Bab 5 ~ Tidak Diinginkan Siapapun

Raina keluar dari ruang ganti setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Berdiri di depan figura foto yang terpajang di dinding. Senyuman Kakaknya terlihat begitu cerah tanpa beban disana. Tanpa sadar Raina meneteskan air matanya, dia merindukan sosok Kakak yang sangat menyayanginya itu.

"Kak, sekarang aku benar-benar sendirian. Tidak ada lagi yang akan bela aku ketika Mama marah, tidak akan ada yang melindungi aku saat Papa memukul. Kak, kenapa Kak Amira yang pergi ... Hiks... Jika bisa aku rela yang menggantikan Kak Amira. Karena hidupku di dunia ini, tidak pernah di harapkan oleh siapapun.. Hiks.."

Bayangan masa lalu masih teringat jelas dalam diri Raina yang menjadi sebuah trauma yang tidak akan pernah bisa hilang dari dirinya.

"Bunda, kita mau pergi kemana?" Seorang gadis kecil yang baru berusia 4 tahun, dengan cara bicara yang bahkan belum benar jelas. Merengek terus bertanya pada Ibunya saat tangan mungilnya di tarik oleh Ibunya ke dalam sebuah halaman rumah yang luas.

"Bunda, ini rumah siapa?"

Ibunya berbalik, berjongkok di depannya dengan memegang kedua tangan mungilnya. Menatapnya dengan lekat.

"Bukankah kamu terus bertanya dimana Ayah kamu, dan kamu ingin punya Ayah 'kan? Dan ini adalah rumah Ayahmu"

Tatapan gadis kecil itu berbinar, selama ini memang dia sangat ingin bertemu Ayahnya. Dia iri dengan teman-temannya yang selalu dimanja oleh Ayahnya, semua keinginannya selalu dituruti oleh sang Ayah. Namun tidak dengannya, Ibunya lebih sering marah-marah padanya. Bahkan ketika Raina kecil meminta untuk sekolah seperti yang lain, Ibunya malah mengurungnya di kamar mandi dan mengatakan jika dia tidak boleh sekolah.

"Mulai saat ini kamu akan tinggal dengan Ayah kamu. Dan aku akan pergi"

"Kenapa Bunda pergi? Kita bisa tinggal bersama dengan Ayah disini"

"Tidak bisa, Ayahmu tidak akan menerima kehadiranku"

Tangan Raina kecil kembali di tarik menuju pintu utama. Mengetuk pintu, sampai beberapa saat kemudian pintu terbuka oleh seorang anak perempuan sekitar berusia 10 tahun. Raina kecil langsung beringsut ke belakang tubuh Ibunya, malu.

"Kamu Amira 'kan?"

"Iya, Tante cari siapa ya?"

"Orang tuamu ada, Tante datang kesini untuk mengantarkan adik kamu. Ini adalah adik kamu, Raina" ucapnya dengan menarik tangan Raina yang bersembunyi di belakang tubuhnya.

Pertemuan pertama mereka bahkan terlihat jelas Amira yang antusias dengan itu. Dia langsung menghampiri Raina dan membawanya masuk.

"Jadi kamu adalah adik aku"

Raina yang merasa senang karena diterima, langsung mengangguk. Meski dia masih bingung dengan keadaan yang sebenarnya. Namun, anak kecil seperti mereka tidak akan paham tentang kekacauan orang tua mereka.

"Mama, Papa, ini adik aku ya. Akhirnya aku punya adik"

Amira yang tiba-tiba membawa seorang anak perempuan yang dia katakan sebagai adiknya, tentu membuat Mama dan Papa terkejut. Apalagi Papa yang merasa ini tidak mungkin.

"Amira, kamu menemukan di dimana? Kenapa kamu membawanya kesini?" tanya Mama.

"Tante tadi membawa Raina kesini dan mengatakan jika ini adalah adikku"

Papa langsung berjalan menuju keluar rumah, dan orang yang di maksud oleh Amira sudah tidak ada disana. Dia mengusap wajah kasar, melihat sebuah surat yang berada di atas lantai dan tidak sengaja terinjak olehnya. Papa mengambilnya dan membuka surat itu.

