Chapter 2 - Polisi Idola

Rangga menatap pulpen itu beberapa saat. Benda tersebut tampak begitu kontras dibandingkan kondisi tempat sampah di sekitarnya. Di antara plastik kotor, kardus basah, dan sisa-sisa limbah rumah tangga, keberadaan pulpen itu terasa janggal.

Perlahan Rangga berjongkok. Matanya menyipit memperhatikan detail pulpen tersebut. Warna hitam mengkilap masih terlihat jelas meskipun sebagian permukaannya terkena debu. Pada bagian klipnya terdapat ukiran kecil berwarna perak yang menunjukkan bahwa pulpen itu bukan barang murahan.

Rangga merasa ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dia pernah melihat pulpen seperti itu. Bahkan mungkin pernah memegangnya. Namun semakin keras dia berusaha mengingat, semakin kabur ingatan itu. Entah di kantor pemerintahan, rumah seseorang, atau tempat lain yang pernah ia datangi selama bertugas.

"Kayaknya aku pernah lihat ini..." gumamnya pelan.

Beben yang berada tidak jauh darinya menoleh. "Apa?"

"Entahlah. Rasanya nggak asing."

Rangga kembali memperhatikan pulpen tersebut. Beberapa detik kemudian dia menggeleng pelan. Tidak ada gunanya memaksakan ingatan saat ini. Kasus yang mereka hadapi jauh lebih penting.

Untuk sekarang Rangga menyerahkan pulpen itu pada Usay. "Mungkin ada sidik jari di sini," katanya.

Usay menerima pulpen tersebut dengan hati-hati menggunakan sarung tangan. "Aku periksa nanti."

"Menurutku nggak mungkin pulpen mahal begini dibuang ke tempat sampah. Seseorang pasti menjatuhkannya."

Usay mengangguk setuju. "Kalau memang ada sidik jari yang masih tersisa, mungkin bisa membantu."

Rangga lalu berdiri dan kembali mengamati area sekitar. Namun setelah beberapa jam penyelidikan, tidak banyak barang bukti lain yang ditemukan.

Matahari perlahan bergerak ke barat. Warna langit mulai berubah keemasan. Para petugas akhirnya menyelesaikan pekerjaan awal mereka di lokasi kejadian.

Barang bukti diamankan. Potongan tubuh korban dibawa untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara Rangga kembali memikirkan berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Pembunuhan itu jelas bukan kejahatan biasa. Pelaku sengaja memotong tubuh korban. Kepala dan kedua tangan juga hilang. Artinya pelaku benar-benar ingin menyulitkan proses identifikasi. Seseorang yang melakukan hal seperti itu kemungkinan besar memiliki alasan yang kuat. Atau mungkin menyimpan rahasia besar.

Sore hari Rangga pulang ke rumah kontrakannya. Rumah itu sederhana. Bangunannya tidak besar. Hanya terdiri dari ruang tamu kecil, satu kamar tidur, dapur sederhana, dan kamar mandi di bagian belakang.

Meski sederhana, rumah itu cukup nyaman untuk ditinggali seorang diri. Begitu masuk ke dalam rumah, Rangga langsung melepaskan jaketnya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berada di lapangan. Namun karena sudah terbiasa hidup sendiri, semua pekerjaan rumah harus dia lakukan sendiri pula. Dia menuju dapur. Membuka lemari es. Mengambil telur.

Tak lama kemudian suara minyak mendesis terdengar dari penggorengan. Rangga baru saja selesai menggoreng telur mata sapi. Itu adalah menu makan malam yang hampir selalu dia santap. Sederhana, murah, dan mengenyangkan. Tambahannya hanya kecap, nasi hangat, serta beberapa kerupuk yang tersimpan di dalam toples.

Selanjutnya, Rangga duduk sendirian di meja makan. Suasana rumah begitu sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar perlahan.

