Chapter 3 - Teman Lama

"Astrid? Ini kau?" ujar Rangga dengan nada tidak percaya.

Sosok perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang memang seseorang yang sangat dikenalnya. Bahkan jauh lebih dari sekadar teman lama. Astrid adalah mantan kekasihnya saat SMA. Mereka pernah menghabiskan banyak waktu bersama pada masa remaja, sebelum akhirnya jalan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda.

Selama beberapa detik Rangga hanya bisa menatap perempuan itu tanpa berkedip. Rasanya seperti melihat seseorang yang muncul kembali dari masa lalu. Seseorang yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya, tetapi juga tidak pernah lagi hadir dalam kehidupannya selama bertahun-tahun.

Astrid juga tampak tidak kalah terkejut. Perempuan itu kini berambut panjang hingga melewati bahunya. Penampilannya jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali Rangga melihatnya. Namun satu hal yang tidak berubah adalah kecantikannya. Sejak dulu Astrid memang dikenal cantik. Bahkan ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu, banyak siswa laki-laki diam-diam mengaguminya. Kini kecantikan itu justru terlihat semakin matang.

Sementara itu, Astrid juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Rangga. Dalam ingatannya, Rangga masihlah remaja kurus yang sering berlari di lapangan sekolah sambil membawa tas lusuh. Namun lelaki yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat berbeda.

Seragam polisi yang dikenakan Rangga membuat sosoknya tampak jauh lebih gagah dan berwibawa. Tubuhnya juga lebih tegap dibanding masa sekolah dulu.

Untuk sesaat waktu seakan berhenti. Mereka hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa. Kenangan masa lalu berkelebat di benak masing-masing.

Orang pertama yang berhasil sadar dari keterkejutan itu adalah Rangga. Dia berdeham pelan sebelum berkata, "Ngapain kau ke sini? Nggak ada hal buruk yang terjadi kan?"

Astrid tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia justru berjalan mendekati Rangga. Langkahnya perlahan. Tatapannya tidak lepas dari wajah lelaki itu.

Rangga mengernyit bingung ketika Astrid tiba-tiba berdiri tepat di depannya. Sebelum dia sempat bertanya, kedua tangan Astrid sudah terangkat dan memegang wajahnya.

"Ini benar-benar kau, Ga?" tanya Astrid.

Belum selesai sampai di situ, dia bahkan menarik pipi Rangga dan menekan-nekan wajahnya seperti sedang memastikan sesuatu.

Rangga langsung menghela napas panjang. "Iya ini aku. Perlukah kau melakukan ini pada wajahku?"

Astrid tidak langsung menjawab. Dia masih memperhatikan wajah Rangga dari dekat. Beberapa detik kemudian barulah dia melepaskan pegangannya.

"Jadi ini benar kau?! Astaga... Ini sulit dipercaya. Sudah lama sekali. Makanya aku nggak mau langsung percaya."

Wajah Astrid langsung dipenuhi senyum lebar. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

Melihat reaksi itu, Rangga malah tertawa kecil. "Emangnya kau sering berhalusinasi tentangku?"

Astrid mengangkat bahu. "Mungkin. Kadang aku mengira orang lain adalah kau. Saat didekati, kebanyakan zonk. Sampai akhirnya sekarang, ini kau beneran."

Rangga tidak bisa menahan senyumnya. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu, cara bicara Astrid ternyata masih sama. Tetap blak-blakan, spontan, dan sering membuat orang kebingungan.

"Oke. Sebaiknya kau duduk dulu, dan beritahu aku alasan kedatanganmu ke sini. Ada sesuatu yang mau dilaporkan?" tanya Rangga sambil menarik kursi.

Astrid segera duduk di hadapannya. Baru setelah duduk dia terlihat mengusap dahinya.."Gara-gara kau, aku hampir saja melupakan tujuanku datang ke sini."

"Jadi apa yang terjadi?" tukas Rangga

Senyum di wajah Astrid perlahan menghilang. Ekspresinya berubah lebih serius. "Akhir-akhir ini aku merasa tidak aman. Bahkan saat di apartemenku sendiri."

Rangga langsung memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku merasa ada Yang selalu mengikuti. Awalnya aku mengabaikan semua perasaan itu. Kupikir cuma perasaanku saja. Tapi lama-lama semakin aneh." Astrid melanjutkan.

"Seaneh apa?" tanya Rangga.

Astrid menarik napas panjang. "Kadang saat pulang kerja aku melihat orang yang sama berada di tempat berbeda. Pernah juga aku merasa ada yang memperhatikanku saat naik lift. Tapi ketika aku menoleh, nggak ada siapa-siapa."

