Si jenius El-Barack

Cakra bangkit dari lantai gudang dengan mata yang merah padam. Bukan hanya karena tangis, tapi karena dendam yang kini berbalik arah. Tanpa memedulikan tangannya yang lebam, ia masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraan itu seperti orang kesetanan menuju kediaman utama keluarga Ardiwinata

Di ruang tamu yang mewah, Nyonya Inggit dan Jesika sedang bersulang teh sembari tertawa kecil, membicarakan rencana pertunangan yang mereka anggap sudah di depan mata.

"Jesika, setelah ini kau harus segera memberikan Cakra ahli waris. Kita harus pastikan harta keluarga ini tetap di tangan yang tepat," ujar Inggit dengan nada angkuh.

BRAK!

Pintu ganda itu terbuka paksa. Cakra berdiri di sana, napasnya menderu, menatap kedua wanita itu dengan tatapan yang bisa membunuh.

"Cakra? Sayang, kau dari mana saja? Kenapa tanganmu..." Jesika mendekat dengan wajah pura-pura cemas, mencoba menyentuh lengan Cakra.

"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, Jesika!" sentak Cakra hingga Jesika terjengkang ke belakang.

"Cakra! Apa-apaan kamu? Dia calon istrimu!" Inggit berdiri membela.

Cakra tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Calon istri? Atau rekan kriminal mu, Mah? Aku baru saja bertemu Rico. Dia sudah menceritakan semuanya. Lilin aromaterapi, fitnah keji itu... semuanya adalah rancangan kalian!"

Wajah Inggit memucat seketika, sementara Jesika mulai gemetar hebat.

"Sekarang juga, keluar dari rumahku, Jesika! Jika dalam sepuluh menit kau masih di sini, aku akan memastikan kau menyusul Rico ke balik jeruji besi atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik!" teriak Cakra menggelegar.

"Tapi Cakra, aku melakukan ini karena aku mencintaimu!" tangis Jesika pecah.

"CINTA? Kau menghancurkan wanita yang paling aku cintai dan kau sebut itu cinta? PERGI!"

Jesika lari terbirit-birit meninggalkan rumah itu tanpa sempat membawa tasnya. Kini, tersisa Cakra dan ibunya. Inggit mencoba memasang wajah tegar meski hatinya menciut.

"Ibu melakukan ini demi kebaikanmu, Cakra. Hana itu hanya gadis desa yang..."

"Cukup, Nyonya Inggit," potong Cakra dengan suara dingin yang menusuk tulang. "Mulai detik ini, aku tidak punya ibu seperti mu. Kau tetap bisa tinggal di sini, tapi jangan pernah muncul di hadapanku. Kau akan hidup sebagai orang asing di rumah ini. Hanya Ayah... hanya Ayah yang tersisa untukku."

.

.

Enam tahun kemudian

Waktu seolah berlari di sebuah sudut terpencil Banyuwangi. Di balik rimbunnya pepohonan hijau, El Barack tumbuh melampaui ekspektasi siapapun. Di usianya yang baru genap lima tahun, ia bukan sekadar bocah biasa. Kemampuannya berhitung cepat tanpa bantuan jari, hanya dengan gumaman kecil dan tatapan kosong yang fokus, ia selalu berhasil membuat orang dewasa terpana.

Namun bagi Hana, kecerdasan itu adalah pedang bermata dua. Setiap kali melihat El memecahkan soal atau menatapnya dengan binar mata yang tajam, Hana merasa sedang berhadapan dengan hantu dari masa lalu. Sosok Cakra, mantan suaminya, seolah hidup kembali dalam diri El. Hana seringkali harus memalingkan wajah, berusaha keras menekan sesak di dada agar bayang-bayang pria yang pernah sangat dicintainya itu tidak merusak ketenangan yang ia bangun susah payah di desa ini.

Siang itu, suara cempreng El memecah lamunan Hana.

"Bunda! Aku pergi main layangan dulu ya? Aku sudah janji sama Ghazi di lapangan!" teriak El sembari menyambar sandal jepitnya.

Hana menghentikan kegiatannya, menatap putra kecilnya dengan saksama. "Iya, El. Tapi ingat, begitu adzan Ashar berkumandang, kamu harus sudah di rumah. Jadwal mengaji jangan sampai telat. Kamu mau Ustad Soleh ceramah panjang lebar ke Bunda karena dianggap lalai mendidikmu?"

