Malam ini Marvin pergi ke rumah minimalis yang selalu menjadikan tempat berkumpul dengan teman-temannya. Menikmati hari yang melelahkan dengan beberapa minuman dan rokok. Lima orang pria yang selalu bersama sejak mereka kenal, mengenal satu sama lain dan juga tentang masa lalu masing-masing. Semuanya mempunyai masalah hidup masing-masing yang tidak bisa di anggap mudah. Namun, ketika berada disini semuanya juga bisa menunjukan apa yang sedang mereka rasakan.
"Bagaimana pernikahanmu?" tanya Byan, seorang pria yang cukup baik dan tidak mempunyai banyak masalah. Namun, selalu dipusingkan dengan masalah teman-temannya ini.
Marvin menghembuskan napas kasar, menenggak kembali sisa minuman di gelasnya. "Kau berharap apa dari pernikahan paksa ini? Bukan dia yang ingin aku nikahi, tapi semua orang memaksaku untuk tetap menikahinya"
Bara yang berdiri di belakang sofa yang ditempati oleh Marvin, menepuk bahunya sebelum dia mengitari sofa dan duduk disamping sahabatnya itu.
"Sebenarnya Raina dan Amira itu ada kemiripan, lihat saja senyumnya. Bahkan matanya pun hampir mirip, sifatnya juga. Kau tidak bisa terus menyalahkan Raina atas kematian Amira. Itu hanya kecelakaan, Vin"
Semua orang mengangguk, menyetujui ucapan Bara. Termasuk Davin, pria sang cassanova yang mulai berubah sejak mempunyai sekretaris baru yang cukup mengekangnya dan berani mengatur hidupnya atas perintah Ayahnya Davin sendiri.
"Jangan sampai kau menyesal saat Raina diambil orang lain" ucap Davin.
"Kalau kau tidak mau dengannya, aku juga siap mengambilnya, Vin" ucap Bayu dengan satu alis terangkat menggoda. Pria cassanova lain seperti Davin, yang masih belum mendapatkan hidayah untuk berubah. Bahkan di atas pangkuannya sudah ada wanita cantik yang dia bayar untuk menemaninya malam ini.
Marvin mendelik tajam pada Bayu, meski dia marah dan benci pada Raina, tapi mendengar ucapan Bayu barusan tetap membuatnya marah. "Jangan macam-macam Bay, dia tetap sudah menikah denganku apapun yang terjadi. Jadi, kau tidak bisa merebutnya begitu saja"
Bayu tertawa, dia menyingkirkan tangan wanita di pangkuannya yang mencoba membuka kancing kemejanya. Menggerakan tangannya untuk wanita itu pergi dari atas pangkuannya.
"Pergi tunggu aku di kamar!"
Wanita itu hanya mengangguk dan menurut saja untuk pergi ke sebuah kamar yang sudah biasa menjadi tempat senang-senang Bayu dan Davin. Namun sekarang sudah cukup lama Davin tidak lagi memesan wanita bayaran, karena sekretarisnya selalu ketat padanya.
"Vin, jangan sampai kau terlambat menyadari perasaanmu seperti Bara. Nanti kau menyesal sendiri. Lagian Amira sangat menyayan…
Penjara Pernikahan Tuan Marvin
Bab 10 ~ Melihat Amira Dalam Dirinya
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 85 Episodes
Comments
Kar Genjreng
sadar begitu mendengar ucapan teman teman nya,,,ku kira Lo bakal mengusir Raina biar tinggal bersama teman di luar
sana,,, pasti Lo akan minta maaf sudah menyiksanya setelah di siksa pun masih bertahan,,
2026-01-27
0