Mencari Hana

Langkah kaki Cakra yang biasanya tegap dan penuh otoritas, kini terasa limbung saat ia berlari menuju mobilnya. Deru mesin mobil sport nya membelah kemacetan Jakarta dengan brutal. Di kepalanya hanya ada satu nama: Hana. Kertas hasil laboratorium yang sudah lecek itu ia cengkeram erat, seolah-olah itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa baginya.

"Sial! Kenapa kamu tidak bilang, Han?!" raungnya di dalam mobil, memukul kemudi dengan frustrasi.

Stasiun Gambir

Sementara itu, suasana di peron stasiun terasa dingin meski matahari mulai meninggi. Evi memeluk Hana erat-erat, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya yang kini tampak begitu rapuh namun sekaligus kokoh seperti batu karang.

"Keretanya sebentar lagi berangkat, Han. Kamu yakin tidak mau aku temani sampai Banyuwangi?" tanya Evi cemas.

Hana menggeleng pelan, senyumnya tipis namun penuh tekad. "Tidak, Vi. Kamu sudah melakukan terlalu banyak. Kamu harus segera pergi dari rumahmu, entah kenapa firasat ku mengatakan bahwa Mas Cakra pasti akan ke sana. Jangan biarkan dia tahu apa pun."

'aku lupa mengambil kembali hasil laboratorium kehamilan yang aku letakkan di atas meja makan, pasti Mas Cakra sudah tahu soal kehamilan ku, kenapa aku begitu ceroboh!' batinnya menyesal.

"Hati-hati, Han. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah kakekmu," bisik Evi.

Hana mengangguk, ia melangkah masuk ke gerbong eksekutif. Saat kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Jakarta, Hana menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela.

'Selamat tinggal, Mas Cakra. Selamat tinggal, penderitaan, batinnya.

Mansion Ardiwinata

Di sudut ruang tengah mansion yang megah, Nyonya Inggit berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat. Kabar tentang kehamilan Hana adalah bencana bagi rencananya. Di sampingnya, Jesika duduk dengan senyum miring yang licik.

"Tenang saja, Tante. Mas Cakra itu sedang emosional. Kita hanya perlu memberinya 'fakta' baru," bisik Jesika, lalu mendekat ke telinga Nyonya Inggit. "Katakan saja pada Mas Cakra kalau Hana sering bertemu laki-laki lain saat Mas Cakra lembur. Buat dia ragu kalau itu anaknya. Toh, mereka sudah bercerai, kan?"

Nyonya Inggit menyeringai. "Kamu benar, Jes. Aku tidak akan membiarkan anak dari kasta rendah itu masuk ke silsilah keluarga Ardiwinata."

Tanpa mereka sadari, di balik pintu perpustakaan yang sedikit terbuka, Tuan Ardiwinata duduk di kursi rodanya. Tangannya yang gemetar meremas sandaran kursi. Matanya memerah menahan amarah dan kesedihan.

'Hana... menantuku yang malang, batin Tuan Ardiwinata.

Ia ingat bagaimana Hana dengan sabar menyuapinya dan membacakan buku setiap pagi, hal yang bahkan tidak pernah dilakukan istri atau anaknya sendiri. Namun, lidahnya seolah kelu, dan tubuhnya yang lumpuh membuatnya tidak berdaya melawan tirani istrinya sendiri.

Satu jam kemudian, Cakra tiba di depan rumah Evi. Ia menggedor pintu kayu itu dengan kalap.

"Evi! Buka pintunya! Aku tahu Hana ada di dalam!" teriak Cakra.

Hening. Tidak ada jawaban. Cakra mencoba mengintip dari jendela, namun gorden tertutup rapat. Ia segera menghubungi anak buahnya melalui ponsel.

"Cari keberadaan Evi dan Hana! Periksa seluruh jadwal penerbangan, Sekarang!" perintahnya dengan suara menggelegar.

Namun, Evi sudah bergerak lebih cerdik. Mengetahui suaminya sedang dinas luar kota, ia telah mengunci rumahnya dan mengungsi ke rumah saudaranya di pinggiran kota yang tak pernah diketahui oleh lingkaran pertemanan Cakra.

Malam semakin larut di kota Jakarta, namun Cakra masih terpaku di meja kerjanya yang berantakan. Laporan dari anak buahnya nihil. Hana seolah menguap ditelan bumi. Tidak ada manifes penerbangan atas namanya, karena Hana sengaja menggunakan kereta api, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Cakra yang terbiasa dengan kemewahan.

Cakra menatap foto pernikahan mereka yang sudah hancur, yang ia ambil dari tempat sampah apartemen tadi siang. Ia mencoba menyatukan sobekan wajah Hana yang tersenyum tulus di foto itu.

