PAGI DI DESA WENING
Pagi di Desa Wening masih lembap—embun yang menempel di daun-daun kering bukan putih bening melainkan sedikit keruh, seperti ditambah titik-titik hitam tak terlihat. Angin tipis menggerakkan ranting pohon dengan suara desir yang terdengar seperti bisikan, membuat bayangan pagar bambu tampak seperti tangan-tangan gelap dengan jari yang melengkung meraih. Jay melangkah santai menuju depan rumah kayu tua, tas snack bergoyang di bahunya dengan suara gentar-gentar yang menyatu dengan bunyi getaran laptop dan buku tua di dalamnya—seolah membawa seluruh dunia hiburan dan misteri yang sedang bergerak sendiri.
Di kejauhan, Pak Joko sedang menyiram tanaman—air dari selang tiba-tiba menjadi keruh saat Jay muncul, matanya menangkap gerak Jay dengan cepat dan wajahnya langsung pucat seperti kapur, bibirnya gemetar seolah terkena kejutan listrik.
PAK JOKO: "Mas-mas… tunggu sebentar! Jangan masuk dulu! Rumah itu… banyak cerita aneh!"
Jay berhenti, mengunyah snack jagung bakar dengan ekspresi setengah dramatis setengah malas—gigitannya terdengar lebih keras dari biasanya karena snack itu tiba-tiba terasa lebih keras. Ia menatap pagar bambu yang ukirannya tampak seperti wajah-wajah kecil dengan mata yang berkedip perlahan, menatapnya dengan mulut terbuka lebar.
JAY: "Eh… ini kan warisan kakek saya. Kalau harus dijual dan uangnya buat panti asuhan… ya sudah lah. Tapi aku tetap nggak mau kerja keras atau jadi orang rajin!"
Pak Joko mendekat, menepuk bahu Jay dengan tangan yang dingin seperti es, sentuhan itu seakan memberi peringatan yang membekukan kulit. Angin malam yang tersisa di pagi hari membuat tirai rumah bergoyang dengan kuat tanpa sebab jelas, daun-daun kering berdesir dengan suara seperti merengek, dan dari sumur tua terdengar desisan halus yang naik dari dalam tanah—seperti ada sesuatu yang menghembuskan napas hangat dan lembap, mengintai dari bawah.
PAK JOKO: "Setelah senja jangan keluar rumah! Jangan dekat sumur! Suaranya gak terdengar tapi selalu ada suara brisik pas malam!"
Jay mengangkat bahu, menyeruput soda yang terasa seperti ada sesuatu yang menyentuh lidahnya saat diminum. Ia berjalan santai menuju rumah, matanya masih menatap bayangan pohon yang bergerak seperti tubuh besar yang menekuk ke arahnya, cabangnya seperti tangan yang ingin meraih.
JAY: "Oke pak… aku cuma mau santai, ngemil, dan main game. Janji!"
Pak Joko menggeleng keras dengan suara kresek dari rahangnya, langkahnya cepat meninggalkan Jay sambil seringkali menoleh ke belakang dengan wajah ketakutan. Jay menatap rumah tua kakeknya yang terlihat lebih gelap dari biasanya—cahaya matahari pagi yang terpantul samar-samar di jendela retak seolah dipantulkan oleh sesuatu yang ada di dalamnya. Ia duduk sebentar di anak tangga depan yang kayu nya terasa lembap dan hangat, membuka snack kedua, dan tertawa absurd dengan suara yang sedikit bergema di udara kosong:
JAY: "Hmm… mereka lucu juga… bayangan aneh… suara misteri… tapi aku lagi malas peduli. Snack aman… hidup aman… horor nanti aja."
Angin berdesir di celah kayu rumah dengan suara seperti meratap, menimbulkan bisikan samar dari sumur yang kini bisa terdengar jelas: “Datang… datang…” Bayangan pagar bergerak lebih cepat, seolah mengawasi setiap gerakan Jay dengan mata tak terlihat, tapi Jay tetap cuek, malas maksimal, dan absurd sambil menelan snack yang kini terasa sedikit pahit.
