SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Cowok di Halte Itu

Pagi itu… kelihatannya biasa saja.

Matahari terbit seperti biasa. Udara masih menyisakan dingin malam. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang sibuk mengejar mimpi masing-masing.

Semua terlihat normal.

Tapi bagi Siska…

pagi itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

Siska berdiri di halte kecil pinggir jalan. Tangannya memeluk tas kain cokelat tuanya—tas yang sudah menemaninya bertahun-tahun.

Isinya sederhana.

Dompet tipis.

HP lama dengan layar retak di sudut.

Botol minum.

Dan buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana pun.

Penampilannya pun tak istimewa.

Kemeja krem polos. Celana hitam yang warnanya mulai pudar. Rambut diikat rapi. Tanpa makeup—hanya lip balm tipis.

Siska memang bukan tipe gadis yang suka jadi pusat perhatian.

Sejak kecil hidupnya biasa saja. Orang tuanya tidak kaya, tapi cukup terpandang di lingkungan rumah.

Dan ada satu kalimat yang terus terngiang di telinganya sejak remaja:

“Kalau cari pasangan, pilih yang jelas masa depannya.”

Kalimat itu seperti rekaman rusak. Terus berputar.

Siska melirik jam di ponselnya.

“Ya ampun… jangan sampai telat lagi,” gumamnya.

Kalau terlambat, ia harus siap menerima tatapan dingin atasannya. Tatapan tanpa omelan… tapi cukup membuat siapa pun ingin menghilang.

“Permisi.”

Siska menoleh.

Di sampingnya berdiri seorang pria dengan kardus kecil di tangan. Ia tampak sedikit kikuk. Kaos abu-abu dan jaket hitam tipis yang terlihat sering dicuci. Wajahnya bersih, rahangnya tegas… tapi ada lelah yang tak bisa disembunyikan dari matanya.

“Iya?” jawab Siska sopan.

“Ini sepertinya jatuh dari tas Mbak.”

Buku catatan kecilnya.

Siska langsung membelalak.

“Eh?! Ya ampun! Terima kasih! Aku nggak sadar…”

Pria itu hanya mengangguk kecil.

“Tadi waktu Mbak geser.”

Siska tersenyum canggung. “Untung Mas lihat. Kalau nggak, aku bisa panik seharian.”

Harusnya selesai di situ.

Dua orang asing. Saling membantu. Lalu kembali jadi orang asing.

Tapi entah kenapa… Siska merasa ingin berbicara lebih lama.

“Mas juga nunggu bus ke pusat kota?”

“Iya.”

“Sama,” Siska tersenyum.

Mereka berdiri berdampingan. Tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik jalan atau menatap layar ponsel.

Anehnya… tidak canggung.

Bus datang. Penuh seperti biasa.

Mereka berdiri berpegangan pada tiang yang sama. Bus berjalan pelan menembus kemacetan.

Beberapa menit hening.

“Nama saya Kevin,” ucap pria itu tiba-tiba.

Siska menoleh, sedikit terkejut.

“Siska.”

Kevin tersenyum tipis. Tidak dibuat-buat.

Dan tanpa mereka sadari… semuanya mulai dari sana.

Awalnya hanya kebetulan.

Bertemu lagi keesokan harinya. Lalu lusa. Lalu hari-hari berikutnya.

Seperti jadwal tak tertulis.

“Tumben nggak bawa buku hari ini?” tanya Kevin suatu pagi.

“Lagi malas nulis,” jawab Siska. “Mas sendiri? Kardus terus. Isinya apa sih?”

Kevin tertawa pelan.

“Kadang sparepart. Kadang pesanan orang. Tergantung lagi dapat kerjaan apa.”

Siska bekerja sebagai staf admin di kantor kecil. Mengurus data dan laporan yang tak ada habisnya.

Kevin?

Ia bekerja apa saja yang bisa dikerjakan.

Gudang. Bengkel. Angkut barang.

Capek? Pasti.

Mengeluh? Tidak pernah.

Suatu sore, wajah Kevin terlihat lebih kusut dari biasanya.

“Capek banget ya?” tanya Siska.

Kevin tersenyum. “Lumayan. Tapi ya… masih hidup.”

Siska tertawa kecil.

Dan entah sejak kapan… pagi bukan lagi soal berangkat kerja.

Tapi soal kemungkinan bertemu Kevin.

Ia hafal suara langkahnya. Cara Kevin memanggil namanya. Senyumnya yang setengah malu.

Dan Kevin pun merasakan hal yang sama.

Siska berbeda.

Ia tidak pernah bertanya gaji.

Tidak pernah membandingkan dengan pria mapan.

Tidak pernah membuatnya merasa kecil.

Bersama Siska… Kevin merasa cukup.

Padahal dunia sering mengatakan ia kurang.

Suatu sore, hujan turun deras.

