Cincin Tipis dan Dua Garis Merah

Kos-kosan itu masih sama.

Temboknya tetap tipis—kalau tetangga batuk saja terdengar jelas.

Lantainya dingin setiap pagi.

Suara sandal lewat depan pintu seperti alarm tambahan.

Tapi bagi Siska… tempat itu sudah berubah.

Bukan lagi sekadar tempat menumpang tidur.

Itu rumah.

Satu-satunya tempat di mana ia merasa hidupnya benar-benar miliknya sendiri.

Awal tinggal bersama, semuanya serba pas-pasan.

Tapi anehnya… terasa ringan.

Kevin makin gila bekerja.

Apa saja diambil.

Panas, hujan, tangan lecet, badan pegal—jalan terus.

“Kerjaan apa lagi hari ini?” tanya Siska suatu malam sambil menyiapkan nasi dan telur dadar tipis.

“Angkut barang pindahan. Berat sih… tapi lumayan,” jawab Kevin sambil mencuci tangan.

Siska yang mengatur uang.

Menghitung receh.

Menyusun daftar belanja.

Memasak seadanya tapi tetap diusahakan enak.

Kadang mereka tertawa hanya karena hal kecil.

“Telurnya gosong dikit,” goda Kevin.

“Besok kamu yang masak,” jawab Siska pura-pura kesal.

Hidup mereka bergantung pada tabungan yang makin menipis dan penghasilan yang tak pernah pasti.

Capek? Iya.

Takut? Iya.

Tapi bahagia juga… iya.

Suatu malam, hujan turun pelan. Lampu kamar redup. Siska sedang melipat baju di lantai.

“Sis…” panggil Kevin pelan.

“Hm?”

Kevin terlihat gelisah.

“Aku nggak punya apa-apa,” katanya tiba-tiba.

Siska menoleh. “Kenapa bilang begitu?”

“Aku nggak punya rumah. Tabungan besar juga nggak. Hidupku masih begini-begini aja.” Ia menelan ludah. “Tapi… aku nggak mau kita terus seperti ini tanpa status.”

Jantung Siska berdetak lebih cepat.

“Maksud kamu?”

Kevin turun dari kasur.

Lalu—di lantai kos yang dingin itu—ia berlutut.

“Kevin?! Kamu ngapain?!”

Dari saku jaketnya, Kevin mengeluarkan cincin perak tipis. Sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana.

Tapi tangannya gemetar saat menggenggamnya.

“Siska… mau nggak kamu nikah sama aku?” suaranya serak.

“Aku nggak bisa kasih hidup mewah. Tapi aku janji tanggung jawab. Aku janji kerja sekeras mungkin. Aku janji nggak akan ninggalin kamu.”

Air mata Siska jatuh tanpa bisa ditahan.

Bukan karena tempatnya sempit.

Bukan karena cincinnya murah.

Tapi karena ia tahu—Kevin mengucapkannya dengan seluruh hati.

“Iya,” bisiknya sambil menangis. “Aku mau.”

Kevin terdiam beberapa detik.

“Serius?”

“Bego. Masa aku bercanda.”

Mereka menikah tanpa pesta.

Tanpa gedung megah.

Tanpa foto glamor.

Tanpa restu penuh dari keluarga Siska.

Akadnya sederhana. Saksinya sedikit. Doanya lirih tapi tulus.

Saat Kevin mengucap ijab kabul, suaranya sempat bergetar.

Saat kata “sah” terdengar… Siska menangis lagi.

Bahagia? Iya.

Tapi di balik bahagia itu, ada sesuatu yang hilang.

Ia resmi menjadi istri Kevin.

Dan semakin jauh dari keluarganya.

Setelah menikah, hidup tak berubah drastis.

Masih kos yang sama.

Masih rutinitas yang sama.

Hanya saja sekarang ada panggilan baru.

“Mas…”

“Iya, Dek…”

Sederhana. Tapi hangat.

Siska bangun lebih pagi untuk memasak walau hanya nasi dan tempe.

Kevin pulang lelah, tapi selalu memeluknya dulu sebelum mandi.

“Kita pasti punya rumah sendiri suatu hari nanti,” kata Kevin suatu malam.

Siska tersenyum.

“Aku percaya.”

Beberapa bulan kemudian, semuanya berubah lagi.

Siska sering mual di pagi hari. Cepat lelah. Mood tak menentu.

“Mas… aku kayaknya sakit.”

“Periksa yuk.”

Sore itu, di kamar mandi kos yang sempit, Siska duduk menatap alat tes kehamilan.

Dua garis merah.

Tangannya dingin.

Kevin pulang malam itu.

“Kamu kenapa pucat banget?” tanyanya panik.

Siska hanya menyodorkan test pack.

Kevin terdiam beberapa detik.