Angin pagi masih berdesir di halaman rumah tua, membelai daun-daun kering yang menempel di pagar bambu dengan cara yang seperti menggosoknya perlahan. Bayangan sumur tua tampak menekuk ke arah Jay, bentuknya seperti sosok besar yang membungkuk, gelap pekat dan tak terlihat dasar nya—seakan mengawasi setiap langkah dengan pandangan yang menusuk. Setelah menelan snack terakhir di tangga depan rumah, ia menghela napas panjang yang terdengar sedikit menggelegar, santai, dan menatap halaman buku tua di tasnya yang tiba-tiba terbuka sendiri sedikit, seolah menarik perhatiannya dengan setengah minat.
JAY: "Kemarin ada teman baru namanya Malakos. Kita main game sampai pagi lho. Dia makan snack jagung bakar banyak banget!"
Pak Joko yang baru saja memutar balik tiba-tiba berhenti seketika, matanya membesar seperti piring, wajahnya pucat seperti tersambar petir hingga bibirnya kehitaman. Tangan gemetar hingga selang yang digenggamnya jatuh ke tanah, lutut nyaris lemas dan ia hampir jongkok di tempat dengan suara kayu yang berdecak.
PAK JOKO: "Malakos?! Itu… itu nama makhluk yang selalu muncul dari sumur itu! Tidak ada orang yang bisa lihat dia, apalagi ngobrol sama dia!"
Jay mengerutkan kening, setengah bingung setengah cuek—dia mengusap lehernya yang tiba-tiba terasa dingin seperti disentuh tangan es. Ia menatap sumur tua dengan santai, seolah menilai: “Hmm… gelap, menyeramkan… tapi terlalu malas untuk peduli.” Angin dari celah kayu rumah meniup rambutnya dengan kuat, membawa aroma lembap lumpur dan bisikan samar yang terdengar jelas di telinganya: “Datang… nakal… jangan lengah… jangan terlalu nyaman…”
JAY: "Bisa aja sih… mungkin dia cuma orang biasa yang suka nyamar. Atau mungkin ada aja yang nggak bisa dilihat orang lain, siapa tahu ya?"
Pak Joko menepuk dada dengan tangan yang bergetar, napasnya terengah-engah seperti sedang tercekik, lalu cepat-cepat pergi sambil memberi peringatan setengah terbata yang terdengar seperti bisikan: "Hati-hati, Mas… hati-hati…" Suaranya hilang di kejauhan disertai bunyi daun yang berdesir seperti mengikuti langkahnya.
Jay tetap duduk bersandar di tangga yang kini terasa semakin hangat, membuka snack keempat dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatap sumur gelap yang memantulkan bayangan yang menekuk dan bergerak seperti tangan gelap dengan jari panjang yang menggapai ke arahnya. Buku tua di tas bergetar liar hingga membuat tasnya bergoyang, halaman-halamannya membuka sendiri dan membentuk pola seperti mata gelap yang berkedip-kedip, menatapnya dengan pandangan yang tajam.
JAY: "Hmm… lucu juga… mereka menatapku dari jauh… tapi aku lagi malas peduli. Snack aman… game aman… hidup aman… horor? Nanti aja."
Dia mengunyah snack tambahan sambil bersandar lebih dalam ke tangga, menahan senyum absurd yang sedikit goyah—antara geli, takut tipis yang membuat kulitnya berdiri, tapi malas maksimal. Suara desisan sumur bergulung di udara dengan suara yang semakin keras, bayangan pohon menari di lantai dengan irama yang tidak teratur, dan buku tua sesekali menepuk tasnya dengan suara seperti tepukan tangan kayu, seakan menantangnya untuk bergerak.
