Masa Lalu yang Mengejar

Tiga tahun berlalu sejak Siska pergi.

Tidak ada kabar.

Tidak ada pesan.

Tidak ada penjelasan.

Kevin berhenti berharap di hari ke-seratus.

Karena ia sadar…

menunggu hanya membuatnya hancur pelan-pelan.

Sejak itu, ia memilih fokus pada satu hal yang masih ia miliki.

Anaknya.

Anak laki-laki itu tumbuh cepat.

Rambutnya hitam.

Matanya jernih.

Senyumnya… terlalu mirip ibunya.

Setiap kali melihat senyum itu, dada Kevin terasa perih sekaligus hangat.

Luka dan cinta bercampur jadi satu.

Kevin pindah dari kos lama ke tempat yang sedikit lebih layak. Masih kos-kosan, tapi lebih bersih. Lebih terang. Lebih aman untuk anak kecil.

Kamar itu kecil.

Tapi cukup… untuk dua orang yang belajar hidup lagi dari nol.

Pagi-pagi Kevin sudah bangun.

Menyiapkan sarapan sederhana.

Memandikan anaknya.

Mengantarkannya ke penitipan sebelum berangkat kerja.

Malam hari diisi dengan memasak, menemani anaknya bermain, lalu tidur bersama di kasur yang sama.

Tidak ada waktu untuk meratapi masa lalu.

Setiap kali lelah menyerang, Kevin mengingat satu hal:

Anaknya tidak boleh merasa ditinggalkan seperti dirinya dulu.

Ia tidak lagi bekerja serabutan tanpa arah.

Kevin mulai memilih pekerjaan dengan peluang jangka panjang.

Ia belajar diam-diam.

Membaca.

Mengamati.

Pelan-pelan, hidupnya mulai tertata.

Masih jauh dari mapan.

Tapi tidak lagi tersesat.

Suatu malam, saat mereka duduk menyusun balok mainan di lantai—

“Ayah.”

“Iya?”

“Kenapa ibu tidak pulang?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba.

Tangan Kevin berhenti bergerak.

“Ibu… sedang jauh,” jawabnya pelan. “Tapi ayah di sini.”

Anak itu mengangguk polos.

Seolah jawaban itu sudah cukup.

Kevin memeluknya erat.

Di dalam hati, ia berjanji—

tidak akan pernah pergi.

Bagi orang lain, hidup Kevin terlihat biasa saja.

Seorang ayah tunggal.

Bekerja keras.

Pulang tepat waktu.

Tidak ada yang istimewa.

Namun Kevin tidak tahu…

selama dua tahun terakhir, ada sepasang mata yang mengawasinya.

Pria itu sering muncul di tempat yang sama.

Kadang di warung makan siang.

Kadang di halte.

Kadang duduk di dalam mobil tak jauh dari kos.

Ia tidak pernah mendekat.

Namanya Hanto.

Seorang detektif swasta.

Tugasnya sederhana… tapi berat.

Menemukan seorang anak laki-laki yang hilang lebih dari dua puluh lima tahun lalu.

Anak tunggal dari seorang komisaris perusahaan besar.

Seorang pria berpengaruh yang menyimpan luka selama puluhan tahun.

Namanya… Surya.

Anak itu hilang dalam peristiwa yang sengaja ditutup rapat.

Tidak ada laporan resmi.

Tidak ada berita.

Hanya satu perintah diam-diam:

Temukan anakku. Apa pun keadaannya.

Jejak itu membawa Hanto ke banyak kota.

Panti asuhan.

Rumah sakit.

Catatan lama yang hampir musnah.

Sampai akhirnya… berhenti pada satu nama.

Kevin.

Awalnya Hanto ragu.

Kevin terlalu sederhana.

Terlalu miskin.

Terlalu jauh dari bayangan anak komisaris.

Tapi data tidak pernah berbohong.

Tanggal lahir cocok.

Lokasi kelahiran cocok.

Nama ibu kandungnya—yang meninggal saat Kevin kecil—muncul dalam arsip lama.

Dan satu fakta yang paling mencurigakan:

Kevin tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya.

Hanto mengamati dari jauh.

Cara Kevin bekerja.

Cara ia memeluk anaknya.

Cara ia menahan sakit tanpa mengeluh.

“Kalau dia benar anak Pak Surya…” gumam Hanto suatu hari, “hidupnya seharusnya jauh lebih mudah.”

Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuat semuanya masuk akal.

Anak itu dulu disembunyikan demi keselamatan.

Dan penyembunyian itu berubah menjadi kehilangan.

Kevin tumbuh tanpa tahu apa-apa.

Dibentuk oleh ketiadaan.

Suatu sore, Kevin merasa ada yang aneh.

Ia sedang mengantar anaknya pulang saat merasa seseorang mengikuti terlalu lama.

Ia menoleh.

Pria itu berhenti, pura-pura melihat ponsel.

