Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali

Bak seseorang yang hatinya patah, Ratih juga merasakan dunianya seolah runtuh. 5 tahun lamanya, dia menjadi istri yang selalu mementingkan kepentingan suaminya. Karirnya yang cemerlang, dia tinggalkan demi menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak, yang bahkan anak simpanan suaminya.

Air matanya sudah habis, dia keluar dari dalam mobilnya dengan mata sembab, menuju ke rumah mewahnya yang bahkan dibangun sesuai dengan keinginan suaminya.

Ratih melangkah dengan langkah gontai.

Dari arah rumah, keluar seorang wanita paruh baya. Pengasuh yang menemaninya sejak kecil. Melihat Ratih yang begitu sedih, pelayan itu bergegas menghampiri Ratih.

"Nyonya, nyonya kenapa?"

Ratih menoleh, dan langsung memeluk pelayannya itu.

"Bibi Erma!"

Tangisnya pecah, dia tidak memiliki siapapun lagi. Kedua orang tuanya sudah tiada tiga tahun yang lalu. Karena sebuah kecelakaan. Hanya bibi Erma yang dia percaya saat ini.

"Mas Fandi, bi. Mas Fandi!"

Ratih seolah mengadu, berusaha membagi beban berat di dalam hatinya. Rasa sesak itu, rasa kecewa, rasa sedih, sakit yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Dia menumpahkannya lewat air mata di pelukan seseorang yang sudah dia anggap keluarga, bukan pelayan semata.

Usapan lembut bibi Erma di punggung Ratih, membuat Ratih tahu. Setidaknya dia tidak sendirian, tidak benar-benar sendirian.

Malam semakin larut, Ratih masih berdiri diam di belakang jendela kamar Naufal. Jika Naufal bukan anaknya, lantas dimana anaknya. Jawaban itu sungguh hanya bisa diberikan oleh Fandi, namun saat ini dia sungguh tidak ingin melihat Fandi. Dia takut tidak bisa menahan diri dan melakukan sesuatu yang akan dia sesali di kemudian hari.

Butiran air mata itu menetes lagi, 5 tahun lamanya. Artinya anaknya ada di luar sana selama 5 tahun ini. Entah bagaimana nasibnya. Pasti banyak kesulitan di luar sana. Sementara dia memanjakan anak orang lain, dengan kasih sayang dan kemewahan, dia tidak tahu apakah di luar sana anaknya bahkan bisa makan.

Air mata itu tak kunjung berhenti. Dia sudah menghubungi pengacaranya, untuk datang besok. Untuk membantunya mencari anaknya. Dia sudah berencana mengatakan semuanya pada pengacaranya.

Ceklek

"Nyonya, nyonya belum makan dari siang. Setidaknya minumlah susu hangat ini, nyonya!" kata bibi Erma.

Ratih menoleh ketika bibi Erma berjalan menghampirinya.

"Nyonya, nyonya harus kuat. Besok pak pengacara Markus pasti akan membantu nyonya menemukan anak nyonya yang sebenarnya. Minum dulu susunya selagi hangat, ini akan nyaman untuk perut nyonya!"

Bibi Erma menyerahkan gelas berisi susu putih hangat itu pada Ratih. Ratih menerimanya, meminumnya setengah.

"Terima kasih, bi Erma. Bibi istirahatlah, bibi pasti lelah!"

Bibi Erma meraih gelas itu, tapi tiba-tiba saja pintu kamar Naufal itu terbuka. Fandi dan Sarah masuk bersama.

Mata Ratih terbelalak lebar, dadanya bergemuruh, dia merasa begitu marah melihat keduanya.

"Berani-beraninya kalian datang kemari? bibi Erma, usir mereka pergi!" pekik Ratih yang memang tidak ingin melihat kedua pengkhianat itu.

"Nyonya, mana mungkin aku mengusir anakku sendiri?"

Deg

Ratih tertegun, matanya melebar. Menatap bibi Erma dengan raut wajah kaget bukan main.

"Anak?" tanya Ratih.

"Iya, bibi Erma adalah ibuku!" kata Sarah.

Ratih terhuyung, dia tidak percaya semua ini. Semua orang yang dia makan, semua orang yang dia anggap keluarga, ternyata para penipu.

"Uhukkk!"

Ratih merasa dadanya sesak, dan ketika dia batuk, cairan merah keluar dari mulutnya.

"Karena kamu sudah mau matii, maka aku akan katakan semuanya padamu. Percuma kamu cari anakmu, dia sudah kamu jual. Dia kami jual pada orang yang akan menjadikan dia pengemis di pinggir jalan. Aku dengar orang itu tak segan mematahkann kaki atau tangan, supaya banyak yang kasihan pada anak-anak yang dijadikan pengemis di jalanan itu!"

