episode 1 (part 1: JALAN DESA WENING)

JALAN DESA WENING – SIANG

Jay naik ojol, menatap tasnya yang penuh snack, laptop, konsol game, dan tentu saja buku tua yang selalu membuatnya penasaran. Saat ojol berhenti di depan rumah kayu tua kakeknya, matanya langsung tertuju pada pagar bambu dengan ukiran pola melingkar aneh, yang dari kejauhan tampak seperti wajah-wajah kecil sedang menatapnya. Dia menelan ludah, lalu berbisik pelan:

JAY: "Keren… atau menyeramkan… mungkin keduanya… atau semuanya salah satu?"

Tiba-tiba, seorang warga, Pak Joko, yang sedang menyiram tanaman, melompat dari kebunnya seperti melihat hantu.

PAK JOKO: "Mas-mas, jangan masuk! Rumah ini… sudah lama penuh cerita aneh!"

Jay menatapnya dengan tangan di kantong, ekspresi setengah lemas, setengah dramatis, senyum lebay menempel di wajahnya.

JAY: "Eh, ini kan warisan kakek saya. Kalau harus dijual dan uangnya buat panti asuhan… ya sudahlah. Tapi aku tetap nggak mau kerja keras atau jadi orang rajin!"

Pak Joko menggeleng, matanya penuh kekhawatiran.

PAK JOKO: "Setelah senja jangan keluar rumah! Jangan pernah dekat sumur di belakang! Suaranya nggak terdengar… tapi selalu ada brisik di malam hari!"

Jay mengangkat bahu dan tersenyum tipis, seolah sedang menawar deal supernatural:

JAY: "Oke pak… tapi aku cuma mau santai, ngemil, dan main game. Janji!"

Pak Joko pergi, meninggalkan Jay menatap rumah tua yang kini terasa sedikit menakutkan tapi juga memancing rasa ingin tahu. Dia masuk, menyalakan AC, menjatuhkan tas, menyalakan konsol, dan mengambil snack.

Sambil berjalan keliling rumah, Jay memperhatikan kamar-kamar tua, ruang tamu penuh perabotan berdebu, dan sumur besar di belakang yang sunyi tapi menimbulkan sensasi “ada yang mengintip dari kegelapan”. Di atas meja, sebuah foto kakeknya dengan tulisan kecil di belakang: “Semoga kamu menemukan jalanmu sendiri.”

Dia sempat membuka buku tua yang dibawa, tapi segera menutupnya sambil mengerutkan dahi:

JAY: "Terlalu rumit… aku terlalu malas… dan juga agak takut. Tapi snack masih aman, kan?"

Buku itu mengibaskan halamannya sedikit, seolah menertawakan kegelisahan Jay, membuat bulu kuduknya merinding… tapi dia tetap menahan senyum absurdnya.

Buku tua tiba-tiba menempel di tangannya, halaman-halamannya berkedip seperti mata nakal yang ingin menguji kesabarannya. Jay menatapnya malas, sambil mencomot snack dari tas.

JAY: "Eh… seriusan… kalian bercanda kan? Aku lagi sibuk ngemil nih."

Halaman-halaman buku berputar sendiri, membentuk ilustrasi aneh: sesosok bayangan kecil yang tampak seperti kakeknya, tapi dengan kepala terlalu besar dan mata mengintip nakal. Bayangan itu mengangkat satu alis, seakan memberi kode pada Jay bahwa dia sedang diamati.

Jay menghela napas panjang, duduk di lantai, dan menepuk-nepuk buku itu tanpa semangat.

JAY: "Oke, oke… aku ngerti… harus serius. Tapi… snackku dulu… nanti baru mikirin kalian."

Halaman-halaman bergerak lagi, membentuk kata-kata: “Cemaskan sedikit… tapi jangan terlalu nyaman.” Jay menatap setengah malas, setengah geli.

JAY: "Heh… cemaskan sedikit aja… ya udah lah… malas banget aku… tapi aku ngerti maksud kalian. Snack dulu deh."

Sambil berkeliling rumah, Jay mencoba mengintip sumur besar di halaman belakang. Angin sepoi-sepoi masuk dari celah-celah kayu rumah, membawa aroma lembap dan debu tua. Suara aneh terdengar dari dalam sumur—seperti bisikan halus yang sulit dipahami. Jay mengerutkan kening, menghela napas panjang, dan mencondongkan tubuh ke pinggir sumur… tapi segera duduk lagi karena terlalu capek untuk bergerak.

JAY: "Ha-ha… oke… agak menyeramkan… tapi aku terlalu malas untuk takut beneran… mungkin nanti aja kalau aku bangun energi."

