Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra

Langkah kaki Hana yang masih gemetar karena kelelahan terhenti saat mendengar suara derit pintu pagar kayu yang sudah tua. Dua sosok wanita berjalan tergesa-gesa dari arah jalan setapak, membawa keranjang anyaman yang berisi sayur-mayur segar.

Wanita yang lebih tua memicingkan mata, berusaha menghalau sinar mentari pagi hingga matanya membelalak sempurna.

"Ya ampun, Hana! Kamu Hana anaknya Mbak Lestari?" teriak wanita itu dengan suara bergetar karena tidak percaya.

Hana menoleh, senyum tipis yang getir mengembang di bibirnya yang pucat. "Bude Mina... aku pikir Bude lupa sama aku!" ucapnya lirih. Ia segera menghambur ke pelukan wanita itu, mencari kehangatan yang selama ini hilang di Jakarta. Bude Minah adalah kakak satu ayah dengan mendiang ibunya Hana.

"Bude tidak akan pernah lupa sama kamu, Nduk. Hana kecil dan Hana yang sekarang, Bude masih kenal. Malah sekarang tambah cantik, kau mirip sekali dengan ibumu," puji Bude Minah sambil mengusap air mata yang mulai menggenang di pipi keponakannya itu.

Di belakangnya, seorang wanita muda dengan kain jarik sederhana ikut mendekat dengan wajah cerah. Rahma, sepupu Hana, menatapnya dengan binar kerinduan.

"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Hana! Kamu datang ke sini sendirian? Dengar-dengar kamu sudah menikah, Han. Mana suamimu?" tanya Rahma polos sambil menengok ke arah jalanan, berharap melihat mobil mewah atau sosok pria yang mendampingi Hana.

Seketika, tubuh Hana menegang. Senyumnya luntur, digantikan oleh tatapan kosong yang menyakitkan. Bude Minah yang sudah makan asam garam kehidupan segera menyadari perubahan raut wajah itu. Ia merangkul bahu Hana lebih erat, seolah ingin melindunginya dari badai yang tak terlihat.

Di dalam rumah yang remang-remang, di atas balai-balai kayu, Hana akhirnya menumpahkan segalanya. Suaranya terbata-bata menceritakan tentang fitnah keji Nyonya Inggit, pengkhianatan kepercayaan Cakra, hingga jebakan Riko yang menghancurkan martabatnya.

"Astaghfirullah... kenapa mereka begitu kejam sekali padamu, Hana? Semoga nanti Allah membalas semua perbuatan mereka. Kamu yang sabar ya, Nduk!" Bude Minah memeluk Hana yang menangis tersedu-sedu.

Rahma duduk di sampingnya, mengusap punggung Hana dengan lembut. "Yang sabar ya, Han. Kau tenang saja, di sini ada aku dan juga Ibu yang siap menemanimu selama di sini. Kebetulan rumah ini tidak ada yang isi dan memang diwariskan untukmu. Ibu selalu membersihkan rumah ini, berharap suatu saat kau pulang ke sini bersama dengan keluarga kecilmu..." Rahma terdiam sejenak, menyesali ucapannya yang terakhir, lalu menyambung, "Tapi tidak apa-apa, Hana. Di sini kamu aman."

Waktu bergulir seperti aliran sungai yang tenang namun pasti. Di pelosok Jawa Timur, Hana belajar untuk bangkit. Perutnya yang kian membuncit menjadi simbol harapan baru. Tak ada lagi air mata untuk Cakra; yang ada hanyalah doa untuk kekuatan bayinya.

Hingga suatu malam yang dingin, rintihan Hana memecah kesunyian desa. Dengan sigap, Bude Minah dan Rahma membawanya ke Puskesmas terdekat. Setelah perjuangan panjang yang mempertaruhkan nyawa, suara tangisan bayi laki-laki pecah, memenuhi ruangan yang sederhana itu.

"Selamat, Hana... anakmu tampan sekali. Wajahnya... sangat mirip dengan ayahnya," bisik Rahma saat meletakkan bayi merah itu di dekapan Hana, meskipun Rahma tidak pernah tahu seperti apa Wajahnya mantan suaminya Hana. Hana hanya tersenyum getir, mencium kening putranya yang memiliki garis rahang tegas, persis seperti pria yang dulu sangat ia cintai.

.

.

Sementara itu, di Mansion Ardiwinata, suasana terasa seperti kuburan. Cakra duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya ditemani botol minuman dan foto pernikahan yang kacanya sudah retak.