Ratih marah, mata dan wajahnya merah. Di sudut bibirnya kembali mengalir cairan merah itu.

Dadanya sakit, dia ingin memukul Fandi. Tapi dia malah terjatuh di lantai.

Brukk

"Susu itu beracun, kamu akan matii, nyonya!" kata bibi Erma yang mendekati Sarah dan merangkulnya.

"Kalian semua, kalian semua jahat!" pekik Ratih dengan semua sisa tenaganya.

"Orang tuamu, bukan jatuh ke jurang tanpa sengaja juga Ratih..."

Mata Ratih makin melebar, sakit di dadanya akibat racun itu tak sebanding dengan rasa sakit ketika dia mendengar pengakuan lain dari Fandi.

"Remnya blong, aku yang melakukannya. Satpam Joni, dia orangku. Dia yang melakukannya!"

Ratih seperti tertusukk dan tertusukk lagi. Kenapa orang-orang yang dia percaya semuanya menaikannya dari belakang seperti itu.

"Kamu merasa sendirian ya? tapi itu salahmu. Orang-orang yang setia malah kamu usir!"

"Itu karena kalian!" pekik Ratih, "kalian sudah menipuku..."

"Ya, dan kamu harus matii sekarang! Besok, pengacaramu akan datang, dan mengatakan kamu terkena serangan jantung!"

Ratih menggelengkan kepalanya. Pengacaranya juga? sungguh dia ingin menertawakan betapa bodohnya dirinya. Bagaimana bisa dia menyingkirkan orang-orang kepercayaan ayahnya, dan menggantinya dengan semua orang Fandi. Dia benar-benar sudah butaa.

"Kalian akan dapat balasan... agkh!"

Fandi mencekikk leher Ratih.

"Balasan? balasan katamu?" Fandi terkekeh, "bahkan kamu akan mati. Wanita kotor sepertimu, menurutmu pantas untukku!"

Brakk

Fandi kembali menghempaskan tubuh Ratih.

Ratih kesakitan, nafasnya terasa semakin tercekat dan pendek-pendek.

"Anak itu anakmu, kenapa kamu tega...." Ratih masih berusaha menyadarkan Fandi. Anaknya juga anak Fandi, kenapa harus sekejam itu pada anaknya sendiri.

Jika pun dia harus mati, setidaknya Fandi harus menyelamatkan anak itu.

"Yang menyelamatkanmu malam itu dari para perampok bukan aku! yang memberimu penawar obat itu juga bukan aku. Ada seseorang yang mendahuluiku. Tapi, karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi orang kaya maka aku menikahimu. Anak itu bukan anakku!"

Ratih memejamkan matanya. Dia benar-benar menganggap Fandi penyelamatnya. Ternyata bukan. Betapa bodohnya dia.

Dadanya terasa sesak, meski sudah mengetahui semuanya. Dia juga tidak bisa melakukan apapun. Ratih terkulai lemas di lantai, pandangannya mulai kabur. Meski begitu dia bisa melihatnya samar. Ketiga orang di dalamnya sedang tertawa.

"Aku tidak akan memaafkan kalian! aku akan membalas...."

Brukk

Bip

Bip

Bip

"Ratih, Ratih?"

Ratih membuka matanya perlahan, semuanya putih. Dia pikir dia sudah matii. Tapi beberapa saat...

"Ratih, akhirnya kamu bangun. Jangan tidur nak, setelah melahirkan kamu tidak boleh tidur!"

"I...ibu!"

Ratih melihat ibunya.

"Iya ini ibu. Selamat ya nak, anak kamu laki-laki. Bibi Erma sedang mengikuti perawat yang membersihkannya..."

Ratih mencubit tangannya sendiri. Dan rasanya sakit.

'Ini bukan mimpi!' batinnya.

Ratih melebarkan matanya, dan berusaha bangun.

"Jangan bangun dulu..."

"Bu, tolong ikuti bibi Erma. Awasi anakku Bu, jangan biarkan dia sendirian, jangan biarkan anakku bersama bibi Erma. Cepat Bu!"

***

Bersambung...

