Minggir! 04

Ucapan Fitri terus menerus terngiang dipikiran dan hati Arundari. Dia selama ini tak pernah berpikiran buruk tentang suaminya dan juga Jelita.

Akan tetapi hari ini perasaannya sangat tidak enak dan akhirnya jadi semakin kepikiran setelah mendengar ucapan dari sang sahabat.

Arundari pun mengambil ponselnya, untuk menghubungi Heri. Namun berkali-kali dicoba pun tak diangkat. Ia lalu mencoba menghubungi Jelita, tapi gadis itu juga tak bisa dihubungi.

Arundari melihat jam di ponselnya. Ini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Seharusnya acara kajian juga sudah selesai.

"Apa mereka udah tidur ya?"

Arundari berusaha untuk tidak over thinking. Ia lalu mencoba melihat akun instagram milik Heri. Suaminya itu baru saja mengunggah foto pantai Losari 10 menit yang lalu.

Semakin tidak karuan saja pikiran Arundari. Namun dia tak ingin gusar. Dia berusaha untuk tetap tenang dan mencoba untuk kembali menghubungi Heri. Akan tetapi hasilnya Nihil. Yang ada malah nomor Heri menjadi tidak aktif.

"Ada apa ini? Kok dia malah matiin hapenya?"ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.

Pikirannya yang kacau dan juga hatinya yang tidak karuan, membuat Arundari berjalan mondar-mandir sendiri.

Setelah beberapa saat, akhirnya dia pun menyadari sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan dari pada berjalan-jalan tidak jelas seperti ini.

Arundari masuk ke dalam kamar mandi, mengambil air wudhu, membentangkan sajadah lalu kemudian mengenakan mukenanya.

Takbiratul ikram tanda dia mulai menjalankan sholat. Bukan sholat wajib karena dia sudah melakukan sholat isya tadi. Arundari hanya ingin melakukan sholat sunah dua rakaat saja agar hatinya tenang.

Setelah salam, ia mulai menengadahkan tangannya. Berdoa dengan tulus tentang apa yang tengah dirasakannya.

"Hanya pada-Mu aku meminta Ya Allah. Tolong hilangkan prasangka buruk ini terhadap suamiku. Tunjukkan kebenaran yang hakiki dimana aku tak lagi meragukan cinta dan kesetiaan suamiku."

Merasa bahwa hanya dirinya saja yang berpikiran negatif, Arundari memohon agar perasaan itu segera dihilangkan.

Usai berdoa dia mengambil Al-Quran, rasanya semakin tenang saat mulutnya membaca ayat-ayat yang ada di dalamnya.

"Ya Allah."

Hanya itu saja yang diucapkan oleh Arundari. Dia membereskan semua perlengkapan ibadahnya dan kembali membuka ponselnya. Sebuah kelegaan yang luar biasa ketika pesan yang dikirimkannya berubah menjadi centang dua dan berubah warna menjadi bury.

Ia pun segera menghubungi Heri. Bertanya mengapa tadi ponselnya dimatikan.

"Maaf sayang, tadi hapenya drop batrenya. Dan tadi aku sama tim jalan-jalan bentar. Ini udah balik hotel. Maaf ya."

Seperti itulah jawaban Heri.

"Oh gitu, aku cuman khawatir ada apa-apa sama kamu, Mas,"jawab Arundari.

Meski sudah bisa berbincang dengan Heri, entah mengapa kelegaan yang tadi dirasakannya tiba-tiba memudar. Pikiran buruk itu kembali lagi menggelayut.

"Ya udah, ini udah malem. Kamu istirahat ya. Aku juga mau tidur ini, capek,"ucap Arundari. Dia ingin segera mengakhiri teleponnya tersebut.

"Oh iya udah jam sebelas ya. Iya deh, kamu tidur gih. Aku juga mau tidur. See you tomorrow, sayang. Good night. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Tidak, Arundari bukannya ingin tidur. Dia masih menatap ponselnya dengan lebih tajam lagi. Yang dia lakukan sekarang adalah, mencari tiket penerbangan ke Makasar yang bisa diambilnya sesegera mungkin.

Dia tidak peduli jika akan dikatai sebagai wanita uang protektif atau istri yang curigaan terhadap suaminya. Semua itu dia lakukan untuk tetap menjaga rumah tangga yang sudah dibangunnya selama ini.

"Dapet, Alhamdulillah."

Arundari langung mengambil tiket yang berangkat jam dua dini hari. Sekarang masih pukul sebelas malam, masih ada waktu untuk ke bandara.

Tak banyak yang dia bawa. hanya berganti pakaian dan juga tas daypack saja.

Dengan mobilnya, dia melaju sangat cepat menuju bandara. Beruntung ini sudah mau tengah malam, jadi jalanan Jakarta tidak terlalu padat.

Sesampainya di bandara, Arundari langsung mengganti tiketnya dengan tiket fisik. Tak butuh watu lama, dia pun segera diarahkan ke tempat boarding pass. Kini Arundari hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan pesawat.