Aku akan kembali ke tempat asalku, dan aku tidak bisa membawa anakmu itu. Jadi, aku berikan padamu.

Mama merebut surat itu, dan dia langsung berteriak histeris pada suaminya. Menamparnya dengan keras, atas rasa sakit yang dia terima.

"Kau bilang sudah tidak berhubungan lagi dengan perempuan itu, tapi sekarang kau membawa seorang anak dari perempuan itu. Kau gila!"

"Aku juga tidak pernah tahu kalau dia akan memberikan anak itu padaku. Sial, aku tidak pernah menginginkan anak itu"

*

Raina mengerjap pelan, air mata sudah membanjiri pipinya. Segera dia usap dengan kasar. Hari ini, ketika dia sudah dewasa dan mengingat kembali tentang kenangan itu. Maka dia mengerti dengan jelas, jika kehadirannya memang tidak pernah di harapkan oleh siapapun. Raina hanya di anggap sebagai anak pembawa sial yang tidak diharapkan kehadirannya.

"Bunda pergi karena tidak ingin merawatku dan terbebani olehku. Dan Papa juga tidak inginkan kehadiranku, Mama juga marah karena kehadiranku. Lalu, aku harus kemana?"

Mungkin dulu pertanyaan itu selalu dia lontarkan dalam kesendirian. Bertanya pada angin lalu yang tidak bisa memberikan jawaban apapun. Tapi sekarang, Raina memilih untuk lebih tegar dan tidak lagi mempertanyakan tentang takdirnya.

"Untuk apa kau masih berada disini?!"

Raina mengerjap kaget dengan suara bariton itu. Ketika menoleh dan melihat Marvin yang sudah siap dengan pakaian kerjanya.

"Maaf Kak, aku hanya melihat foto Kak Amira. Aku merindukannya"

Tatapan Marvin begitu tajam, dia menarik tangan Raina dan mendorongnya kasar hingga dia terjatuh membentur meja kaca di sana. Raina mengaduh kesakitan dengan memegang pinggangnya.

"Jangan pernah ucapkan kata rindu untuk Amira-ku dari mulutmu yang kotor itu. Kau yang membunuhnya, dan sekarang kau mengatakan jika kau merindukannya? Haha.. Apa itu pantas?"

Raina menunduk, air mata berjatuhan ke atas lantai. Menandakan sebesar apa rasa sakit dan luka yang harus dia terima. Namun, dia tetap harus berdiri dan kuat menjalaninya.

"Kak Marvin, jika boleh meminta pada Tuhan, aku juga akan meminta untuk nyawaku saja yang ditukar dengan Kak Amira. Aku saja yang mati daripada Kak Amira"

Marvin tersenyum tipis dengan mengerikan, dia membungkuk dan mencengkram kuat leher Raina hingga gadis itu kesulitan napas. Hembusan napasnya yang terasa berat, wajahnya memerah.

"Memang sebaiknya kau mati saja, mungkin itu akan menjadi kebahagiaan yang sempurna untukku"

Air mata menetes dari sudut matanya, rasa sakit di lehernya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya mendengar ucapan Marvin yang begitu menusuk. Ketika Marvin melepaskan cengkraman tangannya, membuat Raina langsung lunglai dan terbatuk-batuk. Sedikit keluar darah dari mulutnya akibat dari cengkraman kuat tangan Marvin di lehernya

"Mati saja kau!"

Marvin melangkah pergi dari sana dan meninggalkan Raina yang hampir kehabisan napas karena ulahnya. Raina mengusap air mata yang mengalir, mengatur napasnya yang sudah terengah-engah.

Mendongak dan menatap kembali foto Kakaknya disana. Raina menangis sesenggukan dengan rasa sakit di tenggorokannya.

"Mungkin jika aku mati sekalipun, tidak akan ada yang peduli. Semua orang akan tenang dan merasa hidupnya bebas setelah kematianku"

Pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tapi Raina sadar jika itu hanya akan semakin membuatnya berdosa. Setelah semua dosa yang dilakukan orang tuanya, maka dia tidak mungkin terus berdosa dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

"Raina, kamu kuat"

Sekilas suara itu seperti nyata dari Kakaknya, karena dulu selalu Amira yang mengatakan itu untuk menguatkannya. Dan sekarang suara itu terasa begitu nyata.