Terpopuler

Comments

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

eh ternyata yang terjadi didalam bawah sadar 🤔

2026-02-25

2

vj'z tri

vj'z tri

kan kan kan terlalu author ini pembukaan yang langsung bikin esmosi /Scream//Scream//Scream//Scream/

2026-02-25

2

vj'z tri

vj'z tri

kok w curiga yaaa /Shame//Shame/ sama ni bibi

2026-02-25

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kebenaran Terungkap
2 Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali
3 Bab 3. Menukar Kembali
4 Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali
5 Bab 5. Menyerang Balik
6 Bab 6. Racun yang Disiapkan
7 Bab 7. Dekat tapi tak bisa Menyentuh
8 Bab 8. Hadiah Kecil
9 Bab 9. Mengambil Bunga Sedikit demi Sedikit
10 Bab 10. Ditolak
11 Bab 11. Terjebak
12 Bab 12. Siapa Menjebak Siapa
13 Bab 13. Maling Teriak Maling
14 Bab 14. Panik
15 Bab 15. Kambing Hitam
16 Bab 16. Kesabaran Semakin Tipis
17 Bab 17. Katanya Mirip
18 Bab 18. Rencana Baru
19 Bab 19. Sengaja Dibuat Kesal
20 Bab 20. Makin Kesal
21 Bab 21. Gagal Lagi
22 Bab 22. Padahal Sudah Sangat Dekat
23 Bab 23. Antagonis yang Teraniaya
24 Bab 24. Tidak Tahu Malu
25 Bab 25. Menyentuh? Jangan Mimpi!
26 Bab 26. Botol Kedua
27 Bab 27. Sekutu Mulai Retak
28 Bab 28. Foto Lama
29 Bab 29. Mulai Mencaritahu
30 Bab 30. Sakit
31 Bab 31. Pertengkaran
32 Bab 32. Canggung
33 Bab 33. Sebuah Keyakinan
34 Bab 34. Permintaan Maaf
35 Bab 35. Tidak Perduli Lagi
36 Bab 36. Rencana Saling Mempersulit
37 Bab 37. Fakta Baru Lagi
38 Bab 38. Kebenarannya
39 Bab 39. Hukuman
40 Bab 40. Kaos Kaki
41 Bab 41. Niatnya Memprovokasii tapi Malah Terprovokasii
42 Bab 42. Dua Penjaga
43 Bab 43. Tuan Rumah tak Ada Harga Dirinya
44 Bab 44. Nyaris Mengungkapkan
45 Bab 45. Spill
46 Bab 46. Kata Sandi Pintu Apartemen
47 Bab 47. Usaha yang Sia-sia
48 Bab 48. Adu Rencana
49 Bab 49. Di Rumah Sakit
50 Bab 50. Maya Mengetahuinya
51 Bab 51. Memberitahu Panji
52 Bab 52. Tindakan Bibi Erma
53 Bab 53. Demosi
54 Bab 54. Tidak Berguna
55 Bab 55. Nyaris Tak Bisa Menahan Emosi
56 Bab 56. Melukai Ratih
57 Bab 57. Menyelamatkan Ratih
58 Bab 58. Kartu Kredit Diblokir
59 Bab 59. Alibi
60 Bab 60. Mulai
61 Bab 61. Pengacara Markus Tertangkap
62 Bab 62. Mengungkap Kebenaran
63 Bab 63. Diusir
64 Bab 64. Pertengkaran
65 Bab 65. Tak Bisa Berkata-kata
66 Bab 66. Terhasutt
67 Bab 67. Kehidupan Orang-orang Licik Itu
68 Bab 68. Memilih Pergi
69 Bab 69. Isi Hati Ben
70 Bab 70. Pengkhianat
71 Bab 71. Menjerat sampai Hancur
72 Bab 72. Menuai apa yang Ditabur
73 Bab 73. Kondisi Sarah
74 Bab 74. Bantuan Dokter Calista
75 Bab 75. Perasaan
76 Bab 76. Sebuah Permintaan
77 Bab 77. Kegigihan Seorang Ibu
78 Bab 78. Shock
79 Bab 79. Kenyataan Itu
80 Bab 80. Menuai apa yang Ditabur
81 Bab 81. Kepergian Sarah
82 Bab 82. Dilamar
83 Bab 83. Linglung
84 Bab 84. Yang Bahagia dan Yang Berduka
85 Bab 85. Kematian Fandi
86 Bab 86. Mengakhiri
87 Bab 87. Kalah
88 Bab 88. Sebuah Gambar
89 Bab 89. Akhir Bibi Erma
90 Bab 90. Bertemu Sasha
91 Bab 91. Hasutan
92 Bab 92. Tak Terpengaruh
93 Bab 93. Kejujuran
94 Bab 94. Kecewa
95 Bab 95. Di Kapal yang Sama
96 Bab 96. Seorang Ayah