Rangga mulai mencatat beberapa poin penting di pikirannya. "Lalu?"

"Sampai saat aku pulang tadi sore ke rumah, keadaan apartemenku berantakan. Jelas ada seseorang yang menerobos masuk ke sana."

Mata Rangga langsung menyipit. Kalimat itu membuat situasi berubah dari dugaan menjadi kemungkinan tindak pidana.

"Apa ada barang yang hilang?"

Astrid menggeleng. "Itu yang membuatku bingung. Hampir nggak ada yang hilang."

"Jadi tujuan orang itu bukan mencuri."

"Sepertinya begitu."

Rangga bersandar di kursinya. Kasus seperti ini cukup rumit. Apalagi jika pelaku memang sengaja masuk tanpa mengambil barang apa pun.

"Apa kau sudah memastikan kalau tak ada orang terdekat yang mampir ke apartemenmu? Misalnya ibumu atau teman gitu?"

Astrid langsung menggeleng. "Nggak ada. Aku nggak punya teman. Kau tahu itu. Sedangkan keluarga... Kau tahu aku tidak dekat dengan keluargaku."

Rangga tidak merasa heran. Astrid memang seperti itu sejak dulu. Dia lebih suka menyendiri. Hubungannya dengan kedua orang tuanya juga tidak pernah harmonis sejak mereka bercerai. Karena itulah Astrid jarang bergantung pada siapa pun.

Justru fakta bahwa dia datang ke kantor polisi untuk mencari bantuan menunjukkan bahwa masalah ini benar-benar membuatnya khawatir.

"Apa kau sudah memeriksa rekaman CCTV?" tanya Rangga.

Astrid mengangguk pelan. "Itulah masalahnya. CCTV di lantai lima rusak baru-baru ini. Jadi aku tidak bisa mengetahui pelakunya."

Rangga menghela napas. Kebetulan yang terlalu sempurna sering kali terasa mencurigakan. Jika memang ada seseorang yang menguntit Astrid, kerusakan CCTV bisa jadi bukan kebetulan.

"Apa kau punya seseorang yang dicurigai?"

"Ada sih."

Rangga langsung fokus. "Berapa orang?"

"Dua. Satu rekan kerjaku dan yang satunya lagi tetangga."

"Kenapa kau mencurigai mereka?"

Alih-alih menjawab, Astrid justru tertawa. Tawa itu muncul begitu saja hingga membuat Rangga mengernyit.

"Kau sekarang tambah keren ya, Ga. Bikin aku nggak bisa move on tahu!"

Rangga langsung memijat pelipisnya. Di tengah pembahasan serius seperti ini, Astrid malah berubah arah. "Kau masih bisa bercanda saat sedang dapat masalah besar seperti ini?"

Astrid menopang dagunya di atas meja. Tatapannya tetap mengarah ke Rangga. "Kan ada kamu. Aku yakin kau bisa membantuku. Aku mengandalkanmu."

"Hei, Astrid! Aku sekarang meragukanmu," balas Rangga.

Astrid malah tersenyum semakin lebar. "Kalau aku mati terbunuh di apartemenku gara-gara penguntit ini, maka kau akan jadi salah satu penyebabnya."

Rangga menghela napas panjang. Benar-benar tidak berubah. Dulu pun Astrid sering menggunakan logika aneh seperti itu ketika mereka masih sekolah.

"Kau benar-benar nggak berubah," komentar Rangga.

"Kau juga."

Untuk sesaat suasana menjadi lebih ringan. Meski mereka sudah lama berpisah, percakapan itu terasa mengalir begitu saja. Seolah jarak bertahun-tahun yang memisahkan mereka tidak pernah ada.

Namun momen tersebut tidak berlangsung lama. Pintu kantor tiba-tiba terbuka. Seseorang masuk dengan langkah santai. Orang itu tidak lain adalah Beben. Awalnya dia hanya berniat datang untuk memulai jadwal jaga malamnya bersama Rangga. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika melihat seorang perempuan cantik duduk di ruangan itu. Matanya membelalak. Wajahnya berubah seketika.

Perhatian Beben sepenuhnya tertuju kepada Astrid. Sementara Astrid yang menyadari tatapan itu hanya mengangkat sebelah alis.

Beben segera merapikan rambutnya dengan tangan. Lalu berjalan mendekat seolah-olah baru saja menjadi orang paling profesional di kantor polisi.

"Siapa ya? Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya dengan senyum lebar.

Belum sempat Rangga bereaksi, Beben sudah mendorongnya sedikit menjauh dari kursi. Kemudian dengan santainya dia merebut tempat yang sebelumnya ditempati Rangga.