"Kenapa aku baru merasa kehilangan sekarang?" bisiknya parau. Penyesalan itu datang seperti ombak besar yang menenggelamkannya. Ia telah membuang wanita yang mencintainya, tepat di saat wanita itu membawa anugerah yang selama ini ia doakan.

Di saat yang sama, di dalam kegelapan gerbong kereta yang melaju membelah malam menuju Jawa Timur, Hana mengelus perutnya yang masih rata. Ia menatap kegelapan di luar jendela dengan pandangan kosong.

"Kita akan baik-baik saja, Sayang," bisik Hana lirih. "Ayahmu mengira dia telah memenangkan segalanya, tapi dia tidak tahu bahwa dia baru saja kehilangan dunianya."

.

.

Langkah Cakra terseret saat memasuki lobi Mansion Ardiwinata yang megah. Lampu kristal yang bersinar terang biasanya memberikan kesan hangat, namun malam ini, cahaya itu terasa menusuk matanya.

Nyonya Inggit yang sudah menunggu di ruang tengah segera berdiri, wajahnya dipasang seolah-olah penuh simpati. Di sampingnya, Jesika masih setia menemani, memegang secangkir teh hangat yang aromanya memenuhi ruangan.

"Cakra, akhirnya kamu pulang, Sayang. Sudahlah, jangan cari dia lagi," ujar Nyonya Inggit seraya mendekat dan mencoba menyentuh bahu putranya. "Soal hasil laboratorium itu... kamu jangan naif. Hana itu licik. Siapa yang bisa menjamin itu anakmu? Kamu sendiri yang melihat dia di apartemen dengan Riko, kan? Bukan cuma Riko, mungkin saja dengan laki-laki lainnya. Mama dengar dari pelayan, dia sering keluar malam saat kamu di kantor."

Cakra berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. Rahangnya mengeras. Setiap kata yang keluar dari mulut ibunya terasa seperti racun yang mencoba membunuh sisa-sisa nuraninya. Namun, di dalam hati kecilnya, bayangan mata Hana yang menangis tersedu saat bersimpuh di kakinya terus menghantui. Hati kecilnya berteriak bahwa Hana tidak mungkin berkhianat.

"Sudah cukup, Mah. Aku lelah dan ingin istirahat!" potong Cakra dengan suara rendah namun tajam. Ia tidak ingin berdebat, tenaganya sudah habis terkuras oleh rasa penyesalan yang mulai menggerogoti.

Saat Cakra membalikkan badan menuju tangga, suara decit kursi roda terdengar dari arah lorong gelap. Tuan Ardiwinata muncul, wajahnya yang biasanya pucat kini tampak penuh dengan ketegasan yang sudah lama tidak terlihat.

"Cakra, putraku... Berhenti," panggil Tuan Ardiwinata dengan suara serak.

Nyonya Inggit terperanjat. "Mas? Kenapa kamu belum tidur? Ini urusan anak muda, jangan ikut campur!"

Tuan Ardiwinata mengabaikan istrinya. Ia memberi isyarat agar Cakra mendekat. "Jangan pernah kau percaya dengan perkataan dari ibumu, Cakra. Hana bukanlah wanita seperti itu. Dia adalah wanita baik-baik dan terhormat."

Cakra terpaku, ia berlutut di depan kursi roda ayahnya.

"Kau tahu bagaimana istrimu merawat Papah selama ini," lanjut Tuan Ardiwinata dengan mata berkaca-kaca. "Kalau saja ibumu tidak terus-menerus merendahkannya dan memperlakukannya tidak manusiawi, mungkin Hana betah tinggal di sini. Bagi istrimu, mansion ini sudah seperti neraka untuknya."

Cakra tertegun. "Maksud Papah?"

"Asal kau tahu, Papah lah yang mengusulkan Hana untuk pindah dari sini. Papah tidak tega melihatnya terus tersiksa. Mungkin selama ini Hana tidak pernah cerita padamu, Cakra... Tapi Papah melihat semua perlakuan ibumu dengan mata kepala Papah sendiri. Maafkan Papah karena baru mengatakan semua kenyataan pahit ini sekarang. Hana-lah yang melarang Papah bicara; ia tidak mau kau membenci ibumu sendiri."

Kalimat itu bagai petir yang menyambar kesadaran Cakra. Ia menoleh ke arah Nyonya Inggit yang kini mematung dengan wajah pucat pasi. Segala kepingan puzzle mulai menyatu di benak Cakra. Kebaikan Hana, kesabarannya, dan kepergiannya yang mendadak, semuanya karena ia telah gagal menjadi pelindung bagi istrinya sendiri.

Cakra kembali menatap ayahnya, lalu menggenggam kuat tangan pria tua itu. "Terima kasih atas semua infonya, Pah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."

Dalam benaknya, nama Riko muncul sebagai kunci utama. Kejadian di apartemen itu terlalu janggal. Ia harus menemukan bajingan itu dan memeras kebenaran dari mulutnya, apa pun caranya.