Mereka berteduh di bawah atap kecil dekat halte. Air memercik ke mana-mana.

“Sepertinya lama ini,” kata Kevin menatap langit.

“Sekali-kali pulang malam nggak apa-apa,” jawab Siska santai.

Hening.

Hanya suara hujan.

Kevin menarik napas panjang.

“Sis… aku mau ngomong serius.”

Jantung Siska berdebar.

“Aku nggak punya apa-apa,” ucap Kevin pelan. “Hidupku biasa saja. Kadang bahkan kurang. Tapi kalau kamu nggak keberatan… aku ingin lebih dari teman.”

Siska terdiam.

Ini bukan hanya soal perasaan.

Ini soal masa depan.

“Kamu bisa kasih apa?” tanyanya pelan.

Kevin menatapnya lurus.

“Usaha. Kejujuran. Kesetiaan. Aku nggak bisa janji hidup mewah. Tapi aku akan kerja sekeras mungkin.”

Sederhana.

Tapi tulus.

Siska tersenyum. Matanya terasa hangat.

“Itu sudah cukup.”

Kevin membeku. “Serius?”

“Kamu kira aku cari sultan?” Siska tersenyum.

Kevin tertawa kecil.

Dan di bawah hujan deras itu… mereka resmi bersama.

Tak ada makan malam mahal.

Tak ada hadiah bermerek.

Kencan mereka? Jajan kaki lima. Duduk di taman. Mengobrol sampai lupa waktu.

Sederhana.

Tapi bahagia.

Sampai akhirnya… orang tua Siska tahu.

“Dia kerja apa?” tanya ibunya dingin suatu malam.

“Dia kerja keras, Bu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Serabutan… kadang di gudang, kadang di bengkel.”

Ibunya menghela napas panjang.

“Kami cuma ingin kamu hidup layak,” ujar ayahnya pelan.

“Layar menurut siapa?” balas Siska tanpa sadar.

“Menurut kenyataan,” jawab ibunya tegas.

“Cinta saja tidak cukup.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.

Sejak malam itu, rumah tak lagi terasa sama. Perbandingan mulai muncul. Tekanan semakin berat.

Siska menangis diam-diam.

Kevin tahu semuanya.

Suatu malam mereka duduk di bangku taman.

“Kalau kamu capek… dan mau mundur… aku nggak akan menahanmu,” kata Kevin.

Siska langsung menoleh.

“Kamu menyuruhku pergi?”

“Aku cuma nggak mau kamu menderita karena aku.”

Siska menggeleng.

“Aku memilih kamu.”

Kevin menatapnya lama.

“Yakin?”

“Yakin. Jangan suruh aku memilih lagi.”

Mereka tahu jalan di depan tidak mudah. Restu belum ada. Uang belum stabil. Masa depan masih abu-abu.

Tapi malam itu… mereka tetap saling menggenggam.

Tanpa tahu…

keputusan sederhana itu akan membawa luka, penyesalan, dan rahasia besar yang belum pernah mereka bayangkan.

Dan semuanya…

berawal dari halte kecil itu.

