Hot Policeman

Hot Policeman

Chapter 1 - Penemuan Mayat

Seorang lelaki tua sedang sibuk memulung sampah di tempat sampah. Sejak pagi buta dia sudah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Karung lusuh yang dibawanya tampak setengah penuh. Di tempat yang bau itu, dia mengambil beberapa barang yang menurutnya masih memiliki nilai jual. Botol plastik, kaleng bekas minuman, kardus yang belum terlalu rusak, hingga beberapa potongan logam dimasukkan ke dalam karungnya.

Udara di sekitar tempat pembuangan sampah itu begitu menyengat. Bau busuk dari sampah yang membusuk bercampur dengan aroma limbah rumah tangga membuat siapa pun enggan berlama-lama berada di sana. Namun lelaki tua itu sudah terbiasa. Baginya, tempat seperti itu adalah sumber penghasilan.

Saat dirinya fokus mencari barang-barang yang masih bisa dijual, sebuah koper besar menarik perhatiannya. Koper itu tidak terlalu mencolok karena berwarna hitam, berbaur dengan tumpukan plastik yang kebanyakan juga berwarna hitam. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, mungkin koper itu akan dianggap hanya bagian dari tumpukan sampah biasa.

Lelaki tua itu mengerutkan dahi saat melihat koper besar hitam tersebut. Koper itu tampak masih dalam kondisi bagus. Tidak ada bagian yang rusak parah. Rodanya masih terpasang lengkap. Pegangannya juga terlihat utuh. Dia tiba-tiba memiliki firasat buruk.

Bukan hal yang wajar sebuah koper yang masih bagus berada di tempat sampah. Orang biasanya akan menjualnya atau memberikannya kepada orang lain jika sudah tidak digunakan. Apalagi ketika dia mendekati koper tersebut, bau busuk yang sangat menyengat langsung menyeruak ke hidungnya.

Bau itu berbeda dengan bau sampah biasa. Jauh lebih menusuk. Lelaki tua itu menutup hidungnya menggunakan lengan baju. Matanya menyipit. Dia memperhatikan koper itu lebih lama.

Lalat-lalat terlihat mengerumuni bagian atas koper. Jumlahnya tidak sedikit. Serangga-serangga itu beterbangan di sekitar koper sebelum kembali hinggap di permukaannya.

Jantung lelaki tua itu mulai berdebar. Perasaan tidak enak semakin kuat. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk mencari tahu isi koper tersebut. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memberanikan diri mendekat. Perlahan dia memegang pegangan koper. Bau busuk itu semakin kuat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Setelah menarik napas panjang, dia mencoba membuka koper tersebut. Resleting yang menutup koper berhasil dibuka. Sesaat kemudian, lelaki tua itu melihat isi koper.

Betapa terkejutnya dia. Matanya membelalak lebar. Tubuhnya langsung kaku. Di dalam koper terdapat potongan tubuh manusia yang berlumuran darah dan kulitnya pucat.

"Astagfirullah!"

Lelaki tua itu kaget sampai terduduk ke tanah. Karung yang dibawanya terjatuh begitu saja. Dia mundur beberapa langkah dengan kedua tangan menopang tubuhnya. Wajahnya dipenuhi ketakutan.

"Tolong!" pekiknya sambil berdiri. Suara teriakannya menggema di sekitar jalan yang tidak terlalu ramai.

Kebetulan ada seorang pengendara motor yang melintas tidak jauh dari lokasi. Lelaki tua itu segera melambaikan tangan dengan panik.

Pemotor tersebut menghentikan kendaraannya. "Ada apa, Pak?" tanyanya heran.

"Dekat tempat sampah itu... ada mayat!" kata lelaki tua tersebut dengan napas terengah-engah.

Pemotor itu tampak ragu..Namun ketika melihat wajah lelaki tua yang sangat ketakutan, dia memutuskan untuk mendekat.