Rangga mulai makan. Namun seperti biasanya, ketika kesunyian datang, pikirannya mulai melayang pada masa lalu. Satu nama kembali muncul di benaknya.

Dita, kakak iparnya yang dulu selalu menjaganya. Perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi sosok paling perhatian dalam hidupnya. Kadang Rangga merasa aneh. Kenapa dulu Dita justru lebih peduli dibanding kakak kandungnya sendiri?

Ketika dia masih berjuang masuk kepolisian, Dita selalu memberinya semangat. Ketika dia gagal dalam sebuah tes, Dita yang menghiburnya. Saat dia kekurangan uang, Dita diam-diam membantunya. Bahkan ketika semua orang meragukan kemampuannya, Dita tetap percaya padanya.

Namun semuanya berubah. Semenjak Rangga lolos menjadi polisi, Dita menghilang entah ke mana. Hal terakhir yang dilakukan perempuan itu hanyalah berbicara dengannya melalui telepon. Percakapan yang sampai sekarang masih diingat Rangga. Setelah itu, tidak ada kabar lagi.

Nomornya tidak aktif. Rumahnya kosong. Keberadaannya seperti lenyap begitu saja. Seolah ditelan bumi.

Rangga sudah mencari ke mana-mana. Bahkan dia pernah beberapa kali pergi ke Desa Sadewa. Kampung halaman Dita. Namun hasilnya nihil. Tidak ada yang mengetahui keberadaan perempuan itu. Teman-temannya tidak tahu. Tetangganya tidak tahu.

Sudah lima tahun berlalu. Lima tahun tanpa kabar. Namun Rangga tidak pernah berhenti mencari.

"Kau di mana, Kak?" gumam Rangga lirih. Matanya menatap kosong ke arah piring makan. Perasaan yang selama ini dia pendam kembali muncul.

Selain sebagai kakak iparnya, Rangga juga mencintai Dita. Perasaan itu tumbuh perlahan selama bertahun-tahun. Meski dia tahu hubungan tersebut tidak seharusnya terjadi, hatinya tetap tidak bisa melupakan perempuan itu.

Mungkin itulah alasan mengapa hingga sekarang dia masih sendiri. Tidak ada wanita yang mampu menggantikan posisi Dita di hatinya.

Tok...

Tok...

Suara ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

Rangga segera berdiri. Dia berjalan menuju pintu depan. Saat pintu dibuka, terlihat seorang perempuan membawa mangkuk.

Perempuan itu adalah Septi. Janda cantik yang tinggal tepat di sebelah rumahnya.

"Pasti lagi makan malam ya, Mas? Kebetulan aku masak rendang. Dimakan ya," ujar Septi sambil tersenyum.

Aroma rendang langsung tercium.

"Oh iya. Pas banget. Makasih ya, Mbak." Rangga menerima mangkuk tersebut.

"Nggak masalah." Septi tampak tersenyum malu-malu. Matanya sesekali mencuri pandang ke wajah Rangga.

"Aku lihat kau baru pulang. Pasti capek."

Rangga tersenyum sopan.

"Mau dipijitin nggak? Biar pun begini, pijitanku enak loh," tawar Septi.

Rangga langsung menggeleng. "Nggak usah, Mbak. Aku nggak terlalu capek kok."

"Oh begitu."

"Ya udah, makasih. Aku harus bersiap mau dinas lagi."

Rangga perlahan menutup pintu. Begitu pintu tertutup rapat, dia mengembuskan napas lega.

Septi memang sering bersikap baik padanya. Terlalu baik bahkan. Rangga tahu apa maksud perhatian itu. Hanya saja dia memilih pura-pura tidak mengerti. Dia kembali menuju meja makan.

Tok...

Tok...

Pintu rumah kembali diketuk. Rangga memijat pelipisnya. Lalu berjalan lagi menuju pintu. Saat dibuka, seorang gadis SMA berdiri di sana. Namanya Cindy. Dia tinggal di rumah seberang jalan.