Banyuwangi, Jawa Timur

Di saat yang sama, ribuan kilometer dari hiruk-pikuk Jakarta, Hana melangkah pelan memasuki sebuah rumah tua dengan dinding kayu yang masih kokoh. Bau tanah basah dan aroma kayu jati menyambutnya. Rumah peninggalan kakeknya itu terasa dingin, namun bagi Hana, inilah tempat paling aman di dunia.

Ia meletakkan tasnya di atas balai-balai kayu. Di dinding, masih tergantung foto tua kakek dan ibunya yang sedang tersenyum.

"Ibu... Kakek... Hana pulang," bisik Hana lirih. Air matanya menetes, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rindu yang teramat sangat. "Hana butuh kalian..."

Ia mengusap perutnya, merasakan denyut kehidupan yang mulai tumbuh di sana. Di tempat terpencil ini, tidak ada Nyonya Inggit yang menghinanya, tidak ada Cakra yang meragukannya. Hanya ada dia, bayinya, dan kenangan masa kecil yang menenangkan.

Hana memejamkan mata, menghirup udara pedesaan yang bersih. Ia tahu perjuangannya baru saja dimulai. Ia harus menjadi kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk nyawa kecil yang kini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap berdiri tegak.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Preeettlah nyeselmu ga guna tepung Cakra karna intinya kamu lebih percaya pada Ibumu da asumsimu sendiri dan ga pernah percaya Hana sama sekali.
coba saja kamu percaya bahwa kamu percaya pada istrimu dan melihat upaya dia selama menjadi iatrimu mungkin kamu ga akan dengan mudah jatuhin langsung kata talak saat Hana jelasin apa yang sebenarnya terjadi.😤

2026-05-25

2

Sandisalbiah

Sandisalbiah

harusnya org kaya itu rumah atau apartemen kan di pasang CCTV tp kalau dasarnya Cakra ini bego ya mau gimana lagi.. menelan bukat² ucapan toxic ibunya tanpa mencari tau kebenarannya.. dua tahun jd istri masak dia tdk bisa menilai sifat, sikap dan pribadi Hana bagai mana.. sebodoh itukah dia..?