Tak lama kemudian, dia juga melihat isi koper tersebut. Wajahnya langsung berubah pucat. Tanpa pikir panjang, pemotor itu segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon polisi.

Informasi mengenai ditemukannya mayat dalam koper langsung tersebar. Kabar itu dengan cepat sampai ke polsek terdekat.

Polsek Batu Wangi yang bertugas menangani penyelidikan kasus tersebut. Meskipun begitu, keadaan di polsek tampak tenang.

Kebetulan sekali saat itu sedang jam makan siang. Beberapa anggota polisi tampak duduk santai Sambil menikmati makanan mereka. Ada yang bercanda, ada yang sibuk menonton video di ponsel, dan ada pula yang sedang menyeruput kopi hangat.

Di tengah suasana santai itu, Rangga mendengar laporan mengenai penemuan mayat. Rangga merupakan salah satu polisi yang bertugas sebagai Kanit Reskrim. Tugasnya adalah menyelidiki kasus serta mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan tindak kejahatan.

Begitu mendengar laporan tersebut, dia langsung menghentikan makan siangnya. Raut wajahnya berubah serius. Kasus penemuan mayat dalam koper bukanlah perkara biasa.

Tanpa membuang waktu, Rangga segera berdiri dari kursinya. Dia mengambil jaket lalu bergegas keluar kantor. Buru-buru dia pergi tanpa memikirkan rekan-rekannya yang masih asyik makan. Rangga segera menuju motornya.

"Rangga! Tunggu!"

Suara rekannya memanggil dari belakang. Beben berlari mendekat. Dia merupakan teman dekat Rangga di Polsek Batu Wangi. "Aku ikut kau!" katanya.

Rangga mengangguk. "Naik!"

Tanpa banyak bicara, Beben langsung naik ke motor Rangga. Mesin motor dinyalakan. Beberapa detik kemudian mereka melaju meninggalkan halaman polsek menuju lokasi kejadian. Angin menerpa wajah mereka selama perjalanan.

"Yang lain pada nggak ikut?" tanya Beben.

"Kau nggak lihat? Mereka lagi makan. Biar kita yang duluan ke sana," jawab Rangga.

Beben hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa melihat sikap sebagian anggota yang kurang bersemangat menangani kasus.

Sementara itu, di dalam kantor polsek, beberapa rekan mereka melihat kepergian Rangga dan Beben melalui jendela.

"Tuh anak, sok ganteng banget. Sok suci!" cibir Bowo. Ucapan itu langsung disambut tawa kecil.

"Dia pikir polisi kayak di film-film kali ya. Pembela kebenaran terus super keren," sahut Adi sembari terkekeh lalu mengunyah nasi padangnya.

"Iya, makanya. Setiap ada orang yang mau kasih uang, dia selalu nolak. Padahal kan itu nggak salah," keluh Bowo.

"Biarkan saja. Nanti juga semakin tua dia pasti seperti kita. Baru juga lima tahun dia jadi polisi," kata Bakti yang menjabat sebagai wakil kapolsek. Saat tertawa, perut buncitnya ikut bergerak.

"Terus kalau dia nggak berubah?" timpal Adi.

"Ya pasti bakal dapat resikonya. Kau lihat sendiri tahun lalu pangkat Pak Alun diturunkan gara-gara dia mengungkap kasus korupsi. Pimpinan marah besar kan saat itu, karena katanya udah nerima uang suapnya. Eh Pak Alun malah dapat bukti kuat," balas Bakti.

"Iya juga."

"Kita tunggu saja tanggal mainnya. Rangga pasti bakalan kena batunya kalau jadi polisi terlalu jujur begitu," kata Bowo.

Mereka kembali melanjutkan makan siang seolah tidak ada kejadian penting yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Rangga dan Beben akhirnya sampai di lokasi kejadian. Beberapa warga sudah berkumpul di sekitar area tempat sampah. Mereka saling berbisik sambil mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

Rangga segera turun dari motor. "Semua mundur!" serunya.

