bab 74: Eksekusi Musuh
75
​Bab 75: Sumpah Elzian
76
Bab 76: Penjara Emas
77
Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78
Bab 78: Misi Kabur
79
Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80
Bab 80: Luluh
81
Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82
Bab 82: Akuarium Istri
83
Bab 83: Dokter Satria
84
Bab 84: Bahasa Planet
85
Bab 85: Diagnosa Gaagle
86
Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87
​Bab 87: Sabotase Listrik
88
Bab 88: Perang Dingin
89
Bab 89: Pengakuan Dosa
90
​Bab 90: Penyerahan Diri
91
Bab 91: First Night (The Real One)
92
Bab 92: Pagi yang Manja
93
Bab 93: Tanda Kepemilikan
94
Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95
​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96
Bab 96: Elzian Murka
97
Bab 96: Debat Terbuka
98
Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99
​Bab 99: Kelelahan
100
Bab 100: Live Instagram
101
​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!