Saat dia menoleh, bayangan halaman buku tampak bergerak sendiri di lantai ruang tamu, menirukan ekspresi dramatisnya. Jay menatapnya malas, menepuk meja, dan menelan snack.

JAY: "Baiklah… kalau mau main-main, silakan… tapi jangan ganggu konsol dan snackku. Itu aja."

Buku itu bergetar perlahan, seolah puas. Lampu-lampu rumah bergoyang, bayangan panjang menari di dinding, tapi Jay tetap duduk, malas, mengunyah snack, dan menahan senyum absurdnya—antara takut ringan, geli, dan penasaran.

Tidak puas hanya duduk, buku tua itu mulai menunjukkan halaman-halaman baru: sumur di belakang rumah, tapi wajah-wajah kecil muncul di dalamnya, menatap Jay dengan ekspresi nakal. Jay menatap sumur dari jendela, lalu menguap panjang.

JAY: "Oke… ya udah… nanti aja aku main ke sumur. Sekarang snack dulu."

Sebuah lembaran halaman terbang, menempel di wajahnya. Jay mengusapnya malas, tapi geli karena halaman itu seperti “menampar” dia.

JAY: "Hahaha… oke oke… aku ngerti… kalian main-main, aku juga bisa main-main… tapi jangan ganggu AC dan konsolku!"

Buku itu bergetar, seolah menyetujui perjanjian absurd mereka. Lampu rumah bergoyang ringan, bayangan panjang dari perabot tua bergerak menakutkan tapi konyol. Jay hanya duduk, snack di tangan, menahan senyum absurd—antara takut, malas, dan penasaran.

Sejak saat itu, rumah tua kakeknya bukan cuma tempat tinggal, tapi arena horor absurd—tempat di mana Jay bisa santai, ngemil, dan tetap menghadapi misteri yang mengintipnya dari setiap halaman buku tua.

Seiring malam menjelang, angin dari celah-celah rumah mulai berdesir lebih keras. Tirai bergoyang, menimbulkan bayangan-bayangan aneh di lantai yang membuat sebagian orang pasti ketakutan—tapi Jay hanya menunduk sambil menggigit snacknya.

JAY: "Oke… ya ampun… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga sih… tapi aku terlalu malas untuk lari. Snack dulu, nanti mikirin hantu."

Buku tua itu bergetar lagi, dan halaman-halamannya membentuk ilustrasi sosok kecil yang menirukan ekspresi Jay: tangan di pinggang, kaki menyilang, dan mulut menganga dramatis. Jay menatapnya malas tapi geli.

JAY: "Hahaha… oke, aku ngerti… kalian bisa niru aku, tapi aku tetap duduk. Duduk nyaman… snack aman… semua aman."

Tiba-tiba, dari sumur belakang terdengar suara brisik halus. Jay menoleh, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu dan kembali duduk:

JAY: "Hmm… bisik-bisik lagi… aku terlalu capek untuk takut. Nanti aja kalau aku bangun energi… sekarang snack dulu."

Lampu-lampu rumah berkelip seakan memberi kode, dan buku tua itu sekali lagi mengibaskan halamannya. Halaman-halaman menempel di sofa, di kursi, bahkan di kepala Jay yang setengah menunduk, tapi dia tetap menahan senyum absurd.

JAY: "Oke… oke… kalau kalian mau main-main, aku juga bisa main-main… tapi jangan ganggu konsol, snack, atau tidur siangku. Itu aja peraturannya."

Di sudut rumah, bayangan perabot tua tampak menari mengikuti cahaya lampu yang redup. Sumur di belakang rumah tetap sunyi tapi terasa mengawasi. Buku tua menatap Jay—atau setidaknya, itulah yang dia rasakan—dan Jay menatap balik dengan senyum pemalas, geli, tapi penuh rasa penasaran, menyadari satu hal:

Bahwa hidup di rumah kakeknya akan selalu seperti ini. Sedikit menakutkan, sedikit absurd, penuh misteri… tapi tetap nyaman selama snack aman di tangan.

Dengan perasaan campur aduk itu, Jay menyalakan konsolnya, duduk di sofa, dan mengunyah snack. Rumah tua, sumur, bayangan, dan buku tua… semua seakan menyatu menjadi arena horor absurd tempat dia bisa bersantai, malas, dan tetap… hidup di dunia yang tak pernah membosankan.