Episodes
1 Cowok di Halte Itu
2 Pilih Aku… atau Keluarga?
3 Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4 Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5 Masa Lalu yang Mengejar
6 Rumah yang Katanya Aman
7 Nama yang Hilang
8 Belajar Jadi Lebih Besar
9 Runtuh Sampai Dasar
10 Nama yang Masih Sama
11 Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12 Pelan-Pelan Bangkit
13 Luka yang Nggak Kelihatan
14 Pintu yang Mulai Bergetar
15 Pertemuan yang Ditunggu
16 KATA YANG TERTAHAN
17 Bukan Sekadar Singgah
18 Kalau Ini Namanya Pulang
19 Panggilan yang Mengubah Segalanya
20 Nama yang Terkubur Hujan
21 Kesempatan Kedua
22 Rumah yang Mulai Utuh
23 Datang Tanpa Diundang
24 Bayangan yang Mulai Bergerak
25 Hujan yang Membasuh Luka
26 Rumah yang Kembali Bernapas
27 Janji yang Tetap Tinggal
28 Tenang Sebelum Badai Kedua
29 Luka Lama yang Bangkit Lagi
30 Janji yang Tidak Akan Gugur
31 Retakan yang Hampir Terlihat
32 Ancaman yang Menyentuh Rumah
33 Pilihan yang Menyakitkan
34 Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35 Musuh Tanpa Wajah
36 Bayangan dari Masa Lalu
37 Nama yang Mulai Terungkap
38 Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39 Pertemuan dengan Masa Lalu
40 Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41 Orang Terdekat
42 Bayangan di Dalam Lingkaran
43 Permainan Dimulai
44 Umpan Rahasia
45 Wajah Pengkhianatan
46 Jawaban yang Terlambat
47 Pengkhianatan yang Terungkap
48 Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49 Pertemuan Terlarang
50 Pertempuran Dimulai
51 Langkah Balasan
52 Bayangan di Balik Permainan
53 Undangan dalam Kegelapan
54 Perang Dimulai
55 Retakan Kepercayaan
56 Serangan di Pasar
57 Langkah Balasan
58 Serangan dari Bayangan
59 Umpan yang Berbalik
60 Langkah di Balik Tirai
61 Serangan Balik
62 Bayangan yang Lebih Dalam
63 Perang yang Sebenarnya
64 Langkah yang Tak Terduga
65 Saat Perang Membuka Topeng
66 Titik Tanpa Kembali
67 Fase Kedua Dimulai
68 Aliansi dan Pengkhianatan
69 Retakan di Dalam Aliansi
70 Saat Semua Topeng Jatuh
71 Langkah di Tengah Kekacauan
72 Langkah Balik yang Tak Terduga
73 Benturan Pertama
74 Retakan di Balik Kekuasaan
75 Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76 Kebenaran di Dalam Flashdisk
77 Bayangan di Atas Segalanya
78 Undangan ke Dalam Permainan
79 Ujian dari Sang Penguasa
80 Hari Penentuan
81 Jawaban yang Dijanjikan
82 Masuk ke Sarang Serigala
83 Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84 Pilihan yang Mustahil
85 Topeng yang Retak
86 Bayangan yang Menjawab
87 Di Dalam Jebakan
88 Menembus Inti Kegelapan
89 Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90 Detik Penentuan
91 Saat Semua Dipertaruhkan
92 Di Ambang Kehancuran
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Cowok di Halte Itu
2
Pilih Aku… atau Keluarga?
3
Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4
Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5
Masa Lalu yang Mengejar
6
Rumah yang Katanya Aman
7
Nama yang Hilang
8
Belajar Jadi Lebih Besar
9
Runtuh Sampai Dasar
10
Nama yang Masih Sama
11
Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12
Pelan-Pelan Bangkit
13
Luka yang Nggak Kelihatan
14
Pintu yang Mulai Bergetar
15
Pertemuan yang Ditunggu
16
KATA YANG TERTAHAN
17
Bukan Sekadar Singgah
18
Kalau Ini Namanya Pulang
19
Panggilan yang Mengubah Segalanya
20
Nama yang Terkubur Hujan
21
Kesempatan Kedua
22
Rumah yang Mulai Utuh
23
Datang Tanpa Diundang
24
Bayangan yang Mulai Bergerak
25
Hujan yang Membasuh Luka
26
Rumah yang Kembali Bernapas
27
Janji yang Tetap Tinggal
28
Tenang Sebelum Badai Kedua
29
Luka Lama yang Bangkit Lagi
30
Janji yang Tidak Akan Gugur
31
Retakan yang Hampir Terlihat
32
Ancaman yang Menyentuh Rumah
33
Pilihan yang Menyakitkan
34
Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35
Musuh Tanpa Wajah
36
Bayangan dari Masa Lalu
37
Nama yang Mulai Terungkap
38
Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39
Pertemuan dengan Masa Lalu
40
Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41
Orang Terdekat
42
Bayangan di Dalam Lingkaran
43
Permainan Dimulai
44
Umpan Rahasia
45
Wajah Pengkhianatan
46
Jawaban yang Terlambat
47
Pengkhianatan yang Terungkap
48
Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49
Pertemuan Terlarang
50
Pertempuran Dimulai
51
Langkah Balasan
52
Bayangan di Balik Permainan
53
Undangan dalam Kegelapan
54
Perang Dimulai
55
Retakan Kepercayaan
56
Serangan di Pasar
57
Langkah Balasan
58
Serangan dari Bayangan
59
Umpan yang Berbalik
60
Langkah di Balik Tirai
61
Serangan Balik
62
Bayangan yang Lebih Dalam
63
Perang yang Sebenarnya
64
Langkah yang Tak Terduga
65
Saat Perang Membuka Topeng
66
Titik Tanpa Kembali
67
Fase Kedua Dimulai
68
Aliansi dan Pengkhianatan
69
Retakan di Dalam Aliansi
70
Saat Semua Topeng Jatuh
71
Langkah di Tengah Kekacauan
72
Langkah Balik yang Tak Terduga
73
Benturan Pertama
74
Retakan di Balik Kekuasaan
75
Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76
Kebenaran di Dalam Flashdisk
77
Bayangan di Atas Segalanya
78
Undangan ke Dalam Permainan
79
Ujian dari Sang Penguasa
80
Hari Penentuan
81
Jawaban yang Dijanjikan
82
Masuk ke Sarang Serigala
83
Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84
Pilihan yang Mustahil
85
Topeng yang Retak
86
Bayangan yang Menjawab
87
Di Dalam Jebakan
88
Menembus Inti Kegelapan
89
Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90
Detik Penentuan
91
Saat Semua Dipertaruhkan
92
Di Ambang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!