"Aku akan berusaha lebih kuat, Kak"

Bersambung

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

Marvin belum tau pembalasan nya akan lebih mengerikan buat Lo nanti sekarang berbangga lah dengan kejahatan.mu Lo
menyakiti wanita yang tidak salah apapun
kematian adalah takdir dan Raina juga bukan pembunuh dan pembawa sial yang
sial adalah Lo dan mertua lo paham,,, hingga
bab brapa ya kira kira pembalasan di berikan ke pada Pria. Orgil macam Marvin

2026-01-27

0

dika edsel

dika edsel

semoga nanti ending nya sad...,doamu dikabulkan..raina meninggal dan elu jd duda kesepian..!! diantara circle bara mgkin si marpin ini yg paling keterlaluan.., dan dia layak ditinggalkan..

2026-01-26

0

MamDeyh

MamDeyh

Sadis deh.. Gk sebanding kematian kecelakaan sm kekejaman tuh lakik.. Sekali lg tanpa mengurangi rasa hormat, jgn dibikin Raina kyk bukan manusia thor

2026-01-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 ~ Pengantin Pengganti
2 Bab 2 ~ Penjara Pernikahan Marvin
3 Bab 3 ~ Baju Pelayan
4 Bab 4 ~ Penjara Yang Menghancurkan Hidupmu
5 Bab 5 ~ Tidak Diinginkan Siapapun
6 Bab 6 ~ Menggantikan Kak Amira
7 Bab 7 ~ Tidak Akan Membiarkanmu Pergi
8 Bab 8 ~ Jika Bisa, Aku Saja Yang Pergi
9 Bab 9 ~ Dua Insan Yang Merindukan Amira
10 Bab 10 ~ Melihat Amira Dalam Dirinya
11 Bab 11 ~ Hanya Tidak Menganggapnya Ada
12 Bab 12 ~ Bawa Ke Kamarku Saja?!
13 Bab 13 ~ Tidur Satu Kamar
14 Bab 14 ~ Tidak Akan Bisa Menggantikan Amira
15 Bab 15 ~ Mari Bercerai
16 Bab 16 ~ Benarkah Tidak Khawatir?
17 Bab 17 ~ Kecelakaan Itu Bukan Salahmu
18 Bab 18 ~ Tidak Akan Melibatkanmu Dalam Perasaanku
19 Bab 19 ~ Mulai Lelah
20 Bab 20 ~ Membuat Kebaikan Untuk Semua Orang
21 Bab 21 ~ Kenapa Menyesal?
22 Bab 22 ~ Apa Sebuah Keputusan Yang Benar?
23 Bab 23 ~ Sidang Perceraian
24 Bab 24 ~ Takut Pertahananku Runtuh
25 Bab 25 ~ Tidak Mungkin Khawatir
26 Bab 26 ~ Memilih Pergi Meninggalkan Semua Orang
27 Bab 27 ~ Kehampaan Dan Kekosongan Hati
28 Bab 28 ~ Terbelenggu Perasaannya Sendiri
29 Bab 29 ~ Memulai Hidup Baru
30 Bab 30 ~ Hadir Setelah Diceraikan
31 Bab 31 ~ Tidak Akan Memberitahunya
32 Bab 32 ~ Hamil Setelah Bercerai
33 Bab 33 ~ Kisah Yang Terulang
34 Bab 34 ~ Terbelenggu Penyesalan
35 Bab 35 ~ Bukan Marvin Yang Memberi
36 Bab 36 ~ Penyesalan Yang Terlambat
37 Ban 37 ~ Bukan Murni Kecelakaan?
38 Bab 38 ~ Merawatnya Seorang Diri
39 Bab 39 ~ Tidak Sengaja Bertemu