Kevin tidak terlalu memikirkan.

Hidupnya sudah cukup berat tanpa harus curiga.

Tapi bagi Hanto…

waktunya hampir habis.

Surya sakit.

Umurnya tidak panjang lagi.

Ia ingin tahu kebenaran sebelum terlambat.

Malam itu, Hanto berdiri di depan kos Kevin.

Menatap pintu sederhana itu lama.

Di balik pintu itu… mungkin ada jawaban dari puluhan tahun penyesalan.

Di dalam, Kevin sedang membacakan dongeng untuk anaknya saat ketukan terdengar.

Tok. Tok.

Kevin menoleh.

“Siapa?”

“Permisi,” suara pria itu tenang. “Saya ingin bicara.”

Kevin membuka pintu sedikit sambil menggendong anaknya.

“Maaf,” kata pria itu sopan. “Nama saya Hanto. Saya ingin menanyakan sesuatu.”

“Kalau soal bantuan atau pinjaman—”

“Bukan,” potong Hanto cepat. Matanya tajam tapi tidak mengancam.

“Ini tentang masa lalumu.”

Kevin membeku.

“Masa lalu saya tidak menarik,” jawabnya datar.

“Justru itu,” kata Hanto pelan.

“Mungkin kamu tidak tahu betapa berharganya masa lalu itu bagi seseorang.”

Anaknya meringkuk di pelukan Kevin.

Kevin menutup pintu sedikit.

“Apa maksudmu?”

Hanto menarik napas dalam.

“Saya sedang mencari seorang anak yang hilang. Dan semua petunjuk… mengarah kepadamu.”

Kevin tertawa kecil, getir.

“Anda salah orang.”

“Mungkin,” jawab Hanto tenang.

“Atau mungkin… kamu memang tidak pernah diberi tahu.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Jantung Kevin berdebar tanpa alasan yang jelas.

“Apa pun yang Anda cari,” katanya akhirnya, “saya cuma ayah biasa yang berusaha hidup.”

Hanto mengangguk pelan.

“Saya akan kembali.”

Ia berbalik dan pergi.

Kevin menutup pintu. Punggungnya bersandar pada kayu tipis itu.

Napasnya berat.

Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya.

Rasa asing. Rasa takut. Rasa… penasaran.

Malam itu ia memeluk anaknya lebih erat.

Kevin tidak tahu—

hidupnya sedang berada di ambang perubahan besar.

Bahwa kemiskinan yang ia jalani mungkin bukan akhir takdirnya.

Dan bahwa masa lalu yang ia anggap kosong…

sedang berjalan pelan-pelan.

Untuk menemukannya kembali.