Beben langsung membantu mengamankan lokasi. Mereka membentangkan garis polisi agar warga tidak masuk ke area yang bisa merusak barang bukti.

Setelah area dianggap aman, barulah mereka mulai melakukan penyelidikan. Koper hitam itu masih berada di tempat semula. Bau busuk yang keluar dari dalamnya masih sangat menyengat.

Rangga mengenakan sarung tangan. Dia memperhatikan kondisi koper dengan saksama.

Tak lama kemudian, Usay yang bertugas di bagian forensik datang membawa perlengkapannya. Dia segera mulai bekerja. Kamera dikeluarkan. Satu per satu bagian penting di lokasi kejadian dipotret.

Dari posisi koper, kondisi tanah, hingga area sekitar tempat sampah. Kilatan kamera beberapa kali terlihat.

"Bagian kepala sama dua tangannya nggak ada," imbuh Beben setelah mengamati isi koper.

Usay mengangguk. "Benar."

"Pelakunya pasti membuangnya ke tempat jauh. Agar identitas mayat ini sulit diidentifikasi," sahut Rangga. Dia menatap isi koper dengan ekspresi serius.

"Tapi dipastikan dia lelaki. Mungkin berusia sekitar empat puluh tahunan," jelas Usay.

"Aneh," komentar Beben.

"Menurutmu kenapa pelaku melakukan ini pada lelaki paruh baya begini?" cetus Usay.

Beben mengangkat bahu.

Namun Rangga sudah lebih dulu menjawab. "Hal paling memungkinkan karena dendam. Itu adalah alasan paling klise dalam pembunuhan seperti ini."

Meski begitu, dia sadar bahwa kesimpulan tersebut masih terlalu awal. Mereka membutuhkan bukti. Bukan dugaan.

Rangga kemudian mulai menyisir area di sekitar tempat sampah. Matanya bergerak dari satu titik ke titik lain. Dia memperhatikan tanah, semak-semak kecil, tumpukan sampah, hingga benda-benda yang tampak tidak biasa.

Langkahnya pelan dan hati-hati. Tidak boleh ada barang bukti yang terlewat.

Beberapa menit berlalu. Kemudian sebuah benda yang tergeletak di tanah menarik perhatiannya. Rangga berhenti melangkah. Dia menatap benda tersebut beberapa saat. Sebuah pulpen hitam. Pulpen itu tampak berbeda dibanding benda-benda lain di sekitar lokasi. Bentuknya elegan. Materialnya terlihat berkualitas. Jelas bukan pulpen murah yang biasa ditemukan di sembarang tempat.

Rangga berjongkok. Matanya menyipit. Dengan hati-hati dia mengamati pulpen hitam mahal tersebut tanpa langsung menyentuhnya. Naluri penyelidiknya mengatakan bahwa benda kecil itu mungkin memiliki kaitan penting dengan kasus pembunuhan yang sedang mereka tangani.

Terpopuler

Comments

Sulaeman Effendi

Sulaeman Effendi

kebanyakan mental Pulisi Indonesia sudah rusak

2026-07-23

0

𝐇⃟⃝ᵧꕥ Adeline ayy

𝐇⃟⃝ᵧꕥ Adeline ayy

hadir thor aku kesini gegara my hot kakak ipar 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️