40 Bab 40 ~ Akan Berusaha Menemukannya
41 Bab 41 ~ Bukan Anak Raina
42 Bab 42 ~ Gadis Kecil Yang Dicarinya
43 Bab 43 ~ Hanya Akan Hidup Sendiri
44 Bab 44 ~ Tentang Amira
45 Bab 45 ~ Hancur Terbelenggu Penyesalan
46 Bab 46 ~ Apa Amira Anakku?
47 Bab 47 ~ Jangan Ganggu Saya Lagi!
48 Bab 48 ~ Kehilangan Arah Tujuan
49 Bab 49 ~ Minta Maaf Lagi Pada Ibu
50 Bab 50 ~ Bukan Tidak Ingin Tahu Tentang Ayah
51 Bab 51 ~ Ingin Melakukan Tes DNA
52 Bab 52 ~ Ikatan Batin Ayah Dan Anak
53 Bab 53 ~ Berikan Aku Kesempatan
54 Bab 54 ~ Sudah Memaafkanmu, Tapi Jangan Menggangguku!
55 Mohon sabar
56 Bab 55 ~ Amira Hanya Anakku!
57 Bab 56 ~ Jangan Libatkan Aku Dalam Hidupmu
58 Bab 57 ~ Perasaan Yang Tak Hilang
59 Bab 58 ~ Ikatan Batin Lebih Kuat
60 Bab 59 ~ Belum Siap Kembali
61 Bab 60 ~ Bertemu Shela
62 Bab 61 ~ Om Marvin Ayahnya Amira
63 Bab 62 ~ Kecelakaan
64 Bab 63 ~ Semuanya Berubah Gelap
65 Bab 64 ~ Hampir Menyerah
66 Bab 65 ~ Akhirnya Diterima Semua Orang
67 Bab 66 ~ Berharap Takdirku Tetap Bersamamu
68 Bab 67 ~ Takut Menikah Lagi
69 Bab 68 ~ Bunda Akan Menemanimu
70 Bab 69 ~ Akhirnya Diperjuangkan
71 Bab 70 ~ Kebohongan Yang Menghancurkan
72 Bab 71 ~ Berdamai Dengan Masa Lalu
73 Bab 72 ~ Merasa Bersalah
74 Bab 73 ~ Surat Terakhir
75 Bab 74 ~ Bayangan Yang Sama Dalam Suasana Berbeda
76 Ban 75 ~ Trauma Yang Nyata
77 Bab 76 ~ Fakta Di Balik Kecelakaan
78 Ban 77 ~ Percakapan Widya Dan Yulia
79 Bab 78 ~ Rencana Bulan Madu
80 Bab 79 ~ Sudah Mencintaimu Sejak Dulu
81 Bab 80 ~ Merindukan Amira
82 Bab 81 ~ Diberi Ruang Untuk Meminta
83 Bab 82 ~ Akhir Selamanya
84 Cerita Bayu Rilis
85 Cerita Byan
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 ~ Pengantin Pengganti
2
Bab 2 ~ Penjara Pernikahan Marvin
3
Bab 3 ~ Baju Pelayan
4
Bab 4 ~ Penjara Yang Menghancurkan Hidupmu
5
Bab 5 ~ Tidak Diinginkan Siapapun
6
Bab 6 ~ Menggantikan Kak Amira
7
Bab 7 ~ Tidak Akan Membiarkanmu Pergi
8
Bab 8 ~ Jika Bisa, Aku Saja Yang Pergi
9
Bab 9 ~ Dua Insan Yang Merindukan Amira
10
Bab 10 ~ Melihat Amira Dalam Dirinya
11
Bab 11 ~ Hanya Tidak Menganggapnya Ada
12
Bab 12 ~ Bawa Ke Kamarku Saja?!
13
Bab 13 ~ Tidur Satu Kamar
14
Bab 14 ~ Tidak Akan Bisa Menggantikan Amira
15
Bab 15 ~ Mari Bercerai
16
Bab 16 ~ Benarkah Tidak Khawatir?
17
Bab 17 ~ Kecelakaan Itu Bukan Salahmu
18
Bab 18 ~ Tidak Akan Melibatkanmu Dalam Perasaanku
19
Bab 19 ~ Mulai Lelah
20
Bab 20 ~ Membuat Kebaikan Untuk Semua Orang
