Kubalas Suami Brengsekku

Kubalas Suami Brengsekku

Bab 1. Kebenaran Terungkap

Deg

"Ini...." Ratih menjeda ucapannya, dia masih berusaha untuk mencerna semua perkataan dokter dan hasil laporan di tangannya.

"Kemungkinan, Naufal memang bukan darah daging nyonya"

Ratih mengetahui kebenaran itu langsung dari dokter di depannya, juga dari selembar hasil laboratorium yang tampak biasa, namun menghantam perasaannya tanpa ampun.

Saat dokter menyebutkan golongan darah Naufal, Ratih sempat tersenyum kecil, yakin tak ada yang aneh. Tapi senyum itu membeku ketika dokter melanjutkan dengan menyebutkan golongan darahnya sendiri dan golongan darah suaminya. Angkanya tidak saling bertemu. Tidak beririsan.

Wajah Ratih langsung berubah. Matanya melebar, alisnya terangkat tinggi, napasnya tertahan sesaat sebelum terlepas cepat dan dangkal. Tangannya yang tadi menggenggam tas perlahan melemah, jemarinya gemetar. Ada jeda hening yang berat, seolah ruangan itu tiba-tiba kehilangan udara.

"Dok…" suaranya serak, nyaris berbisik. "Apa… apa mungkin ada kesalahan? Maksud saya… apa mungkin anak saya, golongan darahnya seperti itu, walau saya dan suami saya berbeda?" tanyanya yang masih berusaha untuk mengambil sedikit saja kemungkinan.

Ratih sudah merawat anaknya itu selama lima tahun, dia menyayangi Naufal dan tak pernah terbesit sedikitpun bahwa anak itu bukan anaknya. Dia melahirkannya saat itu, di rumah sakit ini juga. Ratih sangat kebingungan.

Dokter menatap Ratih dengan hati-hati, ekspresinya tenang namun serius. Ia tidak langsung menjawab, seakan memberi waktu pada Ratih untuk bersiap.

"Begini, nyonya Ratih," ujar dokter pelan, "golongan darah diturunkan secara genetik. Ada pola-pola yang memungkinkan dan ada yang secara medis tidak mungkin terjadi." jelas dokter itu.

Dokter lalu menjelaskan dengan bahasa sederhana. Jika kedua orang tua memiliki golongan darah tertentu. Misalnya A dan O, atau A dan B maka hanya ada beberapa kemungkinan golongan darah anak yang bisa muncul. Kombinasi itu sudah pasti, tidak bisa melompat ke golongan yang sama sekali tidak membawa gen dari salah satu orang tua.

Ratih sebenarnya juga cukup mengetahui pelajaran biologi yang saat dia pelajari ketika dia masih SMA itu. Tapi, terlalu sulit baginya untuk menerima bahwa Naufal bukanlah anak kandungnya.

"Dalam kasus Ibu dan suami," lanjutnya, "semua kemungkinan sudah kami hitung. Dan… golongan darah Naufal tidak termasuk dalam kemungkinan tersebut. Artinya, secara ilmu genetika, itu tidak bisa terjadi. Naufal, bukan anak kandung Nyonya, itu yang jelas!" dokter kembali menegaskan pernyataannya dan juga pernyataan yang ada di dalam kertas laporan hasil laboratorium itu.

Ratih menggeleng pelan, bibirnya bergetar. "Jadi… tidak ada kemungkinan lain, Dok? Tidak ada keajaiban medis?" Ratih masih sangat berharap.

Dokter menarik napas kecil sebelum menjawab jujur.

"Untuk hal ini, tidak. Ini bukan soal jarang atau kecil kemungkinannya. Ini soal tidak mungkin, nyonya!"

Kata itu jatuh pelan, tapi menghancurkan. Ratih menunduk, dadanya sesak. Dunia yang selama ini ia yakini utuh, retak hanya oleh satu fakta sederhana, darah yang mengalir di tubuh anak yang ia pikir telah ia lahirkan, rawat, dan cintai sepenuh hidupnya, bukan darahnya. Lalu darah siapa?

Dengan langkah gontai, Ratih keluar dari ruangan dokter yang memang menangani Naufal yang mengalami sakit demam berdarah. Sudah tiga hari Naufal di rawat di rumah sakit ini. Dan Ratih, datang ke tempat dokter itu karena memang ingin mengambil hasil tes laboratorium.

Tapi, apa yang didapatkan justru menghancurkan hati dan perasaannya. Air matanya mengalir, dia benar-benar bingung.

"Mas Fandi, aku harus mengatakan semua ini pada mas Fandi!"