2026-06-14

0

Eva Nietha✌🏻

Eva Nietha✌🏻

Lanjut ah lmantengin si rangga polisi ganteng 😀

2026-04-26

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Penemuan Mayat
2 Chapter 2 - Polisi Idola
3 Chapter 3 - Teman Lama
4 Chapter 4 - Tentang Pak Alun
5 Chapter 5 - Pembuat Masalah?
6 Chapter 6 - Kabar Teman Lain
7 Chapter 7 - Tak Seperti Dulu
8 Chapter 8 - Gadis Berseragam Penuh Darah
9 Chapter 9 - Mengejar Pelaku
10 Chapter 10 - Yang Terjadi Setelah Mati Bunuh Diri
11 Chapter 11 - Pulang Dulu
12 Chapter 12 - Membuktikan
13 Chapter 13 - Kabar Baru
14 Chapter 14 - Akhirnya Bertemu
15 Chapter 15 - Kebenaran
16 Chapter 16 - Cerita Dita
17 Chapter 17 - Detektif Swasta
18 Chapter 18 - Tetap Menyelidiki
19 Chapter 19 - Mencari Tahu
20 Chapter 20 - Dugaan Rangga
21 Chapter 21 - Keadaan Nadia
22 Chapter 22 - Ketemu Lagi
23 Chapter 23 - Gerak-Gerik Berbohong
24 Chapter 24 - Merasa Bersalah
25 Chapter 25 - Geng Motor Misterius
26 Chapter 26 - Markas Joshua
27 Chapter 27 - Bertemu Kemal
28 Chapter 28 - Apartemen Astrid
29 Chapter 29 - Menyukai Siapa?
30 Chapter 30 - Tak Punya Kesempatan
31 Chapter 31 - Menyelamatkan Astrid
32 Chapter 32 - Semuanya Terkuak
33 Chapter 33 - Dipindahkan
34 Chapter 34 - Kebenaran Dari Dita
35 Chapter 35 - Keputusan Dita
36 Chapter 36 - Terganggu Atau Merelakan?
37 Chapter 37 - Kasus Baru
38 Chapter 38 - Maling Atau Istrinya?
39 Chapter 39 - Merintis Perasaan
40 Chapter 40 - Tertidur
41 Chapter 41 - Menikah?
42 Chapter 42 - Pembicaraan Dita & Astrid
43 Chapter 43 - Menghapus Bukti
44 Chapter 44 - Kelompok Rahasia
45 Chapter 45 - Kasus Pertama
46 Chapter 46 - Pelaku Sebenarnya
47 Chapter 47 - Detail Kejadian
48 Chapter 48 - Bertemu Yora
49 Chapter 49 - Ide Rangga
50 Chapter 50 - Tantangan Agnes
51 Chapter 51 - Rencana Pergi
52 Chapter 52 - Hak Asuh Safea
53 Chapter 53 - Memberitahu Safea
54 Chapter 54 - Klub Malam
55 Chapter 55 - Bermalam
56 Chapter 56 - Sependapat
57 Chapter 57 - Menemui Firza
58 Chapter 58 - Tentang Ifan
59 Chapter 59 - Kasus Kematian Seorang Ayah
60 Chapter 60 - TKP
61 Chapter 61 - Polisi Vs Anak Kecil
62 Chapter 62 - Warisan Dadakan
63 Chapter 63 - Memberitahu Dita
64 Chapter 64 - Tantangan Firza
65 Chapter 65 - Gembong Narkoba
66 Chapter 66 - Menahan Amarah
67 Chapter 67 - Bayaran
68 Chapter 68 - Bukti Cukup
69 Chapter 69 - Makan Bersama Lagi
70 Chapter 70 - Membongkar Semuanya
71 Chapter 71 - Diserang
72 Chapter 72 - Seperti Keluarga
73 Chapter 73 - Tawaran Menikah
74 Chaptee 74 - Hukuman Untuk Firza
75 Chapter 75 - Pernikahan
76 Chapter 76 - Bonus Chapter [Malam Pertama 1]
77 Chapter 77 - Bonus Chapter [Memasak]
78 Chater 78 - Bonus Chapter [Kembali Kerja]
79 Chapter 79 - Bonus Chapter [Tak Sabar]
80 Chapter 80 - Bonus Chapter [Akhirnya]
