Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang

​​"Bunuh saja. Tapi pastikan kau punya dokter lain yang bisa mendeteksi racun di kopimu pagi nanti.”

​Ziva mengucapkan kalimat itu dengan sisa napas yang ada. Wajahnya mulai memerah, tapi matanya tidak berkedip sedikit pun menatap manik hitam Elzian. Tidak ada permohonan ampun, hanya tantangan gila.

​Cengkeraman Elzian di leher Ziva tidak melonggar, justru semakin kuat. "Apa maksudmu?"

​"Napasmu..." Ziva terbatuk kecil, memukul pelan lengan kekar yang mencekiknya. "Bau almond samar. Sianida dosis mikro? Atau arsenik yang dimodifikasi? Kau pura-pura lumpuh bukan cuma untuk mengelabui musuh, tapi karena tubuhmu memang sedang recovery dari racun saraf, kan?"

​Kening Elzian berkerut dalam. Kilatan membunuh di matanya perlahan berganti menjadi kewaspadaan tinggi. Dia melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba.

​Ziva merosot sedikit, terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang kini berbekas merah. Dia menghirup oksigen rakus-rakus, tapi sedetik kemudian, dia sudah mendongak lagi, tersenyum miring seolah baru saja memenangkan lotre.

​"Tebakanku benar, ya?" serang Ziva langsung, suaranya parau tapi tajam. "Dokter pribadimu bodoh kalau dia tidak sadar racun itu masih ada di sistem tubuhmu. Atau jangan-jangan... doktermulah yang meracunimu?"

​Elzian mundur selangkah. Dia menatap wanita di depannya dengan pandangan baru. Ziva Magdonia bukan sekadar cantik dan berani, dia berbahaya. Dan Elzian suka bahaya.

​"Siapa yang mengirimmu?" tanya Elzian dingin. Dia kembali duduk di kursi rodanya dengan gerakan luwes, menyembunyikan kembali kekuatan fisiknya di balik kedok kelumpuhan.

​"Tidak ada. Aku datang sendiri demi rumahku," jawab Ziva sambil merapikan gaun pengantinnya yang kusut. Dia berjalan menuju meja rias, mengambil tisu basah, dan dengan santai membersihkan lehernya, seolah bekas cekikan itu hanya noda lipstik. "Dengar, Tuan CEO. Kita sama-sama terjebak. Keluargamu—siapapun itu—menginginkan kau mati perlahan supaya terlihat seperti kematian alami. Dan pamanku menginginkan hartaku."

​Ziva berbalik, bersandar pinggul di meja rias dengan tangan bersedekap. "Aku tawarkan kesepakatan bisnis."

​Elzian menaikkan sebelah alisnya. "Kau berani bernegosiasi denganku setelah nyaris mati?"

​"Kenapa tidak? Nyawamu ada di ujung tanduk, Elzian. Kau butuh aku," Ziva menunjuk dada bidang Elzian. "Aku ahli bedah saraf terbaik di negara ini. Aku tahu anatomi, farmakologi, dan toksikologi lebih baik dari siapapun yang kau bayar sekarang. Aku bisa jadi filtermu. Memastikan tidak ada satu tetes racun pun yang masuk ke mulutmu. Aku pastikan kau hidup sampai kau bisa membalas dendam pada mereka."

​Elzian terdiam, menimbang tawaran itu. Tawaran itu logis. Sangat logis. Selama ini dia kesulitan mencari orang kepercayaan medis karena musuhnya selalu berhasil menyusup. Tapi Ziva... Ziva punya motif yang jelas: uang dan aset. Orang yang serakah biasanya lebih jujur daripada orang yang pura-pura setia.

​"Dan apa imbalannya?" tanya Elzian datar.

​"Jadilah tamengku," jawab Ziva cepat. "Gunakan kekuasaanmu yang mengerikan itu untuk menjauhkan pamanku dan lintah darat manapun dari hidupku. Lindungi asetku. Dan saat semua ini selesai, kita bercerai baik-baik."

​"Kau terlalu percaya diri, Dokter," dengus Elzian. "Tapi aku terima. Jadilah anjing penjaga makananku."

​"Mitra medis," koreksi Ziva ketus. "Aku bukan anjing."

​"Terserah. Tapi ingat satu hal, Ziva. Sekali kau berkhianat, atau ketahuan bekerja sama dengan kakak tiriku... lehermu benar-benar akan patah. Tanpa peringatan."

​"Tenang saja. Aku tidak tertarik bersekutu dengan pembunuh," balas Ziva santai. Dia menguap lebar, tidak peduli dengan etika di depan suaminya. Hari ini melelahkan. Emosinya terkuras habis menghadapi paman gila dan suami psikopat.