Terpopuler

Comments

Hamidahlaila Puty

Hamidahlaila Puty

🤣 Pasti Gen Z. Santuy banget.. biasanya orang pada umumnya lari, ini malah lanjut makan

2026-05-12

2

Clevareus

Clevareus

mungkin sosok sosok disana mau minta snacknya Jay🤣

2026-06-10

0

DreamXimaginatioN😴

DreamXimaginatioN😴

apa pun masalah nya, Snack tetap nomor satu🤣😅

2026-06-10

0

lihat semua
Episodes
1 prolog (kantor notaris)
2 episode 1 (part 1: JALAN DESA WENING)
3 episode 1 (part 2 : ruang tamu)
4 episode 1 (part 3 : di depan rumah-PERTEMUAN DENGAN PAK JOKO)
5 episode 2 (pagar bambu yang berbicara part 1)
6 episode 2 (pagar bambu yang berbicara part 2)
7 episode 2 (pagar bambu yang berbicara part 3)
8 episode 2 (pagar bambu berbicara part 4)
9 episode 2 (pagar yang berbicara part 5)
10 episode 2 (pagar yang berbicara part 6)
11 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 1)
12 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 2)
13 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 3)
14 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 3)
15 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 4)
16 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 5)
17 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 6)
18 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 7)
19 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 8)
20 EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 9)
21 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 1)
22 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 2)
23 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 3)
24 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 4)
25 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 5)
26 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 6)
27 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 7)
28 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 8)
29 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 9)
30 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 10)
31 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 11)
32 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 12)
33 EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 13)
34 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 1)
35 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 2)
36 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 3)
37 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 4)
38 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 5)
39 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 6)
40 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 7)
41 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 8)
42 EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 9)
43 EPISODE 6 (SUNYI YANG brisik KEMBALI part 1)
44 EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 2)
45 EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 3)
46 EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 4)
47 EPISODE 6 (SUNYI YANG brisik KEMBALI part 5)
48 EPISODE 6 (SUNYI YANG BERISIK KEMBALI part 6)
49 EPISODE 6 (SUNYI YANG Berisik KEMBALI part 7)
50 EPISODE 6 (SUNYI YANG brisik KEMBALI part 8)
51 EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 9)
52 EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 10)
53 EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 11)
54 EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 12)
55 TITIK PUNCAK & PENUTUP EPISODE part 1
56 TITIK PUNCAK & PENUTUP EPISODE part 2
57 TITIK PUNCAK & PENUTUP EPISODE titik puncak
Episodes

Updated 57 Episodes

1
prolog (kantor notaris)
2
episode 1 (part 1: JALAN DESA WENING)
3
episode 1 (part 2 : ruang tamu)
4
episode 1 (part 3 : di depan rumah-PERTEMUAN DENGAN PAK JOKO)
5
episode 2 (pagar bambu yang berbicara part 1)
6
episode 2 (pagar bambu yang berbicara part 2)
7
episode 2 (pagar bambu yang berbicara part 3)
8
episode 2 (pagar bambu berbicara part 4)
9
episode 2 (pagar yang berbicara part 5)
10
episode 2 (pagar yang berbicara part 6)
11
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 1)
12
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 2)
13
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 3)
14
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 3)
15
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 4)
16
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 5)
17
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 6)
18
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 7)
19
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 8)
20
EPISODE 3 (ATURAN YANG TERLANGGAR part 9)
21
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 1)
22
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 2)
23
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 3)
24
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 4)
25
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 5)
26
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 6)
27
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 7)
28
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 8)
29
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 9)
30
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 10)
31
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 11)
32
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 12)
33
EPISODE 4 (KEINGINAN YANG SEDERHANA PART 13)
34
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 1)
35
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 2)
36
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 3)
37
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 4)
38
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 5)
39
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 6)
40
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 7)
41
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 8)
42
EPISODE 5 (PEMALAS YANG MENJADI PUSAT part 9)
43
EPISODE 6 (SUNYI YANG brisik KEMBALI part 1)
44
EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 2)
45
EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 3)
46
EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 4)
47
EPISODE 6 (SUNYI YANG brisik KEMBALI part 5)
48
EPISODE 6 (SUNYI YANG BERISIK KEMBALI part 6)
49
EPISODE 6 (SUNYI YANG Berisik KEMBALI part 7)
50
EPISODE 6 (SUNYI YANG brisik KEMBALI part 8)
51
EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 9)
52
EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 10)
53
EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 11)
54
EPISODE 6 (SUNYI YANG MENUNGGU KEMBALI part 12)
55
TITIK PUNCAK & PENUTUP EPISODE part 1
56
TITIK PUNCAK & PENUTUP EPISODE part 2
57
TITIK PUNCAK & PENUTUP EPISODE titik puncak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!