Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali

Di ruangan bayi itu, Ben yang sudah menyabotasee kamera pengawas segera menukar bayi yang dimaksud oleh Ratih. Setelah memastikan semua pekerjaannya berjalan dengan baik. Dia kembali ke ruangan Ratih.

"Aku sudah kerjakan seperti yang kamu katakan! istirahatlah!"

"Ben, terima kasih!"

Langkah pria itu terhenti. Dia berbalik dan melihat wanita yang tampaknya sangat tidak tenang itu.

"Aku kira kamu sudah tidak mau bertemu denganku lagi. Yang terakhir kali adalah salah paham, Ratih. Aku tidak pernah mengajak suamimu pergi ke klub malam. Malam itu seseorang menghubungiku, mengatakan suamimu mabukk dan membuat keributan, aku kesana karena ingin membawanya pulang...!"

"Maafkan aku!" sela Ratih dengan mata berkaca-kaca.

Ratih kini menyadari semuanya. Sebenarnya Ben sama sekali tidak pernah berbuat salah padanya dan Fandi. Semua itu akal-akalan Fandi.

Ben menghela nafas kasar.

"Lupakan! jika kamu masih ingin aku mundur dari perusahaan, aku akan lakukan!"

"Tidak! aku tidak ingin kamu resign. Maafkan aku, aku salah. Tidak seharusnya aku yang mengenalmu lebih dari 7 tahun meragukan mu dan lebih percaya pada Fandi. Maukah kamu memaafkan aku?" tanya Ratih pada Ben.

"Aku tidak akan bisa marah padamu! aku akan pergi. Kapanpun kamu membutuhkan aku. Telepon saja!"

Ben beranjak pergi dari sana. Tapi tidak benar-benar pergi. Ben berdiri di dekat pintu. Pria itu berdiri dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tapi, dia sepertinya sangat perduli pada Ratih.

**

Pagi menjelang, bibi Erma sudah datang sangat pagi. Dia sudah membawa sarapan dari rumah. Dia memasak sendiri sayuran yang sangat bergizi.

"Nyonya, bibi masak makanan yang sangat sehat. Kata dokter ini bisa memperlancar asi!"

Ratih terkekeh dalam hatinya. Wanita tua yang tidak tahu diri. Tapi Ratih sungguh merasa kesal sebenarnya. Dulu, dia memberikan asi terbaik, semua yang terbaik untuk anak yang bahkan bukan darah dagingnya. Dia malah membiarkan anaknya entah bisa minum susu atau tidak di luar sana.

Tangan Ratih terkepal. Tapi dia berusaha menahannya. Dia sudah menyiapkan semuanya. Dia tidak mau membiarkannya jadi sia-sia.

Racun yang menyakitinya itu. Bukankah Fandi, bibi Erma dan Sarah juga harus merasakannya? Keinginan mereka menjadikan anak kandung Ratih sebagai pengemis. Ratih juga harus membuat anak mereka, yang merasakan semua itu. Dia harus membuat hati orang-orang jahat itu hancur menghadapi kenyataan jika anak kesayangan mereka yang jadi pengemis. Seperti apa yang Ratih rasakan dulu, ketika dia mendengar anaknya dijadikan pengemis. Bahkan tangan dan kakinya dipatahkann. Dia masih harus menahan diri, supaya semuanya setimpal.

"Bibi, terima kasih!" kata Ratih berpura-pura tidak tahu apa yang telah bibi Erma dan orang-orang jahat itu lakukan.

"Jangan bilang begitu nyonya. Ini sudah tugas bibi!" katanya yang menyiapkan semuanya di atas meja kecil yang sudah disiapkan memang di atas tempat tidur.

Setelah sarapan, bibi Erma sangat bersemangat mengambil bayi Rafa dari kamar bayi.

"Nyonya, tuan muda sudah di mandikan. Dia benar-benar tampan!" kata bibi Erma.

Wajah bayi, kebanyakan memang hampir mirip. Kecuali jika ada fisik yang mencolok. Seperti warna kulit, bentuk hidung atau lesung pipi dan semacamnya.

Karena memang kemarin bibi Erma juga cepat-cepat menukar cucu kandungnya dengan anak Ratih. Maka dia juga tidak terlalu memperhatikan. Dia hanya fokus pada keranjang bayi saja. Dia pikir setelah satu kali menukar bayi yang ada di keranjang bayi. Maka perawat tidak mungkin melakukan kesalahan. Lagipula keranjang bayinya juga berbeda. Ratih yang berada di ruangan VIP, keranjang bayinya jauh lebih bagus dari Sarah yang ada di ruangan biasa. Meski berada di satu ruangan bayi yang sama.

