RUANG TAMU - MALAM
Dengan perasaan campur aduk itu, Jay menyalakan konsolnya, duduk di sofa, dan mengunyah snack. Rumah tua mengeluarkan bunyi kresek-kresek seolah sendi kayu sedang mengerang, sumur di belakang rumah mengeluarkan gelembung udara yang terdengar seperti napas dalam, bayangan di dinding bergeser bukan karena angin, dan buku tua di meja mengeluarkan aroma kayu busuk yang menyengat… semua seakan menyatu menjadi arena horor absurd tempat dia bisa bersantai, malas, dan tetap… hidup di dunia yang tak pernah membosankan.
Lampu ruang tamu berkedip pelan—setiap kedipannya membuat bayangan membesar sedikit demi sedikit, menyelimuti sudut ruangan. Angin malam masuk dari jendela yang retak dengan suara siul yang menyeramkan, membawa aroma lembap tanah basah dan debu tua yang terasa seperti menghirup masa lalu. Di sudut, bayangan perabot tua tidak hanya bergerak tapi juga memanjang perlahan, ujungnya seperti tangan yang meraih, seolah menatap Jay dengan mata tak terlihat, tapi dia hanya mendesah panjang dan mencomot snack lain.
JAY: "Huh… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga… tapi aku terlalu malas untuk panik beneran."
Dia meneguk soda—botolnya tiba-tiba terasa dingin sekali walau baru dibuka, sambil menatap layar konsol, matanya setengah fokus setengah mengantuk. Tiba-tiba terdengar suara langkah berat dan lambat di belakangnya, tak… tak… tak—setiap langkah membuat lantai kayu bergetar dan mengeluarkan suara desisan halus seperti sesuatu yang merayap dari celah-celahnya. Jay tetap tidak bergerak.
SUARA PRIA (dengan nada dalam, dingin, seperti berasal dari dalam sumur yang dalam sekali, disertai gema lembap): "Apa itu… yang kamu makan…?"
Suaranya membuat rambut di leher Jay berdiri tegak, tapi dia masih fokus ke layar, mengangkat snack ke arah suara dengan tangan yang sedikit gemetar tapi tetap rileks.
JAY: "Snack jagung bakar, enak lho. Sana duduk dong kalau mau, saya bisa kasih juga."
Tak lama, dia mendengar suara mengunyah yang sedikit gecik-gecik seperti mengunyah kayu basah, dan suara meneguk yang disertai gelembung. Suaranya datang dari kursi sebelahnya, tapi tidak ada bayangan atau sosok yang terlihat—hanya lekukan tempat seseorang seharusnya duduk. Jay tetap tidak menoleh, hanya mengangkat bahu santai.
JAY: "Nama kamu siapa ya? Baru datang ke desa?"
SUARA PRIA (dengan nada seram yang pelan tapi menekankan huruf terakhir setiap kata, suara makin dekat seolah menyentuh telinga Jay): "Ma-la-kos… Aku… sudah ada… sebelum… desa… ini… ada…"
Kata-katanya membuat udara di ruangan menjadi lebih dingin, tapi Jay hanya menatap layar konsol dengan ekspresi dramatis tapi malas—dia bahkan menguap sebentar.
JAY: "Keren namanya. Yuk mabar game ini aja, saya lagi cari teman main yang bisa diandalkan. Kamu bilang aja langkahnya, saya yang gerakin karakter."
Suara itu terdiam sebentar, lalu terdengar napas panjang yang membawa aroma lumpur basah, dan suara kecil klik-klik yang jelas bukan dari tangan manusia—lebih seperti gesekan kayu atau cakar menggaruk. Jay menepuk-nepuk sofa, tempat yang seharusnya kosong tiba-tiba terasa lebih berat.
JAY: "Santai aja… jangan ganggu snackku. Kalau mau minum soda, tinggal ambil."
Bayangan di ruang tamu sekarang bergerak lebih cepat, seperti makhluk kecil yang berlari-lari di balik perabot. Tirai bergoyang pelan tapi secara tidak teratur, seolah ditarik dari dalam dan luar sekaligus. Buku tua di meja sesekali menampilkan halaman yang berkedip dengan cahaya merah samar, seolah menertawakan Jay. Tapi dia tetap duduk nyaman, ngemil, dan mulai mengatur strategi di game… seperti tidak ada apa-apa yang menakutkan di sekitarnya.