El memberikan hormat dengan tangan di dahi, cengiran lebarnya sangat mirip dengan ayahnya. "Siap, Bunda! El bukan cuma pintar hitung-hitungan, tapi juga tahu waktu. El Berangkat ya Bun!"

El memang pergi ke arah lapangan bola, tapi target aslinya bukanlah langit biru dan layangan. Bersama Ghazi, teman setianya yang setahun lebih tua darinya, El justru berbelok ke arah bangunan kayu dengan papan kusam bertuliskan "Warnet".

Hanya di tempat pengap penuh kabel inilah, El bisa mencuri akses ke dunia luar. Selama ini, Hana selalu mengunci rapat informasi tentang sosok Ayahnya. Setiap kali El bertanya, jawaban Hana selalu sama: "Ayah sudah tenang di tempat yang jauh." Tapi insting tajam El mengatakan ibunya sedang bersembunyi.

"El, aku benar-benar takut. Kalau Bunda kamu tahu, aku bisa kena masalah besar. Aku merasa berdosa membohongi Tante Hana!" bisik Ghazi dengan wajah pucat saat mereka berdiri di depan pintu warnet.

El menepuk bahu sahabatnya itu dengan gaya sok dewasa. "Tenang saja, Ghazi. Rahasia itu seperti matematika, kalau kita taruh rumusnya yang benar, hasilnya pasti aman. Ibuku tidak akan tahu."

Di dalam, Kak Ros, sang penjaga warnet, hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat dua bocah ingusan itu sudah berdiri di depan mejanya.

"Kalian lagi?" Kak Ros berkacak pinggang sambil menghela napasnya.

"Kecil-kecil sudah jadi pelanggan tetap. Apa kalian tidak takut kalau orang tua kalian datang ke sini membawa rotan, hah?"

El segera memasang wajah paling menggemaskan yang ia punya. "Ayolah Kak Ros, tolonglah kami sekali ini saja. Nanti kalau aku sudah punya uang jajan lebih, aku belikan Kak Ros cokelat Cadbury yang besar! Janji!"

Kak Ros tidak bisa menahan tawa melihat cara El bernegosiasi. Bocah ini punya cara bicara yang sulit ditolak. "Dasar bocah licin! Ya sudah, masuk sana. Tapi Kak Ros ikut mengawasi di belakang ya? Jangan buka situs macam-macam!"

El langsung kegirangan. Ia mengacungkan kedua jempolnya dengan penuh semangat. "Siap, Kak Ros! Terima kasih, Kakak Cantik!"

Dengan cekatan, jemari mungil El mulai menari di atas keyboard. Di kolom pencarian Mbah Google, ia mengetikkan sebuah nama yang pernah ia dengar dari bisikan Eyang Minah dan juga Aunty Rahma saat ibunya tidak ada, "Cakra Ardiwinata".

Cahaya biru dari monitor tua itu memantul di bola mata El yang jernih. Setelah beberapa kali mencoba kombinasi nama, sebuah laman berita bisnis lama terbuka. Di sana, terpampang sebuah foto potret seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Di bawahnya, tertuliskan nama dengan cetak tebal: Cakra Ardiwinata.

Pria di foto itu terlihat gagah, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam, tatapan yang sama persis dengan yang dimiliki El saat sedang serius. Kak Ros, yang sedari tadi mengawasi di belakang, seketika mendekatkan wajahnya ke layar. Matanya membulat.

"Eh, El... kau kenal dengan pria di foto ini? Ganteng sekali! Ini pengusaha sukses, ya?" tanya Kak Ros dengan nada terkesima, seolah lupa bahwa yang ia tanya adalah bocah berusia lima tahun.

El tidak langsung menjawab. Ia terdiam, jemari mungilnya menyentuh permukaan monitor yang terasa hangat, tepat di bagian wajah pria itu. Ada getaran aneh di dadanya, sesuatu yang selama ini hilang, kini terasa nyata. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan sekaligus kerinduan.

"El! Ditanya tuh sama Kak Ros. Kau malah senyum-senyum sendiri seperti sedang jatuh cinta saja!" tegur Ghazi sambil menyenggol lengan El.

El menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Kak Ros. "Maaf, Kak Ros. El cuma terkejut melihat foto ini. Ternyata dia lebih keren dari yang El bayangkan."

Kak Ros mulai memicingkan mata. Ia memandangi foto di layar, lalu beralih menatap wajah El secara bergantian. Dari bentuk alis, garis hidung, hingga lekukan bibir saat tersenyum, semuanya tampak seperti pinang dibelah dua.