Ratih menggendong bayi itu. Ada perasaan hangat di dadanya. Dia yakin itu adalah anaknya.

"Rafa..." lirihnya dengan mata yang hampir berkaca-kaca juga.

"Nyonya, di kasih asi dulu. Tuan Rafa pasti lapar" kata bibi Erma.

Ratih mengangguk, dan menoleh ke arah pelayannya yang sangat licik itu.

"Bibi, aku butuh tissue basah. Tolong belikan ya!"

Bibi Erma melihat ke atas meja.

"Itu ada nyonya, bibi ambilkan ya..."

Ratih menggelengkan kepalanya.

"Itu kurang halus. Beli yang lebih mahal. Kulit Rafa sangat sensitif, nanti kalau lecet bagaimana?" tanya Ratih.

Bibi Erma yang mengira kalau Rafa adalah cucunya. Tentu saja sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Dia tidak mau kulit cucunya menjadi lecet.

"Baik, baik. Bibi akan beli tissue basah yang paling bagus, yang paling lembut. Sebentar ya nyonya!" kata bibi Erma yang langsung keluar dari kamar itu.

Ratih membuka kain bedong Rafa. Memastikan kalau tidak ada tanda di bawah ketiak kirinya.

Dan ternyata memang tidak ada. Ratih segera memeluk anak itu dan menangis.

"Maafkan mama ya nak, sebelumnya kamu bahkan harus mengalami hal yang begitu berat. Maafkan mama sayang, mama akan menjagamu dengan baik, mama tidak akan biarkan hal buruk terjadi padamu. Rafa, maafkan mama!"

**

Sementara itu di tempat berbeda, di kamar yang lebih sederhana. Sarah juga sedang makan disuapi oleh Fandi.

"Sudah mas, aku sudah kenyang. Jadi, kapan aku bisa melihat anak kita?" tanya Sarah.

Fandi yang mengenakan kacamata dan masker. Meletakkan semua yang dia pegang dan mendekati Sarah.

"Tidak bisa sekarang! anak itu terus berada di ruangan Ratih. Sabar dulu saja, satu bulan lagi kan ibumu sudah punya rencana membawamu sebagai pengasuh Rafa..."

"Kenapa namanya jadi Rafa sih, mas? kan kita sudah sepakat, namanya Naufal. Aku mau nama anakku Naufal mas!"

"Iya Sarah, ibumu juga sudah mengatakan itu pada Ratih. Tapi dia punya pemikiran sendiri"

"Kenapa dia seperti itu sih? biasanya dia menuruti sekali pada ibu?" gerutu Sarah.

"Hanya nama saja tidak masalah. Yang penting, anak kita tetap akan jadi pewaris keluarga Sanjaya itu kan. Jangan mempermasalahkan hal kecil seperti ini!" bujuk Fandi.

"Lalu apa rencanamu untuk anaknya si Ratih itu? Anak haramm itu, aku tidak mau membawanya pulang ke rumah!"

"Kenapa harus di bawa pulang. Aku sudah hubungi seseorang yang memang punya usaha jual beli hal semacam itu. Dia mau membeli bayi itu 5 juta, lumayan kan! kita kasih ke dia saja, mau diapakan anaknya si Ratih itu. Terserah orang itu!"

"Ha ha ha"

Terdengar tawa yang begitu puas di ruangan itu. Seolah apa yang sedang mereka bicarakan itu bukan tentang memperjualbelikan sesuatu yang hidup dan merasakan rasa sakit jika terluka.

Sayangnya, kali ini mereka sungguh akan menyesali perbuatan mereka itu. Karena yang akan mereka jual, bukan anak yang mereka sebut anak haramm Ratih. Tapi anak kandung mereka sendiri. Anak yang sudah di tukar kembali oleh Ben, atas perintah Ratih.

***

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Alvia Vi

Alvia Vi

wahhh
Thor aku baru mampir...
seru cerita nya

2026-05-10

1

Evy

Evy

Apa jangan jangan pengawal pribadi itu lah Ayah dari bayi nya...

