Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang

​​"Jangan harap aku melangkah satu jengkal pun ke altar kalau sertifikat itu belum ada di tanganku."

​Ziva menatap pantulan dirinya di cermin rias. Gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya terasa seperti kain kafan, mencekik dan dingin. Di belakangnya, pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang agak kesempitan tampak menggeretakkan gigi. Wajahnya merah padam menahan amarah.

​"Kau jangan main gila, Ziva! Tamu undangan sudah datang. Keluarga Drystan sudah menunggu di depan. Kau mau mempermalukan Om Haryo hah?!" bentak pamannya itu dengan suara tertahan, takut terdengar oleh orang di luar ruangan.

​Ziva memutar tubuh, menatap lurus ke mata pamannya tanpa rasa takut sedikit pun. "Malu? Om yang mempertaruhkan nyawa Om sendiri dengan menjual keponakan demi melunasi hutang judi. Kalau aku batal menikah, siapa yang akan dicincang oleh orang-orang Drystan itu? Aku atau Om?"

​Haryo terdiam. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tahu Ziva tidak sedang menggertak. Keponakannya ini memang terlihat tenang, tapi otaknya bekerja secepat kilat.

​"Pengacara Salim!" seru Ziva, mengabaikan napas Haryo yang memburu.

​Seorang pria berkacamata yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan maju selangkah. Dia membuka tas kerjanya dengan tangan gemetar. "Dokumennya sudah siap, Nona Ziva. Sertifikat rumah atas nama orang tua Anda, surat balik nama, dan surat perjanjian pelepasan hak dari Bapak Haryo."

​"Tunggu apa lagi? Serahkan padanya!" Haryo menyambar dokumen itu kasar dari tangan pengacara dan melemparnya ke meja rias di depan Ziva. "Puas kau? Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah diurus sejak kecil, sekarang malah memeras paman sendiri."

​Ziva tidak peduli dengan makian itu. Jemarinya yang lentik—jemari seorang ahli bedah yang biasa memegang pisau skapel—kini dengan teliti membalik setiap halaman dokumen. Dia memeriksa stempel, tanda tangan, dan keaslian kertas sertifikat itu. Tidak ada celah. Rumah peninggalan orang tuanya aman.

​Ziva mengambil pena, menandatangani bagian penerimaan, lalu memasukkan sertifikat berharga itu ke dalam clutch pengantinnya.

​"Urusan kita selesai," gumam Ziva dingin. Dia berdiri, membenahi letak veil di kepalanya. "Ingat, Om. Setelah detik ini, aku bukan lagi urusanmu. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumahku lagi."

​Haryo mendengus kasar, lalu memberi isyarat pada pengurus pernikahan untuk membuka pintu. "Cepat jalan. Jangan bikin malu."

​Prosesi pernikahan itu berjalan secepat kilat, seolah semua orang ingin segera mengakhirinya. 

Tidak ada janji suci yang mengharukan, tidak ada tatapan cinta. Yang ada hanyalah tatapan menilai dari para tamu undangan yang berbisik-bisik, mencemooh nasib Ziva yang harus menikah dengan "monster cacat" dari keluarga Drystan demi harta.

​Ziva masa bodoh. Dia hanya berdiri tegak, mengucapkan kata "Sah" dengan nada datar seperti sedang memesan kopi, lalu membiarkan dirinya digiring masuk ke dalam mobil limosin hitam yang akan membawanya ke neraka barunya.

​Perjalanan menuju kediaman utama Keluarga Drystan terasa sunyi. Sopir di depan tidak bicara sepatah kata pun. 

Ziva menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, menatap gedung-gedung tinggi yang berlarian di luar. Dia tidak menangis. 

Air matanya sudah kering sejak hari pemakaman orang tuanya. Sekarang, yang tersisa hanya logika.

​Mobil berhenti di depan sebuah mansion bergaya Eropa klasik yang suram. Halamannya luas, dipenuhi pepohonan yang dipangkas rapi namun kaku.

​"Silakan turun, Nona," ucap sopir itu sambil membukakan pintu.

​Seorang pelayan wanita paruh baya dengan wajah kaku sudah menunggu di depan pintu utama. Tanpa senyum, tanpa sambutan hangat. "Mari ikut saya. Pak Elzian tidak suka menunggu."

​Ziva mengikuti langkah pelayan itu menyusuri lorong panjang yang lantainya berlapis marmer dingin. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan abstrak yang menambah kesan angker rumah itu. 

Tidak ada foto keluarga. Tidak ada vas bunga segar.

Rumah ini mati.

​"Ini kamar Pak Elzian. Beliau ada di dalam," kata pelayan itu, berhenti di depan sebuah pintu kayu jati ganda yang besar. Pelayan itu bahkan tidak repot-repot membukakan pintu. Dia langsung berbalik pergi, seolah takut tertular sial jika berlama-lama di sana.

​Ziva menarik napas panjang. Ini dia, batinnya. Bagian dari kesepakatan. Dia sudah mendapatkan rumahnya kembali, sekarang dia harus menghadapi 'pembelinya'.