Astrid terlihat menahan tawa melihat tingkah lelaki itu..Sedangkan Rangga langsung membelalakkan mata.

"Ben!" protes Rangga tak terima.

Namun Beben pura-pura tidak mendengar. Fokusnya sekarang hanya satu. Perempuan cantik yang tiba-tiba muncul di kantor mereka malam itu.

Terpopuler

Comments

Ning Suswati

Ning Suswati

kak dita lagi jalan2 kemana y🤔, jgn2 kak dita menjadi isteri kelima t4 nya meminjam uang utk melancarkan rangga lolos diterima jadi polisi, cinta dan pengorbanan

2026-06-21

0

Rommy Wasini Khumaidi

Rommy Wasini Khumaidi

mungkinkah Astrid jodohnya Rangga,gk papa si terserah author aja

2026-01-26

0

Tiara Bella

Tiara Bella

wow Astred kirain Deket sm Dita 🤭

2026-01-25

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Penemuan Mayat
2 Chapter 2 - Polisi Idola
3 Chapter 3 - Teman Lama
4 Chapter 4 - Tentang Pak Alun
5 Chapter 5 - Pembuat Masalah?
6 Chapter 6 - Kabar Teman Lain
7 Chapter 7 - Tak Seperti Dulu
8 Chapter 8 - Gadis Berseragam Penuh Darah
9 Chapter 9 - Mengejar Pelaku
10 Chapter 10 - Yang Terjadi Setelah Mati Bunuh Diri
11 Chapter 11 - Pulang Dulu
12 Chapter 12 - Membuktikan
13 Chapter 13 - Kabar Baru
14 Chapter 14 - Akhirnya Bertemu
15 Chapter 15 - Kebenaran
16 Chapter 16 - Cerita Dita
17 Chapter 17 - Detektif Swasta
18 Chapter 18 - Tetap Menyelidiki
19 Chapter 19 - Mencari Tahu
20 Chapter 20 - Dugaan Rangga
21 Chapter 21 - Keadaan Nadia
22 Chapter 22 - Ketemu Lagi
23 Chapter 23 - Gerak-Gerik Berbohong
24 Chapter 24 - Merasa Bersalah
25 Chapter 25 - Geng Motor Misterius
26 Chapter 26 - Markas Joshua
27 Chapter 27 - Bertemu Kemal
28 Chapter 28 - Apartemen Astrid
29 Chapter 29 - Menyukai Siapa?
30 Chapter 30 - Tak Punya Kesempatan
31 Chapter 31 - Menyelamatkan Astrid
32 Chapter 32 - Semuanya Terkuak
33 Chapter 33 - Dipindahkan
34 Chapter 34 - Kebenaran Dari Dita
35 Chapter 35 - Keputusan Dita
36 Chapter 36 - Terganggu Atau Merelakan?
37 Chapter 37 - Kasus Baru
38 Chapter 38 - Maling Atau Istrinya?
39 Chapter 39 - Merintis Perasaan
40 Chapter 40 - Tertidur
41 Chapter 41 - Menikah?
42 Chapter 42 - Pembicaraan Dita & Astrid
43 Chapter 43 - Menghapus Bukti
44 Chapter 44 - Kelompok Rahasia
45 Chapter 45 - Kasus Pertama
46 Chapter 46 - Pelaku Sebenarnya
47 Chapter 47 - Detail Kejadian
48 Chapter 48 - Bertemu Yora
49 Chapter 49 - Ide Rangga
50 Chapter 50 - Tantangan Agnes
51 Chapter 51 - Rencana Pergi
52 Chapter 52 - Hak Asuh Safea
53 Chapter 53 - Memberitahu Safea
54 Chapter 54 - Klub Malam
55 Chapter 55 - Bermalam
56 Chapter 56 - Sependapat
57 Chapter 57 - Menemui Firza
58 Chapter 58 - Tentang Ifan
59 Chapter 59 - Kasus Kematian Seorang Ayah
60 Chapter 60 - TKP
61 Chapter 61 - Polisi Vs Anak Kecil
62 Chapter 62 - Warisan Dadakan
63 Chapter 63 - Memberitahu Dita
64 Chapter 64 - Tantangan Firza
65 Chapter 65 - Gembong Narkoba
66 Chapter 66 - Menahan Amarah
67 Chapter 67 - Bayaran
68 Chapter 68 - Bukti Cukup
69 Chapter 69 - Makan Bersama Lagi
70 Chapter 70 - Membongkar Semuanya
71 Chapter 71 - Diserang
72 Chapter 72 - Seperti Keluarga
