Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau

​​"Jangan lupa pasang senyum manismu. Kita sedang mengunjungi 'keluarga' tercintamu, bukan melayat."

​Ziva menoleh malas ke arah Elzian yang duduk santai di sebelahnya. Pria itu tampak sempurna dalam setelan jas abu-abu gelap yang harganya pasti cukup untuk membeli satu ruko di kawasan ini. Wajahnya tenang, tapi nada bicaranya penuh perintah.

​"Tenang saja. Aku aktris profesional kalau harganya cocok," balas Ziva tak kalah ketus. Dia membenarkan letak blazer putihnya. "Tapi ingat, ini di luar jam kerja kontrak kita. Kau harus bayar biaya lembur untuk setiap senyum palsu yang kuberikan pada mereka."

​"Perhitungan sekali," dengus Elzian, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.

​Mobil mewah itu berhenti mulus di depan pagar besi berkarat milik rumah Paman Haryo. Perbedaan antara limosin hitam mengkilap milik Elzian dengan rumah bercat kusam itu sangat mencolok, seperti berlian yang jatuh di tumpukan jerami.

​Baru saja sopir membukakan pintu, Paman Haryo dan Bibi Rina sudah berdiri di teras. Mata mereka berbinar-binar, bukan menatap Ziva, melainkan menatap mobil dan kursi roda canggih Elzian yang harganya selangit.

​"Ya ampun, Ziva! Keponakan Om yang paling cantik sudah pulang!" Paman Haryo merentangkan tangan, memasang wajah haru yang sangat palsu.

​Ziva menahan rasa mual di perutnya. Dia membiarkan pamannya memeluknya sekilas, lalu mundur selangkah dengan elegan. "Halo, Om. Tante."

​"Silakan masuk, Nak Elzian. Aduh, maaf ya rumahnya berantakan. Kami tidak menyangka kalian akan datang secepat ini," Bibi Rina buru-buru menyingkirkan tumpukan majalah dari sofa, mempersilakan Elzian masuk. Matanya menyapu penampilan Elzian dari ujung kaki sampai kepala, seolah sedang menaksir harga barang dagangan.

​Mereka duduk di ruang tamu yang pengap. Bibi Rina menyuguhkan teh manis yang warnanya terlalu pekat dan sepiring pisang goreng dingin.

​"Jadi... bagaimana kehidupan pernikahan kalian? Elzian memperlakukanmu dengan baik, kan?" tanya Paman Haryo berbasa-basi. Matanya melirik jam tangan mahal di pergelangan tangan Elzian.

​"Sangat baik, Om. Elzian suami yang... murah hati," jawab Ziva sambil tersenyum lebar, menepuk pelan tangan Elzian di atas sandaran kursi roda. Elzian hanya mengangguk singkat, memasang wajah dingin yang mengintimidasi.

​"Syukurlah kalau begitu," Paman Haryo berdehem, mengubah posisi duduknya menjadi lebih condong ke depan. Wajahnya berubah serius, mode 'meminta uang' diaktifkan. "Begini, Nak Elzian... Sebenarnya Om sedang ada sedikit masalah. Bisnis ekspedisi Om sedang macet karena kurang modal. Ziva kan tahu sendiri, Om merawat Ziva sejak kecil seperti anak sendiri. Biayanya tidak sedikit."

​Ziva mengangkat alisnya. "Oh? Jadi Om mau minta ganti rugi biaya makan saya selama ini?"

​"Bukan begitu," sela Bibi Rina cepat, tersenyum kaku. "Maksud Om kamu, sekarang kan Ziva sudah menikah dengan orang hebat. Masa tidak mau bantu keluarga sendiri? Kami butuh suntikan dana sekitar lima ratus juta saja untuk memutar roda bisnis. Kecil lah itu buat Keluarga Drystan."

​Hening sejenak. Elzian tidak menjawab, dia justru menoleh pada Ziva, menyerahkan panggung sepenuhnya pada istrinya.

​Ziva tertawa. Tawanya renyah, tapi terdengar dingin dan menusuk. Dia membuka tas tangannya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat rapi.

​"Om Haryo, Tante Rina... sepertinya kalian mulai pikun," kata Ziva sambil meletakkan kertas itu di atas meja. Itu adalah fotokopi sertifikat rumah dan surat perjanjian pelunasan hutang.

​"Lihat ini baik-baik. Transaksi kita sudah lunas," ucap Ziva tegas. Jari telunjuknya mengetuk kertas itu. "Aku menjual diriku untuk menikah dengan Elzian demi melunasi hutang judi Om yang menggunung itu. Sertifikat rumah orang tuaku sudah kembali padaku. Itu kesepakatannya. Tidak ada klausul yang menyebutkan soal 'bonus modal usaha' atau 'dana pensiun' untuk paman yang serakah."