Jay masih duduk di sofa, snack di tangan, matanya menatap layar konsol. Dari sudut ruang tamu, bayangan perabot tua bergerak sendiri dengan bunyi krak-krak yang lebih keras—seolah kayu tua sedang patah satu per satu. Bayangan itu mulai membentuk wajah dengan mulut terbuka lebar, tapi tidak ada mata. Tirai bergoyang pelan tapi setiap gerakannya mengeluarkan suara bisik-bisik yang tidak jelas kata-katanya. Lampu redup berkedip lebih sering, dan sudut gelap seolah bernapas, menelan cahaya sedikit demi sedikit, menciptakan bayangan panjang yang merayap ke arah kakinya.
JAY: "Oke… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga… tapi aku terlalu malas untuk lari atau panik beneran."
Buku tua di meja bergetar dengan keras, meja itu sedikit bergoyang. Halaman-halamannya bergerak sendiri dengan cepat, membentuk gambar sosok kecil dengan mata gelap yang berkedip-kedip, menatap Jay dan mengeluarkan suara tawa bisik yang terdengar seperti kerikil bergesekan. Salah satu halaman melompat dengan cepat, menempel di sofa tepat di depan wajahnya—halamannya licin dan lembap seperti terkena embun malam, seakan menampar wajahnya dengan lembut tapi membuat kulitnya terasa dingin.
JAY: "Oke… oke… ngerti… tapi snackku aman kan? Itu penting!"
Tiba-tiba terdengar suara langkah berat di belakangnya, lebih cepat dari sebelumnya, diikuti desisan panjang dari lantai kayu yang seolah ada sesuatu yang merayap di bawahnya. Angin malam masuk dari celah jendela dengan suara siul yang lebih keras, membawa aroma lembap dan debu tua yang kini bercampur dengan bau tanah liat basah dari sumur. Jay menoleh sebentar—dia melihat bayangan besar yang berdiri di belakangnya, tapi tidak melihat sosoknya. Dia hanya mengangkat snack ke arah suara, lalu kembali ke layar konsolnya.
JAY: "Eh, kalau mau ikut main, ikut aja… tapi jangan ganggu konsolku. Snack aman, game aman… hidup aman!"
Halaman buku bergerak lebih agresif, menampilkan ilustrasi sumur di belakang rumah dengan sangat jelas—air di dalamnya tampak hitam pekat dan bergerak sendiri. Dari sumur itu muncul wajah-wajah kecil dengan mata gelap yang membesar perlahan, seolah akan keluar dari halaman buku. Angin malam membawa bisikan halus yang kini bisa terdengar jelas: “Nakal… nakal… datang… main…” Jay mengerutkan kening, menelan snack dengan suara yang sedikit tercekik, tapi tetap bersandar lebih nyaman ke sofa.
JAY: "Hmm… lucu juga… kalian menatapku dari jauh… tapi aku terlalu malas untuk takut beneran… snack dulu aja deh."
Tiba-tiba lampu berkedip kencang beberapa kali—ketika padam total selama beberapa detik, Jay bisa melihat bayangan besar yang menari-nari di lantai dengan bentuk yang terus berubah. Ketika lampu menyala kembali, Buku tua menampilkan halaman yang berkedip seperti mata nakal dengan cahaya kuning samar, dan bayangan perabot tua menari-nari dengan irama yang tidak teratur. Tapi Jay tetap duduk, ngemil, meneguk soda yang kini terasa seperti es batu, dan menahan senyum absurd—antara takut ringan, geli, dan pemalas parah.
JAY: "Haha… oke… kalian main-main, aku juga bisa main-main… tapi aku tetap duduk nyaman di sofa. Snack aman, game aman… rumah ini aman… hidup aman!"
Buku tua bergetar sekali lagi dengan kuat, lalu tiba-tiba diam seolah menyetujui. Sudut gelap ruang tamu tetap memandang—bayangan di sana tampak seperti mulut besar yang terbuka lebar. Tapi Jay hanya mengangkat bahu, memasukkan tangan ke kantong yang tiba-tiba terasa dingin, dan menyiapkan snack berikutnya.