“Kita… punya anak?” suaranya hampir tak terdengar.

Siska mengangguk pelan.

Kevin langsung memeluknya erat.

“Aku janji. Anak kita nggak boleh merasa kurang. Aku bakal kerja lebih keras lagi.”

Kehamilan Siska jauh dari mewah.

Periksa seadanya.

Makan disesuaikan kemampuan.

Kamar kos terasa makin sempit.

Tapi setiap merasakan gerakan kecil di perutnya… Siska selalu tersenyum.

Dan saat bayi laki-laki mereka lahir—merah, kecil, menangis keras—Kevin kembali menangis.

“Namanya siapa?” tanya bidan.

Kevin menatap Siska.

“Apa pun namanya… dia alasan hidupku.”

Mereka merawat bayi itu di kamar kos yang sama.

Tangisan bayi bercampur suara tetangga.

Popok dicuci manual.

Malam tanpa tidur.

Awalnya terasa indah.

Melihat Kevin menggendong anaknya.

Mendengar “makasih ya, Sis” setiap malam.

Merasa memiliki keluarga kecil sendiri.

Tapi waktu terus berjalan.

Kevin makin sering pulang larut dan langsung tertidur.

Siska hampir 24 jam di kamar—mengurus bayi, memasak, membereskan semuanya sendirian.

Suatu siang, sambil menggendong anaknya yang tertidur, Siska membuka media sosial.

Teman-temannya mengunggah rumah baru.

Liburan keluarga.

Suami dengan kemeja rapi.

Anak bermain di playground yang bersih dan luas.

Siska menatap layar cukup lama.

Lalu mematikannya.

Tapi rasa itu… tak ikut mati.

Ia mulai membandingkan.

Kamar kos terasa makin sempit.

Uang belanja harus dihitung detail.

Setiap kebutuhan anak harus dipikir dua kali.

Suatu malam, Kevin pulang dengan wajah kusut.

“Aku capek,” ucap Siska tiba-tiba. Nada suaranya berbeda.

Kevin terkejut.

“Aku juga capek, Sis.”

Hening.

Tapi hening kali ini tak lagi nyaman.

Dulu hening terasa hangat.

Sekarang… terasa jauh.

Hari-hari seperti fotokopi.

Bangun. Masak. Mengurus anak. Menunggu Kevin.

Ulang lagi.

Siska masih mencintai Kevin.

Ia sangat menyayangi anaknya.

Tapi perlahan… ia mulai membenci kehidupan yang mereka jalani.

Dan itu membuatnya takut.

Takut kalau ternyata ia tidak sekuat yang dulu ia yakini.

Takut kalau pilihan yang ia bela mati-matian mulai terasa berat.

Takut kalau… cinta saja memang tidak selalu cukup untuk membuat semuanya bertahan selamanya.

Dan tanpa ia sadari…

retakan kecil itu mulai muncul di dalam hatinya.

