Raina duduk diam di pinggir kolam dengan kedua kakinya yang masuk ke dalam air kolam. Stoking dan sepatunya sengaja dia lepas, menikmati air dingin kolam di kakinya yang dia ayun-ayunkan.
"Hai"
Seseorang tiba-tiba ikut duduk bersila disampingnya. Raina menoleh dan tersenyum canggung pada pria yang duduk disampingnya sekarang. Raina tahu jika pria itu yang tadi bersama dengan Marvin.
"Kamu istrinya Marvin, bagaimana menikah dengannya? Pasti tidak mudah ya"
Raina hanya tersenyum canggung, dia juga tidak mengenal pria ini. "Semuanya baik-baik saja kok, sebenarnya jika Kakak tidak meninggal dalam kecelakaan, aku juga tidak akan menggantikannya sebagai istri Kak Marvin"
Pria itu mengulurkan tangannya, membuat Raina sedikit bingung untuk sesaat. Namun, akhirnya dia menerima uluran tangan darinya.
"Aku Byan, Asisten sekaligus sepupu Tuan Bara yang duduk disana" tunjuknya pada salah satu pria yang duduk di sofa sana.
"Ah, iya. Raina"
"Oke Rain, senang berkenalan denganmu. Kebetulan aku menyukai hujan, dan nama kamu hampir sama dengan hujan"
Raina hanya tersenyum saja, pria berkacamata itu tersenyum begitu tulus padanya. Melihatnya yang sepertinya memang begitu berniat untuk berkenalan dengannya.
Di sisi lain, Marvin hanya menatap ke arah kolam dimana istrinya dan Byan sedang mengobrol disana. Sesekali melihat senyuman tipis di wajah Raina.
"Vin, hati-hati kau terjebak dengan permainan sendiri. Menurutku tidak seharusnya kau menyalahkan Raina atas meninggalnya Amira, dia juga korban dalam hal ini. Dia tidak seharusnya di salahkan" ucap Bara.
"Dia yang mengemudi mobilnya, dan kenapa dia yang harus selamat? Seharusnya Amira yang selamat, bukan dia!"
Bara menghela napas panjang, melihat sorot mata yang penuh dendam dan amarah dari Marvin. "Jangan sampai suatu saat kau menyesali semuanya. Apa kau pikir Amira akan senang melihatmu memperlakukan dia seperti ini? Mau bagaimana pun Raina tetap adiknya"
"Ya, selama ini Amira selalu baik dan mau menerima kehadirannya di keluarga dia. Meski sebenarnya kehadirannya hanya menghancurkan keharmonisan keluarga. Hanya Amira yang bisa menerimanya. Tapi, dia malah membuat Amira meninggal. Dia memang hanya pembawa sial"
"Dan kau pun mungkin akan sial karena menikahinya" ucap Andreas dengan menepuk bahu sahabatnya ini.
Marvin hanya mendelik tajam tanpa berniat mengatakan apapun. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan tegap menghampiri Raina dan Byan disana. Marvin menarik kasar tangan Raina tanpa aba-aba, membuatnya begitu terkejut.
"Vin, jangan terlalu kasar padanya"
"Diam kau Yan! Dia adalah urusanku, dan kau tidak perlu ikut campur"
Marvin menarik tangan Raina dengan kasar, membuat jalan Raina pun sampai terseok-seok karena tarikannya. Pergelangan tangannya terasa sakit karena cengkraman kuat dari Marvin.
"Kak sakit" Bahkan suara lirih itu tidak di hiraukan olehnya. Marvin terus menark kasar tangan Raina. Kakinya yang tidak memakai alas apapun karena sepatunya teringgal di kolam renang tadi, membuat menginjak beberapa rumput tajam yang melukai telapak kakinya. "Kak Marvin, sakit. Tolong pelan-pelan, Kak"
Setelah sampai di dekat mobilnya, Marvin menarik dan mendorong tubuh Raina hingga terpojok di mobilnya. Mengukung tubuh mungil itu dengan tatapan yang tajam.
"Rasa sakit yang kau rasakan tidak akan sebanding dengan rasa sakitku karena kehilangan wanita yang paling berharga dalam hidupku. Kau yang sudah menghancurkan hidupku!"
Raina tertegun mendengar itu, melihat tatapan mata Marvin yang berubah dingin kosong. Menunjukan kesedihan yang sebenarnya atas kehilangan Kak Amira. Melihat tatapannya itu, membuat Raina juga tidak bisa menahan air mata yang meluncur bebas. Dadanya sesak, rasa bersalah mungkin semakin menumpuk besar dalam hatinya.
"Maafkan aku, Kak" lirihnya dengan isakan kecil. Raina menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tida pernah berniat untuk membuat Kak Amira meninggal dalam kecelakaan itu. Maaf"
"Kau bahkan menghancurkan setiap mimpi yang kita punya setelah menikah. Bahkan untuk mengucapkan ikrar janji suci pernikahan atas namanya saja, aku tidak sempat melakukannya. Semua ini karenamu!"