73 Chapter 73 - Tawaran Menikah
74 Chaptee 74 - Hukuman Untuk Firza
75 Chapter 75 - Pernikahan
76 Chapter 76 - Bonus Chapter [Malam Pertama 1]
77 Chapter 77 - Bonus Chapter [Memasak]
78 Chater 78 - Bonus Chapter [Kembali Kerja]
79 Chapter 79 - Bonus Chapter [Tak Sabar]
80 Chapter 80 - Bonus Chapter [Akhirnya]
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Chapter 1 - Penemuan Mayat
2
Chapter 2 - Polisi Idola
3
Chapter 3 - Teman Lama
4
Chapter 4 - Tentang Pak Alun
5
Chapter 5 - Pembuat Masalah?
6
Chapter 6 - Kabar Teman Lain
7
Chapter 7 - Tak Seperti Dulu
8
Chapter 8 - Gadis Berseragam Penuh Darah
9
Chapter 9 - Mengejar Pelaku
10
Chapter 10 - Yang Terjadi Setelah Mati Bunuh Diri
11
Chapter 11 - Pulang Dulu
12
Chapter 12 - Membuktikan
13
Chapter 13 - Kabar Baru
14
Chapter 14 - Akhirnya Bertemu
15
Chapter 15 - Kebenaran
16
Chapter 16 - Cerita Dita
17
Chapter 17 - Detektif Swasta
18
Chapter 18 - Tetap Menyelidiki
19
Chapter 19 - Mencari Tahu
20
Chapter 20 - Dugaan Rangga
21
Chapter 21 - Keadaan Nadia
22
Chapter 22 - Ketemu Lagi
23
Chapter 23 - Gerak-Gerik Berbohong
24
Chapter 24 - Merasa Bersalah
25
Chapter 25 - Geng Motor Misterius
26
Chapter 26 - Markas Joshua
27
Chapter 27 - Bertemu Kemal
28
Chapter 28 - Apartemen Astrid
29
Chapter 29 - Menyukai Siapa?
30
Chapter 30 - Tak Punya Kesempatan
31
Chapter 31 - Menyelamatkan Astrid
32
Chapter 32 - Semuanya Terkuak
33
Chapter 33 - Dipindahkan
34
Chapter 34 - Kebenaran Dari Dita
35
Chapter 35 - Keputusan Dita
36
Chapter 36 - Terganggu Atau Merelakan?
37
Chapter 37 - Kasus Baru
38
Chapter 38 - Maling Atau Istrinya?
39
Chapter 39 - Merintis Perasaan
40
Chapter 40 - Tertidur
41
Chapter 41 - Menikah?
42
Chapter 42 - Pembicaraan Dita & Astrid
43
Chapter 43 - Menghapus Bukti
44
Chapter 44 - Kelompok Rahasia
45
Chapter 45 - Kasus Pertama
46
Chapter 46 - Pelaku Sebenarnya
47
Chapter 47 - Detail Kejadian
48
Chapter 48 - Bertemu Yora
49
Chapter 49 - Ide Rangga
50
Chapter 50 - Tantangan Agnes
51
Chapter 51 - Rencana Pergi
52
Chapter 52 - Hak Asuh Safea
53
Chapter 53 - Memberitahu Safea
54
Chapter 54 - Klub Malam
55
Chapter 55 - Bermalam
56
Chapter 56 - Sependapat
57
Chapter 57 - Menemui Firza
58
Chapter 58 - Tentang Ifan
59
Chapter 59 - Kasus Kematian Seorang Ayah
60
Chapter 60 - TKP
61
Chapter 61 - Polisi Vs Anak Kecil
62
Chapter 62 - Warisan Dadakan
63
Chapter 63 - Memberitahu Dita
64
Chapter 64 - Tantangan Firza
65
Chapter 65 - Gembong Narkoba
66
Chapter 66 - Menahan Amarah
67
Chapter 67 - Bayaran
68
Chapter 68 - Bukti Cukup
69
Chapter 69 - Makan Bersama Lagi
70
Chapter 70 - Membongkar Semuanya
71
Chapter 71 - Diserang
72
Chapter 72 - Seperti Keluarga
73
Chapter 73 - Tawaran Menikah
74
Chaptee 74 - Hukuman Untuk Firza
75
Chapter 75 - Pernikahan
76
Chapter 76 - Bonus Chapter [Malam Pertama 1]
77
Chapter 77 - Bonus Chapter [Memasak]
78
Chater 78 - Bonus Chapter [Kembali Kerja]
79
Chapter 79 - Bonus Chapter [Tak Sabar]
80
Chapter 80 - Bonus Chapter [Akhirnya]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!