​Ziva melangkah menuju tempat tidur king size yang tampak sangat empuk di tengah ruangan. Spreinya sutra putih bersih, bantalnya terlihat seperti awan. Dia sudah membayangkan betapa nikmatnya menghempaskan punggungnya di sana setelah seharian berdiri memakai heels.

​"Minggir," kata Ziva sambil hendak duduk di tepi ranjang.

​"Mau apa kau?" Suara Elzian menghentikan gerakannya.

​"Tidur. Kau pikir aku mau begadang menjaga lilin?"

​"Siapa bilang kau boleh tidur di situ?"

​Ziva menoleh, bingung. "Ini kamar kita, kan? Itu kasur. Manusia tidur di kasur."

​Elzian menunjuk sofa panjang berbahan kulit di sudut ruangan dengan dagunya. Tatapannya kembali dingin dan tak terbantahkan. "Itu tempatmu."

​Mata Ziva membelalak. Dia menatap sofa itu, lalu kembali menatap kasur luas yang bisa memuat lima orang itu. "Kau bercanda? Kasur ini luasnya dua meter persegi! Kita bisa tidur tanpa bersentuhan sedikit pun. Aku tidak mendengkur dan aku tidak tidur lasak!"

​"Aku tidak tidur dengan orang asing. Apalagi yang tahu rahasiaku," jawab Elzian tegas. Dia menggerakkan kursi rodanya mendekati sisi ranjang, lalu dengan mudah memindahkan tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut sebatas dada dengan angkuh. "Tidur di sofa, atau tidur di lantai luar kamar. Pilihanmu."

​Ziva mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia melempar vas bunga ke kepala pria arogan ini. Dia baru saja menyelamatkan nyawa pria itu dengan diagnosanya, dan ini balasannya?

​"Pelit," desis Ziva kesal.

​Dengan menghentak-hentakkan kaki, dia menyambar bantal dari sofa, melemparnya kembali dengan kasar, lalu merebahkan dirinya di sana. Sofa itu keras, dingin, dan pendek. Kaki jenjang Ziva menggantung tidak nyaman di ujungnya.

​"Matikan lampunya," perintah Elzian tanpa menoleh.

​"Matikan sendiri! Katanya kakimu kuat!" sembur Ziva, memunggunginya.

​Hening sejenak. Lalu terdengar suara klik saklar dan ruangan menjadi gelap gulita. Ziva mendengus dalam kegelapan. Malam pertama yang luar biasa buruk. Tapi setidaknya dia masih hidup.

​Namun, di tengah keheningan itu, suara Elzian kembali terdengar, rendah dan mengancam dalam kegelapan.

​"Jangan berpikir untuk merangkak naik ke kasurku saat aku tidur, Ziva. Aku tidur dengan pistol di bawah bantal."