Beberapa bulan ini ia hidup seperti mayat hidup. Riko menghilang tanpa jejak seolah ditelan bumi, dan setiap informasi yang ia dapatkan selalu berujung pada jalan buntu. Nyonya Inggit tak henti-hentinya merongrongnya.

"Cakra, sampai kapan kamu mau begini? Lihat Jesika, dia selalu setia menunggumu. Menikahlah dengannya, hapus noda yang ditinggalkan wanita jal*ng itu!" bentak Nyonya Inggit suatu sore.

Cakra berdiri, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang terpendam. "Cukup, Mah! Jangan pernah sebut nama Hana dengan mulut itu lagi. Aku sudah tahu semuanya dari Papah. Kalau Mamah terus memaksa, aku akan pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah kembali!"

Jesika yang berdiri di ambang pintu hanya bisa terpaku. Cakra benar-benar telah mati rasa. Hatinya telah terkunci rapat, terkubur bersama rasa bersalah yang tak terhingga. Di setiap tidurnya, ia hanya memanggil satu nama.

"Hana... di mana kamu, Sayang? Maafkan aku..."

Cakra tidak tahu, bahwa di sebuah desa kecil, seorang anak laki-laki baru saja lahir ke dunia, membawa darah Ardiwinata yang mengalir dalam kehampaan tanpa seorang ayah.

Malam itu, Cakra baru saja hendak merebahkan tubuhnya yang lelah saat ponselnya bergetar hebat. Pesan dari Jefri singkat namun membakar adrenalin.

 "Tikus itu sudah masuk jebakan. Posisi: Gudang tua, pesisir Batam."

Tanpa pikir panjang, Cakra segera membelah langit malam dengan jet pribadinya. Baginya, setiap detik adalah siksaan sebelum ia berhasil menguliti kebenaran dari mulut Rico.

Jelang tengah malam, Cakra melangkah masuk ke dalam gudang yang lembap dan berbau karat. Di tengah ruangan, Rico terduduk lemas dengan tangan terikat tali tambang pada sebuah kursi kayu tua.

Lalu Cakra melangkah pelan, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Ayo cepat katakan padaku, Rico... Kau yang telah menjebak Hana, kan?"

Rico menyeringai licik, menatap Cakra dengan tatapan mengejek. "Kau itu bodoh, Cakra. Jelas-jelas istrimu itu menyukaiku. Dia yang mengundangku ke apartemen malam itu... dan kau tahu? Mungkin saja anak yang dikandungnya sekarang adalah darah dagingku." Riko telah mendapatkan kabar dari Nyonya Inggit soal kehamilan Hana beberapa bulan yang lalu dan ia pun dipaksa untuk mengakui bahwa Hana sedang mengandung darah dagingnya.

PLAK!

PLAK!

Dua tamparan keras mendarat di wajah Rico hingga sudut bibirnya robek dan mengucurkan darah segar. Amarah Cakra sudah berada di ubun-ubun.

"Aku tidak percaya dengan semua kebohonganmu! Katakan yang sebenarnya!"

Rico justru tertawa kecil, sebuah tawa yang seolah meremehkan martabat Cakra sebagai seorang suami. Kesabaran Cakra pun habis.

Cakra menoleh ke arah Jefri. "Jef, eksekusi pria iblis ini. Jangan beri ampun. Setelah kau habisi dia, buang mayatnya ke laut untuk menghilangkan bukti."

 "Baik, Tuan."

Jefri melangkah menuju sebuah lemari besar di sudut gudang. Saat lemari itu dibuka, ia mengeluarkan sebuah mesin gergaji pemotong kayu. Bunyi mesin yang menderu keras tiba-tiba memecah keheningan malam, menciptakan suasana mencekam yang membuat nyali Rico menciut.

wajahnya Rico telah berubah menjadi pucat pasi. "Kau jangan macam-macam, Cakra! Aku ini sepupumu!"

Cakra yang posisinya membelakangi Rico, ia pun berbicara dengan nada dingin. "Aku tidak akan pernah mengakui pria menjijikkan sepertimu sebagai sepupuku. Membusuklah kau di neraka! Jef, hancurkan tubuhnya, jangan sampai ada yang tersisa!"

"Hey, bedebah! Kau sudah sinting ya?! Lepaskan aku! Jauhkan mesin itu!"

Jefri semakin mendekat. Mata gergaji yang berputar cepat itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Rico. Angin dari putaran mesin itu mulai menerpa kulitnya. Ketakutan akan kematian akhirnya meruntuhkan keangkuhannya.

"STOP! Oke, oke! Aku bicara! Semuanya adalah rencana dari ibumu, tante Inggit, dan Jesika!"

Langkah Jefri terhenti. Mesin gergaji masih menderu, namun Cakra mematung.

