Pilih Aku… atau Keluarga?

Sejak malam itu…

cinta mereka tak lagi berjalan santai.

Perlahan, semuanya berubah.

Ibunya Siska seperti orang berbeda.

Jam pulang diperhatikan.

Ekspresi wajah dianalisis.

Bahkan senyum kecil saat melihat ponsel pun terasa seperti bukti kejahatan.

Rumah yang dulu hangat…

kini terasa seperti ruang sidang.

“Kamu sering sekali pulang sore,” ujar ibunya suatu malam, sambil melipat baju dengan gerakan kasar.

“Perempuan baik-baik tidak keluyuran tanpa arah.”

Siska menahan napas.

“Aku dari kantor, Bu.”

Tatapan tajam itu datang lagi.

“Kantor apa yang membuatmu tersenyum sendiri setiap lihat HP?”

Siska membeku.

Sejak hari itu, ia melakukan hal yang paling ia benci.

Berbohong.

Nama Kevin diganti menjadi “Rina Admin.”

Chat dihapus.

Telepon hanya saat kamar benar-benar sepi.

Bertemu pun harus penuh strategi.

Melelahkan.

Sangat.

Kevin mulai merasakannya.

“Kamu berubah,” katanya suatu sore di taman kecil yang tertutup pepohonan. Tempat itu menjadi markas rahasia mereka.

“Berubah bagaimana?” Siska mencoba terdengar santai.

“Kamu seperti memikirkan sesuatu terus. Ini soal orang tuamu, ya?”

Siska terdiam… lalu mengangguk pelan.

Kevin mengusap wajahnya sendiri, frustrasi.

“Aku nggak mau kamu menderita karena aku.”

“Jangan bilang begitu,” potong Siska cepat. “Kamu bukan masalahnya.”

“Lalu apa?”

“Keadaan.”

Satu kata.

Tapi terasa berat sekali.

Mereka masih bertemu, tapi seperti sedang melakukan kesalahan besar.

Kadang hanya sepuluh menit di pinggir jalan.

Kadang satu jam di warung sepi.

Tak bisa tertawa lepas.

Tak bisa berfoto bersama.

Tak bisa bebas.

Sampai akhirnya… semuanya terbongkar.

Hari itu Siska pulang lebih malam dari biasanya.

Ia tidak tahu ayahnya sedang duduk di ruang tamu.

“Kamu dari mana?” suara ayahnya datar, tapi membuat bulu kuduk merinding.

“Dari kantor, Yah.”

“Kantor mana?”

Belum sempat menjawab, ibunya melempar ponsel ke atas meja.

“Ini apa?”

Layar menyala.

Hati-hati di jalan. Aku tunggu kabar kamu.

Nama Kevin terpampang jelas.

Dunia Siska seperti runtuh saat itu juga.

“Kamu masih berhubungan dengan dia?!” suara ibunya meninggi.

“Aku cinta dia, Bu…” suara Siska pecah.

Ayahnya berdiri.

“Cukup.”

Satu kata.

Tapi rasanya seperti palu menghantam dada.

“Kami sudah bilang. Hubungan ini selesai.”

“Nggak!” Siska menangis. “Aku nggak bisa!”

Ibunya melangkah maju.

“Kamu mau menikah dengan pria miskin tanpa masa depan?”

“Apa salahnya hidup sederhana?!” untuk pertama kalinya Siska melawan. “Dia kerja keras! Dia orang baik!”

“Baik tidak membayar listrik,” jawab ayahnya dingin.

“Mulai hari ini kamu putus. Atau keluar dari rumah ini.”

Sunyi.

Ultimatum itu menggantung di udara.

Malam itu Siska menangis di kamar. Tangannya gemetar saat menelepon Kevin.

“Mereka tahu…” suaranya serak. “Aku disuruh memilih.”

Di seberang sana, Kevin lama sekali diam.

“Kalau kamu memilih orang tuamu… aku mengerti,” katanya akhirnya.

Tangis Siska makin pecah.

“Aku nggak mau kehilangan kamu. Tapi aku juga nggak mau kehilangan mereka.”

“Kadang hidup memang jahat,” Kevin berbisik. “Dua-duanya penting… tapi cuma bisa pilih satu.”

Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka kecil.

Ibunya terus mengawasi.

Ayahnya memilih diam—dan diam itu lebih menyakitkan dari amarah.

Kevin pun mulai meragukan dirinya.

“Jangan-jangan aku egois,” katanya suatu malam. “Memintamu bertahan padahal hidupku belum jelas.”

“Jangan mulai,” Siska kesal. “Aku yang memilih kamu. Bukan kamu yang memaksa.”

Tapi tekanan itu semakin berat.