2026-07-21

0

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

jangan jangan Ben laki laki yang mendahului Fandi 🤔🤭

2026-02-25

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kebenaran Terungkap
2 Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali
3 Bab 3. Menukar Kembali
4 Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali
5 Bab 5. Menyerang Balik
6 Bab 6. Racun yang Disiapkan
7 Bab 7. Dekat tapi tak bisa Menyentuh
8 Bab 8. Hadiah Kecil
9 Bab 9. Mengambil Bunga Sedikit demi Sedikit
10 Bab 10. Ditolak
11 Bab 11. Terjebak
12 Bab 12. Siapa Menjebak Siapa
13 Bab 13. Maling Teriak Maling
14 Bab 14. Panik
15 Bab 15. Kambing Hitam
16 Bab 16. Kesabaran Semakin Tipis
17 Bab 17. Katanya Mirip
18 Bab 18. Rencana Baru
19 Bab 19. Sengaja Dibuat Kesal
20 Bab 20. Makin Kesal
21 Bab 21. Gagal Lagi
22 Bab 22. Padahal Sudah Sangat Dekat
23 Bab 23. Antagonis yang Teraniaya
24 Bab 24. Tidak Tahu Malu
25 Bab 25. Menyentuh? Jangan Mimpi!
26 Bab 26. Botol Kedua
27 Bab 27. Sekutu Mulai Retak
28 Bab 28. Foto Lama
29 Bab 29. Mulai Mencaritahu
30 Bab 30. Sakit
31 Bab 31. Pertengkaran
32 Bab 32. Canggung
33 Bab 33. Sebuah Keyakinan
34 Bab 34. Permintaan Maaf
35 Bab 35. Tidak Perduli Lagi
36 Bab 36. Rencana Saling Mempersulit
37 Bab 37. Fakta Baru Lagi
38 Bab 38. Kebenarannya
39 Bab 39. Hukuman
40 Bab 40. Kaos Kaki
41 Bab 41. Niatnya Memprovokasii tapi Malah Terprovokasii
42 Bab 42. Dua Penjaga
43 Bab 43. Tuan Rumah tak Ada Harga Dirinya
44 Bab 44. Nyaris Mengungkapkan
45 Bab 45. Spill
46 Bab 46. Kata Sandi Pintu Apartemen
47 Bab 47. Usaha yang Sia-sia
48 Bab 48. Adu Rencana
49 Bab 49. Di Rumah Sakit
50 Bab 50. Maya Mengetahuinya
51 Bab 51. Memberitahu Panji
52 Bab 52. Tindakan Bibi Erma
53 Bab 53. Demosi
54 Bab 54. Tidak Berguna
55 Bab 55. Nyaris Tak Bisa Menahan Emosi
56 Bab 56. Melukai Ratih
57 Bab 57. Menyelamatkan Ratih
58 Bab 58. Kartu Kredit Diblokir
59 Bab 59. Alibi
60 Bab 60. Mulai
61 Bab 61. Pengacara Markus Tertangkap
62 Bab 62. Mengungkap Kebenaran
63 Bab 63. Diusir
64 Bab 64. Pertengkaran
65 Bab 65. Tak Bisa Berkata-kata
66 Bab 66. Terhasutt
67 Bab 67. Kehidupan Orang-orang Licik Itu
68 Bab 68. Memilih Pergi
69 Bab 69. Isi Hati Ben
70 Bab 70. Pengkhianat
71 Bab 71. Menjerat sampai Hancur
72 Bab 72. Menuai apa yang Ditabur
73 Bab 73. Kondisi Sarah
74 Bab 74. Bantuan Dokter Calista
75 Bab 75. Perasaan
76 Bab 76. Sebuah Permintaan
77 Bab 77. Kegigihan Seorang Ibu
78 Bab 78. Shock
79 Bab 79. Kenyataan Itu
80 Bab 80. Menuai apa yang Ditabur
81 Bab 81. Kepergian Sarah
82 Bab 82. Dilamar
83 Bab 83. Linglung
84 Bab 84. Yang Bahagia dan Yang Berduka
85 Bab 85. Kematian Fandi
86 Bab 86. Mengakhiri
87 Bab 87. Kalah
88 Bab 88. Sebuah Gambar
89 Bab 89. Akhir Bibi Erma
90 Bab 90. Bertemu Sasha
91 Bab 91. Hasutan
92 Bab 92. Tak Terpengaruh
93 Bab 93. Kejujuran
94 Bab 94. Kecewa
95 Bab 95. Di Kapal yang Sama
96 Bab 96. Seorang Ayah
97 Bab 97. Rafa Diculik
98 Bab 98. Tak akan Membiarkan
99 Bab 99. Menemukan Dalangnya
100 Bab 100. Akhir Sasha