21
Bab 21 ~ Kenapa Menyesal?
22
Bab 22 ~ Apa Sebuah Keputusan Yang Benar?
23
Bab 23 ~ Sidang Perceraian
24
Bab 24 ~ Takut Pertahananku Runtuh
25
Bab 25 ~ Tidak Mungkin Khawatir
26
Bab 26 ~ Memilih Pergi Meninggalkan Semua Orang
27
Bab 27 ~ Kehampaan Dan Kekosongan Hati
28
Bab 28 ~ Terbelenggu Perasaannya Sendiri
29
Bab 29 ~ Memulai Hidup Baru
30
Bab 30 ~ Hadir Setelah Diceraikan
31
Bab 31 ~ Tidak Akan Memberitahunya
32
Bab 32 ~ Hamil Setelah Bercerai
33
Bab 33 ~ Kisah Yang Terulang
34
Bab 34 ~ Terbelenggu Penyesalan
35
Bab 35 ~ Bukan Marvin Yang Memberi
36
Bab 36 ~ Penyesalan Yang Terlambat
37
Ban 37 ~ Bukan Murni Kecelakaan?
38
Bab 38 ~ Merawatnya Seorang Diri
39
Bab 39 ~ Tidak Sengaja Bertemu
40
Bab 40 ~ Akan Berusaha Menemukannya
41
Bab 41 ~ Bukan Anak Raina
42
Bab 42 ~ Gadis Kecil Yang Dicarinya
43
Bab 43 ~ Hanya Akan Hidup Sendiri
44
Bab 44 ~ Tentang Amira
45
Bab 45 ~ Hancur Terbelenggu Penyesalan
46
Bab 46 ~ Apa Amira Anakku?
47
Bab 47 ~ Jangan Ganggu Saya Lagi!
48
Bab 48 ~ Kehilangan Arah Tujuan
49
Bab 49 ~ Minta Maaf Lagi Pada Ibu
50
Bab 50 ~ Bukan Tidak Ingin Tahu Tentang Ayah
51
Bab 51 ~ Ingin Melakukan Tes DNA
52
Bab 52 ~ Ikatan Batin Ayah Dan Anak
53
Bab 53 ~ Berikan Aku Kesempatan
54
Bab 54 ~ Sudah Memaafkanmu, Tapi Jangan Menggangguku!
55
Mohon sabar
56
Bab 55 ~ Amira Hanya Anakku!
57
Bab 56 ~ Jangan Libatkan Aku Dalam Hidupmu
58
Bab 57 ~ Perasaan Yang Tak Hilang
59
Bab 58 ~ Ikatan Batin Lebih Kuat
60
Bab 59 ~ Belum Siap Kembali
61
Bab 60 ~ Bertemu Shela
62
Bab 61 ~ Om Marvin Ayahnya Amira
63
Bab 62 ~ Kecelakaan
64
Bab 63 ~ Semuanya Berubah Gelap
65
Bab 64 ~ Hampir Menyerah
66
Bab 65 ~ Akhirnya Diterima Semua Orang
67
Bab 66 ~ Berharap Takdirku Tetap Bersamamu
68
Bab 67 ~ Takut Menikah Lagi
69
Bab 68 ~ Bunda Akan Menemanimu
70
Bab 69 ~ Akhirnya Diperjuangkan
71
Bab 70 ~ Kebohongan Yang Menghancurkan
72
Bab 71 ~ Berdamai Dengan Masa Lalu
73
Bab 72 ~ Merasa Bersalah
74
Bab 73 ~ Surat Terakhir
75
Bab 74 ~ Bayangan Yang Sama Dalam Suasana Berbeda
76
Ban 75 ~ Trauma Yang Nyata
77
Bab 76 ~ Fakta Di Balik Kecelakaan
78
Ban 77 ~ Percakapan Widya Dan Yulia
79
Bab 78 ~ Rencana Bulan Madu
80
Bab 79 ~ Sudah Mencintaimu Sejak Dulu
81
Bab 80 ~ Merindukan Amira
82
Bab 81 ~ Diberi Ruang Untuk Meminta
83
Bab 82 ~ Akhir Selamanya
84
Cerita Bayu Rilis
85
Cerita Byan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!