Terpopuler

Comments

Nisfu Romadhon

Nisfu Romadhon

lain pikiran mu lain pikiran ku said Ziva/Chuckle/

2026-06-26

1

ink_Reshanty46 esha

ink_Reshanty46 esha

Aku tidur dengan pistol dibawah perut, itu yang tepat bang

2026-07-24

0

LENY

LENY

GR BANGET ELZIAN DUH MONSTER DINGIN KETEMU DOKTER JENIUS

2026-04-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2 Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3 Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4 Bab 4: Pagi yang Canggung
5 Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6 Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7 Bab 7: Serangan Racun Pertama
8 Bab 8: Pembersihan Staff
9 Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10 Bab 10: Halo, Dokter Z.
11 Bab 11: Tamu Tak Diundang
12 Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13 Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14 Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15 Bab 15: Jebakan Tangga
16 Bab 16: Pengusiran
17 Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18 Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19 Bab 19: Situasi Darurat
20 Bab 20: Operasi dengan Pena
21 Bab 21: Klaim Kepemilikan
22 Bab 22: Kembali ke Realita
23 Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24 Bab 24: Konfrontasi
25 Bab 25: Perang Dingin
26 Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27 Bab 27: Krisis Perusahaan
28 Bab 28: Investigasi Ziva
29 Bab 29: Jebakan Tikus
30 Bab 30: Tangkap Basah
31 Bab 31: Hadiah Kemenangan
32 Bab 32: Pulang dengan Pincang
33 Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34 Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35 Bab 35: Ziva Mengamuk
36 Bab 36: Demam & Manja
37 Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38 ​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39 Bab 39: Bluffing Medis
40 Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41 Bab 41: Serangan Hipertensi
42 Bab 42: Hadiah Kencan
43 ​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44 Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45 Bab 44: Duo Maut
46 Bab 45: Luka Gores
47 Bab 46: Infeksi & Demam
48 Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49 Bab 48: Pagi yang Canggung
50 Bab 49: Ciuman Pembungkam
51 Bab 50: Status Baru?
52 Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53 ​Bab 52: Surat Panggilan
54 ​Bab 54: Serangan Ekonomi
55 Bab 55: Eksekusi Aset
56 ​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57 ​Bab 57: Karma Sepupu
58 ​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59 Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60 Bab 60: Ancaman Baru
61 Bab 61: Kandang Singa
62 ​Bab 62: Serangan Balik
63 Bab 63: Sang Raja Bangkit
64 Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65 Bab 65: Bangun di Neraka Es
66 Bab 66: Logika vs Hipotermia
67 ​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68 Bab 68: Batas Manusia
69 Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70 Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71 Bab 71: Pelukan Hangat
72 Bab 72: Air Mata CEO
73 ​Bab 73: Permintaan Konyol
74 Bab 74: Eksekusi Musuh
75 ​Bab 75: Sumpah Elzian
76 Bab 76: Penjara Emas
77 Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78 Bab 78: Misi Kabur
79 Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80 Bab 80: Luluh
81 Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82 Bab 82: Akuarium Istri
83 Bab 83: Dokter Satria
84 Bab 84: Bahasa Planet
85 Bab 85: Diagnosa Gaagle
86 Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87 ​Bab 87: Sabotase Listrik
88 Bab 88: Perang Dingin
89 Bab 89: Pengakuan Dosa
90 ​Bab 90: Penyerahan Diri
91 Bab 91: First Night (The Real One)
92 Bab 92: Pagi yang Manja
93 Bab 93: Tanda Kepemilikan
94 Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95 ​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96 Bab 96: Elzian Murka
97 Bab 96: Debat Terbuka
98 Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99 ​Bab 99: Kelelahan
100 Bab 100: Live Instagram
101 ​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2
Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3
Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4
Bab 4: Pagi yang Canggung
5
Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6
Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7
Bab 7: Serangan Racun Pertama
8
Bab 8: Pembersihan Staff
9
Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10
Bab 10: Halo, Dokter Z.
11
Bab 11: Tamu Tak Diundang
12
Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13
Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14
Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15
Bab 15: Jebakan Tangga
16
Bab 16: Pengusiran
17
Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18
Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19
Bab 19: Situasi Darurat
20
Bab 20: Operasi dengan Pena
21
Bab 21: Klaim Kepemilikan
22
Bab 22: Kembali ke Realita
23
Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24
Bab 24: Konfrontasi
25
Bab 25: Perang Dingin
26
Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27
Bab 27: Krisis Perusahaan
28
Bab 28: Investigasi Ziva
29
Bab 29: Jebakan Tikus
30
Bab 30: Tangkap Basah
31
Bab 31: Hadiah Kemenangan
32
Bab 32: Pulang dengan Pincang
33
Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34
Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35
Bab 35: Ziva Mengamuk
36
Bab 36: Demam & Manja
37
Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38
​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39
Bab 39: Bluffing Medis
40
Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41
Bab 41: Serangan Hipertensi
42
Bab 42: Hadiah Kencan
43
​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44
Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45
Bab 44: Duo Maut
46
Bab 45: Luka Gores
47
Bab 46: Infeksi & Demam
48
Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49
Bab 48: Pagi yang Canggung
50
Bab 49: Ciuman Pembungkam
51
Bab 50: Status Baru?
52
Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53
​Bab 52: Surat Panggilan
54
​Bab 54: Serangan Ekonomi
55
Bab 55: Eksekusi Aset
56
​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57
​Bab 57: Karma Sepupu
58
​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59
Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60
Bab 60: Ancaman Baru
61
Bab 61: Kandang Singa
62
​Bab 62: Serangan Balik
63
Bab 63: Sang Raja Bangkit
64
Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65
Bab 65: Bangun di Neraka Es
66
Bab 66: Logika vs Hipotermia
67
​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68
Bab 68: Batas Manusia
69
Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70
Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71
Bab 71: Pelukan Hangat
72
Bab 72: Air Mata CEO
73
​Bab 73: Permintaan Konyol
74
Bab 74: Eksekusi Musuh
75
​Bab 75: Sumpah Elzian
76
Bab 76: Penjara Emas
77
Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78
Bab 78: Misi Kabur
79
Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80
Bab 80: Luluh
81
Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82
Bab 82: Akuarium Istri
83
Bab 83: Dokter Satria
84
Bab 84: Bahasa Planet
85
Bab 85: Diagnosa Gaagle
86
Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87
​Bab 87: Sabotase Listrik
88
Bab 88: Perang Dingin
89
Bab 89: Pengakuan Dosa
90
​Bab 90: Penyerahan Diri
91
Bab 91: First Night (The Real One)
92
Bab 92: Pagi yang Manja
93
Bab 93: Tanda Kepemilikan
94
Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95
​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96
Bab 96: Elzian Murka
97
Bab 96: Debat Terbuka
98
Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99
​Bab 99: Kelelahan
100
Bab 100: Live Instagram
101
​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!