Jay masih duduk di sofa, snack di tangan, soda di meja yang sedikit bergoyang, matanya setengah fokus setengah mengantuk menatap layar konsol. Angin malam masuk dari jendela retak dengan suara siul yang menyeramkan, membawa aroma lembap dan debu tua yang kini terasa seperti menghirup sesuatu yang hidup. Bunyi krak-krak dari perabot tua semakin keras—seolah mereka sedang merobek diri sendiri untuk bergerak. Tirai bergoyang seperti tangan transparan yang meraih- meraih, lampu redup berkedip cepat hingga membuat mata terkilir, dan bayangan di sudut ruangan menempel di lantai dengan bentuk yang terus berubah, seolah ingin menjerat kakinya dengan ujung yang seperti cakar.
JAY: "Oke… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga… tapi aku terlalu malas untuk lari, panik, atau berdoa… snack dulu deh."
Buku tua di meja bergetar liar, sampulnya terbuka dengan kuat dan halaman-halamannya menari dengan cepat membentuk wajah kecil dengan mata gelap yang berkedip cepat, menertawakan Jay dengan suara cicit-cicit dan seolah menulis kata “malas” di udara dengan bayangan. Tiba-tiba halaman buku melompat dengan cepat, menempel di pangkuannya—halamannya terasa hangat dan lembap, lalu tinta hitam berkerut muncul dengan sendirinya, menuliskan: “Malas… atau… Rajin?” Tulisan itu terasa seperti menusuk pandangan Jay, bulunya merinding tapi dia tetap mengunyah snack sambil mengedip dramatis, bahkan menutup mata sebentar karena mengantuk.
JAY: "Ya ampun… terlalu rumit… aku terlalu malas untuk takut beneran. Snack dulu… baru mikir horor kalian."
Dari kursi sebelah terdengar napas Malakos yang lebih berat dan serak, suara itu seolah merayap dari sumur gelap melalui lantai kayu—setiap napas membuat sofa Jay sedikit bergetar. Suara desisan muncul di udara yang kini semakin dingin: “Datang… nakal… jangan lengah… jangan duduk terlalu nyaman…” Bayangan di dinding bergerak liar, memanjang hingga menyentuh langit-langit, menekuk bentuk perabotan jadi sosok menyeramkan dengan mulut lebar dan tidak ada mata. Lampu berkedip kencang sekali lalu padam selama beberapa detik—ketika menyala kembali, halaman buku berkedip seperti mata nakal yang menatap langsung ke wajah Jay.
JAY (mengangkat bahu, cuek meskipun wajahnya sedikit pucat): "Oke… kalau mau main-main, silakan… tapi sofa ini zona aman. Snack aman, game aman, aku aman… hidup aman… horor? Nanti aja, aku lagi malas gerak."
Halaman buku melompat lagi dengan keras, menempel di sofa dengan suara thump—membentuk ilustrasi sumur besar yang tampak sangat nyata, permukaan airnya bergerak sendiri dan dipenuhi mata-mata gelap yang berkedip-kedip. Tirai terangkat oleh angin kencang yang membawa bisikan banyak suara, bayangan menari di lantai mengikuti irama napas Malakos yang kini terdengar seperti musik yang menyeramkan. Tapi Jay hanya menghela napas yang sedikit menggelegar, menaruh soda di pangkuan yang terasa dingin, dan menatap layar dengan ekspresi yang tetap malas:
JAY: "Hmm… kalian lucu juga… gerak-gerak sendiri, menakutkan, tapi aku terlalu malas untuk peduli. Snack kedua… game… aman… hidup… aman."
Dia membuka snack kedua dengan tangan yang sedikit gemetar, duduk bersandar lebih dalam ke sofa yang kini terasa seperti membungkusnya, dan menahan senyum yang sedikit goyah tapi tetap ada di wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
MayAyunda
keren
2026-05-22
0
SANG
Mantap banget💪👍
2026-05-18
1
Hamidahlaila Puty
🤣 Lanjut makan part 2
2026-05-12
1