Untuk pertama kalinya, Raina melihat pria tegas dan dingin di depannya meneteskan air mata. Sesakit itu hatinya kehilangan perempuan yang dia cintai selama ini. Dan penyebabnya adalah Raina. Dan apa yang harus Raina lakukan saat ini? Dia tidak bisa mengubah takdir Tuhan tentang kematian seseorang.
Dalam sekejap, Marvin mengusap kasar air matanya sendiri. Mencengkram dagu Raina dengan kuat. Tatapannya berubah nyalang penuh amarah dan kebencian.
"Dan kau harus menerima semua hukuman dariku. Pernikahan ini hanya akan menjadi penjara yang menghancurkan hidupmu, selamanya!"
Marvin menghempaskan cengkraman tangannya di dagu Raina, dia mendorong kasar gadis itu dan membuka pintu mobil, lalu menarik Raina dan mendorongnya masuk dengan kasar ke dalam mobil.
Raina hanya mengusap air mata yang mengalir begitu saja. Membenarkan posisi duduknya. Menatap Marvin yang mulai mengemudi dengan wajah yang begitu dingin. Raina hanya mampu diam selama perjalanan, menatap keluar jendela dengan air mata yang diam-diam terus mengalir.
*
Byurr.. Raina langsung terengah-engah saat dalam tidurnya seseorang telah menyiramkan air ke wajahnya. Dia bangun dengan seketika, membuat kepalanya terasa pusing.
"Kau pikir tinggal disini hanya untuk bersantai dan tidur sepuasnya, hah? Cepat bersihkan kamar mandi di kamarku, harus bersih dan cuci sepatuku juga!"
Raina tidak membantah apapun, dia hanya mengangguk. Mengusap wajahnya yang masih sedikit tersisa air. Marvin menarik rambutnya dengan kasar keluar kamar, membuat Raina mengaduh kesakitan.
"Awhh.. Sakit Kak"
"Kau lambat sekali, aku akan pergi bekerja sebentar lagi, dan semuanya sudah harus selesai sebelum aku mandi"
"I-iya Kak, tapi lepaskan dulu rambutku. Sakit" Rasanya kulit kepala akan terlepas dari tempatnya karena cengkraman kuat Marvin.
Untuk pertama kalinya Raina masuk ke dalam kamar pria yang menjadi suaminya. Ketika pintu terbuka hal yang pertama kali Raina lihat adalah foto prewedding Kak Amira dan Marvin disana. Melihat senyuman Marvin dan tatapannya yang penuh cinta pada Amira, membuat Raina semakin sadar jika cinta Marvin begitu besar pada Amira.
"Kau malah berdiri disana!"
"I-iya Kak"
Mendengar suara teriakan Marvin membuat Raian langsung bergetar ketakutan. Ini seperti bayangan masa kecil yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Raina membersihkan seluruh kamar mandi di kamar Marvin ini. Kamar mandi yang luas ini dia bersihkan dengan cepat karena Marvin yang akan segera mandi dan bersiap untuk pergi bekerja.
Setelah semuanya siap, dia juga menyiapkan air hangat di bak mandi dan juga peralatan mandi lainnya.
"Semuanya sudah selesai Kak"
Marvin tidak menjawab, dia mendorong keluar tubuh Raina sampai gadis itu terjatuh di lantai. Raina hanya menghela napas dengan menahan air mata yang hampir mengalir.
"Ini bukan pertama kalinya kau mendapatkan kekerasan seperti ini, Ra. Semuanya pasti bisa kamu lewati"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Nanik Arifin
ngapain nyalahin Raina, Vin ? seharus kamu yg disalahin. kamu gagal melindungi wanitamu. klo Raina bisa mengubah takdir Amira, berarti kamu g ada seujung kukunya Raina. nasibmu bergantung banget pd Raina
g usah sok arogan, sok paling sakit, Raina lah yg paling sakit. Dia kehilangan kakak sekaligus pelindung & dia merasa bersalah banget jd penyebab g langsung kematian Amira.
di tunggu penyesalanmu Vin
2026-01-22
0
dika edsel
gk usah dinasehati bar..., si marpin kan bodoh mana ngerti dia.., otaknya ilang entah kemana cuma kepala nya yg masih utuh.. biasa lah buat hiasan doang biar terlihat hidup dan menarik😄,ganteng dan kaya tp bodoh itulah dia..
2026-01-26
0
Kar Genjreng
sumpah sebenarnya kurang suka kalau terlalu kasar pemeran laki laki sampai menyiksa seperti itu,,,harus ingat Lo juga lahir dari rahim wanita,, yang jadi siap itu Lo sendiri bi,,,,,b
2026-01-27
0