Di sebuah bar mewah dengan pencahayaan remang dan aroma alkohol yang menyengat, Cakra duduk di sudut ruangan. Botol whisky di depannya sudah hampir kosong setengahnya. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena rasa dikhianati yang membakar dadanya.
"Brengsek!" umpat Cakra seraya membanting sloki kosongnya ke meja. "Dua tahun, Hana... Dua tahun aku menjadikanmu ratu, tapi kau malah memilih menjadi sampah!"
Ia tertawa getir, tawa yang terdengar seperti rintihan. Di otaknya, bayangan Hana yang berantakan di atas ranjang bersama Riko terus berputar seperti kaset rusak. Ia tidak tahu bahwa itu adalah dekorasi busuk oleh ibunya sendiri.
"Ternyata benar kata Mamah. Kamu hanya menginginkan hartaku, dan saat aku lengah, kamu mencari kepuasan lain," racaunya sendiri. Ia kembali menuang minuman, mencoba menenggelamkan bayangan wajah Hana yang menangis tersedu tadi. Namun, semakin ia minum, semakin rasa sakit itu mencengkeramnya.
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana namun asri, suasana terasa jauh lebih tenang namun mencekam oleh kesedihan. Hana duduk di sofa ruang tamu Evi, menggenggam gelas air putih yang sudah mendingin.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, Han," ucap Evi dengan nada gemetar karena menahan amarah. "Nyonya Inggit itu bukan manusia, dia iblis berwajah sosialita! Dan Cakra... bagaimana bisa laki-laki yang terlihat sangat mencintaimu itu mendadak buta dan tuli?"
Hana menyeka sisa air mata di pipinya. Tatapannya yang tadi kosong kini mulai menajam. "Mas Cakra tidak pernah benar-benar mencintaiku, Vi. Dia hanya mencintai citra diriku yang patuh. Begitu Mamah nya meniupkan racun, cintanya langsung berubah menjadi debu."
Hana mengusap perutnya dengan gerakan protektif. "Tapi aku bersyukur. Tuhan menunjukkan wajah asli mereka sekarang, sebelum anak ini lahir dan harus melihat ibunya dihina setiap hari."
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Evi lembut, tangannya mengusap bahu sahabatnya. "Kamu tahu kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau, Han."
Hana menggeleng pelan, sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. "Terima kasih, Vi. Tapi aku tidak bisa terus di sini. Jika Nyonya Inggit tahu aku bersamamu, dia akan memburuku dan memastikan aku benar-benar hancur. Aku harus menghilang."
"Menghilang? Maksudmu?"
"Aku akan pergi ke kota kelahiran Ibuku. Aku punya tabungan rahasia yang selama ini ku pendam untuk keadaan darurat. Aku akan membangun hidup baru di sana. Hana yang lemah sudah mati di apartemen itu malam tadi."
Hana menatap Evi dengan mata yang tak lagi mengeluarkan air mata.
"Vi, berjanjilah padaku satu hal. Jika suatu saat Mas Cakra atau keluarganya mencariku, walaupun itu mustahil, tapi katakanlah pada mereka bahwa Hana Zakiyah sudah mati. Jangan pernah biarkan mereka tahu tentang anak ini. Dia adalah milikku sepenuhnya. Darah dagingku, bukan bagian dari keluarga terkutuk itu."
Evi memeluk Hana erat, ikut merasakan tekad baja yang kini menyelimuti sahabatnya. Di luar, hujan mulai turun, seolah ikut membasuh jejak masa lalu Hana yang kelam.
.
.
Keesokan paginya, matahari merayap masuk melalui celah gorden kamar tamu di rumah Evi. Hana terbangun dengan mata yang terasa bengkak dan berat. Namun, ada yang berbeda. Getaran hebat di tubuhnya semalam telah berganti menjadi ketenangan yang menakutkan, seperti permukaan laut yang tenang sebelum badai besar tiba.
Di sisi lain kota, di sebuah bar yang mulai sepi dan berbau alkohol basi, Cakra terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Ia meringis, mencoba mengingat potongan kejadian semalam. Bayangan Hana yang bersimpuh di kakinya melintas, namun segera ia tepis dengan rasa muak yang kembali membuncah.
"Sialan," umpat Cakra seraya merogoh ponselnya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari ibunya.
Ia kembali meneguk sisa air mineral di meja sebelum bangkit dengan langkah gontai. Di benaknya, hanya ada satu tekad, yakni menghapus segala hal tentang Hana dari hidupnya. Ia tidak tahu, bahwa di saat yang sama, Hana sedang merencanakan hal yang jauh lebih besar.
Rumah Evi
Hana duduk di meja makan, menatap piring sarapan yang disediakan Evi tanpa selera. Evi memperhatikan sahabatnya itu dengan cemas.
