Cinta yang Tidak Lagi Cukup

Tidak ada ledakan besar.

Tidak ada piring dibanting.

Tidak ada teriakan memecah malam.

Keputusan itu tumbuh pelan.

Seperti retakan kecil di dinding—awalnya tak terlihat…

lalu perlahan melebar tanpa bisa dihentikan.

Siska sadar pertama kali…

saat ia berhenti menunggu Kevin pulang dengan rasa deg-degan.

Dulu, setiap ada suara langkah di depan pintu kos, ia langsung menoleh.

“Mas sudah pulang?”

Sekarang?

Suara itu hanya lewat.

Seperti suara orang asing yang kebetulan melintas.

Ia tetap duduk.

Tetap menggendong anaknya.

Menatap tembok kusam yang catnya mulai mengelupas.

Kos itu terasa semakin sempit.

Malam itu Kevin pulang lebih larut.

Bajunya basah oleh keringat. Wajahnya pucat, tapi ia tetap tersenyum.

“Kamu sudah makan?” tanyanya sambil melepas sepatu perlahan.

“Sudah,” jawab Siska singkat.

Tidak ada senyum.

Kevin duduk di lantai.

“Besok aku lembur lagi ya. Ada tambahan kerjaan.”

“Hmm.”

Kevin menoleh.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu kosong.

Kevin ingin bertanya lagi…

tapi saat melihat mata Siska yang hampa, ia memilih diam.

Ia tidak tahu…

di kepala Siska, keputusan itu sedang disusun rapi.

Keinginan untuk pulang ke rumah orang tuanya datang seperti bisikan.

Awalnya pelan. Bisa diabaikan.

Tapi setiap melihat anaknya tidur di kasur tipis itu…

setiap harus memilih beli susu atau kebutuhan lain…

Bisikan itu makin keras.

Anakku pantas hidup lebih baik.

Siska mulai menelepon ibunya diam-diam.

“Bagaimana kabarmu?” suara ibunya terdengar datar lewat video call.

“Baik, Bu.”

Ibunya menatap layar lama.

“Kamu kurusan.”

Siska tersenyum tipis.

“Anakmu juga kelihatan kecil.”

Siska langsung defensif.

“Dia sehat, Bu.”

Ibunya tak membantah. Hanya berkata pelan,

“Kalau kamu mau pulang… rumah ini masih ada.”

Kalimat itu menancap dalam.

Malam itu Siska tak bisa tidur.

Ia menatap Kevin dan anaknya yang tertidur pulas.

Dadanya terasa sesak.

Ia mencintai Kevin. Ia tahu itu.

Tapi rasa lelahnya… lebih besar.

Pelan-pelan, tanpa Kevin sadar, ia mulai bersiap.

Baju anak dimasukkan ke tas sedikit demi sedikit.

Dokumen dikumpulkan.

Uang belanja disisihkan.

Kevin mulai merasakan ada yang berbeda.

“Kamu belakangan sering bengong,” katanya suatu sore.

“Aku capek.”

“Kita memang capek,” Kevin duduk mendekat.

“Tapi kita masih bareng, kan?”

Pertanyaan itu membuat Siska tercekat.

“Iya,” jawabnya pelan.

Terlalu pelan.

Malam itu Kevin terbangun.

Lemari terbuka.

Beberapa baju anak hilang.

Jantungnya langsung tak enak.

“Siska?”

Siska berdiri membelakanginya. Menutup tas.

“Kamu mau ke mana?”

“Aku mau pulang.”

Kevin langsung duduk tegak.

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah orang tuaku.”

“Kapan?”

“Besok.”

Kevin turun dari kasur.

“Kita bisa ngomong dulu, ya? Jangan buru-buru.”

“Aku nggak buru-buru. Aku mikirin ini sudah lama.”

Kevin menggenggam tangan Siska.

“Kita cari jalan. Aku kerja lebih keras lagi.”

Siska menarik tangannya.

“Kamu sudah kerja keras. Tapi kita tetap miskin.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Kevin terdiam.

“Jadi… itu masalahnya sekarang?”

Siska menunduk.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Kevin tersenyum pahit.

“Berarti kamu menyesal pilih aku?”

Siska menarik napas panjang.

“Aku menyesal pilih hidup seperti ini.”

“Ini hidup kita, Sis.”

“Ini hidup yang bikin aku terjebak!” suara Siska meninggi.

“Aku berhenti punya mimpi sejak di sini!”

Kevin memegang kepalanya.

“Aku berusaha, Sis. Buat kamu. Buat anak kita.”