2026-06-09

1

Shanty

Shanty

w. o. w banyuwangi kota kelahiran ku Thor,,, selamat datang hana

2026-03-12

1

lihat semua
Episodes
1 Jebakan licik
2 Kenyataan yang pahit
3 Mencari Hana
4 Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra
5 Si jenius El-Barack
6 Terkena musibah
7 Rahasia di masalalu
8 Masalalu yang datang kembali
9 Kenyataan pahit
10 Luka yang belum bisa pulih
11 Runtuhnya dinding ego demi menyelamatkan diri
12 Mengungkap kisah pilu Hana
13 Rumah baru dan kehidupan baru Hana dimulai
14 Pertemuan tidak terduga
15 Rencana Pak Sutoyo
16 Sekolah baru untuk El
17 Jabatan CEO untuk Hana
18 Roti Pizza dan momen yang manis
19 Penampilan Hana yang berbeda
20 Hari pertama menjadi CEO
21 Mengapa harus bertemu denganmu?
22 Rencana Hana
23 Ancaman Cakra
24 Rencana Cakra untuk bertemu dengan El-Barack
25 Pertemuan pertama yang berkesan
26 Nasi goreng Spesial untuk Ayah
27 Pertemuan yang tidak di duga
28 Peringatan Cakra terhadap ibunya
29 Cakra yang nekat dan Hana yang menggila
30 Keputusan yang sudah bulat
31 Membawa El pergi
32 Rencana yang gagal
33 Mengikhlaskan Hana
34 Pernikahan kedua untuk Hana
35 Batasan di malam pertama
36 Kado spesial untuk pengantin baru
37 Hana sakit part 1
38 Hana sakit Part 2
39 Duo lampir mencelakai Hana
40 Menyelematkan mu, belahan jiwa ku
41 Benih cinta yang mulai tumbuh
42 Pengakuan Tama
43 Cinta yang terbalaskan
44 Bahagia bersamamu
45 Kecemasan di tengah badai
46 Merindukanmu
47 Akhirnya berkata jujur
48 Jalan-jalan ke taman safari
49 Bertemu dengan pengagum rahasia
50 Permintaan El yang mengejutkan
51 Api cemburu Tama
52 Tama yang protektif
53 Kejutan untuk suami tercinta
54 Kabar bahagia yang sedang menanti
55 Menjadi suami siaga
56 Tamu tidak di duga
57 Sikap yang mencurigakan
58 Tetap waspada
59 pergi menemui Cakra
60 Sikap Tama yang bijak
61 Cakra yang berulah
62 Rencana Tama
63 Acara ulangtahun El-Barack
64 El Barak yang tersakiti, Tama mulai meradang
65 Skandal Cakra
66 Rencana busuk
67 Kecurigaan Tama
68 Mengintrogasi Ratna
69 Membujuk Hana yang marah dan cemburu buta
70 Acara pelantikan yang menegangkan
71 Hukuman dan penyesalan
72 Doa yang terkabul dan kejutan yang tidak terduga
73 Keputusan Tuan Ardiwinata
74 Pernikahan Cakra dan Ratna
75 Pulang ke kampung halaman
76 Transaksi membayar hutang yang mengejutkan
77 Mancing di sungai
78 Perpisahan yang mengharukan
79 Rasa syukur tiada tara
80 Acara tujuh bulanan
81 Kado terindah untuk Ratna
82 Kontraksi di Mall
83 Lahirnya si kembar
84 Ararya dan Aishara
85 Kontraksi Ratna di acara aqiqah si kembar
86 Dua keluarga yang bahagia selamanya
87 Pengumuman karya terbaruku
88 Pengumuman karya terbaruku di bulan April
89 pengumuman karya terbaruku di bulan Mei
90 Pengumuman karya terbaruku di bulan Juni 2026
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Jebakan licik
2
Kenyataan yang pahit
3
Mencari Hana
4
Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra
5
Si jenius El-Barack
6
Terkena musibah
7
Rahasia di masalalu
8
Masalalu yang datang kembali
9
Kenyataan pahit
10
Luka yang belum bisa pulih
11
Runtuhnya dinding ego demi menyelamatkan diri
12
Mengungkap kisah pilu Hana
13
Rumah baru dan kehidupan baru Hana dimulai
14
Pertemuan tidak terduga
15
Rencana Pak Sutoyo
16
Sekolah baru untuk El
17
Jabatan CEO untuk Hana
18
Roti Pizza dan momen yang manis
19
Penampilan Hana yang berbeda
20
Hari pertama menjadi CEO
21
Mengapa harus bertemu denganmu?
22
Rencana Hana
23
Ancaman Cakra
24
Rencana Cakra untuk bertemu dengan El-Barack
25
Pertemuan pertama yang berkesan
26
Nasi goreng Spesial untuk Ayah
27
Pertemuan yang tidak di duga
28
Peringatan Cakra terhadap ibunya
29
Cakra yang nekat dan Hana yang menggila
30
Keputusan yang sudah bulat
31
Membawa El pergi
32
Rencana yang gagal
33
Mengikhlaskan Hana
34
Pernikahan kedua untuk Hana
35
Batasan di malam pertama
36
Kado spesial untuk pengantin baru
37
Hana sakit part 1
38
Hana sakit Part 2
39
Duo lampir mencelakai Hana
40
Menyelematkan mu, belahan jiwa ku
41
Benih cinta yang mulai tumbuh
42
Pengakuan Tama
43
Cinta yang terbalaskan
44
Bahagia bersamamu
45
Kecemasan di tengah badai
46
Merindukanmu
47
Akhirnya berkata jujur
48
Jalan-jalan ke taman safari
49
Bertemu dengan pengagum rahasia
50
Permintaan El yang mengejutkan
51
Api cemburu Tama
52
Tama yang protektif
53
Kejutan untuk suami tercinta
54
Kabar bahagia yang sedang menanti
55
Menjadi suami siaga
56
Tamu tidak di duga
57
Sikap yang mencurigakan
58
Tetap waspada
59
pergi menemui Cakra
60
Sikap Tama yang bijak
61
Cakra yang berulah
62
Rencana Tama
63
Acara ulangtahun El-Barack
64
El Barak yang tersakiti, Tama mulai meradang
65
Skandal Cakra
66
Rencana busuk
67
Kecurigaan Tama
68
Mengintrogasi Ratna
69
Membujuk Hana yang marah dan cemburu buta
70
Acara pelantikan yang menegangkan
71
Hukuman dan penyesalan
72
Doa yang terkabul dan kejutan yang tidak terduga
73
Keputusan Tuan Ardiwinata
74
Pernikahan Cakra dan Ratna
75
Pulang ke kampung halaman
76
Transaksi membayar hutang yang mengejutkan
77
Mancing di sungai
78
Perpisahan yang mengharukan
79
Rasa syukur tiada tara
80
Acara tujuh bulanan
81
Kado terindah untuk Ratna
82
Kontraksi di Mall
83
Lahirnya si kembar
84
Ararya dan Aishara
85
Kontraksi Ratna di acara aqiqah si kembar
86
Dua keluarga yang bahagia selamanya
87
Pengumuman karya terbaruku
88
Pengumuman karya terbaruku di bulan April
89
pengumuman karya terbaruku di bulan Mei
90
Pengumuman karya terbaruku di bulan Juni 2026

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!