97 Bab 97. Rafa Diculik
98 Bab 98. Tak akan Membiarkan
99 Bab 99. Menemukan Dalangnya
100 Bab 100. Akhir Sasha
101 Bab 101. Akhir yang Bahagia
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1. Kebenaran Terungkap
2
Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali
3
Bab 3. Menukar Kembali
4
Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali
5
Bab 5. Menyerang Balik
6
Bab 6. Racun yang Disiapkan
7
Bab 7. Dekat tapi tak bisa Menyentuh
8
Bab 8. Hadiah Kecil
9
Bab 9. Mengambil Bunga Sedikit demi Sedikit
10
Bab 10. Ditolak
11
Bab 11. Terjebak
12
Bab 12. Siapa Menjebak Siapa
13
Bab 13. Maling Teriak Maling
14
Bab 14. Panik
15
Bab 15. Kambing Hitam
16
Bab 16. Kesabaran Semakin Tipis
17
Bab 17. Katanya Mirip
18
Bab 18. Rencana Baru
19
Bab 19. Sengaja Dibuat Kesal
20
Bab 20. Makin Kesal
21
Bab 21. Gagal Lagi
22
Bab 22. Padahal Sudah Sangat Dekat
23
Bab 23. Antagonis yang Teraniaya
24
Bab 24. Tidak Tahu Malu
25
Bab 25. Menyentuh? Jangan Mimpi!
26
Bab 26. Botol Kedua
27
Bab 27. Sekutu Mulai Retak
28
Bab 28. Foto Lama
29
Bab 29. Mulai Mencaritahu
30
Bab 30. Sakit
31
Bab 31. Pertengkaran
32
Bab 32. Canggung
33
Bab 33. Sebuah Keyakinan
34
Bab 34. Permintaan Maaf
35
Bab 35. Tidak Perduli Lagi
36
Bab 36. Rencana Saling Mempersulit
37
Bab 37. Fakta Baru Lagi
38
Bab 38. Kebenarannya
39
Bab 39. Hukuman
40
Bab 40. Kaos Kaki
41
Bab 41. Niatnya Memprovokasii tapi Malah Terprovokasii
42
Bab 42. Dua Penjaga
43
Bab 43. Tuan Rumah tak Ada Harga Dirinya
44
Bab 44. Nyaris Mengungkapkan
45
Bab 45. Spill
46
Bab 46. Kata Sandi Pintu Apartemen
47
Bab 47. Usaha yang Sia-sia
48
Bab 48. Adu Rencana
49
Bab 49. Di Rumah Sakit
50
Bab 50. Maya Mengetahuinya
51
Bab 51. Memberitahu Panji
52
Bab 52. Tindakan Bibi Erma
53
Bab 53. Demosi
54
Bab 54. Tidak Berguna
55
Bab 55. Nyaris Tak Bisa Menahan Emosi
56
Bab 56. Melukai Ratih
57
Bab 57. Menyelamatkan Ratih
58
Bab 58. Kartu Kredit Diblokir
59
Bab 59. Alibi
60
Bab 60. Mulai
61
Bab 61. Pengacara Markus Tertangkap
62
Bab 62. Mengungkap Kebenaran
63
Bab 63. Diusir
64
Bab 64. Pertengkaran
65
Bab 65. Tak Bisa Berkata-kata
66
Bab 66. Terhasutt
67
Bab 67. Kehidupan Orang-orang Licik Itu
68
Bab 68. Memilih Pergi
69
Bab 69. Isi Hati Ben
70
Bab 70. Pengkhianat
71
Bab 71. Menjerat sampai Hancur
72
Bab 72. Menuai apa yang Ditabur
73
Bab 73. Kondisi Sarah
74
Bab 74. Bantuan Dokter Calista
75
Bab 75. Perasaan
76
Bab 76. Sebuah Permintaan
77
Bab 77. Kegigihan Seorang Ibu
78
Bab 78. Shock
79
Bab 79. Kenyataan Itu
80
Bab 80. Menuai apa yang Ditabur
81
Bab 81. Kepergian Sarah
82
Bab 82. Dilamar
83
Bab 83. Linglung
84
Bab 84. Yang Bahagia dan Yang Berduka
85
Bab 85. Kematian Fandi
86
Bab 86. Mengakhiri
87
Bab 87. Kalah
88
Bab 88. Sebuah Gambar
89
Bab 89. Akhir Bibi Erma
90
Bab 90. Bertemu Sasha
91
Bab 91. Hasutan
92
Bab 92. Tak Terpengaruh
93
Bab 93. Kejujuran
94
Bab 94. Kecewa
95
Bab 95. Di Kapal yang Sama
96
Bab 96. Seorang Ayah
97
Bab 97. Rafa Diculik
98
Bab 98. Tak akan Membiarkan
99
Bab 99. Menemukan Dalangnya
100
Bab 100. Akhir Sasha
101
Bab 101. Akhir yang Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!