"Kak Rangga! Aku punya sesuatu buat Kakak. Ini!"

Tanpa memberi kesempatan Rangga berbicara, Cindy langsung menyodorkan sebuah kotak berbentuk hati. Setelah itu dia berlari menuju rumahnya.

"Kok kabur lagi..." gumam Rangga. Dia hanya bisa mematung di depan pintu. Perilaku Cindy memang selalu seperti itu. Kadang mendekat. Kadang mengajak bicara. Namun setelah itu langsung kabur karena malu.

Rangga menggeleng pelan. Kemudian masuk kembali ke rumah. Saat tinggal di kontrakan itu, kejadian seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi. Entah kenapa hampir selalu ada wanita yang datang ke rumahnya.

Rangga sendiri tidak pernah menyadari alasan di balik semua itu. Dia tidak merasa dirinya istimewa. Padahal di mata banyak orang, dia adalah sosok yang cukup menarik. Tampan, baik, rajin beribadah, dan memiliki pekerjaan yang dianggap terhormat. Tak heran banyak wanita diam-diam menyukainya. Baik secara terang-terangan maupun diam-diam.

Rangga membuka kotak berbentuk hati pemberian Cindy. Di dalamnya terdapat brownies cokelat yang masih terlihat hangat. Aroma cokelatnya begitu menggoda.

Rangga tersenyum tipis. "Lumayan."

Brownies itu kemudian menjadi makanan penutupnya malam itu. Setelah selesai makan dan menunaikan salat magrib, Rangga bersiap berangkat lagi.

Malam itu dia mendapat jadwal jaga malam. Pasangannya adalah Beben. Jalanan mulai sepi saat dia mengendarai motor menuju kantor.

Lampu-lampu jalan menerangi aspal yang gelap. Udara malam terasa lebih sejuk dibanding siang hari.bTak lama kemudian dia sampai di Polsek Batu Wangi.

Rangga menjadi orang pertama yang datang. Suasana kantor terlihat lengang. Sebagian besar anggota sudah pulang. Lampu di beberapa ruangan bahkan sudah dimatikan.

Rangga masuk ke ruang depan. Dia meletakkan helm di meja. Kemudian memeriksa beberapa berkas. Namun belum lama dia berada di sana. Terdengar suara langkah kaki dari luar.

Seseorang datang. Rangga menoleh. Dia mengira mungkin Beben yang baru tiba. Namun saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu, dia langsung tercengang.

Seorang perempuan berdiri di sana. Wajahnya tampak familiar.

Jantung Rangga mendadak berdegup lebih cepat. Matanya membesar. Perempuan itu juga terlihat terkejut.

"Ada yang bisa dibantu, Mbak..." kata Rangga yang masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.

Perempuan itu menatapnya beberapa detik. Seakan memastikan sesuatu. Lalu bibirnya bergerak perlahan.

"Rangga?" panggil orang itu.

Terpopuler

Comments

🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉

🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉

thor ini ada cerita awal sebelum novel ini ya?

2026-01-25

0

Tiara Bella

Tiara Bella

apakah Astred yg nyembungiin Dita...apa mungkin Dita beneran nikah sm pak Tejo.....msh tanda tanya....