Setelah duduk lama di tangga depan, Jay akhirnya masuk ke rumah tua—pintu kayu terbuka sendiri dengan suara derak yang menggema di koridor kosong. Cermin besar di ruang tamu menatapnya balik dengan refleksi yang sempurna—hanya dirinya sendiri, tapi lantai di cermin terlihat dipenuhi tumpukan amplop snack kosong dan botol soda yang bekas gigitannya bukan bentuk gigi manusia, melainkan lekukan aneh seperti gigitan kayu. Bulunya merinding tipis, tapi dia hanya membuka snack kelima, bersandar dalam-dalam ke sofa yang seolah membungkusnya seperti sarung raksasa dengan kain yang terasa sedikit lembap, dan menahan senyum absurd yang kini sedikit terasa kaku.
Buku tua di meja tiba-tiba bergetar liar hingga meja itu bergoyang, sampulnya terbuka dengan kuat dan halaman-halamannya menari dengan cepat seperti burung yang terbang. Halaman itu membentuk pola mata gelap yang berkedip cepat, menatap Jay dengan pandangan yang menyakitkan. Salah satu halaman melompat ke pangkuannya dengan suara thump, lembarannya licin dan hangat saat menyentuh kulitnya, lalu tinta hitam berkerut muncul dengan sendirinya seperti ditulis oleh tangan tak terlihat: “Malas… atau… Rajin?”
JAY: "Wah… terlalu rumit… aku terlalu malas untuk takut beneran. Snack dulu… horor kalian nanti aja."
Tirai bergoyang dengan cepat tanpa angin, bayangan panjang menari di lantai dengan bentuk yang terus berubah seperti makhluk yang hidup, lampu berkedip cepat hingga membuat ruangan bergantian antara terang dan gelap, dan dari sudut terdengar desisan halus yang kini terdengar seperti suara banyak orang yang berbisik bersama: “Datang… nakal… jangan lengah…” Malakos muncul samar di pojok ruangan—sosoknya setengah bayangan setengah nyata dengan bentuk yang terus berubah, matanya seperti lubang hitam yang menatap Jay tanpa berkedip.
Jay mengangkat bahu dengan gerakan yang tetap santai, meneguk soda yang kini terasa seperti ada sesuatu yang berenang di dalamnya, membuka snack keenam dengan tangan yang stabil, dan menatap buku tua dengan ekspresi yang tetap malas:
JAY: "Oke… kalian main-main, aku juga bisa main-main… tapi sofa ini zona aman. Snack aman, game aman, aku aman… horor? Nanti aja… aku lagi malas gerak."
Lampu berkedip lebih cepat hingga membuat pandangan sedikit pusing, tirai terangkat ke atas seperti tangan transparan yang meraih langit-langit, dan bayangan perabot tua bergerak liar di lantai dengan bentuk yang menyeramkan. Buku tua mengibaskan halaman terakhirnya dengan kuat, seolah menantang Jay untuk bergerak, tapi Jay hanya bersandar lebih dalam ke sofa, ngemil dengan suara yang tetap tenang, dan menahan senyum absurd—antara geli, takut tipis yang membuatnya sedikit menggigil, tapi malas maksimal.
Angin malam dari jendela berdesir dengan suara seperti tawa banyak orang, membawa bisikan samar yang terdengar jelas: “Dia tetap di sini… dia tetap malas…” Tapi Jay menutup snack barunya dengan hati-hati, menepuk sofa yang kini terasa seperti bagian dari dirinya, dan berkata dengan nada dramatis yang tetap santai:
JAY: "Oke… horor kalian oke… tapi aku tetap di sini. Snack aman… game aman… hidup aman. Kalian bisa panik, aku cuma mau malas."
Buku tua menutup sendiri dengan suara klik yang jelas, bayangan perlahan menghilang ke sudut ruangan, tapi atmosfer horor tetap terasa tebal di udara—cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri tegak—sementara Jay tetap cuek, absurd, dan malas maksimal, matanya sudah mulai mengantuk siap menatap hari berikutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Hamidahlaila Puty
🤣 Terlalu mager untuk kabur. aslinya dalam hati ketakutan, tapi realita lebih menakutkan dari pada hantu. mending makan aja yuk
2026-05-12
3
MayAyunda
lanjut .semangat kak
2026-05-23
0
SANG
asik banget💪👍
2026-05-18
1