"Tunggu sebentar..." Kak Ros menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa kau mirip sekali dengan pria ini, El? Jangan-jangan... pria ini ayahmu, ya?"

El langsung membusungkan dada, merasa bangga karena dugaannya selama ini terbukti benar di mata orang lain. Dengan nada meniru gaya karakter kartun favoritnya, ia menjawab mantap, "Betul... betul... betul!"

Sontak, tawa Ghazi dan Kak Ros pecah memenuhi ruangan warnet yang sempit itu. Ketegangan yang tadi sempat menyelimuti Ghazi langsung menguap.

"Aduh, El! Untung kepala kalian berdua tidak botak, ya?" ujar Kak Ros sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Kalau kepalamu botak, kalian sudah mirip sekali dengan kartun si kembar yang sangat comel itu!"

Ghazi dan El saling pandang. Membayangkan sosok Cakra Ardiwinata yang gagah di foto itu berubah menjadi karakter kartun lucu dengan rambut satu helai, mereka berdua akhirnya ikut tertawa terbahak-bahak hingga perut mereka sakit.

"Kalau Ayah mirip kartun itu, berarti El juga dong!" seru El di sela tawanya, sejenak melupakan beban rahasia yang ia pikul dari ibunya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Waduuuhh El kamu mau ngapain nyari tau bapakmu, kasihan ibu mu masih trauma tuh sama tepung Cakra.🤭🤭🤭

2026-05-25

1

Boru Ni Pangguris

Boru Ni Pangguris

kaya kisahnya jesika iskandar ga sih...?