​Tangannya terulur memutar gagang pintu yang dingin. Pintu terbuka tanpa suara, engselnya diminyaki dengan sempurna.

​Kamar itu luas dan remang-remang. Tirai jendela tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari sore. Udara di dalam terasa lebih dingin beberapa derajat dibanding di luar, berbau antiseptik samar bercampur aroma kayu manis yang maskulin.

​Ziva melangkah masuk, suara hak sepatunya teredam oleh karpet tebal. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok suaminya.

​Di sudut ruangan, dekat jendela yang tertutup, sebuah kursi roda membelakanginya. 

Sosok pria duduk di sana, diam tak bergerak seperti patung. Punggungnya tegap, terlalu tegap untuk ukuran orang yang dikabarkan lumpuh total dan sekarat.

​"Tutup pintunya," suara itu terdengar rendah, berat, dan sarat akan dominasi. Bukan permintaan, tapi perintah mutlak.

​Ziva mendorong pintu hingga tertutup dengan bunyi klik pelan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang biasa ia rasakan sebelum melakukan operasi sulit.

​Kursi roda itu perlahan berputar.

​Ziva menahan napas. Pria itu, Elzian Drystan, menatapnya. Wajahnya tampan namun keras, dengan rahang tegas yang seolah dipahat dari batu granit. Namun yang paling mengintimidasi adalah matanya. Mata itu gelap, tajam, dan dingin, menatap Ziva seolah dia adalah kuman yang harus dibasmi, bukan seorang istri.

​Tidak ada kelembutan dalam tatapan itu. Hanya ada kebencian yang sangat.

​"Keluar kau. Kau pikir aku akan menyentuhmu?" Suara Elzian memecah keheningan, dingin menusuk tulang. "Aku lumpuh."

Terpopuler

Comments

Ivander

Ivander

Halo Aku penulis ahli dalam Genre Horror/misteri, tolong ramein guys biar Aku semangat
Judul: The NEST
(Belum Buat Covernya😭😭)