Sampai akhirnya, mereka bertemu lagi di taman biasa.

Mata Siska merah. Tapi kali ini tatapannya berbeda.

Tegas.

“Kita nggak bisa terus seperti ini.”

Kevin langsung tegang.

“Maksud kamu?”

“Aku nggak bisa meninggalkan kamu. Dan mereka nggak akan pernah setuju.”

Kevin menelan ludah.

“Lalu?”

Siska menarik napas panjang.

“Aku mau pergi.”

Waktu seperti berhenti.

“Pergi?” Kevin hampir tak percaya. “Kamu serius?”

“Aku mau hidup dengan pilihanku sendiri.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

“Kamu yakin?” suara Kevin hampir gemetar. “Ini bukan hal kecil, Sis.”

“Aku lebih takut hidup tanpa kamu… daripada kehilangan segalanya.”

Kalimat itu membuat Kevin terdiam.

Keputusan itu lahir dari nekat, bukan rencana.

Dua tas kecil.

Beberapa baju.

Dokumen penting.

Sisa tabungan Kevin.

Malam itu, Siska keluar dari rumah tanpa pamit.

Langkahnya terasa berat saat melewati pintu yang membesarkannya. Ia menoleh sekali.

Air matanya jatuh.

Tapi ia tetap berjalan.

Kevin menunggu di ujung jalan, wajahnya tegang.

“Kamu nggak harus melakukan ini,” katanya sekali lagi.

“Aku sudah memilih.”

Mereka naik bus malam.

Lampu kota berlalu di balik jendela, seolah menghapus kehidupan lama sedikit demi sedikit.

Kos yang mereka dapatkan kecil sekali.

Satu kamar sempit.

Tembok tipis.

Kamar mandi di luar.

Jendela menghadap gang.

Kevin meletakkan tasnya dan menatap Siska.

“Maaf. Cuma ini yang bisa aku kasih sekarang.”

Siska tersenyum, meski matanya masih basah.

“Ini sudah cukup.”

Malam pertama terasa aneh.

Tak ada kasur empuk.

Tak ada AC.

Hanya kipas berisik dan dua hati yang memikirkan masa depan.

Kevin sadar… mulai malam itu ia bukan lagi bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Siska juga sadar… hidup yang ia pilih tak akan mudah.

Mungkin akan ada penyesalan.

Mungkin akan ada air mata yang jauh lebih besar dari malam ini.

Tapi malam itu mereka tidur dengan keyakinan yang sama:

Cinta ini pantas diperjuangkan.

Walaupun harganya sangat mahal.

Dan mereka belum tahu…

kabur bersama hanyalah awal dari ujian yang jauh lebih kejam dari yang pernah mereka bayangkan.