"Makanlah sedikit, Han. Demi bayi di perutmu. Kamu butuh energi untuk menyusun rencana selanjutnya," ujar Evi lembut.
Hana mengangkat wajahnya. Matanya kini tajam, tak ada lagi sisa keraguan. "Aku tidak akan tinggal di kota ini, Vi. Aku harus pergi jauh. Mas Cakra punya segalanya; uang, kekuasaan, dan pengaruh ibunya. Kalau aku tetap di sini, mereka akan dengan mudah menemukanku jika suatu saat mereka berubah pikiran atau sekadar ingin menghinaku lagi."
Evi mengangguk setuju. "Lalu Apa kamu sudah mantap dengan keputusan mu itu Han, kau benar-benar punya tabungan?" tanya Evi ragu dan untuk kembali memastikan.
Hana mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Di dalamnya terdapat beberapa perhiasan peninggalan ibunya dan buku tabungan rahasia yang selama ini ia sisihkan dari uang belanja.
"Ibu dulu berpesan, 'Simpanlah sesuatu untuk dirimu sendiri, karena kamu tidak pernah tahu kapan duniamu akan runtuh'. Ternyata Ibu benar," ucap Hana dengan senyum getir. "Aku akan ke kota kelahiran Ibu di pelosok Jawa Timur. Di sana ada rumah tua peninggalan kakek yang masih atas nama Ibu. Mas Cakra tidak tahu tempat itu."
"Tapi Han, di sana kamu sendirian..."
"Aku tidak sendiri, Vi. Aku punya dia," Hana mengusap perutnya. "Dan aku punya dendam yang akan menjagaku tetap hidup."
Di Apartemen
Cakra tiba di apartemen dengan emosi yang masih meluap. Ia berniat mengusir Hana secara paksa jika wanita itu masih berani menampakkan diri. Namun, saat pintu terbuka, kesunyian menyambutnya.
Apartemen itu rapi. Terlalu rapi. Kamar utama kosong. Lemari pakaian Hana terbuka, hanya menyisakan gantungan baju yang bergoyang tertiup angin dari jendela yang terbuka. Tidak ada surat, tidak ada pesan, bahkan foto pernikahan mereka di atas nakas sudah hancur berkeping-keping di dalam tempat sampah.
"Baguslah kalau dia tahu diri," gumam Cakra, mencoba meyakinkan hatinya yang tiba-tiba merasa sesak.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah kotak kecil yang tergeletak di atas meja makan. Di sampingnya ada kunci apartemen. Cakra membukanya. Isinya adalah cincin kawin mereka dan selembar hasil tes laboratorium yang terlipat rapi.
Cakra mengerutkan kening. Ia membuka lipatan kertas itu.
Hasil Laboratorium: POSITIF (HCG)
Usia Kandungan: 6 Minggu
Darah di sekujur tubuh Cakra seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. "Hamil? Hana... hamil?"
Ponselnya berdering. Nama 'Mamah' muncul di layar. Cakra mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"Cakra, sayang? Kamu sudah urus perceraiannya? Mamah sudah siapkan pengacara terbaik agar wanita itu tidak dapat sepeser pun harta kamu," suara Nyonya Inggit terdengar riang di seberang sana.
Cakra menatap kertas di tangannya, lalu menatap lemari yang kosong melompong. Hana pergi. Dan dia membawa pergi satu hal yang paling didambakan Cakra selama dua tahun ini, yaitu seorang ahli waris.
"Dia sudah pergi, Mah," bisik Cakra parau.
"Bagus! Biarkan dia pergi ke selokan tempat asalnya!"
"Dia pergi... membawa anakku, Mah."
Hening di seberang telepon. Cakra meremas kertas itu hingga lecek. Rasa kemenangan yang dirasakan Nyonya Inggit semalam mendadak berubah menjadi kepanikan. Namun bagi Hana, ini barulah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk menunjukkan pada mereka, bahwa kasta rendah yang mereka injak bisa menjadi badai yang menghancurkan istana mereka.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Ria Gazali Dapson
kadang heran, knp ya, mertua perempuan, g pernah akur sm menantu perempuan, pdhal mah, kalo ketakutan, g usah d kawinin anak nya , beress kan, jomblo seumur hidup, kekepin deh
2026-03-20
1
Iryani levana khrisna Khrisna
makan tuh emosi nyesel kan emang enak untung bukan aku yang jadi istrinya 🤣🤣
2026-04-19
1
Teh Yen
rasain lu baru nyaho kan istrimu lagi hamil d bawa ankmu pergi jauh ,, emosian aj sih bukan cari fakta nya dulu benar tidaknya malah main talak aj huuh 😤
2026-02-12
1