2026-02-24

1

Rusmini Mini

Rusmini Mini

masya Allah cakepnya El Barack 😮😮

2026-02-06

1

lihat semua
Episodes
1 Jebakan licik
2 Kenyataan yang pahit
3 Mencari Hana
4 Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra
5 Si jenius El-Barack
6 Terkena musibah
7 Rahasia di masalalu
8 Masalalu yang datang kembali
9 Kenyataan pahit
10 Luka yang belum bisa pulih
11 Runtuhnya dinding ego demi menyelamatkan diri
12 Mengungkap kisah pilu Hana
13 Rumah baru dan kehidupan baru Hana dimulai
14 Pertemuan tidak terduga
15 Rencana Pak Sutoyo
16 Sekolah baru untuk El
17 Jabatan CEO untuk Hana
18 Roti Pizza dan momen yang manis
19 Penampilan Hana yang berbeda
20 Hari pertama menjadi CEO
21 Mengapa harus bertemu denganmu?
22 Rencana Hana
23 Ancaman Cakra
24 Rencana Cakra untuk bertemu dengan El-Barack
25 Pertemuan pertama yang berkesan
26 Nasi goreng Spesial untuk Ayah
27 Pertemuan yang tidak di duga
28 Peringatan Cakra terhadap ibunya
29 Cakra yang nekat dan Hana yang menggila
30 Keputusan yang sudah bulat
31 Membawa El pergi
32 Rencana yang gagal
33 Mengikhlaskan Hana
34 Pernikahan kedua untuk Hana
35 Batasan di malam pertama
36 Kado spesial untuk pengantin baru
37 Hana sakit part 1
38 Hana sakit Part 2
39 Duo lampir mencelakai Hana
40 Menyelematkan mu, belahan jiwa ku
41 Benih cinta yang mulai tumbuh
42 Pengakuan Tama
43 Cinta yang terbalaskan
44 Bahagia bersamamu
45 Kecemasan di tengah badai
46 Merindukanmu
47 Akhirnya berkata jujur
48 Jalan-jalan ke taman safari
49 Bertemu dengan pengagum rahasia
50 Permintaan El yang mengejutkan
51 Api cemburu Tama
52 Tama yang protektif
53 Kejutan untuk suami tercinta
54 Kabar bahagia yang sedang menanti
55 Menjadi suami siaga
56 Tamu tidak di duga
57 Sikap yang mencurigakan
58 Tetap waspada
59 pergi menemui Cakra
60 Sikap Tama yang bijak
61 Cakra yang berulah
62 Rencana Tama
63 Acara ulangtahun El-Barack
64 El Barak yang tersakiti, Tama mulai meradang
65 Skandal Cakra
66 Rencana busuk
67 Kecurigaan Tama
68 Mengintrogasi Ratna
69 Membujuk Hana yang marah dan cemburu buta
70 Acara pelantikan yang menegangkan
71 Hukuman dan penyesalan
72 Doa yang terkabul dan kejutan yang tidak terduga
73 Keputusan Tuan Ardiwinata
74 Pernikahan Cakra dan Ratna
75 Pulang ke kampung halaman
76 Transaksi membayar hutang yang mengejutkan
77 Mancing di sungai
78 Perpisahan yang mengharukan
79 Rasa syukur tiada tara
80 Acara tujuh bulanan
81 Kado terindah untuk Ratna
82 Kontraksi di Mall
83 Lahirnya si kembar
84 Ararya dan Aishara
85 Kontraksi Ratna di acara aqiqah si kembar
86 Dua keluarga yang bahagia selamanya
87 Pengumuman karya terbaruku
88 Pengumuman karya terbaruku di bulan April
89 pengumuman karya terbaruku di bulan Mei
90 Pengumuman karya terbaruku di bulan Juni 2026
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Jebakan licik
2
Kenyataan yang pahit
3
Mencari Hana
4
Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra
5
Si jenius El-Barack
6
Terkena musibah
7
Rahasia di masalalu
8
Masalalu yang datang kembali
9
Kenyataan pahit
10
Luka yang belum bisa pulih
11
Runtuhnya dinding ego demi menyelamatkan diri
12
Mengungkap kisah pilu Hana
13
Rumah baru dan kehidupan baru Hana dimulai
14
Pertemuan tidak terduga
15
Rencana Pak Sutoyo
16
Sekolah baru untuk El
17
Jabatan CEO untuk Hana
18
Roti Pizza dan momen yang manis
19
Penampilan Hana yang berbeda
20
Hari pertama menjadi CEO
21
Mengapa harus bertemu denganmu?
22
Rencana Hana
23
Ancaman Cakra
24
Rencana Cakra untuk bertemu dengan El-Barack
25
Pertemuan pertama yang berkesan
26
Nasi goreng Spesial untuk Ayah
27
Pertemuan yang tidak di duga
28
Peringatan Cakra terhadap ibunya
29
Cakra yang nekat dan Hana yang menggila
30
Keputusan yang sudah bulat
31
Membawa El pergi
32
Rencana yang gagal
33
Mengikhlaskan Hana
34
Pernikahan kedua untuk Hana
35
Batasan di malam pertama
36
Kado spesial untuk pengantin baru
37
Hana sakit part 1
38
Hana sakit Part 2
39
Duo lampir mencelakai Hana
40
Menyelematkan mu, belahan jiwa ku
41
Benih cinta yang mulai tumbuh
42
Pengakuan Tama
43
Cinta yang terbalaskan
44
Bahagia bersamamu
45
Kecemasan di tengah badai
46
Merindukanmu
47
Akhirnya berkata jujur
48
Jalan-jalan ke taman safari
49
Bertemu dengan pengagum rahasia
50
Permintaan El yang mengejutkan
51
Api cemburu Tama
52
Tama yang protektif
53
Kejutan untuk suami tercinta
54
Kabar bahagia yang sedang menanti
55
Menjadi suami siaga
56
Tamu tidak di duga
57
Sikap yang mencurigakan
58
Tetap waspada
59
pergi menemui Cakra
60
Sikap Tama yang bijak
61
Cakra yang berulah
62
Rencana Tama
63
Acara ulangtahun El-Barack
64
El Barak yang tersakiti, Tama mulai meradang
65
Skandal Cakra
66
Rencana busuk
67
Kecurigaan Tama
68
Mengintrogasi Ratna
69
Membujuk Hana yang marah dan cemburu buta
70
Acara pelantikan yang menegangkan
71
Hukuman dan penyesalan
72
Doa yang terkabul dan kejutan yang tidak terduga
73
Keputusan Tuan Ardiwinata
74
Pernikahan Cakra dan Ratna
75
Pulang ke kampung halaman
76
Transaksi membayar hutang yang mengejutkan
77
Mancing di sungai
78
Perpisahan yang mengharukan
79
Rasa syukur tiada tara
80
Acara tujuh bulanan
81
Kado terindah untuk Ratna
82
Kontraksi di Mall
83
Lahirnya si kembar
84
Ararya dan Aishara
85
Kontraksi Ratna di acara aqiqah si kembar
86
Dua keluarga yang bahagia selamanya
87
Pengumuman karya terbaruku
88
Pengumuman karya terbaruku di bulan April
89
pengumuman karya terbaruku di bulan Mei
90
Pengumuman karya terbaruku di bulan Juni 2026

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!