​Wajah Paman Haryo memerah padam. Senyum palsunya lenyap seketika. "Kau... Ziva! Berani sekali kau bicara begitu pada orang tua! Kau pikir kau siapa sekarang? Mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya, kau lupa daratan?!"

​"Dasar anak tidak tahu diuntung!" sambar Bibi Rina dengan suara melengking. "Kami memberimu makan, menyekolahkanmu sampai jadi dokter, dan ini balasanmu? Kau pelit sekali pada bibi sendiri!"

​Ziva menatap tajam mata bibinya, tatapan yang biasa ia gunakan saat membedah tumor ganas. "Menyekolahkanku? Aku kuliah dengan beasiswa penuh dan kerja paruh waktu, Tante. Dan soal balas budi..."

​Ziva mendengus jijik. "Tante lupa kejadian di pemakaman Ibu sepuluh tahun lalu? Saat jenazah Ibu lagi terbujur, Tante pura-pura memeluk jenazah sambil menangis histeris. Padahal tangan Tante sibuk melepas cincin emas dan kalung dari leher mayat Ibu saya. Apa itu kelakuan keluarga yang harus saya bantu?"

​Wajah Bibi Rina pucat pasi, mulutnya ternganga tapi tidak ada suara yang keluar. Rahasia busuk yang ia simpan rapat-rapat tiba-tiba dibongkar di depan suami kaya Ziva.

​"Kau... kau..." Bibi Rina gagap, menunjuk wajah Ziva dengan tangan gemetar.

​"Jadi jangan pernah bicara soal hutang budi padaku. Kita impas," pungkas Ziva dingin. Dia menoleh pada Elzian. "Ayo pulang. Udaranya bau kemunafikan."

​Baru saja Elzian hendak memutar kursi rodanya, pintu ruang tengah terbuka lebar.

​Seorang gadis muda melangkah masuk dengan gaya yang dibuat-buat. Dia memakai dress merah super ketat yang nyaris tidak menutupi pahanya, dengan belahan dada yang sangat rendah untuk ukuran menerima tamu di siang bolong. Aroma parfum murahan langsung menyengat memenuhi ruangan, menabrak aroma teh basi di meja.

​Itu Bella, sepupu Ziva.

​Bella tidak melihat ke arah Ziva sama sekali. Matanya langsung terkunci pada sosok tampan di kursi roda. Dia mengibas rambut panjangnya, berjalan melenggak-lenggok mendekati Elzian sambil membawa nampan berisi sirup dingin yang es batunya berdenting genit.

​"Halo..." sapa Bella dengan suara yang dibuat manja dan mendayu-dayu. Dia membungkuk sedikit di depan Elzian, sengaja memamerkan asetnya. "Kak Elzian, ya? Kenalkan, aku Bella. Tadi Mama sibuk marah-marah, jadi Bella inisiatif buatkan minum yang segar-segar buat Kakak. Biar Bella yang layani, ya?"

Terpopuler

Comments

say't

say't

inilah jdnya kalo dikasih makan uang haram anak ceweknya jd seorang jalang yg profesional 🤣

