BAB TWO (First day, in Indonesia)

Keesokannya, di pagi hari pada pukul 07.10.

Di kamar megah Aza dan Qila mereka sedang siap siap untuk ke bandara. Dengan outfit mereka yang keren, namanya juga keluarga Alveric.

Aza yang memakai crop top putih yang dan celana putih, gila kece and seksi banget. Serta Qila yang memakai baju kodok pink cute ya itu.

Mereka berdua menuruni tangga, "cantik sekali dua perempuan anak mamah ini. Kalian sarapan ya". Ucap Widya.

"oke mamah", jawab serentak Aza dan Qila.

Beberapa menit kemudian keluarga Alveric selesai sarapan.

Lalu, para pelayan dan pengawal berkumpul diluar mansion.

Aza benar benar memasang wajah khawatir sekali, dia tidak tenang. Tapi dia harus yakin,bahwa dia bisa melakukan ini untuk kedua orang tuanya.

Di halaman depan mansion Alveric yang megah, barisan pelayan dan pengawal berdiri rapi menyambut kedatangan mobil keluarga utama.

“Semua sudah siap, Tuan Samuel,” ucap kepala pelayan kepada Samuel diruang tamu bilik pertama dengan sikap sangat sopan.

"Baik, Aza,Qila, Widya. Ayuk". Ucap Samuel.

Aza keluar dari dalam rumah bersama Papah, Mamah, dan Qila. Tangan kanannya sedang memegang tas kecil berisi barang-barang penting, sementara matanya melirik satu per satu wajah orang-orang yang selama ini selalu membantu dirinya.

“Semuanya, para pengawal,pelayan, bodyguard pribadi aku. Pokoknya semua yang ada di sini,” ucap Aza dengan suara sedikit bergetar, lalu dia berjalan mendekati mereka satu per satu. “Terima kasih banyak ya selama ini selalu merawat Aza dan keluarga. Aza bakal rindu kalian semua di Indonesia..”

Kepala pengawal yang sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga Alveric, mengangguk dengan mata yang sedikit merah. “Semoga sukses selalu Non Aza, kami juga bakal selalu merindukanmu.”

Selanjutnya,Kepala pelayan yang sering membuat makanan kesukaan Aza dan Qila. Memberikan 3 bingkisan “Ini kue coklat kesukaan non buatin bibi, spesial. Bawa ya di Indonesia, biar non tidak merasa rindu sama makanan rumah.”

Aza menerima kotak itu dengan hati yang penuh rasa syukur, lalu memeluk kepala pelayan itu dengan pelan. “Terima kasih banyak bibi.”

Papah Samuel mengangkat tangan untuk menarik perhatian semua orang. “Baik semuanya,kamu harus berangkat langsung ke bandara. Semua yang ada di sini, kami ucapkan terima kasih atas semua pengabdiannya. Aza akan kembali sebagai perempuan yang mandiri.”

Setelah semua ucapan pamitan selesai, Aza naik ke dalam mobil bersama Samuel,Widya dan adiknya Qila. Mobil mulai bergerak perlahan, sementara pelayan dan pengawal mengangkat tangan mereka untuk melambai. Aza juga melambai balik dari jendela mobil, sampai bentuk mansion dan wajah-wajah mereka semakin jauh dan hilang di balik sudut jalan.

Di dalam mobil, suasana menjadi lebih tenang. Aza menatap pemandangan jalanan Jerman yang sudah begitu akrab baginya, mencoba mengingat setiap detail sebelum meninggalkannya untuk sementara waktu.

“Sayang, kamu sudah siap kan?” tanya Mamah Widya dengan lembut.

Aza mengangguk. “Sudah Mamah. Meski masih sedikit takut, tapi Aza akan berusaha semaksimal mungkin.”

Setelah sekitar setengah jam perjalanan, mobil akhirnya tiba di bandara internasional. Di pintu masuk terminal, mereka disambut oleh staf maskapai yang akan membantu proses check-in.

Papah Samuel mengambil paspor dan tiket pesawat dari tasnya. “Kita akan menemani kamu sampai pintu masuk lorong keberangkatan ya, sayang.”

Dalam ruang tunggu, mereka duduk bersama sambil menunggu panggilan keberangkatan. Beberapa orang yang mengenal keluarga Alveric datang menyapa dan mengucapkan selamat jalan kepada Aza.

“Perhatikan diri sendiri ya nak,” ucap Papah Samuel sambil menepuk pundak Aza. “Jangan sungkan untuk menghubungi kami kapan saja jika ada kesulitan.”

“Ya Papah, Aza mengerti,” jawab Aza, lalu dia melihat ke arah pesawat yang sudah tampak siap di landasan pacu.