Rico bicara dengan napas memburu.

"Mereka dalangnya! Aku hanya dibayar untuk mendekati Hana dan memfitnahnya. Kami menggunakan lilin aromaterapi untuk membius Hana. Saat dia tak sadar, pacarku membantu melepaskan pakaiannya agar terlihat seolah kami telah melakukannya. Semuanya sandiwara, Cakra! Semuanya palsu!"

Dunia seolah runtuh menimpa bahu Cakra. Kebenaran itu lebih tajam daripada mata gergaji yang ada di depan Rico. Bayangan wajah Hana yang menangis tersedu saat ia mengusirnya tujuh bulan lalu, kini kembali menghantui pikirannya.

"AAAAAARRRRGGGHHHH!"

Cakra berteriak histeris. Tubuhnya yang gagah itu ambruk ke lantai gudang yang dingin. Ia memukuli lantai beton itu dengan kepalan tangannya hingga berdarah, mengabaikan rasa sakit fisiknya demi meredam rasa sakit di dadanya.

Air mata jatuh tak terbendung. Setiap isakannya adalah bentuk penyesalan yang terlambat.

"Hana... maafkan aku. Aku begitu bodoh karena tidak mempercayaimu. Aku telah menghancurkan hidupmu dan calon bayi kita karena fitnah keji ini..." batinnya meraung dalam tangis yang memilukan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Teh Yen

Teh Yen

setelah kamu tau kebenarannya lalu apa yg kan kamu lakukan pada Rico ,,ibumu d Jessica aku penasaran hukuman apa yg setimpal dengan kejahatan mereka hemmm 😏