2026-08-14

0

Tangsah Jagad

Tangsah Jagad

najis tu si sepupu jalang🤑

2026-06-20

0

Yunita Sophi

Yunita Sophi

Ziva ini baru cewek keren👍😘😍

2026-04-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2 Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3 Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4 Bab 4: Pagi yang Canggung
5 Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6 Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7 Bab 7: Serangan Racun Pertama
8 Bab 8: Pembersihan Staff
9 Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10 Bab 10: Halo, Dokter Z.
11 Bab 11: Tamu Tak Diundang
12 Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13 Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14 Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15 Bab 15: Jebakan Tangga
16 Bab 16: Pengusiran
17 Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18 Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19 Bab 19: Situasi Darurat
20 Bab 20: Operasi dengan Pena
21 Bab 21: Klaim Kepemilikan
22 Bab 22: Kembali ke Realita
23 Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24 Bab 24: Konfrontasi
25 Bab 25: Perang Dingin
26 Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27 Bab 27: Krisis Perusahaan
28 Bab 28: Investigasi Ziva
29 Bab 29: Jebakan Tikus
30 Bab 30: Tangkap Basah
31 Bab 31: Hadiah Kemenangan
32 Bab 32: Pulang dengan Pincang
33 Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34 Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35 Bab 35: Ziva Mengamuk
36 Bab 36: Demam & Manja
37 Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38 ​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39 Bab 39: Bluffing Medis
40 Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41 Bab 41: Serangan Hipertensi
42 Bab 42: Hadiah Kencan
43 ​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44 Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45 Bab 44: Duo Maut
46 Bab 45: Luka Gores
47 Bab 46: Infeksi & Demam
48 Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49 Bab 48: Pagi yang Canggung
50 Bab 49: Ciuman Pembungkam
51 Bab 50: Status Baru?
52 Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53 ​Bab 52: Surat Panggilan
54 ​Bab 54: Serangan Ekonomi
55 Bab 55: Eksekusi Aset
56 ​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57 ​Bab 57: Karma Sepupu
58 ​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59 Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60 Bab 60: Ancaman Baru
61 Bab 61: Kandang Singa
62 ​Bab 62: Serangan Balik
63 Bab 63: Sang Raja Bangkit
64 Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65 Bab 65: Bangun di Neraka Es
66 Bab 66: Logika vs Hipotermia
67 ​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68 Bab 68: Batas Manusia
69 Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70 Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71 Bab 71: Pelukan Hangat
72 Bab 72: Air Mata CEO
73 ​Bab 73: Permintaan Konyol
74 Bab 74: Eksekusi Musuh
75 ​Bab 75: Sumpah Elzian
76 Bab 76: Penjara Emas
77 Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78 Bab 78: Misi Kabur
79 Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80 Bab 80: Luluh
81 Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82 Bab 82: Akuarium Istri
83 Bab 83: Dokter Satria
84 Bab 84: Bahasa Planet
85 Bab 85: Diagnosa Gaagle
86 Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87 ​Bab 87: Sabotase Listrik
88 Bab 88: Perang Dingin
89 Bab 89: Pengakuan Dosa
90 ​Bab 90: Penyerahan Diri
91 Bab 91: First Night (The Real One)
92 Bab 92: Pagi yang Manja
93 Bab 93: Tanda Kepemilikan
94 Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95 ​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96 Bab 96: Elzian Murka
97 Bab 96: Debat Terbuka
98 Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99 ​Bab 99: Kelelahan
100 Bab 100: Live Instagram
101 ​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2
Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3
Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4
Bab 4: Pagi yang Canggung
5
Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6
Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7
Bab 7: Serangan Racun Pertama
8
Bab 8: Pembersihan Staff
9
Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10
Bab 10: Halo, Dokter Z.
11
Bab 11: Tamu Tak Diundang
12
Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13
Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14
Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15
Bab 15: Jebakan Tangga
16
Bab 16: Pengusiran
17
Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18
Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19
Bab 19: Situasi Darurat
20
Bab 20: Operasi dengan Pena
21
Bab 21: Klaim Kepemilikan
22
Bab 22: Kembali ke Realita
23
Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24
Bab 24: Konfrontasi
25
Bab 25: Perang Dingin
26
Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27
Bab 27: Krisis Perusahaan
28
Bab 28: Investigasi Ziva
29
Bab 29: Jebakan Tikus
30
Bab 30: Tangkap Basah
31
Bab 31: Hadiah Kemenangan
32
Bab 32: Pulang dengan Pincang
33
Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34
Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35
Bab 35: Ziva Mengamuk
36
Bab 36: Demam & Manja
37
Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38
​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39
Bab 39: Bluffing Medis
40
Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41
Bab 41: Serangan Hipertensi
42
Bab 42: Hadiah Kencan
43
​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44
Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45
Bab 44: Duo Maut
46
Bab 45: Luka Gores
47
Bab 46: Infeksi & Demam
48
Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49
Bab 48: Pagi yang Canggung
50
Bab 49: Ciuman Pembungkam
51
Bab 50: Status Baru?
52
Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53
​Bab 52: Surat Panggilan
54
​Bab 54: Serangan Ekonomi
55
Bab 55: Eksekusi Aset
56
​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57
​Bab 57: Karma Sepupu
58
​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59
Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60
Bab 60: Ancaman Baru
61
Bab 61: Kandang Singa
62
​Bab 62: Serangan Balik
63
Bab 63: Sang Raja Bangkit
64
Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65
Bab 65: Bangun di Neraka Es
66
Bab 66: Logika vs Hipotermia
67
​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68
Bab 68: Batas Manusia
69
Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70
Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71
Bab 71: Pelukan Hangat
72
Bab 72: Air Mata CEO
73
​Bab 73: Permintaan Konyol
74
Bab 74: Eksekusi Musuh
75
​Bab 75: Sumpah Elzian
76
Bab 76: Penjara Emas
77
Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78
Bab 78: Misi Kabur
79
Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80
Bab 80: Luluh
81
Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82
Bab 82: Akuarium Istri
83
Bab 83: Dokter Satria
84
Bab 84: Bahasa Planet
85
Bab 85: Diagnosa Gaagle
86
Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87
​Bab 87: Sabotase Listrik
88
Bab 88: Perang Dingin
89
Bab 89: Pengakuan Dosa
90
​Bab 90: Penyerahan Diri
91
Bab 91: First Night (The Real One)
92
Bab 92: Pagi yang Manja
93
Bab 93: Tanda Kepemilikan
94
Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95
​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96
Bab 96: Elzian Murka
97
Bab 96: Debat Terbuka
98
Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99
​Bab 99: Kelelahan
100
Bab 100: Live Instagram
101
​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!