Episodes
1 Cowok di Halte Itu
2 Pilih Aku… atau Keluarga?
3 Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4 Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5 Masa Lalu yang Mengejar
6 Rumah yang Katanya Aman
7 Nama yang Hilang
8 Belajar Jadi Lebih Besar
9 Runtuh Sampai Dasar
10 Nama yang Masih Sama
11 Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12 Pelan-Pelan Bangkit
13 Luka yang Nggak Kelihatan
14 Pintu yang Mulai Bergetar
15 Pertemuan yang Ditunggu
16 KATA YANG TERTAHAN
17 Bukan Sekadar Singgah
18 Kalau Ini Namanya Pulang
19 Panggilan yang Mengubah Segalanya
20 Nama yang Terkubur Hujan
21 Kesempatan Kedua
22 Rumah yang Mulai Utuh
23 Datang Tanpa Diundang
24 Bayangan yang Mulai Bergerak
25 Hujan yang Membasuh Luka
26 Rumah yang Kembali Bernapas
27 Janji yang Tetap Tinggal
28 Tenang Sebelum Badai Kedua
29 Luka Lama yang Bangkit Lagi
30 Janji yang Tidak Akan Gugur
31 Retakan yang Hampir Terlihat
32 Ancaman yang Menyentuh Rumah
33 Pilihan yang Menyakitkan
34 Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35 Musuh Tanpa Wajah
36 Bayangan dari Masa Lalu
37 Nama yang Mulai Terungkap
38 Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39 Pertemuan dengan Masa Lalu
40 Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41 Orang Terdekat
42 Bayangan di Dalam Lingkaran
43 Permainan Dimulai
44 Umpan Rahasia
45 Wajah Pengkhianatan
46 Jawaban yang Terlambat
47 Pengkhianatan yang Terungkap
48 Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49 Pertemuan Terlarang
50 Pertempuran Dimulai
51 Langkah Balasan
52 Bayangan di Balik Permainan
53 Undangan dalam Kegelapan
54 Perang Dimulai
55 Retakan Kepercayaan
56 Serangan di Pasar
57 Langkah Balasan
58 Serangan dari Bayangan
59 Umpan yang Berbalik
60 Langkah di Balik Tirai
61 Serangan Balik
62 Bayangan yang Lebih Dalam
63 Perang yang Sebenarnya
64 Langkah yang Tak Terduga
65 Saat Perang Membuka Topeng
66 Titik Tanpa Kembali
67 Fase Kedua Dimulai
68 Aliansi dan Pengkhianatan
69 Retakan di Dalam Aliansi
70 Saat Semua Topeng Jatuh
71 Langkah di Tengah Kekacauan
72 Langkah Balik yang Tak Terduga
73 Benturan Pertama
74 Retakan di Balik Kekuasaan
75 Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76 Kebenaran di Dalam Flashdisk
77 Bayangan di Atas Segalanya
78 Undangan ke Dalam Permainan
79 Ujian dari Sang Penguasa
80 Hari Penentuan
81 Jawaban yang Dijanjikan
82 Masuk ke Sarang Serigala
83 Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84 Pilihan yang Mustahil
85 Topeng yang Retak
86 Bayangan yang Menjawab
87 Di Dalam Jebakan
88 Menembus Inti Kegelapan
89 Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90 Detik Penentuan
91 Saat Semua Dipertaruhkan
92 Di Ambang Kehancuran
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Cowok di Halte Itu
2
Pilih Aku… atau Keluarga?
3
Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
4
Cinta yang Tidak Lagi Cukup
5
Masa Lalu yang Mengejar
6
Rumah yang Katanya Aman
7
Nama yang Hilang
8
Belajar Jadi Lebih Besar
9
Runtuh Sampai Dasar
10
Nama yang Masih Sama
11
Tatapan yang Nggak Pernah Siap
12
Pelan-Pelan Bangkit
13
Luka yang Nggak Kelihatan
14
Pintu yang Mulai Bergetar
15
Pertemuan yang Ditunggu
16
KATA YANG TERTAHAN
17
Bukan Sekadar Singgah
18
Kalau Ini Namanya Pulang
19
Panggilan yang Mengubah Segalanya
20
Nama yang Terkubur Hujan
21
Kesempatan Kedua
22
Rumah yang Mulai Utuh
23
Datang Tanpa Diundang
24
Bayangan yang Mulai Bergerak
25
Hujan yang Membasuh Luka
26
Rumah yang Kembali Bernapas
27
Janji yang Tetap Tinggal
28
Tenang Sebelum Badai Kedua
29
Luka Lama yang Bangkit Lagi
30
Janji yang Tidak Akan Gugur
31
Retakan yang Hampir Terlihat
32
Ancaman yang Menyentuh Rumah
33
Pilihan yang Menyakitkan
34
Setelah Badai, Apa yang Tersisa?
35
Musuh Tanpa Wajah
36
Bayangan dari Masa Lalu
37
Nama yang Mulai Terungkap
38
Luka yang Tidak Pernah Sembuh
39
Pertemuan dengan Masa Lalu
40
Garis yang Tidak Boleh Dilewati
41
Orang Terdekat
42
Bayangan di Dalam Lingkaran
43
Permainan Dimulai
44
Umpan Rahasia
45
Wajah Pengkhianatan
46
Jawaban yang Terlambat
47
Pengkhianatan yang Terungkap
48
Umpan Berjalan, Permainan Dimulai
49
Pertemuan Terlarang
50
Pertempuran Dimulai
51
Langkah Balasan
52
Bayangan di Balik Permainan
53
Undangan dalam Kegelapan
54
Perang Dimulai
55
Retakan Kepercayaan
56
Serangan di Pasar
57
Langkah Balasan
58
Serangan dari Bayangan
59
Umpan yang Berbalik
60
Langkah di Balik Tirai
61
Serangan Balik
62
Bayangan yang Lebih Dalam
63
Perang yang Sebenarnya
64
Langkah yang Tak Terduga
65
Saat Perang Membuka Topeng
66
Titik Tanpa Kembali
67
Fase Kedua Dimulai
68
Aliansi dan Pengkhianatan
69
Retakan di Dalam Aliansi
70
Saat Semua Topeng Jatuh
71
Langkah di Tengah Kekacauan
72
Langkah Balik yang Tak Terduga
73
Benturan Pertama
74
Retakan di Balik Kekuasaan
75
Langkah Terakhir Seorang Pengkhianat
76
Kebenaran di Dalam Flashdisk
77
Bayangan di Atas Segalanya
78
Undangan ke Dalam Permainan
79
Ujian dari Sang Penguasa
80
Hari Penentuan
81
Jawaban yang Dijanjikan
82
Masuk ke Sarang Serigala
83
Gerbang Tanpa Jalan Kembali
84
Pilihan yang Mustahil
85
Topeng yang Retak
86
Bayangan yang Menjawab
87
Di Dalam Jebakan
88
Menembus Inti Kegelapan
89
Bentuk Sebenarnya dari Kegelapan
90
Detik Penentuan
91
Saat Semua Dipertaruhkan
92
Di Ambang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!