2026-01-25

1

Ass Yfa

Ass Yfa

wah Rangga jadi jdola...dari gadis ampe janda pada kesemsem🤭🤭

2026-01-26

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Penemuan Mayat
2 Chapter 2 - Polisi Idola
3 Chapter 3 - Teman Lama
4 Chapter 4 - Tentang Pak Alun
5 Chapter 5 - Pembuat Masalah?
6 Chapter 6 - Kabar Teman Lain
7 Chapter 7 - Tak Seperti Dulu
8 Chapter 8 - Gadis Berseragam Penuh Darah
9 Chapter 9 - Mengejar Pelaku
10 Chapter 10 - Yang Terjadi Setelah Mati Bunuh Diri
11 Chapter 11 - Pulang Dulu
12 Chapter 12 - Membuktikan
13 Chapter 13 - Kabar Baru
14 Chapter 14 - Akhirnya Bertemu
15 Chapter 15 - Kebenaran
16 Chapter 16 - Cerita Dita
17 Chapter 17 - Detektif Swasta
18 Chapter 18 - Tetap Menyelidiki
19 Chapter 19 - Mencari Tahu
20 Chapter 20 - Dugaan Rangga
21 Chapter 21 - Keadaan Nadia
22 Chapter 22 - Ketemu Lagi
23 Chapter 23 - Gerak-Gerik Berbohong
24 Chapter 24 - Merasa Bersalah
25 Chapter 25 - Geng Motor Misterius
26 Chapter 26 - Markas Joshua
27 Chapter 27 - Bertemu Kemal
28 Chapter 28 - Apartemen Astrid
29 Chapter 29 - Menyukai Siapa?
30 Chapter 30 - Tak Punya Kesempatan
31 Chapter 31 - Menyelamatkan Astrid
32 Chapter 32 - Semuanya Terkuak
33 Chapter 33 - Dipindahkan
34 Chapter 34 - Kebenaran Dari Dita
35 Chapter 35 - Keputusan Dita
36 Chapter 36 - Terganggu Atau Merelakan?
37 Chapter 37 - Kasus Baru
38 Chapter 38 - Maling Atau Istrinya?
39 Chapter 39 - Merintis Perasaan
40 Chapter 40 - Tertidur
41 Chapter 41 - Menikah?
42 Chapter 42 - Pembicaraan Dita & Astrid
43 Chapter 43 - Menghapus Bukti
44 Chapter 44 - Kelompok Rahasia
45 Chapter 45 - Kasus Pertama
46 Chapter 46 - Pelaku Sebenarnya
47 Chapter 47 - Detail Kejadian
48 Chapter 48 - Bertemu Yora
49 Chapter 49 - Ide Rangga
50 Chapter 50 - Tantangan Agnes
51 Chapter 51 - Rencana Pergi
52 Chapter 52 - Hak Asuh Safea
53 Chapter 53 - Memberitahu Safea
54 Chapter 54 - Klub Malam
55 Chapter 55 - Bermalam
56 Chapter 56 - Sependapat
57 Chapter 57 - Menemui Firza
58 Chapter 58 - Tentang Ifan
59 Chapter 59 - Kasus Kematian Seorang Ayah
60 Chapter 60 - TKP
61 Chapter 61 - Polisi Vs Anak Kecil
62 Chapter 62 - Warisan Dadakan
63 Chapter 63 - Memberitahu Dita
64 Chapter 64 - Tantangan Firza
65 Chapter 65 - Gembong Narkoba
66 Chapter 66 - Menahan Amarah
67 Chapter 67 - Bayaran
68 Chapter 68 - Bukti Cukup
69 Chapter 69 - Makan Bersama Lagi
70 Chapter 70 - Membongkar Semuanya
71 Chapter 71 - Diserang
72 Chapter 72 - Seperti Keluarga
73 Chapter 73 - Tawaran Menikah
74 Chaptee 74 - Hukuman Untuk Firza
75 Chapter 75 - Pernikahan
76 Chapter 76 - Bonus Chapter [Malam Pertama 1]
77 Chapter 77 - Bonus Chapter [Memasak]
78 Chater 78 - Bonus Chapter [Kembali Kerja]
79 Chapter 79 - Bonus Chapter [Tak Sabar]