“Berusaha nggak selalu cukup!”

“Cinta nggak bisa bayar kebutuhan!”

Tangisan bayi mereka pecah di kamar sempit itu.

Keras. Menyayat.

“Aku lelah jadi istri pria miskin,” kata Siska, suaranya gemetar tapi tegas.

“Aku capek pura-pura bahagia.”

Kevin menatapnya lama. Matanya merah.

“Kalau begitu… kenapa dulu kamu pilih aku?”

Siska terdiam beberapa detik.

“Karena aku bodoh,” bisiknya.

“Aku kira cinta cukup. Ternyata nggak.”

Itu menghancurkan.

Kevin merasa napasnya berat.

“Kamu mau ninggalin anakmu juga?” suaranya hampir tak terdengar.

Siska melihat bayi yang menangis di pelukan Kevin.

Matanya berkaca-kaca.

“Aku bakal lebih berguna kalau aku punya hidup yang layak.”

“Dia butuh ibunya,” Kevin lirih.

“Dia butuh masa depan.”

Pagi itu, Siska pergi.

Tanpa pelukan terakhir.

Tanpa menoleh.

Kevin berdiri di depan pintu kos, menggendong anak mereka yang akhirnya tertidur lagi.

“Kamu bisa balik kapan saja,” katanya dengan suara pecah.

Siska berhenti sebentar.

Tapi tidak menoleh.

“Jangan tunggu aku.”

Pintu tertutup.

Sunyi.

Kos itu tiba-tiba terasa lebih sempit dari sebelumnya.

Kevin duduk di lantai, memeluk anaknya erat.

Tubuh kecil itu hangat. Tak tahu apa-apa.

Air mata Kevin jatuh pelan ke kepala anaknya.

“Maaf ya,” bisiknya.

“Ayah belum jadi apa-apa.”

Hari-hari setelah itu terasa lebih berat dari apa pun.

Kevin bekerja.

Pulang.

Mengurus anak.

Lalu bekerja lagi.

Tak ada yang menunggu.

Tak ada yang menyambut.

Kos itu kini hanya dunia kecil bagi dua jiwa yang tersisa.

Setiap malam Kevin tidur sambil memeluk anaknya—seolah takut kehilangan satu-satunya yang masih ia miliki.

Dan di dalam hatinya, ada luka yang tak hanya karena ditinggalkan.

Tapi karena ditinggalkan…

dengan kalimat yang membuatnya merasa—

ia Tak pernah cukup.