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Chapter 1 - Penemuan Mayat
2
Chapter 2 - Polisi Idola
3
Chapter 3 - Teman Lama
4
Chapter 4 - Tentang Pak Alun
5
Chapter 5 - Pembuat Masalah?
6
Chapter 6 - Kabar Teman Lain
7
Chapter 7 - Tak Seperti Dulu
8
Chapter 8 - Gadis Berseragam Penuh Darah
9
Chapter 9 - Mengejar Pelaku
10
Chapter 10 - Yang Terjadi Setelah Mati Bunuh Diri
11
Chapter 11 - Pulang Dulu
12
Chapter 12 - Membuktikan
13
Chapter 13 - Kabar Baru
14
Chapter 14 - Akhirnya Bertemu
15
Chapter 15 - Kebenaran
16
Chapter 16 - Cerita Dita
17
Chapter 17 - Detektif Swasta
18
Chapter 18 - Tetap Menyelidiki
19
Chapter 19 - Mencari Tahu
20
Chapter 20 - Dugaan Rangga
21
Chapter 21 - Keadaan Nadia
22
Chapter 22 - Ketemu Lagi
23
Chapter 23 - Gerak-Gerik Berbohong
24
Chapter 24 - Merasa Bersalah
25
Chapter 25 - Geng Motor Misterius
26
Chapter 26 - Markas Joshua
27
Chapter 27 - Bertemu Kemal
28
Chapter 28 - Apartemen Astrid
29
Chapter 29 - Menyukai Siapa?
30
Chapter 30 - Tak Punya Kesempatan
31
Chapter 31 - Menyelamatkan Astrid
32
Chapter 32 - Semuanya Terkuak
33
Chapter 33 - Dipindahkan
34
Chapter 34 - Kebenaran Dari Dita
35
Chapter 35 - Keputusan Dita
36
Chapter 36 - Terganggu Atau Merelakan?
37
Chapter 37 - Kasus Baru
38
Chapter 38 - Maling Atau Istrinya?
39
Chapter 39 - Merintis Perasaan
40
Chapter 40 - Tertidur
41
Chapter 41 - Menikah?
42
Chapter 42 - Pembicaraan Dita & Astrid
43
Chapter 43 - Menghapus Bukti
44
Chapter 44 - Kelompok Rahasia
45
Chapter 45 - Kasus Pertama
46
Chapter 46 - Pelaku Sebenarnya
47
Chapter 47 - Detail Kejadian
48
Chapter 48 - Bertemu Yora
49
Chapter 49 - Ide Rangga
50
Chapter 50 - Tantangan Agnes
51
Chapter 51 - Rencana Pergi
52
Chapter 52 - Hak Asuh Safea
53
Chapter 53 - Memberitahu Safea
54
Chapter 54 - Klub Malam
55
Chapter 55 - Bermalam
56
Chapter 56 - Sependapat
57
Chapter 57 - Menemui Firza
58
Chapter 58 - Tentang Ifan
59
Chapter 59 - Kasus Kematian Seorang Ayah
60
Chapter 60 - TKP
61
Chapter 61 - Polisi Vs Anak Kecil
62
Chapter 62 - Warisan Dadakan
63
Chapter 63 - Memberitahu Dita
64
Chapter 64 - Tantangan Firza
65
Chapter 65 - Gembong Narkoba
66
Chapter 66 - Menahan Amarah
67
Chapter 67 - Bayaran
68
Chapter 68 - Bukti Cukup
69
Chapter 69 - Makan Bersama Lagi
70
Chapter 70 - Membongkar Semuanya
71
Chapter 71 - Diserang
72
Chapter 72 - Seperti Keluarga
73
Chapter 73 - Tawaran Menikah
74
Chaptee 74 - Hukuman Untuk Firza
75
Chapter 75 - Pernikahan
76
Chapter 76 - Bonus Chapter [Malam Pertama 1]
77
Chapter 77 - Bonus Chapter [Memasak]
78
Chater 78 - Bonus Chapter [Kembali Kerja]
79
Chapter 79 - Bonus Chapter [Tak Sabar]
80
Chapter 80 - Bonus Chapter [Akhirnya]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!