Qila yang berdiri di samping Mamah tiba-tiba berlari dan memeluk kakaknya. “Kakak jangan lupa ya janjian kita! Telfonan tiap hari dan bawa banyak oleh-oleh!”

“Aku janji dong, jangan nangis ya cilik,” ucap Aza sambil mengelus pipi Qila yang sudah mulai berkaca-kaca.

Suara panggilan untuk penumpang pesawat tujuan Jakarta akhirnya terdengar. Aza berdiri dan memeluk Papah serta Mamah dengan erat. “Aku sayang sama, Papah, Mamah.”

“Kami juga sayang Aza, sukses selalu, ini semua demi kebaikanmu nak” ucap Mamah Widya dengan suara yang penuh kasih.

Terakhir, Aza memeluk Qila lagi. “Jangan nakal ya, jaga baik-baik Papah dan Mamah.”

Setelah semua pamitan selesai, Aza mengambil tasnya dan mengikuti petugas maskapai menuju lorong keberangkatan. Dia berbalik sekali lagi untuk melambai, lalu memasuki lorong dengan langkah yang semakin mantap.

Di pesawat, _"aku pasti bisa, mamah sama papah pasti mau aku bersikap mandiri, aku sukses dengan kemandirian aku tanpa bantuan mereka semua. Good luck me"_

Aza benar benar sendiri dipesawat, tapi ada beberapa orang yang kenal dengan putri sulung Alveric ini, ia tertidur karena sangat lelah membaca buku.

Setelah sekitar 12 jam perjalanan udara, pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aza menarik napas dalam-dalam saat keluar dari kabin pesawat – udara Indonesia yang lebih lembap langsung menyapa dirinya.

Di pintu kedatangan, sosok seorang pria berusia sekitar 40 tahun berdiri, lalu melihat Aza, pria itu langsung menghampiri dengan senyum ramah.

“Selamat datang di Indonesia, Non Azalia Senjanafea Gralind Alveric. Nama saya Wahyu, saya yang akan menjadi sopir dan membantu Anda selama di sini,” ucapnya dengan sikap sopan.

Aza tersenyum kembali. “Terima kasih Pak Wahyu, senang bertemu dengan Anda.”

Pak Wahyu mengambil koper besar Aza dan membawanya ke arah mobil parkir. Di jalan menuju Apartemen Flower di Indonesia, Aza menatap pemandangan luar jendela dengan mata yang penuh rasa kagum – gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, lalu lintas kendaraan yang sibuk, dan wajah-wajah orang-orang yang sibuk beraktivitas.

“Kamar Apartemen sudah disiapkan dengan baik, Non Aza. Pasti nyaman sekali nona, karena kamar apartemen ini di desain cukup indah seperti kamar nona di German itu. Dan Nanti saya akan menunjukkan juga jalan menuju STPI School Tirta Persada Internasional, jadi nona bisa melihat depan STPI pula deh” jelas Pak Budi sambil memperhatikan jalan.

Aza mengangguk, hati yang tadinya sedikit gelisah mulai terasa lebih tenang. Ini adalah awal dari segalanya, pikirnya sambil melihat matahari yang mulai menyemburkan sinarnya ke atas langit. Aza pasti bisa mengatasi semua tantangan yang ada di sini.

“Kita sudah sampai, Non Aza,” ucap Pak Wahyu sambil menghentikan mobil di depan sebuah apartemen besar yang disebut apartemen flowers. Ada banyak karyawan karyawan apartemen menyambut Aza, itu pasti suruhan dari papa Samuel.

Pak Wahyu membuka pintu mobil dan membawa koper Aza langsung masuk ke sebuah apartemen ya. Saat pintu kamar apartemen aza di lantai 10 nomor 16, suasana hangat dan nyaman langsung menyambut Aza. Memiliki ruang tamu dengan sofa kain berwarna cream, meja kayu yang kokoh, dan rak buku yang penuh dengan berbagai judul buku. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan pantai Bali yang memberikan sentuhan lokal Indonesia.

“Silakan ke kamar Anda, Non Aza. Ada di arah sebelah kanan,” kata Pak Wahyu sambil menunjukkan arah.

Aza pergi langsung ke kamar ya, tangan kanannya masih memegang kotak kue kering dari bibi (kepala pelayan). Ketika membuka pintu kamar, dia langsung terpana – kamar yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman, dengan ranjang yang sudah dirapikan rapi, lemari pakaian yang luas, dan sebuah meja belajar yang menghadap ke jendela. Dari jendela itu, dia bisa melihat pemandangan yang sangat indah.