Semua sungguh terasa mudah. Dia seolah mendapat kemudahan untuk pergi menemui suaminya.

Penerbangan yang tanpa delay, langit yang cerah bahkan tanpa awan dan ia sampai dengan selamat di bandara Sultan Hasanudin.

Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, Arundari menuju ke mushola lebih dulu untuk menjalankan sholat subuh. Tak lupa setelah itu dia mencari sarapan. Wanita itu merasa bahwa dirinya harus memiliki tenaga yang besar untuk hari ini.

"Hotel, ya. Untung aku tanya dulu hotel yang sekarang ditempati Mas Heri,"ucapnya di atas motor.

Arundari memesan ojek online, baginya itu lebih memudahkan dan sampai lebih cepat di sana ketimbang taksi online.

Arundari ingat, katanya mereka akan kembali ke Jakarta sekitar pukul sepuluh siang. Jadi pastilah tidak mungkin Heri dan team berangkat ke bandara pagi-pagi begini.

"Pagi Mbak. Saya ingin tanya. Tamu atas nama Heriawan ada di kamar nomor berapa ya?" tanya Arundari ke bagian informasi.

Tapi ternyata tak semudah itu. Pegawai hotel tak lantas memberitahunya karena peraturan hotel. Tapi Arundari punya cara efektif agar dia bisa mendapatkan nomor kamar milik suaminya.

"Tapi Mbak, saya istrinya. Ini kalau nggak percaya. Ini buku nikah saya dan suami saya. Mbak tahu nggak, saya buru-buru datang dari Jakarta ke sini buat ngasih ini. Ini obat suami saya ketinggalan. Setiap hari dia harus minum obat ini karena sedang pemulihan penyakit paru. Kalau sampai terlewat satu hari aja, nanti harus ngulang dari awal lagi. Please Mbak, ini sudah step terakhir. Kalau kita ngulang lagi dari awal, beneran bakal sia-sia."

Pegawai hotel tersebut nampak bingung. Alhasil dia mencari atasannya, dan kemudian menceritakan apa yang dikatakan oleh Arundari.

"Jadi begitu ya, Bu?" tanya sanga manager.

Arundari tersenyum tipis lalu mengangguk. Tentu saja itu tidak benar. Heri sangat sehat dan tidak punya penyakit apapun. Yang dia tunjukan tadi hanyalah sebuah vitamin. Tapi pihak hotel tak mungkin mengambilnya untuk memeriksa lebih lanjut.

"Baiklah kalau begitu. Pak Heri yang merupakan suami Anda, ada di kamar 1003,"ucap sang manager.

"Terimakasih, terimakasih banyak Pak, Mbak. Duuuh maaf ya, saya jadi merepotkan Anda berdua."

"Dengan senang hati bisa membantu, Bu Arundari."

Tak ingin membuang kesempatan. Arundari bergegas menuju ke kamar suaminya yang ada di lantai empat. Dadanya berdebar dengan sangat hebat sepanjang naik lift. Dan debarannya itu semakin tidak karuan ketika sudah sampai di lantai empat dan tepat berada di depan kamar suaminya.

Tok tok tok

"Siapa?"

"Sayang, ini aku. Aku kangen sama kamu, makanya aku nyusul ke sini."

Untuk sesaat tak ada jawaban dari dalam sana. Arundari bahkan menunggu kurang lebih lima menit sampai pintu terbuka.

"Hai, kenapa nggak ngabarin?"

"Kan surprise."

Arundari langsung masuk, dia menatap seluruh kamar. Dia seolah memindai, mencoba mencari sesuatu yang tidak pas dan janggal.

Mata seorang istri yang sangat jeli, Arundari merasa ada yang salah dengan dinding yang ada di sisi lemari. Ia pun berjalan dan mendekat ke sana. Namun saat hendak mendorongnya, Heri yang tadi masih di belakang, kini sudah ada di depannya persis.

"Ada apa?"

"N-nggak."

"Minggir!"