80 Chapter 80 - Bonus Chapter [Akhirnya]
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Chapter 1 - Penemuan Mayat
2
Chapter 2 - Polisi Idola
3
Chapter 3 - Teman Lama
4
Chapter 4 - Tentang Pak Alun
5
Chapter 5 - Pembuat Masalah?
6
Chapter 6 - Kabar Teman Lain
7
Chapter 7 - Tak Seperti Dulu
8
Chapter 8 - Gadis Berseragam Penuh Darah
9
Chapter 9 - Mengejar Pelaku
10
Chapter 10 - Yang Terjadi Setelah Mati Bunuh Diri
11
Chapter 11 - Pulang Dulu
12
Chapter 12 - Membuktikan
13
Chapter 13 - Kabar Baru
14
Chapter 14 - Akhirnya Bertemu
15
Chapter 15 - Kebenaran
16
Chapter 16 - Cerita Dita
17
Chapter 17 - Detektif Swasta
18
Chapter 18 - Tetap Menyelidiki
19
Chapter 19 - Mencari Tahu
20
Chapter 20 - Dugaan Rangga
21
Chapter 21 - Keadaan Nadia
22
Chapter 22 - Ketemu Lagi
23
Chapter 23 - Gerak-Gerik Berbohong
24
Chapter 24 - Merasa Bersalah
25
Chapter 25 - Geng Motor Misterius
26
Chapter 26 - Markas Joshua
27
Chapter 27 - Bertemu Kemal
28
Chapter 28 - Apartemen Astrid
29
Chapter 29 - Menyukai Siapa?
30
Chapter 30 - Tak Punya Kesempatan
31
Chapter 31 - Menyelamatkan Astrid
32
Chapter 32 - Semuanya Terkuak
33
Chapter 33 - Dipindahkan
34
Chapter 34 - Kebenaran Dari Dita
35
Chapter 35 - Keputusan Dita
36
Chapter 36 - Terganggu Atau Merelakan?
37
Chapter 37 - Kasus Baru
38
Chapter 38 - Maling Atau Istrinya?
39
Chapter 39 - Merintis Perasaan
40
Chapter 40 - Tertidur
41
Chapter 41 - Menikah?
42
Chapter 42 - Pembicaraan Dita & Astrid
43
Chapter 43 - Menghapus Bukti
44
Chapter 44 - Kelompok Rahasia
45
Chapter 45 - Kasus Pertama
46
Chapter 46 - Pelaku Sebenarnya
47
Chapter 47 - Detail Kejadian
48
Chapter 48 - Bertemu Yora
49
Chapter 49 - Ide Rangga
50
Chapter 50 - Tantangan Agnes
51
Chapter 51 - Rencana Pergi
52
Chapter 52 - Hak Asuh Safea
53
Chapter 53 - Memberitahu Safea
54
Chapter 54 - Klub Malam
55
Chapter 55 - Bermalam
56
Chapter 56 - Sependapat
57
Chapter 57 - Menemui Firza
58
Chapter 58 - Tentang Ifan
59
Chapter 59 - Kasus Kematian Seorang Ayah
60
Chapter 60 - TKP
61
Chapter 61 - Polisi Vs Anak Kecil
62
Chapter 62 - Warisan Dadakan
63
Chapter 63 - Memberitahu Dita
64
Chapter 64 - Tantangan Firza
65
Chapter 65 - Gembong Narkoba
66
Chapter 66 - Menahan Amarah
67
Chapter 67 - Bayaran
68
Chapter 68 - Bukti Cukup
69
Chapter 69 - Makan Bersama Lagi
70
Chapter 70 - Membongkar Semuanya
71
Chapter 71 - Diserang
72
Chapter 72 - Seperti Keluarga
73
Chapter 73 - Tawaran Menikah
74
Chaptee 74 - Hukuman Untuk Firza
75
Chapter 75 - Pernikahan
76
Chapter 76 - Bonus Chapter [Malam Pertama 1]
77
Chapter 77 - Bonus Chapter [Memasak]
78
Chater 78 - Bonus Chapter [Kembali Kerja]
79
Chapter 79 - Bonus Chapter [Tak Sabar]
80
Chapter 80 - Bonus Chapter [Akhirnya]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!