Di atas ranjang ada bantal dengan selimut bergambar bunga melati, dan di mejanya diletakkan sebuah kardus kecil dengan catatan tangan: “Selamat datang di kamar apartemen istimewa dari papah dan mamah, Aza. Semoga kamu betah di sini. – Papah dan Mamah”.

Aza duduk di tepi ranjang, meletakkan kotak kue di mejanya. Dia melihat keluar jendela – suara burung berkicau dari pepohonan. Udara yang sedikit lembap membawa aroma bunga yang sangat cantik.

“Kesan pertama non bagaimana?” tanya Pak Wahyu yang sudah memasuki kamar dengan membawa tas kecil Aza.

Aza tersenyum lebar, mata sudah mulai terlihat lebih ceria. “Sangat bagus, Pak Wahyu. Kamar apartemen ini sangat nyaman dan aku suka dengan pemandangannya. Rasanya seperti kamar aku di German.”

“Baik sekali itu, Non Aza. Jika ada yang perlu, silakan hubungi saya kapan saja ya. Sekarang saya akan menyiapkan minuman untuk Anda,” ucap Pak Wahyu sebelum keluar dari kamar.

Aza berdiri dan menghampiri jendela, menatap langit yang mulai berubah warna ke arah senja. Matahari merah menyebarkan sinarnya ke atas langit, memberi warna keemasan pada setiap sudut pemandangan. Dia mengambil kotak kue dari bibi (kepala pelayan), membukanya perlahan – aroma coklat mahal yang khas langsung tercium.

“Sudah mulai terasa betah ni,” bisik Aza sambil mengambil satu buah kue dan memasukkannya ke mulut. Rasanya sama seperti dulu, membuatnya merindukan mansion di Jerman namun juga merasa bahagia bisa mulai babak baru di Indonesia.

Beberapa menit kemudian, "non Aza, bapak teh pulang dulu ya. Kalau ada apa apa ingat hubungi Saya. Saya bakal langsung kesini. Semua yang non Aza perlukan itu udah lengkap ya", ucap pak Wahyu.

"Iya pak, terimakasih banyak ya. Sudah bantu Aza." Ucap Aza dengan sopan ya, sambil menundukkan kepala ya.

"Tidak masalah non, ini memang tuga saya. Kalau begitu saya permsi", pak Wahyu langsung pergi pamit.

Di,malam hari. Aza sedang berada di kamar ya, ia sedang membereskan buku buku untuk besok ia langsung pergi ke sekolah. Hari pertama di STPI.

Telfon berdering, "mamahhh", teriak Aza dari sebrang telfon vidio.

"Halo sayang ya mamah, kami loh dari tadi telfon kamu gak diangkat angkat, ngapain sih?", ucap mamah Widya. Aza nyengir, "tadi Aza mandi, hehehe kayak biasa lah 1jam an..maaf ya mamah".

Mama Widya tentu tidak terkejut, itu memang kebiasaan Aza. Mandi 1/2jam itu sudah biasa, pantas kulit ya putih,bening,mulus sekali.

"Sayang, jangan kebiasaan ya. Ingat disana untuk merubah diri kamu menjadi lebih sangat baik", "iya mamah, siap".

Beberapa menit ibu dan anak perempuan itu sudah menghabiskan waktu berbincang bincang yang cukup membuat wajah mereka tertawa karena kelucuan dari masing masing yang mereka ceritakan.

Lalu, Aza tertidur setelah ia berbincang dengan nyonya besar Alveric itu.

Di mansion German, papah Aza memasuki kamar setelah ada beberapa pekerjaan yang ia selesai kan di ruang pribadi ya.

"Gimana, Aza tadi mah?".

Mamah Aza tersenyum, "dia tadi mamah liat sedang membereskan peralatan sekolah ya besok, dia kayanya seneng banget pah".

Papa Aza tersenyum, dan duduk di tempat tidur. "Pasti dia bakalan berhasil mah, semoga dia tau dunia yang sebenarnya bukan hanya untuk mencari ilmu aja, tapi bakat, bermain bersama teman teman."

Yap, benar sekali Aza sebenarnya dipindah ke Indonesia. Karena dia tidak mempunyai teman di German, dia itu selalu belajar belajar,dan belajar. Untuk menampilkan bakat ya itu tidak pernah seperti bermain piano, hanya dilihat oleh para Alveric saja.

Maka dari itu, Widya dan Samuel ingin sekali Aza mengenal dunia lebih luas lagi, pintar dalam bergaul. Bukan dengan keluarga,buku,dan diri dia sendiri.

Begitulah seorang Aza Alveric.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!