2026-02-13

1

neny

neny

trus klau sdh begini,, gmn yah?,,aq ge bingung,,🤣🤣lanjut kak💪😘

2026-02-06

1

RosMa🌹🌹🌹

RosMa🌹🌹🌹

makanya harus cari bukti dulu sebelum bertindak🥹

2026-02-06

1

lihat semua
Episodes
1 Jebakan licik
2 Kenyataan yang pahit
3 Mencari Hana
4 Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra
5 Si jenius El-Barack
6 Terkena musibah
7 Rahasia di masalalu
8 Masalalu yang datang kembali
9 Kenyataan pahit
10 Luka yang belum bisa pulih
11 Runtuhnya dinding ego demi menyelamatkan diri
12 Mengungkap kisah pilu Hana
13 Rumah baru dan kehidupan baru Hana dimulai
14 Pertemuan tidak terduga
15 Rencana Pak Sutoyo
16 Sekolah baru untuk El
17 Jabatan CEO untuk Hana
18 Roti Pizza dan momen yang manis
19 Penampilan Hana yang berbeda
20 Hari pertama menjadi CEO
21 Mengapa harus bertemu denganmu?
22 Rencana Hana
23 Ancaman Cakra
24 Rencana Cakra untuk bertemu dengan El-Barack
25 Pertemuan pertama yang berkesan
26 Nasi goreng Spesial untuk Ayah
27 Pertemuan yang tidak di duga
28 Peringatan Cakra terhadap ibunya
29 Cakra yang nekat dan Hana yang menggila
30 Keputusan yang sudah bulat
31 Membawa El pergi
32 Rencana yang gagal
33 Mengikhlaskan Hana
34 Pernikahan kedua untuk Hana
35 Batasan di malam pertama
36 Kado spesial untuk pengantin baru
37 Hana sakit part 1
38 Hana sakit Part 2
39 Duo lampir mencelakai Hana
40 Menyelematkan mu, belahan jiwa ku
41 Benih cinta yang mulai tumbuh
42 Pengakuan Tama
43 Cinta yang terbalaskan
44 Bahagia bersamamu
45 Kecemasan di tengah badai
46 Merindukanmu
47 Akhirnya berkata jujur
48 Jalan-jalan ke taman safari
49 Bertemu dengan pengagum rahasia
50 Permintaan El yang mengejutkan
51 Api cemburu Tama
52 Tama yang protektif
53 Kejutan untuk suami tercinta
54 Kabar bahagia yang sedang menanti
55 Menjadi suami siaga
56 Tamu tidak di duga
57 Sikap yang mencurigakan
58 Tetap waspada
59 pergi menemui Cakra
60 Sikap Tama yang bijak
61 Cakra yang berulah
62 Rencana Tama
63 Acara ulangtahun El-Barack
64 El Barak yang tersakiti, Tama mulai meradang
65 Skandal Cakra
66 Rencana busuk
67 Kecurigaan Tama
68 Mengintrogasi Ratna
69 Membujuk Hana yang marah dan cemburu buta
70 Acara pelantikan yang menegangkan
71 Hukuman dan penyesalan
72 Doa yang terkabul dan kejutan yang tidak terduga
73 Keputusan Tuan Ardiwinata
74 Pernikahan Cakra dan Ratna
75 Pulang ke kampung halaman
76 Transaksi membayar hutang yang mengejutkan
77 Mancing di sungai
78 Perpisahan yang mengharukan
79 Rasa syukur tiada tara
80 Acara tujuh bulanan
81 Kado terindah untuk Ratna
82 Kontraksi di Mall
83 Lahirnya si kembar
84 Ararya dan Aishara
85 Kontraksi Ratna di acara aqiqah si kembar
86 Dua keluarga yang bahagia selamanya
87 Pengumuman karya terbaruku
88 Pengumuman karya terbaruku di bulan April
89 pengumuman karya terbaruku di bulan Mei
90 Pengumuman karya terbaruku di bulan Juni 2026
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Jebakan licik
2
Kenyataan yang pahit
3
Mencari Hana
4
Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra
5
Si jenius El-Barack
6
Terkena musibah
7
Rahasia di masalalu
8
Masalalu yang datang kembali
9
Kenyataan pahit
10
Luka yang belum bisa pulih
11
Runtuhnya dinding ego demi menyelamatkan diri
12
Mengungkap kisah pilu Hana
13
Rumah baru dan kehidupan baru Hana dimulai
14
Pertemuan tidak terduga
15
Rencana Pak Sutoyo
16
Sekolah baru untuk El
17
Jabatan CEO untuk Hana
18
Roti Pizza dan momen yang manis
19
Penampilan Hana yang berbeda
20
Hari pertama menjadi CEO
21
Mengapa harus bertemu denganmu?
22
Rencana Hana
23
Ancaman Cakra
24
Rencana Cakra untuk bertemu dengan El-Barack
25
Pertemuan pertama yang berkesan
26
Nasi goreng Spesial untuk Ayah
27
Pertemuan yang tidak di duga
28
Peringatan Cakra terhadap ibunya
29
Cakra yang nekat dan Hana yang menggila
30
Keputusan yang sudah bulat
31
Membawa El pergi
32
Rencana yang gagal
33
Mengikhlaskan Hana
34
Pernikahan kedua untuk Hana
35
Batasan di malam pertama
36
Kado spesial untuk pengantin baru
37
Hana sakit part 1
38
Hana sakit Part 2
39
Duo lampir mencelakai Hana
40
Menyelematkan mu, belahan jiwa ku
41
Benih cinta yang mulai tumbuh
42
Pengakuan Tama
43
Cinta yang terbalaskan
44
Bahagia bersamamu
45
Kecemasan di tengah badai
46
Merindukanmu
47
Akhirnya berkata jujur
48
Jalan-jalan ke taman safari
49
Bertemu dengan pengagum rahasia
50
Permintaan El yang mengejutkan
51
Api cemburu Tama
52
Tama yang protektif
53
Kejutan untuk suami tercinta
54
Kabar bahagia yang sedang menanti
55
Menjadi suami siaga
56
Tamu tidak di duga
57
Sikap yang mencurigakan
58
Tetap waspada
59
pergi menemui Cakra
60
Sikap Tama yang bijak
61
Cakra yang berulah
62
Rencana Tama
63
Acara ulangtahun El-Barack
64
El Barak yang tersakiti, Tama mulai meradang
65
Skandal Cakra
66
Rencana busuk
67
Kecurigaan Tama
68
Mengintrogasi Ratna
69
Membujuk Hana yang marah dan cemburu buta
70
Acara pelantikan yang menegangkan
71
Hukuman dan penyesalan
72
Doa yang terkabul dan kejutan yang tidak terduga
73
Keputusan Tuan Ardiwinata
74
Pernikahan Cakra dan Ratna
75
Pulang ke kampung halaman
76
Transaksi membayar hutang yang mengejutkan
77
Mancing di sungai
78
Perpisahan yang mengharukan
79
Rasa syukur tiada tara
80
Acara tujuh bulanan
81
Kado terindah untuk Ratna
82
Kontraksi di Mall
83
Lahirnya si kembar
84
Ararya dan Aishara
85
Kontraksi Ratna di acara aqiqah si kembar
86
Dua keluarga yang bahagia selamanya
87
Pengumuman karya terbaruku
88
Pengumuman karya terbaruku di bulan April
89
pengumuman karya terbaruku di bulan Mei
90
Pengumuman karya terbaruku di bulan Juni 2026

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!