Episodes
1 Cowok di Halte Itu
2 Pilih Aku… atau Keluarga?
3 Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4 Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5 Masa Lalu yang Mengejar
6 Rumah yang Katanya Aman
7 Nama yang Hilang
8 Belajar Jadi Lebih Besar
9 Runtuh Sampai Dasar
10 Nama yang Masih Sama
11 Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12 Pelan-Pelan Bangkit
13 Luka yang Nggak Kelihatan
14 Pintu yang Mulai Bergetar
15 Pertemuan yang Ditunggu
16 KATA YANG TERTAHAN
17 Bukan Sekadar Singgah
18 Kalau Ini Namanya Pulang
19 Panggilan yang Mengubah Segalanya
20 Nama yang Terkubur Hujan
21 Kesempatan Kedua
22 Rumah yang Mulai Utuh
23 Datang Tanpa Diundang
24 Bayangan yang Mulai Bergerak
25 Hujan yang Membasuh Luka
26 Rumah yang Kembali Bernapas
27 Janji yang Tetap Tinggal
28 Tenang Sebelum Badai Kedua
29 Luka Lama yang Bangkit Lagi
30 Janji yang Tidak Akan Gugur
31 Retakan yang Hampir Terlihat
32 Ancaman yang Menyentuh Rumah
33 Pilihan yang Menyakitkan
34 Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35 Musuh Tanpa Wajah
36 Bayangan dari Masa Lalu
37 Nama yang Mulai Terungkap
38 Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39 Pertemuan dengan Masa Lalu
40 Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41 Orang Terdekat
42 Bayangan di Dalam Lingkaran
43 Permainan Dimulai
44 Umpan Rahasia
45 Wajah Pengkhianatan
46 Jawaban yang Terlambat
47 Pengkhianatan yang Terungkap
48 Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49 Pertemuan Terlarang
50 Pertempuran Dimulai
51 Langkah Balasan
52 Bayangan di Balik Permainan
53 Undangan dalam Kegelapan
54 Perang Dimulai
55 Retakan Kepercayaan
56 Serangan di Pasar
57 Langkah Balasan
58 Serangan dari Bayangan
59 Umpan yang Berbalik
60 Langkah di Balik Tirai
61 Serangan Balik
62 Bayangan yang Lebih Dalam
63 Perang yang Sebenarnya
64 Langkah yang Tak Terduga
65 Saat Perang Membuka Topeng
66 Titik Tanpa Kembali
67 Fase Kedua Dimulai
68 Aliansi dan Pengkhianatan
69 Retakan di Dalam Aliansi
70 Saat Semua Topeng Jatuh
71 Langkah di Tengah Kekacauan
72 Langkah Balik yang Tak Terduga
73 Benturan Pertama
74 Retakan di Balik Kekuasaan
75 Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76 Kebenaran di Dalam Flashdisk
77 Bayangan di Atas Segalanya
78 Undangan ke Dalam Permainan
79 Ujian dari Sang Penguasa
80 Hari Penentuan
81 Jawaban yang Dijanjikan
82 Masuk ke Sarang Serigala
83 Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84 Pilihan yang Mustahil
85 Topeng yang Retak
86 Bayangan yang Menjawab
87 Di Dalam Jebakan
88 Menembus Inti Kegelapan
89 Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90 Detik Penentuan
91 Saat Semua Dipertaruhkan
92 Di Ambang Kehancuran
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Cowok di Halte Itu
2
Pilih Aku… atau Keluarga?
3
Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4
Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5
Masa Lalu yang Mengejar
6
Rumah yang Katanya Aman
7
Nama yang Hilang
8
Belajar Jadi Lebih Besar
9
Runtuh Sampai Dasar
10
Nama yang Masih Sama
11
Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12
Pelan-Pelan Bangkit
13
Luka yang Nggak Kelihatan
14
Pintu yang Mulai Bergetar
15
Pertemuan yang Ditunggu
16
KATA YANG TERTAHAN
17
Bukan Sekadar Singgah
18
Kalau Ini Namanya Pulang
19
Panggilan yang Mengubah Segalanya
20
Nama yang Terkubur Hujan
21
Kesempatan Kedua
22
Rumah yang Mulai Utuh
23
Datang Tanpa Diundang
24
Bayangan yang Mulai Bergerak
25
Hujan yang Membasuh Luka
26
Rumah yang Kembali Bernapas
27
Janji yang Tetap Tinggal
28
Tenang Sebelum Badai Kedua
29
Luka Lama yang Bangkit Lagi
30
Janji yang Tidak Akan Gugur
31
Retakan yang Hampir Terlihat
32
Ancaman yang Menyentuh Rumah
33
Pilihan yang Menyakitkan
34
Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35
Musuh Tanpa Wajah
36
Bayangan dari Masa Lalu
37
Nama yang Mulai Terungkap
38
Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39
Pertemuan dengan Masa Lalu
40
Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41
Orang Terdekat
42
Bayangan di Dalam Lingkaran
43
Permainan Dimulai
44
Umpan Rahasia
45
Wajah Pengkhianatan
46
Jawaban yang Terlambat
47
Pengkhianatan yang Terungkap
48
Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49
Pertemuan Terlarang
50
Pertempuran Dimulai
51
Langkah Balasan
52
Bayangan di Balik Permainan
53
Undangan dalam Kegelapan
54
Perang Dimulai
55
Retakan Kepercayaan
56
Serangan di Pasar
57
Langkah Balasan
58
Serangan dari Bayangan
59
Umpan yang Berbalik
60
Langkah di Balik Tirai
61
Serangan Balik
62
Bayangan yang Lebih Dalam
63
Perang yang Sebenarnya
64
Langkah yang Tak Terduga
65
Saat Perang Membuka Topeng
66
Titik Tanpa Kembali
67
Fase Kedua Dimulai
68
Aliansi dan Pengkhianatan
69
Retakan di Dalam Aliansi
70
Saat Semua Topeng Jatuh
71
Langkah di Tengah Kekacauan
72
Langkah Balik yang Tak Terduga
73
Benturan Pertama
74
Retakan di Balik Kekuasaan
75
Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76
Kebenaran di Dalam Flashdisk
77
Bayangan di Atas Segalanya
78
Undangan ke Dalam Permainan
79
Ujian dari Sang Penguasa
80
Hari Penentuan
81
Jawaban yang Dijanjikan
82
Masuk ke Sarang Serigala
83
Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84
Pilihan yang Mustahil
85
Topeng yang Retak
86
Bayangan yang Menjawab
87
Di Dalam Jebakan
88
Menembus Inti Kegelapan
89
Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90
Detik Penentuan
91
Saat Semua Dipertaruhkan
92
Di Ambang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!