101 Bab 101. Akhir yang Bahagia
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1. Kebenaran Terungkap
2
Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali
3
Bab 3. Menukar Kembali
4
Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali
5
Bab 5. Menyerang Balik
6
Bab 6. Racun yang Disiapkan
7
Bab 7. Dekat tapi tak bisa Menyentuh
8
Bab 8. Hadiah Kecil
9
Bab 9. Mengambil Bunga Sedikit demi Sedikit
10
Bab 10. Ditolak
11
Bab 11. Terjebak
12
Bab 12. Siapa Menjebak Siapa
13
Bab 13. Maling Teriak Maling
14
Bab 14. Panik
15
Bab 15. Kambing Hitam
16
Bab 16. Kesabaran Semakin Tipis
17
Bab 17. Katanya Mirip
18
Bab 18. Rencana Baru
19
Bab 19. Sengaja Dibuat Kesal
20
Bab 20. Makin Kesal
21
Bab 21. Gagal Lagi
22
Bab 22. Padahal Sudah Sangat Dekat
23
Bab 23. Antagonis yang Teraniaya
24
Bab 24. Tidak Tahu Malu
25
Bab 25. Menyentuh? Jangan Mimpi!
26
Bab 26. Botol Kedua
27
Bab 27. Sekutu Mulai Retak
28
Bab 28. Foto Lama
29
Bab 29. Mulai Mencaritahu
30
Bab 30. Sakit
31
Bab 31. Pertengkaran
32
Bab 32. Canggung
33
Bab 33. Sebuah Keyakinan
34
Bab 34. Permintaan Maaf
35
Bab 35. Tidak Perduli Lagi
36
Bab 36. Rencana Saling Mempersulit
37
Bab 37. Fakta Baru Lagi
38
Bab 38. Kebenarannya
39
Bab 39. Hukuman
40
Bab 40. Kaos Kaki
41
Bab 41. Niatnya Memprovokasii tapi Malah Terprovokasii
42
Bab 42. Dua Penjaga
43
Bab 43. Tuan Rumah tak Ada Harga Dirinya
44
Bab 44. Nyaris Mengungkapkan
45
Bab 45. Spill
46
Bab 46. Kata Sandi Pintu Apartemen
47
Bab 47. Usaha yang Sia-sia
48
Bab 48. Adu Rencana
49
Bab 49. Di Rumah Sakit
50
Bab 50. Maya Mengetahuinya
51
Bab 51. Memberitahu Panji
52
Bab 52. Tindakan Bibi Erma
53
Bab 53. Demosi
54
Bab 54. Tidak Berguna
55
Bab 55. Nyaris Tak Bisa Menahan Emosi
56
Bab 56. Melukai Ratih
57
Bab 57. Menyelamatkan Ratih
58
Bab 58. Kartu Kredit Diblokir
59
Bab 59. Alibi
60
Bab 60. Mulai
61
Bab 61. Pengacara Markus Tertangkap
62
Bab 62. Mengungkap Kebenaran
63
Bab 63. Diusir
64
Bab 64. Pertengkaran
65
Bab 65. Tak Bisa Berkata-kata
66
Bab 66. Terhasutt
67
Bab 67. Kehidupan Orang-orang Licik Itu
68
Bab 68. Memilih Pergi
69
Bab 69. Isi Hati Ben
70
Bab 70. Pengkhianat
71
Bab 71. Menjerat sampai Hancur
72
Bab 72. Menuai apa yang Ditabur
73
Bab 73. Kondisi Sarah
74
Bab 74. Bantuan Dokter Calista
75
Bab 75. Perasaan
76
Bab 76. Sebuah Permintaan
77
Bab 77. Kegigihan Seorang Ibu
78
Bab 78. Shock
79
Bab 79. Kenyataan Itu
80
Bab 80. Menuai apa yang Ditabur
81
Bab 81. Kepergian Sarah
82
Bab 82. Dilamar
83
Bab 83. Linglung
84
Bab 84. Yang Bahagia dan Yang Berduka
85
Bab 85. Kematian Fandi
86
Bab 86. Mengakhiri
87
Bab 87. Kalah
88
Bab 88. Sebuah Gambar
89
Bab 89. Akhir Bibi Erma
90
Bab 90. Bertemu Sasha
91
Bab 91. Hasutan
92
Bab 92. Tak Terpengaruh
93
Bab 93. Kejujuran
94
Bab 94. Kecewa
95
Bab 95. Di Kapal yang Sama
96
Bab 96. Seorang Ayah
97
Bab 97. Rafa Diculik
98
Bab 98. Tak akan Membiarkan
99
Bab 99. Menemukan Dalangnya
100
Bab 100. Akhir Sasha
101
Bab 101. Akhir yang Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!