TBC

Terpopuler

Comments

Isabela Devi

Isabela Devi

pasti lagi sembunyikan si pelakor

2026-02-02

1

Nayi Siti

Nayi Siti

kenapa aku yg deg degan ya

2026-02-02

1

Maryami

Maryami

sakit hati juga aku thor

2026-06-27

0

lihat semua
Episodes
1 Malu!!!! 01
2 Tak Mau Berbagi Suami 02
3 Mulanya 03
4 Minggir! 04
5 Oh Gitu ... 05
6 Semakin Jelas 06
7 Ikut 07
8 Di Luar Nalar 08
9 Di Luar Nalar 09
10 Nah 10
11 Gila Emang 11
12 Oh Begini! 12
13 Ambillah! 13
14 Kaget 14
15 Kena deh 15
16 Geter Kaaaan 16
17 Adyaksa Gumilar 17
18 Luapkan 18
19 Kecubung 19
20 Kabur? 20
21 Hahaha 21
22 Rasain! 22
23 Rame 23
24 Versus 24
25 Datang 25
26 Berharap 26
27 Assalamualaikum 27
28 Dipanggil Juga 28
29 Takuuuut 29
30 Playing Victim 30
31 Ada Tamu 31
32 Story 32
33 Ditolak 33
34 Takut Fitnah 34
35 HEI HERI!!! 35
36 Cetaks! 36
37 Tambah Ramai? 37
38 Puas Dong 38
39 Senang 39
40 Selamat Tinggal 40
41 Tidak Seperti Yang Dipikirkan 41
42 Beda Banget 42
43 Jangan Ungkit 43
44 Kepo 44
45 Masih Sulit 45
46 Bukan Secret Admirer 46
47 Why oh Why? 47
48 Kegiatan Malam 48
49 Ngapain?? 49
50 Nih Orang ... 50
51 Tanggungjawab 51
52 Tamu Tak Diundang 52
53 Ikhlas 53
54 Iri Tanda Tak Mampu 54
55 Nyusul 55
56 Ribut Guys 56
57 Rumah Sakit 57
58 Laaah B3g0 58
59 Aku Nyaman 59
60 Musang 60
61 Sebelas-Duabelas 61
62 Teman Hidup 62
63 Start Game 63
64 Bermain Mulai 64
65 Masuk Perangkap 65
66 Mimpi 66
67 Ayo 67
68 Bismillah 68
69 Pengumuman 69
70 Idiiiih Nipu 70
71 Biar Kejutan 71
72 Melambung 72
73 Duuuh 73
74 Kesenengan 74
75 Ngibulin 75
76 Yakin? 76
77 150 gr 77
78 Surprise Awal 78
79 Peringatan 79
80 Surprise ke-2 80
81 Tertohok 81
82 Tetep Aja 82
83 Tidak Berhasil 83
84 Gassss 84
85 Pertama 85
86 Semoga Bahagia 86
87 Aneh 87
88 Pusing 7 Keliling 88
89 Rezeki 89
90 Bubur Ayam 90
91 Nggak Enak 91
92 Mas Ady!!!!
93 Biarkan 93
94 Tetep Aja 94
95 Tes Tes 95
96 Baiknya 96
97 Akhirnya 97
98 Tiba-Tiba 98
99 Aksa-Ainun 98
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Malu!!!! 01
2
Tak Mau Berbagi Suami 02
3
Mulanya 03
4
Minggir! 04
5
Oh Gitu ... 05
6
Semakin Jelas 06
7
Ikut 07
8
Di Luar Nalar 08
9
Di Luar Nalar 09
10
Nah 10
11
Gila Emang 11
12
Oh Begini! 12
13
Ambillah! 13
14
Kaget 14
15
Kena deh 15
16
Geter Kaaaan 16
17
Adyaksa Gumilar 17
18
Luapkan 18
19
Kecubung 19
20
Kabur? 20
21
Hahaha 21
22
Rasain! 22
23
Rame 23
24
Versus 24
25
Datang 25
26
Berharap 26
27
Assalamualaikum 27
28
Dipanggil Juga 28
29
Takuuuut 29
30
Playing Victim 30
31
Ada Tamu 31
32
Story 32
33
Ditolak 33
34
Takut Fitnah 34
35
HEI HERI!!! 35
36
Cetaks! 36
37
Tambah Ramai? 37
38
Puas Dong 38
39
Senang 39
40
Selamat Tinggal 40
41
Tidak Seperti Yang Dipikirkan 41
42
Beda Banget 42
43
Jangan Ungkit 43
44
Kepo 44
45
Masih Sulit 45
46
Bukan Secret Admirer 46
47
Why oh Why? 47
48
Kegiatan Malam 48
49
Ngapain?? 49
50
Nih Orang ... 50
51
Tanggungjawab 51
52
Tamu Tak Diundang 52
53
Ikhlas 53
54
Iri Tanda Tak Mampu 54
55
Nyusul 55
56
Ribut Guys 56
57
Rumah Sakit 57
58
Laaah B3g0 58
59
Aku Nyaman 59
60
Musang 60
61
Sebelas-Duabelas 61
62
Teman Hidup 62
63
Start Game 63
64
Bermain Mulai 64
65
Masuk Perangkap 65
66
Mimpi 66
67
Ayo 67
68
Bismillah 68
69
Pengumuman 69
70
Idiiiih Nipu 70
71
Biar Kejutan 71
72
Melambung 72
73
Duuuh 73
74
Kesenengan 74
75
Ngibulin 75
76
Yakin? 76
77
150 gr 77
78
Surprise Awal 78
79
Peringatan 79
80
Surprise ke-2 80
81
Tertohok 81
82
Tetep Aja 82
83
Tidak Berhasil 83
84
Gassss 84
85
Pertama 85
86
Semoga Bahagia 86
87
Aneh 87
88
Pusing 7 Keliling 88
89
Rezeki 89
90
Bubur Ayam 90
91
Nggak Enak 91
92
Mas Ady!!!!
93
Biarkan 93
94
Tetep Aja 94
95
Tes Tes 95
96
Baiknya 96
97
Akhirnya 97
98
Tiba-Tiba 98
99
Aksa-Ainun 98

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!