Ratih meraih ponsel dari dalam tasnya, niatnya adalah untuk menghubungi suaminya. Namun, suaminya mengatakan kalau dia sudah berada di rumah sakit. Sudah ada di ruangan Naufal.

[Ada apa? aku sudah berada di ruangan rawat Naufal, kamu sudah ambil hasil laboratoriumnya?]

"Sudah mas, tapi..."

"Nyonya Ratih, dokter Gunawan memanggil anda ke ruangannya!" kata pada seorang perawat yang datang buru-buru menghampirinya.

"Mas, sebentar. Aku akan menemui dokter dulu!"

Ratih mematikan ponselnya. Dia segera pergi kembali ke ruangan yang tadi baru saja dia tinggalkan. Tapi, begitu dia mau masuk, perawat itu keluar lagi.

"Maaf nyonya, ternyata aku salah. Bukan nyonya Ratih Auliani, tapi Ratih Aisyah. Maafkan saya" kata perawat itu yang ternyata salah.

Ratih mengangguk perlahan. Dia juga tidak mempermasalahkan hal itu.

Ratih pun kembali berjalan dengan cepat ke ruangan Naufal.

Tangannya baru akan memegang handel pintu, ketika dia mendengar suara tangis yang sangat familiar.

"Hiks... mas, bagaimana aku tidak khawatir. Anak kita sudah tiga hari berada di rumah sakit dan aku tidak boleh menjenguk?"

Deg

'Anak kita?'

Ratih melihat kembali ke arah kertas di tangannya. Tangannya meremass kertas itu dengan sendirinya.

"Kenapa kamu bicara seperti itu, kalau Ratih dengar bisa berantakan semuanya!"

Deg

"Kan kamu yang bilang dokter memanggilnya lagi. Tidak mungkin dia akan kembali cepat. Aku mau pastikan Naufal baik-baik saja, baru aku pulang!"

"Cepatlah! jangan membuat masalah. Jangan sampai semua usaha kita selama lima tahun ini sia-sia. Tinggal sedikit lagi, batas waktu deposito Ratih berakhir. Dia akan punya banyak uang, setelah kita dapatkan uangnya. Kita tidak perlu lagi...!"

Brakk

Ratih membuka pintu dengan keras. Dia sungguh tidak tahan lagi. Air matanya sudah bercucuran di wajahnya.

"Ratih!"

Fandi sangat terkejut. Sarah juga langsung memeluk Naufal.

"Brengsekk kamu mas! teganya kamu membohongi aku selama ini!" pekik Ratih yang langsung memukul dada dan lengan Fandi tanpa henti.

"Ratih... Ratih, kamu salah paham! dengarkan dulu penjelasanku!"

Bahkan pria itu masih mengelak. Pria itu masih berusaha menahan Ratih, dan mencoba menjelaskan, sudah pasti yang dia jelaskan adalah kebohongan.

Tangis Ratih pecah, hatinya hancur. Jiwanya meronta. Suami yang dia percayai yang dia cintai selama 5 tahun, kenapa bisa seperti itu? kenapa bisa mengkhianatinya seperti itu?

"Aku mendengarnya sendiri! apa lagi yang mau kamu coba jelaskan!" pekik Ratih.

Wanita itu sudah sampai pada batasnya. Dia menjerit, dia bahkan tidak perduli lagi dia berada di rumah sakit. Dia hanya ingin memaki Fandi, berapa jahatnya suaminya itu padanya.

"Mulai sekarang! aku tidak ingin melihat kalian lagi. Jangan sampai aku melihat kalian bertiga, muncul di hadapan ku!" teriaknya yang langsung memilih berlari keluar dari ruangan itu.

Dia tidak sanggup, dia sama sekali tidak sanggup berada di sana. Nafasnya tercekat, melihat tiga orang yang selama ini telah membohonginya dengan begitu lihai selama lima tahun, mungkin lebih itu sungguh membagi dada Ratih mau meledakk.

"Mas, bagaimana ini?" tanya Sarah panik.

Tangan dan rahang Fandi terlihat mengepal dan mengeras. Dia tahu, kalau dia mengejar Ratih saat ini. Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

'Aku harus menyingkirkannya' batin Fandi.

***

Bersambung...