Episodes
1 Cowok di Halte Itu
2 Pilih Aku… atau Keluarga?
3 Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4 Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5 Masa Lalu yang Mengejar
6 Rumah yang Katanya Aman
7 Nama yang Hilang
8 Belajar Jadi Lebih Besar
9 Runtuh Sampai Dasar
10 Nama yang Masih Sama
11 Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12 Pelan-Pelan Bangkit
13 Luka yang Nggak Kelihatan
14 Pintu yang Mulai Bergetar
15 Pertemuan yang Ditunggu
16 KATA YANG TERTAHAN
17 Bukan Sekadar Singgah
18 Kalau Ini Namanya Pulang
19 Panggilan yang Mengubah Segalanya
20 Nama yang Terkubur Hujan
21 Kesempatan Kedua
22 Rumah yang Mulai Utuh
23 Datang Tanpa Diundang
24 Bayangan yang Mulai Bergerak
25 Hujan yang Membasuh Luka
26 Rumah yang Kembali Bernapas
27 Janji yang Tetap Tinggal
28 Tenang Sebelum Badai Kedua
29 Luka Lama yang Bangkit Lagi
30 Janji yang Tidak Akan Gugur
31 Retakan yang Hampir Terlihat
32 Ancaman yang Menyentuh Rumah
33 Pilihan yang Menyakitkan
34 Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35 Musuh Tanpa Wajah
36 Bayangan dari Masa Lalu
37 Nama yang Mulai Terungkap
38 Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39 Pertemuan dengan Masa Lalu
40 Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41 Orang Terdekat
42 Bayangan di Dalam Lingkaran
43 Permainan Dimulai
44 Umpan Rahasia
45 Wajah Pengkhianatan
46 Jawaban yang Terlambat
47 Pengkhianatan yang Terungkap
48 Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49 Pertemuan Terlarang
50 Pertempuran Dimulai
51 Langkah Balasan
52 Bayangan di Balik Permainan
53 Undangan dalam Kegelapan
54 Perang Dimulai
55 Retakan Kepercayaan
56 Serangan di Pasar
57 Langkah Balasan
58 Serangan dari Bayangan
59 Umpan yang Berbalik
60 Langkah di Balik Tirai
61 Serangan Balik
62 Bayangan yang Lebih Dalam
63 Perang yang Sebenarnya
64 Langkah yang Tak Terduga
65 Saat Perang Membuka Topeng
66 Titik Tanpa Kembali
67 Fase Kedua Dimulai
68 Aliansi dan Pengkhianatan
69 Retakan di Dalam Aliansi
70 Saat Semua Topeng Jatuh
71 Langkah di Tengah Kekacauan
72 Langkah Balik yang Tak Terduga
73 Benturan Pertama
74 Retakan di Balik Kekuasaan
75 Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76 Kebenaran di Dalam Flashdisk
77 Bayangan di Atas Segalanya
78 Undangan ke Dalam Permainan
79 Ujian dari Sang Penguasa
80 Hari Penentuan
81 Jawaban yang Dijanjikan
82 Masuk ke Sarang Serigala
83 Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84 Pilihan yang Mustahil
85 Topeng yang Retak
86 Bayangan yang Menjawab
87 Di Dalam Jebakan
88 Menembus Inti Kegelapan
89 Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90 Detik Penentuan
91 Saat Semua Dipertaruhkan
92 Di Ambang Kehancuran
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Cowok di Halte Itu
2
Pilih Aku… atau Keluarga?
3
Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4
Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5
Masa Lalu yang Mengejar
6
Rumah yang Katanya Aman
7
Nama yang Hilang
8
Belajar Jadi Lebih Besar
9
Runtuh Sampai Dasar
10
Nama yang Masih Sama
11
Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12
Pelan-Pelan Bangkit
13
Luka yang Nggak Kelihatan
14
Pintu yang Mulai Bergetar
15
Pertemuan yang Ditunggu
16
KATA YANG TERTAHAN
17
Bukan Sekadar Singgah
18
Kalau Ini Namanya Pulang
19
Panggilan yang Mengubah Segalanya
20
Nama yang Terkubur Hujan
21
Kesempatan Kedua
22
Rumah yang Mulai Utuh
23
Datang Tanpa Diundang
24
Bayangan yang Mulai Bergerak
25
Hujan yang Membasuh Luka
26
Rumah yang Kembali Bernapas
27
Janji yang Tetap Tinggal
28
Tenang Sebelum Badai Kedua
29
Luka Lama yang Bangkit Lagi
30
Janji yang Tidak Akan Gugur
31
Retakan yang Hampir Terlihat
32
Ancaman yang Menyentuh Rumah
33
Pilihan yang Menyakitkan
34
Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35
Musuh Tanpa Wajah
36
Bayangan dari Masa Lalu
37
Nama yang Mulai Terungkap
38
Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39
Pertemuan dengan Masa Lalu
40
Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41
Orang Terdekat
42
Bayangan di Dalam Lingkaran
43
Permainan Dimulai
44
Umpan Rahasia
45
Wajah Pengkhianatan
46
Jawaban yang Terlambat
47
Pengkhianatan yang Terungkap
48
Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49
Pertemuan Terlarang
50
Pertempuran Dimulai
51
Langkah Balasan
52
Bayangan di Balik Permainan
53
Undangan dalam Kegelapan
54
Perang Dimulai
55
Retakan Kepercayaan
56
Serangan di Pasar
57
Langkah Balasan
58
Serangan dari Bayangan
59
Umpan yang Berbalik
60
Langkah di Balik Tirai
61
Serangan Balik
62
Bayangan yang Lebih Dalam
63
Perang yang Sebenarnya
64
Langkah yang Tak Terduga
65
Saat Perang Membuka Topeng
66
Titik Tanpa Kembali
67
Fase Kedua Dimulai
68
Aliansi dan Pengkhianatan
69
Retakan di Dalam Aliansi
70
Saat Semua Topeng Jatuh
71
Langkah di Tengah Kekacauan
72
Langkah Balik yang Tak Terduga
73
Benturan Pertama
74
Retakan di Balik Kekuasaan
75
Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76
Kebenaran di Dalam Flashdisk
77
Bayangan di Atas Segalanya
78
Undangan ke Dalam Permainan
79
Ujian dari Sang Penguasa
80
Hari Penentuan
81
Jawaban yang Dijanjikan
82
Masuk ke Sarang Serigala
83
Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84
Pilihan yang Mustahil
85
Topeng yang Retak
86
Bayangan yang Menjawab
87
Di Dalam Jebakan
88
Menembus Inti Kegelapan
89
Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90
Detik Penentuan
91
Saat Semua Dipertaruhkan
92
Di Ambang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!