Episodes
1 Cowok di Halte Itu
2 Pilih Aku… atau Keluarga?
3 Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4 Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5 Masa Lalu yang Mengejar
6 Rumah yang Katanya Aman
7 Nama yang Hilang
8 Belajar Jadi Lebih Besar
9 Runtuh Sampai Dasar
10 Nama yang Masih Sama
11 Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12 Pelan-Pelan Bangkit
13 Luka yang Nggak Kelihatan
14 Pintu yang Mulai Bergetar
15 Pertemuan yang Ditunggu
16 KATA YANG TERTAHAN
17 Bukan Sekadar Singgah
18 Kalau Ini Namanya Pulang
19 Panggilan yang Mengubah Segalanya
20 Nama yang Terkubur Hujan
21 Kesempatan Kedua
22 Rumah yang Mulai Utuh
23 Datang Tanpa Diundang
24 Bayangan yang Mulai Bergerak
25 Hujan yang Membasuh Luka
26 Rumah yang Kembali Bernapas
27 Janji yang Tetap Tinggal
28 Tenang Sebelum Badai Kedua
29 Luka Lama yang Bangkit Lagi
30 Janji yang Tidak Akan Gugur
31 Retakan yang Hampir Terlihat
32 Ancaman yang Menyentuh Rumah
33 Pilihan yang Menyakitkan
34 Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35 Musuh Tanpa Wajah
36 Bayangan dari Masa Lalu
37 Nama yang Mulai Terungkap
38 Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39 Pertemuan dengan Masa Lalu
40 Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41 Orang Terdekat
42 Bayangan di Dalam Lingkaran
43 Permainan Dimulai
44 Umpan Rahasia
45 Wajah Pengkhianatan
46 Jawaban yang Terlambat
47 Pengkhianatan yang Terungkap
48 Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49 Pertemuan Terlarang
50 Pertempuran Dimulai
51 Langkah Balasan
52 Bayangan di Balik Permainan
53 Undangan dalam Kegelapan
54 Perang Dimulai
55 Retakan Kepercayaan
56 Serangan di Pasar
57 Langkah Balasan
58 Serangan dari Bayangan
59 Umpan yang Berbalik
60 Langkah di Balik Tirai
61 Serangan Balik
62 Bayangan yang Lebih Dalam
63 Perang yang Sebenarnya
64 Langkah yang Tak Terduga
65 Saat Perang Membuka Topeng
66 Titik Tanpa Kembali
67 Fase Kedua Dimulai
68 Aliansi dan Pengkhianatan
69 Retakan di Dalam Aliansi
70 Saat Semua Topeng Jatuh
71 Langkah di Tengah Kekacauan
72 Langkah Balik yang Tak Terduga
73 Benturan Pertama
74 Retakan di Balik Kekuasaan
75 Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76 Kebenaran di Dalam Flashdisk
77 Bayangan di Atas Segalanya
78 Undangan ke Dalam Permainan
79 Ujian dari Sang Penguasa
80 Hari Penentuan
81 Jawaban yang Dijanjikan
82 Masuk ke Sarang Serigala
83 Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84 Pilihan yang Mustahil
85 Topeng yang Retak
86 Bayangan yang Menjawab
87 Di Dalam Jebakan
88 Menembus Inti Kegelapan
89 Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90 Detik Penentuan
91 Saat Semua Dipertaruhkan
92 Di Ambang Kehancuran
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Cowok di Halte Itu
2
Pilih Aku… atau Keluarga?
3
Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4
Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5
Masa Lalu yang Mengejar
6
Rumah yang Katanya Aman
7
Nama yang Hilang
8
Belajar Jadi Lebih Besar
9
Runtuh Sampai Dasar
10
Nama yang Masih Sama
11
Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12
Pelan-Pelan Bangkit
13
Luka yang Nggak Kelihatan
14
Pintu yang Mulai Bergetar
15
Pertemuan yang Ditunggu
16
KATA YANG TERTAHAN
17
Bukan Sekadar Singgah
18
Kalau Ini Namanya Pulang
19
Panggilan yang Mengubah Segalanya
20
Nama yang Terkubur Hujan
21
Kesempatan Kedua
22
Rumah yang Mulai Utuh
23
Datang Tanpa Diundang
24
Bayangan yang Mulai Bergerak
25
Hujan yang Membasuh Luka
26
Rumah yang Kembali Bernapas
27
Janji yang Tetap Tinggal
28
Tenang Sebelum Badai Kedua
29
Luka Lama yang Bangkit Lagi
30
Janji yang Tidak Akan Gugur
31
Retakan yang Hampir Terlihat
32
Ancaman yang Menyentuh Rumah
33
Pilihan yang Menyakitkan
34
Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35
Musuh Tanpa Wajah
36
Bayangan dari Masa Lalu
37
Nama yang Mulai Terungkap
38
Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39
Pertemuan dengan Masa Lalu
40
Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41
Orang Terdekat
42
Bayangan di Dalam Lingkaran
43
Permainan Dimulai
44
Umpan Rahasia
45
Wajah Pengkhianatan
46
Jawaban yang Terlambat
47
Pengkhianatan yang Terungkap
48
Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49
Pertemuan Terlarang
50
Pertempuran Dimulai
51
Langkah Balasan
52
Bayangan di Balik Permainan
53
Undangan dalam Kegelapan
54
Perang Dimulai
55
Retakan Kepercayaan
56
Serangan di Pasar
57
Langkah Balasan
58
Serangan dari Bayangan
59
Umpan yang Berbalik
60
Langkah di Balik Tirai
61
Serangan Balik
62
Bayangan yang Lebih Dalam
63
Perang yang Sebenarnya
64
Langkah yang Tak Terduga
65
Saat Perang Membuka Topeng
66
Titik Tanpa Kembali
67
Fase Kedua Dimulai
68
Aliansi dan Pengkhianatan
69
Retakan di Dalam Aliansi
70
Saat Semua Topeng Jatuh
71
Langkah di Tengah Kekacauan
72
Langkah Balik yang Tak Terduga
73
Benturan Pertama
74
Retakan di Balik Kekuasaan
75
Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76
Kebenaran di Dalam Flashdisk
77
Bayangan di Atas Segalanya
78
Undangan ke Dalam Permainan
79
Ujian dari Sang Penguasa
80
Hari Penentuan
81
Jawaban yang Dijanjikan
82
Masuk ke Sarang Serigala
83
Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84
Pilihan yang Mustahil
85
Topeng yang Retak
86
Bayangan yang Menjawab
87
Di Dalam Jebakan
88
Menembus Inti Kegelapan
89
Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90
Detik Penentuan
91
Saat Semua Dipertaruhkan
92
Di Ambang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!