Terpopuler

Comments

partini

partini

Thor yg novel pacarnya nikah di jodohin sama cewe lain si cewe jg ada cowoknya itu kemana yah

2026-02-23

2

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

mau dibunuh kah Ratih 🤔

2026-02-24

2

WHATEA SALA

WHATEA SALA

Harus nya jangan di labrak dulu..bikin rencana matang untuk membalas,maaf cuma komen

2026-06-30

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kebenaran Terungkap
2 Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali
3 Bab 3. Menukar Kembali
4 Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali
5 Bab 5. Menyerang Balik
6 Bab 6. Racun yang Disiapkan
7 Bab 7. Dekat tapi tak bisa Menyentuh
8 Bab 8. Hadiah Kecil
9 Bab 9. Mengambil Bunga Sedikit demi Sedikit
10 Bab 10. Ditolak
11 Bab 11. Terjebak
12 Bab 12. Siapa Menjebak Siapa
13 Bab 13. Maling Teriak Maling
14 Bab 14. Panik
15 Bab 15. Kambing Hitam
16 Bab 16. Kesabaran Semakin Tipis
17 Bab 17. Katanya Mirip
18 Bab 18. Rencana Baru
19 Bab 19. Sengaja Dibuat Kesal
20 Bab 20. Makin Kesal
21 Bab 21. Gagal Lagi
22 Bab 22. Padahal Sudah Sangat Dekat
23 Bab 23. Antagonis yang Teraniaya
24 Bab 24. Tidak Tahu Malu
25 Bab 25. Menyentuh? Jangan Mimpi!
26 Bab 26. Botol Kedua
27 Bab 27. Sekutu Mulai Retak
28 Bab 28. Foto Lama
29 Bab 29. Mulai Mencaritahu
30 Bab 30. Sakit
31 Bab 31. Pertengkaran
32 Bab 32. Canggung
33 Bab 33. Sebuah Keyakinan
34 Bab 34. Permintaan Maaf
35 Bab 35. Tidak Perduli Lagi
36 Bab 36. Rencana Saling Mempersulit
37 Bab 37. Fakta Baru Lagi
38 Bab 38. Kebenarannya
39 Bab 39. Hukuman
40 Bab 40. Kaos Kaki
41 Bab 41. Niatnya Memprovokasii tapi Malah Terprovokasii
42 Bab 42. Dua Penjaga
43 Bab 43. Tuan Rumah tak Ada Harga Dirinya
44 Bab 44. Nyaris Mengungkapkan
45 Bab 45. Spill
46 Bab 46. Kata Sandi Pintu Apartemen
47 Bab 47. Usaha yang Sia-sia
48 Bab 48. Adu Rencana
49 Bab 49. Di Rumah Sakit
50 Bab 50. Maya Mengetahuinya
51 Bab 51. Memberitahu Panji
52 Bab 52. Tindakan Bibi Erma
53 Bab 53. Demosi
54 Bab 54. Tidak Berguna
55 Bab 55. Nyaris Tak Bisa Menahan Emosi
56 Bab 56. Melukai Ratih
57 Bab 57. Menyelamatkan Ratih
58 Bab 58. Kartu Kredit Diblokir
59 Bab 59. Alibi
60 Bab 60. Mulai
61 Bab 61. Pengacara Markus Tertangkap
62 Bab 62. Mengungkap Kebenaran
63 Bab 63. Diusir
64 Bab 64. Pertengkaran
65 Bab 65. Tak Bisa Berkata-kata
66 Bab 66. Terhasutt
67 Bab 67. Kehidupan Orang-orang Licik Itu
68 Bab 68. Memilih Pergi
69 Bab 69. Isi Hati Ben
70 Bab 70. Pengkhianat
71 Bab 71. Menjerat sampai Hancur
72 Bab 72. Menuai apa yang Ditabur
73 Bab 73. Kondisi Sarah
74 Bab 74. Bantuan Dokter Calista
75 Bab 75. Perasaan
76 Bab 76. Sebuah Permintaan
77 Bab 77. Kegigihan Seorang Ibu
78 Bab 78. Shock
79 Bab 79. Kenyataan Itu
80 Bab 80. Menuai apa yang Ditabur
81 Bab 81. Kepergian Sarah
82 Bab 82. Dilamar
83 Bab 83. Linglung
84 Bab 84. Yang Bahagia dan Yang Berduka
85 Bab 85. Kematian Fandi
86 Bab 86. Mengakhiri
87 Bab 87. Kalah
88 Bab 88. Sebuah Gambar
89 Bab 89. Akhir Bibi Erma
90 Bab 90. Bertemu Sasha
91 Bab 91. Hasutan
92 Bab 92. Tak Terpengaruh
93 Bab 93. Kejujuran
94 Bab 94. Kecewa
95 Bab 95. Di Kapal yang Sama