2026-07-03

4

seasouline

seasouline

aku penulis baru barangkali ada yang mau mampi
judul : Allurra maurrielle

2026-05-13

0

Mifi Nadira

Mifi Nadira

gas temenan bang, salam kenal ya bang

2026-05-18

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2 Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3 Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4 Bab 4: Pagi yang Canggung
5 Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6 Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7 Bab 7: Serangan Racun Pertama
8 Bab 8: Pembersihan Staff
9 Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10 Bab 10: Halo, Dokter Z.
11 Bab 11: Tamu Tak Diundang
12 Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13 Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14 Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15 Bab 15: Jebakan Tangga
16 Bab 16: Pengusiran
17 Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18 Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19 Bab 19: Situasi Darurat
20 Bab 20: Operasi dengan Pena
21 Bab 21: Klaim Kepemilikan
22 Bab 22: Kembali ke Realita
23 Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24 Bab 24: Konfrontasi
25 Bab 25: Perang Dingin
26 Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27 Bab 27: Krisis Perusahaan
28 Bab 28: Investigasi Ziva
29 Bab 29: Jebakan Tikus
30 Bab 30: Tangkap Basah
31 Bab 31: Hadiah Kemenangan
32 Bab 32: Pulang dengan Pincang
33 Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34 Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35 Bab 35: Ziva Mengamuk
36 Bab 36: Demam & Manja
37 Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38 ​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39 Bab 39: Bluffing Medis
40 Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41 Bab 41: Serangan Hipertensi
42 Bab 42: Hadiah Kencan
43 ​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44 Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45 Bab 44: Duo Maut
46 Bab 45: Luka Gores
47 Bab 46: Infeksi & Demam
48 Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49 Bab 48: Pagi yang Canggung
50 Bab 49: Ciuman Pembungkam
51 Bab 50: Status Baru?
52 Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53 ​Bab 52: Surat Panggilan
54 ​Bab 54: Serangan Ekonomi
55 Bab 55: Eksekusi Aset
56 ​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57 ​Bab 57: Karma Sepupu
58 ​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59 Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60 Bab 60: Ancaman Baru
61 Bab 61: Kandang Singa
62 ​Bab 62: Serangan Balik
63 Bab 63: Sang Raja Bangkit
64 Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65 Bab 65: Bangun di Neraka Es
66 Bab 66: Logika vs Hipotermia
67 ​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68 Bab 68: Batas Manusia
69 Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70 Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71 Bab 71: Pelukan Hangat
72 Bab 72: Air Mata CEO
73 ​Bab 73: Permintaan Konyol
74 Bab 74: Eksekusi Musuh
75 ​Bab 75: Sumpah Elzian
76 Bab 76: Penjara Emas
77 Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78 Bab 78: Misi Kabur
79 Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80 Bab 80: Luluh
81 Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82 Bab 82: Akuarium Istri
83 Bab 83: Dokter Satria
84 Bab 84: Bahasa Planet
85 Bab 85: Diagnosa Gaagle
86 Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87 ​Bab 87: Sabotase Listrik
88 Bab 88: Perang Dingin
89 Bab 89: Pengakuan Dosa
90 ​Bab 90: Penyerahan Diri
91 Bab 91: First Night (The Real One)
92 Bab 92: Pagi yang Manja
93 Bab 93: Tanda Kepemilikan
94 Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95 ​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96 Bab 96: Elzian Murka
97 Bab 96: Debat Terbuka
98 Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99 ​Bab 99: Kelelahan
100 Bab 100: Live Instagram
101 ​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1: Pengantin Pengganti Hutang
2
Bab 2: Diagnosa Malam Pertama
3
Bab 3: Negosiasi di Atas Ranjang
4
Bab 4: Pagi yang Canggung
5
Bab 5: Kembali ke Kandang Harimau
6
Bab 6: Drama Air Mata Buaya
7
Bab 7: Serangan Racun Pertama
8
Bab 8: Pembersihan Staff
9
Bab 9: Elzian Mulai Tertarik
10
Bab 10: Halo, Dokter Z.
11
Bab 11: Tamu Tak Diundang
12
Bab 12: Serangan Fisik (Gagal)
13
Bab 13: Diagnosa Plastik part 1
14
Bab 14: Diagnosa Plastik Part 2
15
Bab 15: Jebakan Tangga
16
Bab 16: Pengusiran
17
Bab 17: Bukan Boneka Pesta
18
Bab 18: Masuk ke Kandang Singa
19
Bab 19: Situasi Darurat
20
Bab 20: Operasi dengan Pena
21
Bab 21: Klaim Kepemilikan
22
Bab 22: Kembali ke Realita
23
Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak
24
Bab 24: Konfrontasi
25
Bab 25: Perang Dingin
26
Bab 26: Permintaan Maaf (Ala CEO)
27
Bab 27: Krisis Perusahaan
28
Bab 28: Investigasi Ziva
29
Bab 29: Jebakan Tikus
30
Bab 30: Tangkap Basah
31
Bab 31: Hadiah Kemenangan
32
Bab 32: Pulang dengan Pincang
33
Bab 33: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
34
Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
35
Bab 35: Ziva Mengamuk
36
Bab 36: Demam & Manja
37
Bab 37: Kedatangan Rombongan Sirkus
38
​Bab 37: Sidang Keluarga Dadakan
39
Bab 39: Bluffing Medis
40
Bab 40: Tetua Berbalik Arah
41
Bab 41: Serangan Hipertensi
42
Bab 42: Hadiah Kencan
43
​Bab 43: Penyergapan di Parkiran
44
Bab 44: Elzian Berdiri (Terpaksa)
45
Bab 44: Duo Maut
46
Bab 45: Luka Gores
47
Bab 46: Infeksi & Demam
48
Bab 47: Sisi Rapuh Elzian
49
Bab 48: Pagi yang Canggung
50
Bab 49: Ciuman Pembungkam
51
Bab 50: Status Baru?
52
Bab 51: Aliansi Para Pecundang
53
​Bab 52: Surat Panggilan
54
​Bab 54: Serangan Ekonomi
55
Bab 55: Eksekusi Aset
56
​Bab 56: Memohon di Kaki Ziva
57
​Bab 57: Karma Sepupu
58
​Bab 58: Tamat Riwayat Paman
59
Bab 59: Reaksi Ibu Tiri
60
Bab 60: Ancaman Baru
61
Bab 61: Kandang Singa
62
​Bab 62: Serangan Balik
63
Bab 63: Sang Raja Bangkit
64
Bab 64: Pesta Kemenangan (Jebakan)
65
Bab 65: Bangun di Neraka Es
66
Bab 66: Logika vs Hipotermia
67
​Bab 67: Provokasi Lewat CCTV
68
Bab 68: Batas Manusia
69
Bab 69: Detik-Detik Terakhir
70
Bab 70: Iblis Keluar Kandang
71
Bab 71: Pelukan Hangat
72
Bab 72: Air Mata CEO
73
​Bab 73: Permintaan Konyol
74
Bab 74: Eksekusi Musuh
75
​Bab 75: Sumpah Elzian
76
Bab 76: Penjara Emas
77
Bab 77: Kebosanan Membunuhku
78
Bab 78: Misi Kabur
79
Bab 79: Dokter Ziva Beraksi
80
Bab 80: Luluh
81
Bab 81: Rumah Sakit Rasa Hotel
82
Bab 82: Akuarium Istri
83
Bab 83: Dokter Satria
84
Bab 84: Bahasa Planet
85
Bab 85: Diagnosa Gaagle
86
Bab 86: Hadiah yang Tertukar
87
​Bab 87: Sabotase Listrik
88
Bab 88: Perang Dingin
89
Bab 89: Pengakuan Dosa
90
​Bab 90: Penyerahan Diri
91
Bab 91: First Night (The Real One)
92
Bab 92: Pagi yang Manja
93
Bab 93: Tanda Kepemilikan
94
Bab 94: Pemilik Hati Sang Monster
95
​Bab 94: Fitnah Keji (Season 2)
96
Bab 96: Elzian Murka
97
Bab 96: Debat Terbuka
98
Bab 98: Netizen Berbalik Arah
99
​Bab 99: Kelelahan
100
Bab 100: Live Instagram
101
​Bab 101: Kontrak Seumur Hidup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!