96 Bab 96. Seorang Ayah
97 Bab 97. Rafa Diculik
98 Bab 98. Tak akan Membiarkan
99 Bab 99. Menemukan Dalangnya
100 Bab 100. Akhir Sasha
101 Bab 101. Akhir yang Bahagia
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Bab 1. Kebenaran Terungkap
2
Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali
3
Bab 3. Menukar Kembali
4
Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali
5
Bab 5. Menyerang Balik
6
Bab 6. Racun yang Disiapkan
7
Bab 7. Dekat tapi tak bisa Menyentuh
8
Bab 8. Hadiah Kecil
9
Bab 9. Mengambil Bunga Sedikit demi Sedikit
10
Bab 10. Ditolak
11
Bab 11. Terjebak
12
Bab 12. Siapa Menjebak Siapa
13
Bab 13. Maling Teriak Maling
14
Bab 14. Panik
15
Bab 15. Kambing Hitam
16
Bab 16. Kesabaran Semakin Tipis
17
Bab 17. Katanya Mirip
18
Bab 18. Rencana Baru
19
Bab 19. Sengaja Dibuat Kesal
20
Bab 20. Makin Kesal
21
Bab 21. Gagal Lagi
22
Bab 22. Padahal Sudah Sangat Dekat
23
Bab 23. Antagonis yang Teraniaya
24
Bab 24. Tidak Tahu Malu
25
Bab 25. Menyentuh? Jangan Mimpi!
26
Bab 26. Botol Kedua
27
Bab 27. Sekutu Mulai Retak
28
Bab 28. Foto Lama
29
Bab 29. Mulai Mencaritahu
30
Bab 30. Sakit
31
Bab 31. Pertengkaran
32
Bab 32. Canggung
33
Bab 33. Sebuah Keyakinan
34
Bab 34. Permintaan Maaf
35
Bab 35. Tidak Perduli Lagi
36
Bab 36. Rencana Saling Mempersulit
37
Bab 37. Fakta Baru Lagi
38
Bab 38. Kebenarannya
39
Bab 39. Hukuman
40
Bab 40. Kaos Kaki
41
Bab 41. Niatnya Memprovokasii tapi Malah Terprovokasii
42
Bab 42. Dua Penjaga
43
Bab 43. Tuan Rumah tak Ada Harga Dirinya
44
Bab 44. Nyaris Mengungkapkan
45
Bab 45. Spill
46
Bab 46. Kata Sandi Pintu Apartemen
47
Bab 47. Usaha yang Sia-sia
48
Bab 48. Adu Rencana
49
Bab 49. Di Rumah Sakit
50
Bab 50. Maya Mengetahuinya
51
Bab 51. Memberitahu Panji
52
Bab 52. Tindakan Bibi Erma
53
Bab 53. Demosi
54
Bab 54. Tidak Berguna
55
Bab 55. Nyaris Tak Bisa Menahan Emosi
56
Bab 56. Melukai Ratih
57
Bab 57. Menyelamatkan Ratih
58
Bab 58. Kartu Kredit Diblokir
59
Bab 59. Alibi
60
Bab 60. Mulai
61
Bab 61. Pengacara Markus Tertangkap
62
Bab 62. Mengungkap Kebenaran
63
Bab 63. Diusir
64
Bab 64. Pertengkaran
65
Bab 65. Tak Bisa Berkata-kata
66
Bab 66. Terhasutt
67
Bab 67. Kehidupan Orang-orang Licik Itu
68
Bab 68. Memilih Pergi
69
Bab 69. Isi Hati Ben
70
Bab 70. Pengkhianat
71
Bab 71. Menjerat sampai Hancur
72
Bab 72. Menuai apa yang Ditabur
73
Bab 73. Kondisi Sarah
74
Bab 74. Bantuan Dokter Calista
75
Bab 75. Perasaan
76
Bab 76. Sebuah Permintaan
77
Bab 77. Kegigihan Seorang Ibu
78
Bab 78. Shock
79
Bab 79. Kenyataan Itu
80
Bab 80. Menuai apa yang Ditabur
81
Bab 81. Kepergian Sarah
82
Bab 82. Dilamar
83
Bab 83. Linglung
84
Bab 84. Yang Bahagia dan Yang Berduka
85
Bab 85. Kematian Fandi
86
Bab 86. Mengakhiri
87
Bab 87. Kalah
88
Bab 88. Sebuah Gambar
89
Bab 89. Akhir Bibi Erma
90
Bab 90. Bertemu Sasha
91
Bab 91. Hasutan
92
Bab 92. Tak Terpengaruh
93
Bab 93. Kejujuran
94
Bab 94. Kecewa
95
Bab 95. Di Kapal yang Sama
96
Bab 96. Seorang Ayah
97
Bab 97. Rafa Diculik
98
Bab 98. Tak akan Membiarkan
99
Bab 99. Menemukan Dalangnya
100
Bab 100. Akhir Sasha
101
Bab 101. Akhir yang Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!